Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Berkorban


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺 🌺🌺


“Ayah, katakan padaku siapa yang mendonorkan mata untuk Mommy?” Desak Gilbert mengintrogasi Choky dan Sandy.


Choky dan Sandy saling melihat satu sama lain. Gilbert sama saja seperti Ramos kalau tidak dijawab pertanyaan nya pasti akan terus merenggek sampai dia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu.


“Orang yang dibayar oleh Ayah, Son.” Jawab Choky asal. “Ayah memberikan jaminan uang padanya dan dia mau mendonorkan matanya untuk Mommy.” Jawab Choky berusaha menyakinkan kedua anak kecil itu.


“Siapa Ayah?” Sambung Gerald, kening anak kecil itu tampak berkerut heran dan setengah tak percaya dengan ucapan Choky


“Ayah tidak tahu dia siapa,” sahut Choky


“Papa,” kini giliran Sandy yang di introgasi


“Iya Son kenapa?” Sandy memaksakan senyum, padahal dalam hatinya dia sudah ketar-ketir menjawab pertanyaan dari dua anak kembar itu


“Siapa yang mendonorkan matanya untuk Mommy, Pa?” tanya Gilbert


“Ehem, tadi Ayah sudah jawab,” kilah Sandy agar terlepas dari pertanyaan anak kecil itu.


“Benarkah?” Gilbert memincingkan matanya curiga. Gerak-gerik kedua pria dewasa itu sungguh mencurigakan.


“Iya,” jawab Choky dan Sandy bersamaan.


“Lalu bagaimana dengan kondisi Mommy, apakah matanya akan sembuh total?” Gilbert mengalihkan pembicaraan, tapi dia tetap curiga jika Choky dan Sandy menyembunyikan sesuatu dari anak kecil sepertinya.


Choky bernafas lega karena kedua anak itu tidak lagi bertanya tentang siapa yang mendonorkan matanya untuk Rachel.


“Kondisi Mommy sudah baik-baik saja Son. Sejauh ini tidak ada masalah dengan matanya. Semoga penglihatan Mommy kalian pulih kembali,” jelas Sandy


Kedua bocah itu mengangguk paham. Namun tetap saja keduanya belum puas dengan jawaban dari pertanyaan mereka tadi. Ini pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ayah dan Papa-nya itu.


“Kami kembali ke kamar Mommy dulu,” kedua nya turun dari sofa.


“Iya Son, jangan berkeliaran.” Pesan Choky

__ADS_1


“Kalian tidak ingin kembali ke kamar Mommy?” Gilbert menatap aneh Ayah dan Papa-nya itu.


“Ehem, Ayah sedang ada urusan dengan Papa, Son. Kalian duluan saja. Nanti Ayah akan menyusul.”


Gilbert dan Gerald mengangguk patuh, lalu kedua pria kecil itu keluar dari ruangan Sandy dan kembali ke kamar Rachel.


Sandy dan Choky bernafas lega. Untung saja anak-anak ajaib itu tidak melajutkan pertanyaan mereka jadi Choky dan Sandy bisa selamat untuk tidak menjelaskan siapa yang mendonorkan matanya untuk Rachel.


“Huffhhhhh, rasanya jantungku mau copot,” Choky menghempaskan tubuhnya ke sofa.


“Tapi kita tidak bisa menyembunyikan hal ini. Lambat laun kedua anak itu akan tahu. Kau tahu kan kalau mereka bukan anak-anak sembarangan,” ucap Sandy duduk disamping Choky


“Iya aku tahu. Tapi untuk sementara waktu, jangan biarkan mereka tahu dulu. Kondisi Rachel belum benar-benar pulih,” timpal Choky


Kedua pria itu sejenak terdiam. Enam tahun menemani Rachel dalam suka dan duka dan menjadi sandaran saat wanita itu merasa lemah. Banyak hal yang dilewati Rachel yang tentunya ada Choky dan Sandy disamping wanita anak tiga itu sehingga Rachel bisa melewati semuanya. Tak pernah Choky dan Sandy meminta lebih sebagai balasan keduanya hanya ingin Rachel bahagia bersama anak-anaknya.


Jika membahas perasaan, tentu Choky sangat mencintai Rachel dari dulu. Bahkan dia rela menyamar menjadi koki dan orang miskin agar selalu berada didekat wanita, Choky menyesal karena lambat menolong Rachel ketika Rachel membutuhkan uang untuk biaya operasai Ibu dan adiknya. Andai saja dia yang lebih duluan datang dan memberi pertolongan pada Rachel, pastilah sekarang dia yang memiliki Rachel. Namun Choky sama sekali tidak merasa direpotkan oleh Rachel. Justru dia bahagia karena bisa menolong wanita yang dia cintai itu meski harus banyak berkorban.


