
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Gilbert dan beras bersorak saat Sandy mengizinkan mereka ikut ke kantor dan rumah sakit hari ini.
"San, titip anak-anak," ucap Ramos.
"Iya Mos. Tenang saja," sahut Sandy. Dia tidak tahu saja jika ada udang dibalik bakwan.
"Anak-anak," panggil Benedicto.
"Iya Opa," ketiga nya langsung menghampiri Benedicto. Kali ini Gerra ikut dalam rencana mereka.
"Kalian hati-hati ingat jangan nakal. Jangan buat Papa pusing," pesan Benedicto sambil mengedipkan matanya tanda rencana dimulai.
"Iya Opa,"
Sandy berangkat bersama ketiga anak angkatnya. Dia senang sekali karena ada yang menemani dirinya menghabiskan waktu dengan berkas-berkas yang membuat kepala pusing.
Tidak ada hal yang istimewa dari segala yang ada dikehidupan Sandy, selain ketiga anak kembarnya dan Rachel. Rachel tetap dunia nya yang dulu. Meski kini dunia itu bersinar kembali dan sayang nya ia tak bisa lagi tinggal didunia itu. Tetap setidaknya, ini cukup membuat hatinya sedikit tenang karena Rachel sudah menemukan kebahagiaan nya.
Sandy tersenyum simpul mendengar celotehan dan perdebatan ketiga saudara kembar itu. Ia memiliki hiburan tersendiri dikala lelah menyerang saat pulang melihat senyum yang selalu membuatnya terbayang.
Sampai dirumah sakit. Sandy langsung turun bersama ketiga anak angkatnya. Ia memang tak memiliki supir pribadi atau asisten pribadi. Ia lebih nyaman kemana-mana seorang diri tanpa harus dikawal setiap hari.
Semua dokter dan perawat bertanya-tanya, siapa ketiga anak kembar itu. Sebelumnya mereka belum tahu jika Ramos sudah menikah karena yang mereka tahu hubungan Ramos dan Agnes sudah lama kandas setelah skandal Agnes dan asisten nya diketahui oleh Ramos dan media.
"Apa mereka anak Dokter Sandy?"
"Tapi kenapa wajahnya seperti Tuan Ramos?"
"Gadis kecil itu wajahnya cantik sekali,"
Berbagai tanggapan dari para dokter dan perawat saat melihat Sandy bersama tiga anak kembar itu. Wajah mereka asing namun mirip sekali dengan pemilik rumah sakit ini.
.
.
.
__ADS_1
Sandra turun dari motor dan tak lupa dia melepaskan helm di kepalanya.
"Mas, terima kasih sudah mengantarku," ucapnya sambil mengembalikan helm itu pada Bima.
"Sama-sama. Nanti Mas, jemput yaa," tangan Bima terulur memperbaiki rambut Sandra yang sedikit berantakan. "Pulang jam berapa? Mau makan siang bersama?" tanya Bima sambil menjauhkan tangannya dari kepala Sandra.
Bima adalah polisi tampan yang di gilai oleh banyak kaum hawa. Namun entah kenapa sampai sekarang ia masih betah dalam kesendirian. Ia mengenal Sandra dalam acara relawan bakti sosial kesehatan di masyarakat kurang mampu. Saat ini Sandra terpilih menjadi perwakilan farmasi bedah dan Bima juga ditugaskan untuk memantau berjalannya acara.
Disana lah pertemuan mereka berdua dimulai. Keduanya akrab dan berteman layaknya saudara. Bima selalu membantu Sandra dalam kesulitan, apalagi waktu itu Ibu-nya Sandra sudah sakit-sakitan. Begitu juga Sandra yang selalu membantu Bima.
Bima anak sulung dari tiga bersaudara. Ia harus membiayai sekolah kedua adiknya karena orang tua Bima sudah lama menghadap sang pencipta.
"Aku makan siang dengan Henny, Mas. Mungkin hari ini sampai malam karena aku mau ganti ship aku yang kemarin," jelas Sandra. "Sekali lagi terima kasih ya Mas. Maaf banyak merepotkan," ucap Sandra tak enak hati.
"Sama sekali tidak Ra. Mas tidak merasa direpotkan," balas Bima.
"Ya sudah Mas, aku masuk yaaaa," pamit Sandra.
"Iya hati-hati," Bima melambaikan tangannya.
Bima menatap punggung Sandra sambil tersenyum.
