
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Rachel mengusap kepala putri kecilnya yang terlelap. Beberapa selang mengalir dibagian tubuh Gerra. Dia menatap lama wajah gadis kecil itu. Copyan dirinya diwaktu kecil tergambar jelas di wajah anak perempuan nya itu.
"Kau harus kuat ya Nak. Demi Mommy. Kau segalanya untuk Mommy," ucapnya dengan lirihan pelan "Mommy berjanji akan menjaga Ibu dan Ayah untuk mu." Sambungnya lagi "Semoga badai ini segera berlalu dan kita bahagia lagi seperti kemarin."
Akibat kemoterapi itu menghilangkan rambut panjang Gerra, tubuh kecilnya juga mudah drop-dropan. Beberapa obat terbaik sudah Sandy berikan agar daya tahan tubuhnya kuat.
"Hel." Sandy masuk kedalam ruangan rawat Gerra yang berada di istana keluarga Choky.
"Iya Mas."
"Makan dulu dari kemarin kau belum makan," ucap Sandy meletakkan nampan berisi makanan diatas meja.
"Aku belum lapar Mas." Rachel kembali menatap putri kecilnya "Aku tidak bisa makan jika Gerra dalam kondisi seperti ini," ucapnya lagi. Hati Ibu mana yang takkan tersiksa melihat putri kecilnya di siksa oleh ribuan jarum suntik yang menancap dikulitnya.
"Hel." Sandy menghela nafas panjang "Jangan begitu, kalau kau tidak makan kau bisa sakit. Kalau kau sakit, kau takkan bisa jadi penguat untuk anak mu sendiri," ujar Sandy "Ayo makanlah, setidaknya sedikit."
"Tapi Mas_" Air mata Rachel tak bisa dibendung lagi "Aku takut. Aku takut Mas kalau Gerra akan pergi meninggalkan aku dan kedua Kakaknya. Aku, aku tidak sanggup tanpanya Mas. Aku tidak sanggup lagi kehilangan. Sudah cukup aku kehilangan Ibu dan Rima, sekarang aku tak ingin lagi kehilangan putriku satu-satunya," ucap Rachel.
Sandy menggenggam tangan Rachel. Dia paham perasaan wanita ini. Sandy sudah lebih dulu merasakan kehilangan. Dia bahkan harus kehilangan orang-orang yang dia cintai dihari yang sama dalam kecelakaan maut yang menghilangkan tiga orang sekaligus.
"Gerra takkan pergi. Gerra akan bersama kita selamanya. Mas berjanji, akan melakukan pengobatan terbaik agar Gerra bertahan disini. Mas janji." Tangan Sandy terulur mengusap pipi Rachel "Semua akan baik-baik saja. Kau tidak sendirian menghadapi ini. Ada Mas, ada Choky ada putra kembarmu, ada Daddy dan Mommy dan ada kita semua. Kita semua mendukung. Kita semua akan membantu. Jadi jangan takut," ucap Sandy menenangkan.
Bukan hanya Rachel yang takut tapi Sandy juga. Hari semakin hari kondisi Gerra semakin menurun, daya tahan tubuhnya juga berubah drastis. Gadis kecil yang biasa tampil ceria dengan senyuman yang mudah menular itu kini hanya terbaring lemah diatas ranjang dengan mata terpejam dan wajah yang pucat.
"Terima kasih Mas. Mas Sandy dan Mas Choky sudah selalu ada buat aku. Aku tidak tahu seperti apa hidupku tanpa kalian berdua Mas. Terima kasih sudah menemaniku dalam suka mau pun duka. Dalam susah mau pun senang. Dan tetap memberiku dukungan disaat aku merasa tak kuat untuk bertahan. Aku menyanyangi kalian Mas. Kalian adalah Kakak terbaik untukku." Rachel memeluk Sandy.
__ADS_1
Sementara Sandy memejamkan matanya. Menahan gejolak yang menggelora didalam hatinya. Rachel hanya menganggap dirinya sebagai seorang Kakak tidak lebih. Kenyataannya wanita beranak tiga itu takkan bisa membuka hati untuk nya atau pun Choky.
Sandy sadar diri dari pada berimajinasi tinggi. Dia tidak ada niat lagi untuk menolong Rachel, dia tulus. Biarlah perasaan yang tak seharusnya ini hilang dan pergi dari ingatan.