Sementara Sandy, dia menemukan sosok mantan tunangannya didalam diri Rachel. Wajah Rachel dan senyum Rachel. Hanya saja yang membedakan Rachel dengan mantan tunangannya adalah Rachel yang terlalu mandiri, tegas dan dewasa. Sementara mantan tunangannya adalah gadis yang manja karena terlahir dari keluarga yang serba ada dan memanjakannya dengan kemewahan. Berbeda dengan Rachel yang tumbuh menjadi gadis tangguh, lebih tepatnya dia terpaksa menjadi tangguh karena keadaan.


“Mas,” Ayunia dan Alvan masuk kedalam ruangan Choky.


“Ada apa Van. Nia?” tanya Choky menatap kedua orang itu.


“Apa sebaiknya kita pertemukan saja Nyonya Nirmala dengan Rachel? Kasihan Nyonya Nirmala, dia sangat ingin bertemu Rachel,” tutur Ayunia.


Choky menggeleng. “Tidak bisa secepat ini Nia. Kondisi Rachel belum benar-benar pulih. Apalagi kondisi mentalnya. Ini bisa menguncang jiwanya kembali,” terang Choky.


“Tapi Mas, kasihan Nyonya Nirmala. Dia terus berteriak memanggil Rachel,” Ayunia menghela nafas panjang.


“Kita tidak bisa gegabah Nia. Kau lihat sendiri bagaimana kondisi mental Rachel. Tunggu sebentar Mas akan coba bawa Rachel kembali ke psikiater,” sergah Sandy ikut menimpali


Ayunia hanya mengangguk. Kenapa masalah hidup Rachel tak berhenti. Selalu saja hidupnya dikelilingi oleh masalah-masalah yang menguncang jiwanya. Entah kapan wanita itu akan merasakan kehidupan yang tenang seperti wanita lainnya.


“Ya sudah Mas, aku keruangan Rachel dulu,” pamit Ayunia.

__ADS_1


“Sayang aku tetap disini. Aku masih ada urusan dengan Mas Choky dan Mas Sandy,” ucap Alvan pada istrinya.


Ayunia mengangguk dan keluar dari ruangan Sandy untuk menemani Rachel diruanga rawat inapnya.


“Mas,” Alvan tampak menghela nafas panjang.


“Ada apa Van?” Choky melihat kearah pria itu.


“Tuan Ray, ingin kesini menyerang Rachel dan anak-anaknya. Dia masih tidak terima…”


“Ck, tidak bisa dibiarkan,” Choky langsung berdiri dari duduk.


BRAKKKKKKKKKKK


Rayyan masuk kedalam ruangan Sandy dengan wajah merah padam. Ini semua pasti ulah Sandy dan Choky.


“Ada apa Ray?” Tanya Sandy tetap tenang.


Rayyan menatap Sandy dan Choky dengan penuh amarah. Kenapa kedua orang ini tidak berusaha mencegah sang kakak.


“Apa yang sudah kalian lakukan pada Kak Ramos?” Bentak Rayyan


“Melakukan apa?” Sandy tetap tenang.


“Kak Sandy, jangan pura-pura tidak tahu. Dimana Kak Ramos Kak?” tanya Rayyan menatap Sandy tajam. “Ini semua gara-gara kalian semua.” Rayyan memberontak


“Tenangkan dirimu Ray. Jangan berteriak, ini rumah sakit.” Sandy langsung mencengkram lengan Rayyan.


“Bagaimana aku tidak berteriak Kak? Dimana Kak Ramos Kak? Dimana Kakak ku?” Cecar Rayyan menguncang bahu Sandy.


“Baik, Kakak akan jelaskan. Tenanglah,” ucap Sandy lembut berusaha menenangkan Rayyan yang tengah menggila itu.


“Ayo duduk.” Sandy memapah Rayyan duduk di sofa.


Sedangkan Alvan sudah tahu sebelumnya karena tadi Alvan tidak sengaja melihat Rayyan yang memberontak dan hendak masuk kedalam ruangan Rachel namun dicegat oleh pengawal yang ditugaskan oleh Choky untuk berjaga didepan ruangan Rachel.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2