Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Apakah kalian anakku?


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Ramos masih mematung menatap kedua bocah kembar yang digandeng Choky. Jantungnya berdegup kencang matanya berkaca-kaca. Desiran darah dari dalam tubuhnya seolah berhenti mengalir.


"Maaf Tuan Ramos menganggu waktunya," Choky memaksakan senyum tanpa melepaskan tangan kedua anak itu. Dia takut kalau Ramos akan merebut Gilbert dan Gerald darinya


Ramos tak menjawab dia masih mematung seolah hilang kesadaran. Lidahnya kaku untuk mengeluarkan sepatah kata. Tubuhnya panas dingin entah karena apa?


"Ayah kaki Gerald pegal. Kenapa kita hanya berdiri ayo duduk?" Gerutu Gerald sambil memijit-mijit betisnya.


Jika Gerald menggerutu maka berbeda dengan Gilbert yang membalas tajam tatapan mata Ramos. Jadi ini lelaki yang sudah menyiksa Ibu nya itu, sial kenapa wajahnya mereka berdua begitu mirip bak pinang dibelah dua?


"Silahkan duduk Tuan Choky dan Tuan Kecil," ucap Heru memecahkan keheningan.


"Terima kasih Tuan Heru," ucap Choky membungkuk hormat.


"Ayo Son kita duduk," Choky menggandeng tangan kedua anak itu duduk disofa ruang kerja Ramos.


Ramos menatap kedua bocah itu matanya tak bisa berkedip. Entah kenapa seluruh dunianya terasa gelap seketika? Siapa anak-anak itu kenapa begitu mirip dengannya? Apakah itu anak-anak yang dia tunggu selama ini? Apakah itu artinya istrinya akan kembali kepadanya?


"S-siapa kalian?" Ramos berjalan kearah sofa menghampiri ketiga orang itu.


Mata Gerald berkaca-kaca, bocah kecil yang terlihat imut dan menggemaskan dengan celotehan-celotehan lucunya itu tampak tak bisa menahan gejolak menghantam dadanya. Bagaimana pun dia adalah seorang anak kecil yang begitu rindu pelukkan seorang Ayah? Sejak lahir dia tak pernah melihat wajah Ayahnya, tak pernah merasakan sentuhan sang Ayah.


Sementara Gilbert memasang wajah datar tak berekspresi tapi tatapannya dan tatapan Ramos saling bertemu satu sama lain. Entah itu tatapan kebencian atau tatapan rindu yang tertahan? Entahlah dia tak bisa menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini. Seketika semua amarah dan kebencian itu menghilang saat melihat langsung wajah yang sudah membuat Ibu nya hidup dalam penderitaan.


"Maaf Tuan Ramos, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan anda," ucap Choky. Sebenarnya tak hanya Gilbert dan Gerald yang menyimpan kebencian Choky juga namun dia berusaha untuk tak dikuasai oleh perasaan nya itu.


"I-iya Tuan anda ingin bicara apa?" Tapi tatapannya menyelidik kearah dua anak kembar itu.


Choky melihat Gilbert dan Gerald secara bergantian. Kedua anak itu masih enggan melepaskan genggaman tangan mereka. Genggaman itu terasa dingin mungkin saking gugupnya.

__ADS_1


"Son, siapa yang mau berbicara Ayah atau kalian?" Choky melirik keduanya bergantian.


"Ayah saja," sahut Gilbert.


"Begini Tuan maksud kedatangan saya_"


"Mereka siapa Tuan? Kenapa wajahnya? Ap-ap mereka anak-anak ku?" Ramos tak mampu menahan bendungan air mata yang meleleh begitu saja. Sekian lama menunggu apakah ini artinya Tuhan menjawab segala doa dan permohonan nya.


"Mereka_"


"Kenapa anda ingin tahu siapa kami Tuan?" ucap Gilbert memotong perkataan Choky, "Harusnya kami bertanya apakah anda mengenal kami?" Anak kecil itu menatap sang Ayah dengan tatapan tajam, "Hem baiklah aku akan jelaskan siapa kami. Tapi jangan terkejut saat tahu yang sebenarnya," Gilbert melepaskan tangannya dari tangan Choky. Dia melipat kedua tangannya didada seperti orang dewasa.


