
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Persiapan dan pernikahan sederhana akan di gelar sebuah gereja kecil di negara itu. Atas permintaan kedua mempelai untuk tidak mengadakan pesta yang mewah maka hanya dihadiri oleh kedua belah pihak keluarga. Ramos sengaja tidak mengundang Sandy, sebab dia tidak ingin ada yang tahu tentang pernikahannya. Sementara Rachel sengaja tidak mengundang Choky dan Ayunia atas permintaan Ramos. Ramos juga sengaja tak membawa kekasihnya Agnes apalagi wanita itu memang menolak untuk hadir.
“Saya Ramos Horta Ozawa menerima engkau Rachel Maryam menjadi istriku dan setia selalu baik dalam suka maupun duka, dalam susah mau pun senang, dalam sakit maupun sehat. Saya akan mencintai dan menjaga engkau dengan segenap hati dan jiwa saya berjanji dihadapan Tuhan, amin," ucap Ramos membacakan janji suci yang dituntun oleh seorang pendeta. Dengan tangan gemetar dan keringat yang bercucuran Ramos berusaha tenang. Meski dia tak menginginkan pernikahan ini tapi jujur saja dia merasa begitu gugup.
“Saya Rachel Maryam menerima engkau Ramos Horta Ozawa menjadi Suamiku dan setia selalu baik dalam suka maupun duka, dalam susah mau pun senang, dalam sakit maupun sehat. Saya akan mencintai dan menjaga engkau dengan segenap hati dan jiwa saya berjanji dihadapan Tuhan, amin," ucap Rachel yang tak kalah gugupnya dari Ramos.
“Cium cium cium."
Suara riuh dan heboh dari pihak keluarga. Yang paling heboh adalah Maria dan Irana, keduanya terlihat bahagia melihat putra-putri mereka bersanding dalam ikatan pernikahan yang suci dihadapan Tuhan.
Wajah memerah semerah tomat, dengan perlahan Ramos membuka tutup wajah yang menutupi wajah Rachel yang sudah sah menjadi istrinya itu. Debaran jantung begitu cepat dan tak berirama mengiringi keduanya untuk saling menatap.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di bibir Rachel. Kedua insan manusia itu merasa canggung dan gugup satu sama lain. Perasaan yang belum pernah mereka rasakan sebelumya. Perasaan itu belum pernah Ramos rasakan pada Agnes dan begitu juga dengan Rachel yang memang tidak pernah dekat dengan lelaki sebelumnya.
'Bibirnya masih sekali. Ck ada apa dengan ku?' batin Ramos mengusap tengkuknya.
Acara itu hanya dihadiri oleh kedua belah keluarga besar. Tidak ada rekan bisnis Ramos yang datang ataupun teman-teman dekatnya untuk sekedar memberi ucapan selamat pada nya.
"Selamat ya, Nak." Irana memeluk putri sulungnya itu. "Ibu harap kau akan bahagia selalu, Nak. Jadilah istri yang baik dan patuh lah pada suamimu. Turuti apa yang dia katakan. Suami adalah imam dalam rumah tangga dan semoga kalian saling mengasihi dan menerima," ucap Irana melepaskan pelukannya
"Terima kasih, Bu." Satu tetesan lelehan bening itu lolos di pelupuk mata Rachel.
Setelah ini Rachel akan tinggal bersama suaminya. Dia akan meninggalkan Ibu dan adiknya. Rasanya begitu berat untuk melangkah jauh. Tetapi bukankah memang seharusnya begitu? Seorang istri akan meninggalkan ayah dan ibunya dan akan hidup bersama sang suami begitu juga sebaliknya.
__ADS_1
"Nak Ramos." Irana menyalami menantunya itu.
"Iya Bu?" Ramos tetap sopan meski sebenarnya dia benar-benar jenggah dengan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan ini.
"Ibu titip Rachel ya. Sayangi dan cintai dia. Jadilah seorang suami dan ayah untuknya. Dia sudah kehilangan figure seorang ayah dan dia butuh dibimbing untuk bisa lebih baik lagi. Dan jangan pernah menyakitinya. Jika kau bosan padanya kembalikan dia pada Ibu, Ibu sangat menyanyanginya, dia sudah terlalu banyak menderita selama ini. Jika dia salah arahkan dia untuk menjadi baik."
