
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Hai putri kecil nya Papa," sapa Sandy tersenyum pada Gerra, "Mau makan?" Tanyanya duduk disamping.
"Mommy dimana Pa?" Gadis itu celingak-celinguk mencari sang Ibu
"Mommy pulang sebentar Sayang," jawab Sandy.
"Ayah dimana?" Gerra tak melihat Choky biasanya, Ayahnya itu selalu ada.
"Ayah sedang ke kantor bekerja," Sandy tersenyum hangat. Gadis kecil ini memang cerewet.
"Gerra makan yuk Nak," ajak Sandy.
"Pa, Gella ingin ketemu Daddy. Gella penasalan Daddy seperli apa orangnya. Kata Kak Gelald Daddy orang baik." Kata Gerra
Sandy menghela nafas panjang lalu memaksakan senyum nya. Ikatan batin antara Ayah dan anak tidak bisa dihilangkan.
"Tapi_"
"Papa jangan bilang pada Mommy. Nanti Mommy sedih lagi. Gerra hanya ingin bertemu Daddy. Gerra ingin makan disuapin Daddy, Pa," pintanya dengan mata berkaca-kaca, tatapannya penuh harap.
Sandy tak bisa menolak apalagi melihat wajah Gerra yang tampak sendu saat meminta bertemu dengan Ayah kandungnya.
"Sebentar ya Girl," Sandy meronggoh ponselnya.
Sandy menghubungi Choky agar menahan Rachel untuk tidak datang kerumah sakit. Sandy takut Rachel tahu kalau dia membawa Gerra bertemu Daddy nya.
Rachel tidak marah jika anak-anak nya bertemu dengan Ramos. Hanya dia tidak bisa mendengar nama pria itu. Jika mau bertemu Ramos tidak perlu izin darinya. Selama Ramos tidak membawa anak-anak nya pergi itu tidak masalah.
"Ayo Girl," ajak Sandy.
Alat medis ditubuh Gerra sudah dilepaskan, terutama infuse karena tangan Gerra sudah membengkak karena jarum infuse yang terlalu lama menempel ditangannya. Sedangkan alat medis yang lain nya juga sudah dilepaskan, kondisi gadis itu sudah mulai stabil. Daya tahan tubuhnya juga sudah mulai menyesuaikan dengan kondisi tubuhnya.
__ADS_1
Sandy menggendong gadis kecil itu. Tampak wajah Gerra yang tak sabar. Meski masih pucat tapi gadis ini sudah kembali ceria. Senyumnya mengembang dan tangannya melingkar dileher Sandy.
"Parfum Papa wangi sekali," puji Gerra. Dia paling suka mencium wangi dari parfum Papa-nya ini.
Sandy terkekeh pelan. Inilah yang membuat dia tidak bisa jauh dari Gerra. Gadis kecil ini selalu bisa membuatnya tertawa.
"Kau ini...." Sandy mencium pipi Gerra dengan gemes.
Gerra tergelak dan terkekeh. Dia membenamkan wajahnya dicekuk leher Sandy. Dulu Gerra berharap Mommy nya menikah dengan sang Papa, karena Gerra begitu menyukai sifat Sandy yang lemah lembut dan selalu menuruti kemauan nya. Persis seperti seorang Ayah pada anaknya. Sesibuk apapun Sandy dalam berkerja selalu menyempatkan waktu untuk bermain bersama Gerra. Hal itulah yang membuat gadis kecil ini sangat menyanyangi Papa-nya.
Sandy membuka pintu ruangan Ramos. Tampak Ramos tengah sibuk dengan laptop dipangkuan nya. Dia sedang mengerjakan beberapa pekerjaan kantor yang tertinggal selama dia di Sidney.
"Ramos,"
Ramos mengarahkan pandangan nya kearah Sandy yang masuk kedalam ruangan nya. Seketika pandangan pria itu tertuju pada gadis kecil yang digendong Sandy.
"Daddy."
Ramos menutup laptopnya dan meletakkan laptop itu diatas nakas. Tapi tatapan matanya tertuju pada gadis kecil yang memanggilnya Daddy.
Mata Ramos berkaca-kaca melihat gadis kecil yang dari kemarin ingin dia peluk itu. Benarkah itu gadis kecil yang selama ini dia rindukan? Benarkah itu putrinya?
"Daddy."
"Girl,"
Sandy memberikan Gerra pada Ramos agar Ramos menggendong nya.
