
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Seorang pria tampan sibuk dengan berkas ditangannya. Sesekali dia mencoret berkas itu jika tidak sesuai dengan data yang dia miliki.
"Heru."
"Iya Tuan?" Heru segera mendekat kearah mejanya.
"Ck, kenapa laporan ini bisa selisih? Panggilan Manager departement keuangan." Tingkahnya
"Baik Tuan." Heru segera melaksanakan perintah sang Tuan.
Pria itu tampak menghela nafas panjang. Dia melirik arloji ditangannya yang sudah menunjukkan jam makan siang. Namun dia belum lapar sama sekali.
"Hufffffh." Pria itu menghela nafas panjang
"Permisi Tuan."
Heru masuk bersama seorang pria paruh baya yang diyakini sebagai Manager keuangan diperusahaan miliknya.
"Perbaiki laporan itu." Dia memberikan berkas kepada lelaki paruh baya itu.
"Baik Tuan. Saya permisi."
Ramos memijit-mijit pelipisnya. Hidupnya selalu begini. Sepintas pekerjaan dan kesibukan saja.
"Apa anda ingin makan siang Tuan?" Tawar Heru.
Ramos menggeleng "Tinggalkan aku sendiri Heru." Dia mengibaskan tangannya menyuruh Heru keluar.
"Baik Tuan, saya permisi."
Ramos memutar kursi kebesaran menghadap kearah jendela ruangannya. Ruangan transparan yang dinding nya terbuat dari kaca asli. Hingga menampilkan seluk beluk kepadatan kota Jakarta.
Tatapan pria itu terlihat dingin. Tatapannya tajam dan tak ada yang tahu arti dari tatapan itu selain dirinya sendiri.
Beberapa bulan terakhir dia selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan yang menumpuk namun tetap saja bayangan terakhir dan teriakkan sang istri, terus terngiang dikepalanya.
"Argghhh." Ramos kembali memegang kepalanya yang berdenyut sakit setiap kali mengingat tangisan Rachel.
Beberapa bulan terakhir dia terus mencari dimana keberadaan istrinya. Dia sudah mengirim detektif bayaran untuk melacak keberadaan sang istri. Namun tetap tak ada jejak kaki yang menunjukkan dimana istrinya berada.
Ramos memijit pangkal hidung nya. Sekarang hidupnya tak teratur. Yang dia inginkan hanya bertemu dengan istrinya dan meminta maaf, serta menebus semua kesalahan yang dia perbuat.
"Rachel." Lirihnya
"Bisakah kau kembali padaku? Memberiku satu kesempatan lagi!" Dia memejamkan matanya berusaha menetralisir emosi yang membuncahnya didalam sana.
__ADS_1
Ramos berdiri dari duduknya. Dia menyambar ponsel, kunci mobil dan dompet nya yang berada di atas meja. Sedangkan jas nya dia biarkan begitu saja.
Langkahnya terhenti ketika melihat Rayyan masuk kedalam ruangannya.
"Ada apa?" Tanyanya tak suka.
"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin berkunjung." Rayyan duduk disoffa tanpa disuruh sambil menyenderkan punggungnya disana.
"Katakan ada apa, aku tidak punya banyak waktu!" Dia menatap adiknya sinis.
"Ehem, kau selalu tahu apa yang ku mau Kak." Rayyan terkekeh "Tapi sayang, aku sedang tak ingin apa-apa. Selain ingin tiduran disini." Rayyan seloyoran di soffa sambil berbaring.
Ramos tak menanggapi kegilaan adiknya. Dia melenggang keluar dari ruangannya meninggalkan Rayyan begitu saja.
Rayyan bangun setelah Kakak nya sudah keluar. Sejak Rachel menghilang, hubungan keduanya tak pernah akur.
"Sadarlah Kak. Rachel takkan pernah kembali padamu. Kau sudah melepaskan apa yang kau genggam dan kau takkan bisa mengenggam nya lagi." Ucapnya kembali berbaring.
"Ahhh enaknya." Karena lelah dengan jadwal meeting nya yang bejibun, akhirnya Rayyan tertidur.
.
.
.
.
Ramos keluar dari mobil dan membanting pintu mobil dengan kuat. Dia berjalan masuk, tatapannya kosong. Sudah hampir satu tahun istrinya itu menghilang dan hingga kini tak ada kabar. Tak ada jejak. Tak ada satu informasi pun yang menujukkan dimana keberadaan Rachel.
