
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
"Uncle Ray," seru Gilbert dan Gerald.
Lelaki itu mendengus kesal. Ia memutar bola matanya malas. Kenapa setan kecil ini berkeliaran di mansion mewahnya?
"Kenapa kalian ke sini?" tanya Rayyan ketus.
"Bertemu dengan Uncle," sahut Gerald.
Ada Ramos dan Rachel juga disana. Mereka sedang berkunjung kerumah kedua orang tua Ramos. Sudah lama mereka datang ke Indonesia tapi baru kali ini keduanya mengunjungi Ozawa dan Maria.
"Kak," Rayyan duduk disofa
"Bagaimana perusahaan Ray?" tanya Ramos melihat adiknya yang tampak kusut. "Kamu kenapa? Patah hati?" ledek Ramos. Adiknya ini play boy kelas kakap yang sering bergonta-ganti pasangan. Tapi hingga kini belum menikah, entah wanita seperti apa yang dicari lelaki itu.
"Patah hati itu apa Dad?" sambung Gerra melirik Ramos dan Rayyan secara bergantian. Jiwa ingin tahu nya sangat besar sehingga tak heran jika dia disebut putri kepo.
"Hemm, itu Sayang putus cinta," sahut Ramos asal.
"Putus cinta itu apa?" tanya Gerra lagi.
Rayyan mendelik melihat keponakan nya. Ketiganya sama saja masih kecil tapi ingin tahu masalah orang dewasa.
"Jangan bertanya terus Gerra. Kasihan Uncle Ray, nanti dia menangis," sambung Gerald. "Uncle, boleh pinjam ponsel?" sambil menengadah kan tangannya.
"Tidak boleh," tolak Rayyan menyembunyikan ponselnya. "Kalian kan punya? Kenapa mau pinjam punya Uncle?" Rayyan menatap kedua nya curiga. Jangan sampai setan kecil ini mengerjai nya lagi. Dia sudah kapok akibat ulah si kembar.
"Son," tegur Rachel sambil membawa dua dot ditangannya. "Jangan begitu," ucapnya lembut.
"Maaf Mom," keduanya mengangguk patuh sambil menunduk. Kalau sudah Rachel yang angkat bicara mana berani mereka.
"Mas, aku bawa anak-anak ke kamar dulu ya. Seperti nya mereka mengantuk," ucap Rachel mendorong box bayi kedua anak kembarnya.
"Iya Sayang," sahut Ramos tersenyum dan menatap istrinya penuh cinta. Ahh betapa beruntungnya dia memiliki istri sempurna seperti Rachel.
__ADS_1
"Son, ayo ikut Mommy ke kamar," ajak Rachel.
"Iya Mom," sahut ketiganya mengikuti Rachel.
Ramos tersenyum menatap istri dan anak-anak nya. Harta paling berharga dalam hidup nya adalah istri dan anak-anak nya.
"Ray," Ramos melirik adiknya.
"Iya Kak?" sahut Rayyan.
"Apa kamu tidak ingin memiliki keluarga?" tanya Rayyan pada adiknya.
Rayyan mendelik dan melihat kakaknya. Menikah? Sungguh kalimat itu sama sekali tidak ada didalam hidup Rayyan. Ia belum tertarik untuk memulai hubungan dengan wanita.
"Aku tidak ingin menikah," jawab Rayyan tegas. "Aku ingin hidup bebas dan_"
"Ehem, supaya kamu bisa bermain wanita?" Ozawa menatap putranya penuh selidik.
"Daddy," Rayyan mendesah pelan.
"Awas, jangan macam-macam. Daddy mengawasi mu dan Daddy akan menjodohkan kamu dengan Chicha. Kata Gilbert dan Gerald, kamu sering menggoda dia," jelas Ozawa menatap Rayyan tajam
Lagi-lagi Rayyan terkejut. Dari mana setan kecil itu tahu kalau dirinya menggoda Chicha. Padahal ia selalu hati-hati dalam bertindak tapi masih saja di ketahui oleh kedua anak kecil itu.
"Ck, Daddy tidak bisa begitu," Rayyan memang mengincar Chicha tapi bukan menjadikan wanita itu istrinya melainkan ingin membalaskan dendamnya karena Chicha sudah berani-berani menolak pesona seorang Rayyan.