Sandy melepaskan pelukannya "Jangan menangis lagi." Dia menyeka air mata wanita itu "Ayo makan dulu." Sambil mengangkat piring diatas nakas yang berisi makanan.
"Mas suapin. Mau?"
Rachel mengangguk sambil mengusap pipinya yang basah. Dia memang wanita rapuh. Sebab tak ada Ibu yang baik-baik saja melihat anaknya terbaring tak berdaya seperti itu.
"Makan yang banyak biar cepat besar." Goda Sandy.
"Mas." Rachel tersipu malu "Aku malah sudah tua. Sudah memiliki tiga anak." Dia terkekeh pelan
"Tapi kau masih cenggeng." Sandy mencubit pipi Rachel dengan gemes. Wanita ini meski memiliki tiga anak tapi wajahnya masih saja seperti remaja umur belasan tahun.
"Mas sakit." Rintih Rachel mengusap pipinya yang panas akibat cubitan Sandy dipipinya.
.
.
.
.
Sandy keluar dari kamar Gerra. Terlihat dokter tampan itu menghela nafas berat. Kondisi gadis kecil nya masih belum ada perubahan. Sedangkan Choky dan si kembar belum ada kabar.
__ADS_1
"Sandy." Panggil Morres.
"Iya Dad." Sandy tersenyum hangat pada lelaki paruh baya yang sudah dia anggap seperti Ayah kandungnya sendiri.
"Ayo keruangan kerja Daddy. Ada yang ingin Daddy bicarakan dengan mu, masalah Rachel dan anak-anak nya." Ajak Morres.
"Iya Dad." Sahut Sandy.
Kedua pria beda usia itu menuju ruangan kerja Morres. Kenapa kediaman Morres disebut istana? Karena rumah mewah ini memang mirip seperti istana kerjaan yang fasilitas nya melebihi istana sungguhan. Apa saja ada. Morres Alexander memang pria terkaya dipulau ini, kekayaan nya tak dapat dihitung dengan jari. Dia memiliki beberapa anak perusahaan diberbagai negara yang membuat kekayaan nya tak berkurang.
"Duduklah."
"Terima kasih Dad." Sandy duduk disofa sambil menghela nafas panjang.
"Bagaimana keadaan Gerra?"
Sandy menggeleng "Belum ada perubahan Dad." Terdengar helaan nafas panjang.
"Apa kita harus bawa Gerra ke Amerika?"
"Kurasa tidak perlu Dad. Kita tunggu kabar dari Choky dan si Kembar karena hanya pendonoran tulang sumsum belakang yang bisa menyelamatkan Gerra. Apalagi sel kanker dalam tubuhnya sudah menyerang ke bagian syaraf. Kemoterapi sama sekali tidak membantu, hanya memperlambat kanker tumbuh dibagian sel nya." Jelas Sandy.
Morres mengangguk paham "Kita tunggu kabar dari Choky," ucapnya "Tapi Daddy yakin jika Ramos takkan bisa menolak untuk menolong putrinya. Dia juga pasti tak rela jika kehilangan putrinya lagi." Sambung Morres.
"Aku hanya takut kedatangan Ramos malah kembali mengguncang jiwa Rachel Dad. Rachel belum pulih tentang trauma dihatinya. Ini akan berakibat gatal bagi mentalnya." Imbuh Choky.
"Rachel tak bisa menghindar San. Bagaimana pun dia menghindari Ayah dari anak-anak nya tetap takkan bisa, takdir akan tetap mempertemukan mereka. Contohnya sekarang, siapa yang menyangka jika putri kecil kita akan menderita penyakit yang mematikan seperti ini dan opne nya harus operasi tulang sumsum belakang yang berhubungan dengan Ayahnya. Bukan kah ini sudah menjadi takdir jika kapanpun Rachel akan tetap bertemu Ramos?" ujar Morres.
__ADS_1
"Kita tak bisa menghindari takdir Sandy. Kita hanya bisa menyakinkan Rachel bahwa semua akan baik-baik saja. Ramos takkan berani lagi melakukan kekerasan dan kekejaman seperti yang pernah dia lakukan di masa itu."
Bersambung....