Sejenak Ramos terdiam mencerna perkataan Irana. Dalam benak dan hatinya sama sekali tidak tertarik menjadi suami Rachel. Bagaimana bisa dia mencintai wanita lain sedangkan yang ada dihatinya hanya Agnes?
"Baik Bu." Dia hanya mengiyakan padahal dia sudah berencana untuk menyiksa istrinya itu.
"Sayang, selamat ya." Maria memberikan pelukan hangat pada menantunya itu.
"Terima kasih, Mommy." Rasanya Rachel ingin menangis. Andai saja ada yang tahu bahwa dirinya tersiksa saat ini tapi dia tak berani menceritakan kepedihan hatinya.
"Selamat ya, Son." Maria turut memberikan pelukan pada putra sulungnya ini.
Ozawa dan Rayyan juga naik keatas pelaminan bahkan Rima tidak hadir di acara pernikahan kakaknya karena kondisinya yang belum benar-benar stabil.
"Selamat ya, Nak."
"Terima kasih, Dad." Rachel mengecup punggung tangan Ozawa sebagai rasa hormatnya sebagai menantu
"Son." Ozawa memberikan pelukan hangat pada putranya. "Karena kau sudah menjadi seorang suami ingat jangan nakal lagi," celetuknya seraya memperingatkan putranya tersebut.
"Dad, kau bisa sekali menggodaku." Ramos terkekeh pelan. Meski pembangkang dan keras kepala dia tetap menghormati keputusan kedua orang tua nya.
"Selamat ya." Rayyan menyalami Rachel. Istri Kakaknya ini benar-benar cantik.
__ADS_1
'Lihat saja nanti, jika Kak Ramos tidak bisa menjaga istrinya. Maka aku akan merebut Rachel dan menjadikan dia milikku,' batin Rayyan tersenyum licik.
"Terima kasih, Mas Ray." Sambut Rachel tersenyum lembut dan tahu kah Rachel bahwa senyum itu mampu menggoyahkan hati pria playboy itu.
Rayyan secepatnya memalingkan wajahnya kesembarangan arah takut ketahuan kalau dia terpesona dengan senyuman Rachel.
"Kak, selamat." Rayyan memeluk kakaknya "Cie ada teman tidurnya," godanya sambil terkekeh pelan.
Ramos memutar bola matanya malas. Dia paling suka sekali berdebat dengan adiknya ini.
"Cepat pulang sana," usirnya kesal.
"Sudah tidak sabar malam pertama ya, Kak?" bisiknya terkekeh. "Percayalah dia masih tersegel. Kalau kau tidak bisa membuka segelnya biar aku saja ya, aku 'kan lebih berpengalaman darimu."
Ramos menatap adiknya tajam. Kenapa tiba-tiba dia tidak suka mendengar godaan Rayyan? Dan benarkah jika Rachel masih tersegel?
'Cihh aku tidak percaya dia masih tersegel. Pasti dia sudah bekas banyak pria, lihatlah sikap lugunya itu hanya untuk menutupi keburukannya,' batin Ramos menatap istrinya dengan jijik.
Acara singkat. Setelah acara salam-salaman. Dilanjutkan dengan makan-makan dua belah pihak yang sudah disiapkan dengan matang oleh Maria dan Irana. Sebenarnya Maria ingin sekali pernikahan putranya kali ini diselenggarakan dengan mewah seperti putrinya dulu. Namun, siapa yang berani menolak keinginan Ramos daripada dia tidak menikah dengan Rachel lebih baik turuti saja keinginan putranya itu.
'Tuhan semoga setelah ini aku bahagia. Aku lelah dengan segala rasa sakit yang menghantam tubuhku. Dan izinkan aku jatuh cinta pada pria yang sudah menjadi suamiku ini. Semoga kami berdua bisa saling menerima satu sama lain,' batin Rachel melirik suaminya yang diam tanpa ekspresi.
'Jangan senang dulu wanita ******. Lihat saja nanti, aku akan membuatmu bagai hidup di neraka dan akan ku pastikan bahwa penderitaan mu seribu kali lipat karena sudah membawaku kedalam pernikahan gila ini,' batin Ramos tersenyum devil dan melirik istrinya.
'Ku akui dia memang cantik tapi sayang aku sama sekali tidak tertarik. Dia tidak lebih dari wanita ****** diliat sana yang menjajakan tubuhnya pada pria hidung belang,' batinnya lagi.
Bersambung....
__ADS_1