"Daddy tidak menerima penolakkan. Besok malam persiapkan diri kamu. Kita akan kerumah Paman Morres untuk melamar Chicha," tegas Ozawa.
"Dad, come one. Don't kidding me," Rayyan tidak terima. Ahh Chicha wanita jutek dan cerewet. Ia sudah bayangkan hari-hari nya akan pusing jika menikah dengan gadis itu.
"Terima saja Ray," Ramos menepuk pundak adik nya. "Percayalah ada cinta didalam perjodohan," lalu ia terkekeh. "Chicha itu gadis yang baik. Cocoklah sama kamu yang kurang tampan ini," ucapnya. Sejak menikah dengan Rachel, jiwa humor Ramos tinggi. Jika dulu ia dingin tak tersentuh maka sekarang, ia selalu suka membuat orang tersenyum.
.
.
__ADS_1
.
"What's?" pekik Chicha.
"Astaga Chicha, jangan teriak-teriak," protes Morres pada putrinya. "Kamu ini, anak gadis itu harus sopan sedikit," omel Morres. Bisa-bisa darahnya akan naik lagi jika terus mengomel setiap hari. Tidak Choky, tidak Chicha sama saja membuat kepalanya pusing.
"Mom, ini bercanda kan? Aku tidak mungkin di jodohkan dengan play boy itu," tolak Chicha tegas.
"Rayyan itu tidak play boy ia hanya suka bergonta-ganti pasangan," sahut Lewi menjelaskan.
"Hanya beda tulisan saja Mom," ucap Chicha cemberut.
Choky tak mau ikut campur. Ia pun sedang berpikir keras. Bagaimana caranya menghindari perjodohan gila dan tidak mungkin ini.
"Dad, kalau aku punya kekasih. Apa perjodohan ini akan di batalkan?" ucap Choky.
"Ya kalau kamu punya kekasih. Daddy bisa batalkan. Tapi bawa kekasih mu itu ke rumah untuk bertemu dengan Daddy dan Mommy," sahut Morres.
Lewi tersenyum simpul. Kedua anaknya sama-sama di jodohkan. Ia sudah membayangkan jika Choky dan Chicha menikah secara bersamaan, otomatis ia akan memiliki dua cucu sekaligus. Bagaimana kalau misalnya cucu nya kembar seperti anak-anak Rachel? Bisa bahagia dunia akhirat dia membayangkan hari-hari indah di masa tua nya nanti.
"Memang Kakak punya pacar?" tanya Chicha menyelidiki. "Setahu aku Kakak tidak pernah dekat dengan siapapun," Chicha memincingkan matanya curiga.
"Jelas ada lah, kamu itu yang tidak tahu," kilah Choky. Padahal dia memang belum memiliki kekasih.
Bukan apa Morres dan Lewi menjodohkan kedua anak nya. Usianya sudah tak muda lagi. Ia ingin melihat anak-anak nya menikah sebelum usia menjemput ia pergi. Semoga saja keputusan nya menjodohkan Choky dan Chicha adalah pilihan yang tepat untuk masa depan anak-anak nya itu.
"Sudah. Sudah. Lanjut makan," seru Lewi.
Chicha makan dengan kesal. Dalam hidupnya. Ia tak pernah berpikir jika Rayyan adalah jodohnya. Ia begitu jengkel dengan lelaki playboy yang selalu suka menggoda nya seperti Rayyan. Tapi ia tidak memiliki alasan untuk menolak perjodohan itu.
'Andai saja di jodohkan dengan Kak Sandy, aku pasti takkan menolak. Tapi ini, aku malah di jodohkan dengan pria karatan seperti Kak Rayyan,' ucap Chicha kesal. Gadis itu hanya menggerutu dalam hati.
'Ehem, aku bisa memanfaatkan gadis itu sebagai kekasih pura-pura ku. Agar aku terlepas dari perjodohan gila ini,' batin Choky tersenyum licik.
Choky belum ingin menikah. Ia masih ingin menikmati kesedihan dan melebarkan sayap nya didunia bisnis. Membangun hidup nya baik-baik. Itu keinginan Choky. Padahal dia sudah kaya raya. Harta nya berlimpah, dia tidak kerja bertahun-tahun saja. Ia akan tetap kaya. Tapi tetap saja Choky gila kerja. Baginya bekerja adalah cara ia melupakan stress dikepalanya.
__ADS_1
**Bersambung... **