
Happy Reading 🌺🌺 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Flashback on
"Mas sebaiknya kita ikuti saja Rachel." Ajak Alvan "Aku khawatir terjadi sesuatu dengannya." Tuturnya.
"Iya Mas, benar yang dikatakan Alvan." Sambung Ayunia.
"Baik." Choky mengiyakan "Nia, kau tetaplah disini jaga Rima. Biar Mas dan Alvan saja yang mengikuti Rachel." Choky berdiri dari duduknya sambil menyeka air matanya.
"Iya Mas." Ayunia menurut.
Kedua pria itu masuk kedalam mobil mobil tampak tergesa-gesa. Choky bahkan terlihat tak sabar agar bisa menyusul Rachel.
"Bagaimana Apartement yang Mas beli, apakah sudah bisa dihuni Mas?" Sambil menyetir Alvan melirik Choky
"Bisa. Hanya itu menggunakan akses. Apartement disana rata-rata dijaga dengan ketat. Sepertinya akan kesulitan untuk kita bisa masuk Van." Jawab Choky.
Mobil yang Alvan kendarai memasuki kawasan Apartement mewah yang menjadi salah satu Apartement elit dan mahal di Jakarta.
"Aduhh kenapa hujan segala?" Alvan memukul setir mobil nya kesal.
"Apakah ada payung?" Choky melihat kearah bangku belakang.
"Tidak ada Mas." Jawab Alvan.
"Kita tidak bisa masuk Mas." Alvan menghela nafas panjang "Kita putar arah saja." Alvan mengeluarkan mobilnya dari kawasan elit itu.
"Mas, itu siapa? Seperti nya kecelakaan Mas?" Alvan menunjuk seseorang yang tampak terpental di aspal dengan darah yang mengalir bersama aliran air hujan.
"Kita lihat." Alvan menjalankan mobilnya menghampiri orang yang tergeletak tak berdaya itu.
"Mas, bukannya itu Rachel."
Choky langsung keluar dari mobil dan tak peduli dengan hujan yang begitu deras itu. Alvan juga ikut keluar.
"Rachel." Teriak Choky.
Pria itu langsung menghampiri Rachel dan memangku kepala gadis itu. Darah mengalir begitu banyak hingga memenuhi jalanan yang dibanjiri oleh air hujan.
"Rachel." Pria itu memeluk Rachel dengan histeris "Rachel bangun Rachel bangun. Jangan tinggalkan Mas. Jangan pergi Rachel, jangan pergi." Dia menangis didalam derasnya hujan, bahkan darah yang harusnya menempel di kemeja biru yang dia kenakan terkikis oleh air hujan.
__ADS_1
"Mas, ayo kita bawa Rachel kerumah sakit."
Choky mengangkat tubuh wanita itu masuk kedalam mobil.
Alvan menjalankan mobilnya dengan tergesa-gesa. Dia juga takut ketika melihat darah dibagian kepala Rachel. Tangan dan kaki serta bagian tubuh yang lainnya. Siapa yang tega menabrak gadis ini?
"Rachel, hiks hiks. Jangan pergi. Jangan tinggalkan Mas Rachel. Maafkan Mas." Choky terus menangis sambil memeluk Rachel yang sudah pucat itu. Bahkan wajahnya tampak tak berdarah.
Alvan juga tampak panik sesekali dia melirik Choky yang memeluk Rachel dengan erat. Alvan tidak bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena derasnya hujan menghambat dirinya. Dia tidak bisa melihat jalanan dengan jelas.
"Bangun Rachel." Choky membelai wajah Rachel yang kedinginan "Van apakah ada jacket atau apa pun yang bisa membungkus tubuh Rachel dia sangat dingin Van. Mas takut." Ucap Choky dengan air mata nya yang menetes dengan deras.
"Ada Mas." Alvan mengulurkan tangannya mengambil jacket nya dikursi penumpang "Ini Mas."
Choky langsung mengambil Jacket tebal itu dan membelut ditubuh Rachel yang dingin. Baju nya juga basah dan dia kedinginan tapi Rachel jauh lebih penting. Rachel-nya, gadis yang begitu dia cintai. Kenapa bisa begini?
"Tenang ya Sayang. Ini Mas sudah peluk Rachel. Rachel tidak akan kedinginan lagi." Dia memeluk Rachel itu dengan lelehan bening yang tak berhenti dipipinya.