"Mas janji Ra, tidak akan pernah meninggalkan mu dan jangan takut, kau tak pernah sendirian. Mas akan disini menemani mu, Mas sangat menyanyangi mu," ucap Bima tersenyum sambil menjalankan motornya meninggalkan rumah sakit.
Ting
Gadis itu meronggoh ponselnya saat mendengar ada notifikasi pesan baru masuk kedalam ponselnya.
"Nomor siapa ini?" tanyanya sambil membuka chat masuk disana. "Dokter Sandy?" gumam Sandra setengah tak percaya. "Dokter Sandy mengajakku makan siang?" kening Sandra berkerut. Gadis itu tampak berpikir kuat. "Bukan. Ini pasti bukan Dokter Sandy, mana mungkin dia mengajakku makan siang bersama?" kilah Sandra sambil menggelengkan kepalanya.
"Huffhhhhhhh," gadis itu menghela nafas panjang. Ia tersenyum kecut memikirkan nasib hidup.
Ting
Pintu lift terbuka. Tatapan Sandra dan Sandy saling bertemu kebetulan Sandy juga hendak masuk kedalam lift bersama ketiga anak angkat.
"Selamat pagi Dokter," sapa Sandra tersenyum manis.
"Pagi," balas Sandy.
__ADS_1
"Kak, bukannya ini Aunty Sandra?" bisik Gerald
Gilbert mengangguk. "Silahkan masuk Mama ehh salah maksud Aunty," ucap Gilbert menepuk bibirnya yang salah ucap.
Sandy mendelik mendengar Gilbert memangil Sandra dengan panggilan Mama. Begitu juga dengan Sandra yang terheran-heran mendengar nama panggilan Gilbert.
"Aunty ayo masuk," ajak Gerra yang masih digendong Sandy.
"Terima kasih Nona," Sandra masuk dan berdiri berdampingan dengan Sandy.
Dalam hati Sandra bertanya-tanya. Siapa ketiga anak kembar ini. Apa ini anak-anak Sandy? Tapi setahu Sandra, Sandy belum menikah apalagi duda? Dan wajah ketiga anak itu pun sama sekali tak mirip dengan wajah Sandy.
"Aunty siapa namanya?" Gerra mengulurkan tangan nya. "Perkenalkan Aunty, namaku Gella,"
"Gerra Aunty, bulan Gella," rawat Gerald.
"Ohh Gerra ya. Perkenalkan nama Aunty, Sandra," balas Sandra menyambut uluran tangan Gerra.
Sementara Gilbert dan Gerald saling berbisik-bisik. Entah apalagi yang direncanakan oleh kedua anak kembar itu. Mereka seolah tak kehabisan ide jika dalam membuat rencana.
"Dok, saya boleh bertanyalah?" ucap Sandra.
Sandy mengangguk. Pasti Sandra mau bertanya tentang ketiga anak yang ikut dengannya.
"Apa ini nomor Dokter?" Sambil menunjukkan layar ponselnya.
Sandy memincingkan matanya memastikan nomor yang tertera di chat ponsel Sandra. Lelaki itu terkejut ketika membaca tulisan yang mengajak Sandra makan siang bersama.
"Ehem, iya," sahut Sandy. Sandy melirik Gilbert dan Gerald yang tampak santai-santai saja.
"Ohh saya pikir ini bukan nomor Dokter," Sandra tersenyum kaku. Namun gadis itu tak mau baper bisa jadi Sandy salah kirim 'kan? Mana mungkin dokter setampan dan sekaya itu mau makan siang dengannya.
"Tidak keberatan makan siang bersama saya dan anak-anak?" ucap Sandy melirik Sandra. Jantung nya berdegup kencang. Ia harus memberi pelajaran pada Gilbert dan Gerald yang sudah mengerjai nya hari ini.
Sandra terkejut ia menatap Sandy setengah tak percaya.
"Ayo Aunty makan siang bersama kami," ajak Gerald menarik ujung baju Sandra.
"Iya Aunty. Tenang saja nanti Papa yang bayar," imbuh Gerald ikut mengajak.
__ADS_1
Sedangkan Gilbert santai-santai saja. Kalau sudah masalah rayu merayu itu bukan urusannya. Yang penting rencananya sudah berjalan lancar. Gilbert tak sabar menerima hadiah ucapan terima kasih dari Benedicto karena rencananya berjalan lancar.
.