
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Rachel berdiri. Perutnya perih luar biasa. Gadis itu memeluk tubuhnya yang hanya mengenakan bra dan ****** *****. Dia menatap gaum indah yang di robek suaminya.
"Hiks hiks, maafkan aku, Mas. Jika aku menyerah, aku berharap kau tetap bahagia. Kau benar bahwa aku adalah pelacur bahkan hidupku sudah dibeli oleh kedua orang tuamu."
Gadis itu berjalan sambil menyeret kakinya menuju kamar. Perih sekali di area perutnya sepertinya memang bekas operasi itu infeksi lagi.
Rachel meraih kimono untuk menutupi tubuhnya. Bekas cambukan dan luka-luka itu terlihat jelas di tubuhnya. Dia kuat. Dia akan kuat demi ibu dan sang adik.
Gadis itu mengambil kotak P3K didalam laci dan duduk di sofa.
Dia memberanikan diri, gadis itu membuka perban di perutnya. Sambil meringgis kesakitan seraya menarik pelan.
"Argh, kenapa perih sekali?" keluhnya.
Luka bekas operasi itu benar-benar infeksi dan bahkan mengeluarkan nanah akibat dia yang sering terbentur dan mengangkat benda-benda berat serta suka bekerja sampai kelelahan.
Rachel bersandar. Nafasnya tersengal-sengal menahan perih seperti di tumpahi cuka. Tatapannya sendu. Matanya sudah membengkak. Seluruh tubuhnya sakit dan remuk redam seperti patah-patah.
Sepertinya dia akan kebal terhadap rasa sakit. Mungkin ketika nanti dipukul lagi oleh pria itu dia takkan lagi merasa kesakitan.
"Tuhan, aku lelah."
Gadis itu terpejam dengan kondisi perut yang terbuka bahkan bra dan ****** ******** terlihat jelas. Entah tertidur atau pingsan. Yang pasti saat ini tubuhnya benar-benar perlu istirahat sejenak.
Kulitnya yang putih menampilkan bekas luka yang terlihat jelas di sana. Bahkan ditutupi pun mungkin akan tetap terlihat
__ADS_1
Ramos masuk kedalam apartemennya wajahnya selalu sanggar dan menyeramkan. Mungkin dia lebih kejam dari pada mafia. Jika Mafia membunuh secara fisik maka Ramos membunuh batin.
Pria itu semakin marah saat melihat pecahan piring dan gelas yang masih berserakan dilantai. Di mana gadis itu?
"Perempuan ******," teriaknya.
"Perempuan ******."
Dia berjalan kearah kamar dengan wajah merah padam.
Ramos mendobrak pintu kamar dengan kasar. Pria itu mendapati istrinya yang terlelap di sofa dalam keadaan yang menurutnya aneh.
Dia menarik tangan Rachel dengan paksa dan menyeret istrinya yang tengah tertidur itu.
Sontak Rachel terkejut dan terbangun saat mendapati dirinya diseret dengan paksa paksa oleh sang suami.
Ramos mengambil gunting dan menatap istrinya dengan senyuman devil.
Sret!
Sret!
Sret!
Pria itu memotong rambut panjang sang istri.
"Mas, jangan. Jangan. Aku mohon jangan, Mas." Tangis Rachel. Dia sangat menyayangi rambut panjang yang dia rawat dengan susah payah itu.
__ADS_1
Namun, seakan tuli Ramos tak peduli sama sekali. Entah kenapa dia benci saat mengingat Rayyan menatap rambut panjang istrinya dengan damba dan lapar.
"Hiks hiks, Mas." Rachel hanya pasrah dia sudah tak mampu lagi melawan. Bolehkah dia mati saja dari pada disiksa seperti ini?
Rachel melempar gunting itu dan rambut Rachel berserakan di lantai.
"Sekarang kau tidak cantik lagi dan tidak akan ada lagi laki-laki yang mau membeli tubuhmu." Dia menarik kimono yang Rachel pakai hingga sobek menjadi beberapa bagian
Ramos membuka bra istrinya dan menarik nya dengan paksa.
Dia meremas bukit kembar Rachel sambil menatap gadis itu dengan senyuman mengejek.
Rachel pasrah. Melawan juga sudah percuma. Gadis itu mengigit bibir bawahnya menahan suara aneh yang hendak keluar.
"Hem apakah nikmat, Sayang?" ledeknya.
Dia menarik dengan paksa benda segitiga yang menutupi area sensitif Rachel.
"Hem." Dia memasukan jarinya ke dalam lembah Rachel.
"Wahhh ternyata kau sudah basah, Sayang," ujarnya sambil meledek. "Tapi sayang aku takkan membiarkan mu sampai pada puncak kenikmatan."
Dia menendang tubuh istrinya lalu melenggang pergi dan menutup pintu dengan kasar
**Bersambung....
maaf cuma 500k hp Eror**
__ADS_1