Sampai dirumah sakit, Choky keluar dengan setengah berlari membawa Rachel didalam pelukkan nya. Dia membawa Rachel seperti anak kecil. Apalagi tubuh Rachel sangat kecil dan kurus. Wanita itu seperti tidak makan. Entah hal apa yang sudah dia alami sehingga tubuhnya bisa sekecil dan sekurus ini.
"Dokter tolong." Ucap Choky dengan ucapan memohon "Apapun yang terjadi selamat kan dia Dok." Pinta Choky.
"Kami akan usahakan Tuan." Dua orang perawat mendorong brangkar Rachel menuju ruang pemeriksaan.
"Baik saya akan segera kesana."
Pria tampan bergelar dokter itu berjalan sambil memasang jas berwarna putih kebanggaan nya. Tak lupa dia membawa benda yang dia tempelkan ditelinganya.
Dia masuk kedalam ruang pemeriksaan dimana disana beberapa perawat sedang membersihkan luka seorang wanita yang masih bersimbah darah dengan kondisi cukup mengenaskan.
"Bagaimana di_."
"Rachel." Sontak Sandy terkejut dia bahkan langsung memegang tangan gadis itu "Rachel apa yang terjadi? Kenapa kau bisa seperti ini?" Sandy mengguncang tubuh wanita yang hampir kaku itu "Cepat siapkan ruang operasi. Siapkan darah dengan golongan O-." Tintah Sandy.
"Baik Dok."
.
.
.
__ADS_1
.
.
Sandy keluar dari ruang operasi dengan wajah sendu dan lemah. Beberapa kali pria itu menyeka air matanya. Kedua kalinya dia diperhadapkan dengan hal menakutkan seperti ini.
Kejadian lima tahun yang lalu seolah terulang kembali. Kejadian itu begitu melekat dikepala Sandy. Hingga dia tak bisa untuk tidak menangis. Hari yang sama kedua orang tuanya pergi untuk selamanya. Dan selang dua hari kemudian sang kekasih yang koma karena pendarahan dibagian otak vitalnya.
"Dokter bagaimana keadaan Rachel? Apakah dia baik-baik saja Dok?" Cecar Choky berhambur kearah Sandy.
"Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Sandy balik "Kenapa Rachel bisa seperti itu?" Sandy tak habis pikir.
Choky menggeleng dengan lemas "Aku tidak tahu pasti. Tapi sepertinya Rachel telah melewati hal yang paling menyakitkan." Jawab Choky.
"Ikut keruangan ku." Sandy berjalan duluan.
"Baik." Sahut Choky "Van, aku jaga Nia dan Rima sambil menunggu Rachel dipindahkan ke ruangan rawat inap." Ucap Choky
"Baik Mas."
"Kak Rachel hiks hiks. Kakak." Rima menangis histeris dipelukan Ayunia
Kedua gadis berbeda usia itu saling bertangisan dan saling memeluk untuk memberikan kekuatan. Keduanya syok ketika mendengar Rachel kecelakaan.
'Rachel kau adalah wanita kuat. Aku yakin kau bisa melewati ini. Tetap kuat sahabat ku.' Ayunia hanya bisa menangis dalam diam.
Alvan melihat kasihan pada kedua gadis yang saling berpelukan itu. Dia juga sangat terpukul ketika melihat kondisi Rachel yang mengenaskan seperti tadi.
Alvan memeluk kedua gadis itu sambil menangis dalam diam. Dia pria liar dan keras. Tapi saat melihat Rachel tadi dia ikut terpukul karena Alvan sudah menganggap Rachel sebagai adiknya sendiri.
"Kak Rachel."
"Tenanglah Rima. Nia." Lirih Alvan.
Rima tak bisa bayangkan betapa pahitnya kehidupan yang telah Rachel jalani. Terlalu banyak berkorban untuk nya dan sang Ibu. Penderitaan Rachel seolah tak pernah berhenti. Selalu hidup dengan air mata
'Kakak, maafkan Rima Kak. Semua ini karena Rima. Seandainya Rima tidak sakit, Kakak pasti tidak akan mengalami hal seberat ini. Maafkan Rima Kak.'
Flashback off
**Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen dan rate 5 buat otor ya guys.. Love u so much**.