"Daddy,"
Ayah dan anak itu saling berpelukan melepaskan kerinduan mereka. Ramos menangis sambil memeluk putri kecilnya. Seperti bermimpi bisa memeluk tubuh gadis kecil ini. Rasanya tak percaya jika dia bisa memeluk tubuh anaknya ini.
"Sayang,"
__ADS_1
"Daddy,"
Begitu juga dengan Gerra yang menangis didalam pelukkan Ramos. Dia sempat membenci Daddy nya itu namun saat mendengar cerita dari sang Kakak, Gerald. Gerra jadi paham. Dia tahu kesalahan yang dilakukan Ramos pada Rachel memang diluar perlakuan manusia tapi setiap orang pernah bersalah.
"Daddy sangat menyanyangimu Nak. Sangat. Maafkan Daddy. Kalian harus lahir tanpa Daddy di sisi Mommy. Maafkan Daddy, Nak," ucap Ramos mengusap kepala plontos putrinya. Rambut Gerra habis terpangkas karena kemoterapi tersebut.
"Hiks hiks Gella sayang Daddy. Gella sangat sayang Daddy. Gella lindu Daddy hiks hiks. Kenapa Daddy pelgi lama?" Tangis gadis kecil itu pecah didalam pelukan Ramos.
Sandy ikut terharu. Bagaimana bisa dia memisahkan Ayah dan anak itu? Padahal dia sudah berencana membawa Rachel dan anak-anak nya pergi jauh dari sisi Ramos demi kesehatan mental Rachel. Namun melihat betapa saling menyayangi nya Ayah dan anak ini membuat hati Sandy tak tega memisahkan mereka. Apalagi Ramos sudah menanti sekian lama. Tidak mungkin Sandy egois memisahkan mereka.
"Daddy juga merindukanmu Nak. Maafkan Daddy."
Seandainya Ramos bisa mengubah waktu. Dia takkan menyia-nyiakan Rachel. Dia akan mencintai Rachel dengan baik. Dengan sepenuh hati dan jiwanya menjadikan wanita itu ratu dalam hidupnya. Namun sudah terlambat. Dia sudah menanamkan luka yang akan sulit sembuh dihati Rachel. Dia tak hanya menanamkan luka tapi juga trauma berat dan kebencian. Entah bagaimana nanti wanita itu akan sembuh dari semua trauma yang dia alami.
Ramos melepaskan pelukan putri kecilnya. Dia mencium kening gadis itu dengan sayang. Sangat sayang. Seandainya Ramos bisa bersama anak-anaknya setiap waktu, tinggal dalam satu rumah yang sama dan bahagia seperti keluarga pada umumnya. Seandainya saja. Namun sayang itu tidak akan mungkin selama Rachel tak mau menatap wajahnya.
Gerra membalas ciuman Ramos dipipi lelaki yang menjadi Ayah nya itu. Gerra merasa nyaman dan tenang dipelukan Ramos. Sangat berbeda jika dia dipeluk oleh Sandy atau Choky.
"Bagaimana keadaan putri Daddy? Apakah sudah tidak sakit lagi, Nak?" Mata Ramos masih berkaca-kaca. Dia mengusap lembut wajah putri kecilnya ini. Sayang sekali dengan gadis kecilnya ini.
"Gella masih sakit Daddy. Disini." Dia menunjuk bagian punggung nya, "Sakit Daddy," adunya merenggek.
"Biar Daddy usap ya Nak," Ramos melihat bekas operasi di punggung putri kecilnya. Hatinya berdenyut sakit melihat jahitan operasi dipunggung putrinya.
"Dad, Gella ingin makan di suapin Daddy. Gella belum makan," pinta gadis itu sendu.
"Tentu sayang. Kita makan bersama ya,"
Sandy duduk dikursi dekat ranjang Ramos sambil memperhatikan kedua orang itu. Tampak Ramos menyuapi Gerra. Lalu Gerra juga menyuapi Ayah nya itu. Keduanya tampak bahagia. Setelah penantian lama akhirnya Ayah dan anak ini bisa bertemu juga.
Sandy tak memiliki banyak harapan selain kesembuhan Gerra dan Rachel. Setelah Gerra sembuh dia harus serius dengan penyakit ginjal Rachel. Sampai sekarang Rachel masih memiliki satu ginjal karena pernah mendonorkan ginjal nya pada sang adik lima tahun yang lalu
**Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen nya guys**..