"Rachel."
Saat masuk kedalam Apartement nya Ramos selalu merasakan kehampaan. Kosong. Sunyi. Senyap. Tak ada suara yang menyambut nya selain dentingan jam dinding yang menempel di dinding ruang tamunya.
Hatinya seketika hampa tak berguna. Tak bisa merasakan apa-apa. Seperti sebuah tayangan dalam sebuah film yang diputar ulang dikepalanya. Dia mengingat bagaimana menyiksa istrinya, membuat wanita itu menangis kesakitan.
Ramos duduk dikursi meja makan yang kosong. Dulu makanan selalu tertata rapih disana tapi dia tidak pernah menyentuhnya karena dia tidak sudi, makan masakan dari seorang wanita yang begitu dia benci kehadiran nya.
Ramos duduk seolah sedang menunggu seseorang. Dia menoleh kesana-kemari dengan mata berkaca-kaca. Wibawanya sebagai pria kejam tak lagi terlihat. Dia bukan lagi pria kejam tapi pria menyedihkan. Dia bukan lagi pria berwibawa tapi pria yang tengah patah hati.
"Aku rindu Rachel. Aku baru sadar jika aku sudah mencintaimu." Lirihnya.
Ramos menyenderkan punggungnya dikursi meja makan. Dia menangis tersedu-sedu, merindukan masakkan Rachel yang begitu pas dilidah nya. Masakkan terenak dari restoraurant bintang lima.
Pria itu berjalan kearah kamarnya. Kosong sama seperti hatinya yang juga kosong dan hampa.
Dia menuju ranjangnya. Lalu mengambil gaun yang sempat dia kotak. Gaun yang dia belikan untuk Rachel.
__ADS_1
Ramos memeluk gaun itu sambil meringguk diatas ranjang. Begitulah dia jika mengingat istrinya, dia akan memeluk gaun itu. Menyesap bau harum yang tertinggal digaun itu. Setidaknya, bisa sedikit mengobati segala rindu yang mengembang dalam dadanya.
Isak tangis terdengar menggema didalam kamar itu. Dia menangis sambil memeluk baju yang sudah tak berbentuk akibat dia sendiri yang mengoyakkannya.
Hatinya kembali terkoyak saat adengan dia menyiksa istrinya terekam jelas di kepalanya.
Ramos tertidur setelah puas menangis. Padahal waktu masih siang tapi dia sudah terlelap karena kelelahan. Lelah karena menangis. Lelah karena beban pikiran dan pekerjaan nya.
.
.
.
.
"Ehem, ini tidak bisa dibiarkan. Ramos harus kembali ke dalam pelukan ku. Bagaimana pun caranya?" Agnes berdiri mondar-mandir sambil mengigit ujung jarinya.
"Sial, lihat saja nanti. Aku akan membalaskan dendamku pada Ramos. Dia sudah membacklist namaku dari semua agensi." Agnes melempar semua barang yang ada diatas meja.
"Atau aku temukan Rachel, lalu aku bisa mengancam Ramos untuk menyerahkan semua hartanya padaku." Agnes tersenyum licik "Aku tahu betapa Ramos menyesal karena telah menyiksa wanita itu. Hem, ide bagus."
Dia meronggoh ponsel di tas munggil miliknya. Lalu menghubungi seseorang.
"Datang lah ke Apartement ku. Aku memiliki tugas yang harus kau lakukan. Segera."
Dia mematikan sambungan nya dan tersenyum devil saat membayangkan Ramos kembali bertekuk lutut dikakinya.
"Kau akan kembali menjadi milikku Sayang. Dirimu. Hartamu. Akan jadi milikku. Kau akan kubuat jadi budakku. Agar kau merasakan semua rasa sakit yang aku rasakan."
Bersambung........
Hai guys....
Makasih buat kalian yang selalu setia nungguin cerita Rachel...
Makasih buat saran dan masukannya..
Makasih koreksinya juga...
Mohon maaf author belum bisa balas satu-satu hehe..
Mohon maaf juga update kurang banyak wkwwk...
Puji Tuhan diawal Maret nanti author usahain update banyak2.. hhee..
Jangan lupa dukungnya ya guys... Love kalian banyak-banyak...
__ADS_1