"Apakah kalian anak-anak ku?" Tanya Ramos berusaha menahan lelehan bening yang sudah menganak dipelupuk matanya.


"Lebih tepatnya anak yang kau buang," sergah Gilbert


"Son," tegur Choky menggeleng.


"Dia harus tahu Ayah siapa kami," sahut Gilbert, "Dia harus tahu bahwa kami adalah anak yang sengaja dia buang dari perempuan yang dia benci," jelasnya kemudian seperti orang dewasa saja.


"Ya benar," jawab Gilbert, "Kami adalah anak dari wanita yang sudah kau sakiti dan siksa hatinya," sambungnya, "Wanita yang kau sia-siakan hanya karena kebodohanmu," dia berbicara layaknya orang dewasa.


Deg


Ramos tersungkur dilantai sambil menangis sejadi-jadinya. Meluapkan perasaan nya.


"Maafkan Daddy, Nak," ucapnya menatap kedua anak itu dengan badan bergetar hebat.


Gerald menunduk menahan tangisnya. Ingin dia berlari memeluk Ayah nya namun dia tidak mau mengecewakan sang Kakak. Tujuan mereka kesini bukan untuk berpelukan tapi demi menyelamatkan adik mereka yang sekarang sedang membutuhkan donor tulang sumsum belakang.


Sementara Gilbert menatap Ramos dengan datar tak berekspresi. Dia tak bisa rasakan kesedihan Ayah nya itu, baginya tangisan Ramos adalah kepalsuan.

__ADS_1


"Maafkan Daddy Nak. Maafkan Daddy," ucapnya berulang kali, "Mana Mommy kalian apa dia juga ada disini?" Ramos melihat pintu keluar berharap wanita yang dia nantikan selama ini ada disana.


"Kenapa kau mencarinya. Bukankah kau tak menginginkan nya? Bukankah kau sangat membenci wanita itu? Tak hanya membenci tapi kau juga menyiksa batinnya hingga membuat dia mengalami trauma berat saat mendengar namamu?" Tatap Rachel.


Choky menelan salivanya mendengar pertanyaan yang terlontar dimulut Gilbert, tak menyangka bocah berusia lima tahun ini berbicara layaknya orang dewasa. Bahkan bocah pada umumnya diusia tersebut masih belajar berbicara serta mengenali huruf dan angka. Tapi Gilbert, dia sudah menguasai bahasa dan tutur bahasa.


.


.


.


.


"Jalan Herry," perintah Ozawa.


"Baik Tuan,"


Ozawa baru saja mendapat kabar dari Heru tentang kedatangan Choky dan si kembar. Dia penasaran mendengar cerita Heru yang mengatakan jika kedua bocah kembar itu begitu mirip anaknya. Apakah itu anak-anak Ramos?


"Hem, aku penasaran apa maksud kedatangan Choky pasti ini ada kaitannya dengan Rachel. Tidak mungkin datang tiba-tiba setelah sekian lama menghilang? Apa ada sesuatu yang Choky inginkan?" Gumam Ozawa tampak berpikir


"Aku harus menghubungi Benedicto, bagaimana pun dia harus tahu jika ini berhubungan dengan putrinya," Ozawa mengotak-atik ponselnya lalu mengirim pesan pada sahabat nya itu.


"Herry, apakah ada informasi dari Ray?" Dia menyimpan ponsel itu disaku celananya.


"Tuan Muda Ray sudah mendapatkan beberapa informasi Tuan dan benar jika selama ini Nyonya Rachel bersembunyi di Sidney. Saya sudah kirimkan foto ke email anda," jelas Herry, "Tuan Choky dan Dokter Sandy yang menyembunyikan Nyonya selama ini persis seperti dugaan kita, Tuan," sambungnya kemudian.


"Aku tak menyangka jika Sandy terlibat. Apa karena Rachel mirip Rebecca? Atau memang Sandy memiliki perasaan khusus pada Rachel?"


"Seperti nya masih banyak yang belum kita tahu Tuan. Semoga dengan kedatangan Tuan Choky kita bisa segera membongkar semua kasus ini," sahut Herry.

__ADS_1


Sampai digedung pencakar langit milik putranya, Ozawa turun dari mobil dengan wajah tak sabar. Tak sabar melihat apakah benar kedua anak itu adalah cucu yang selama ini dia tunggu?


Bersambung.......


__ADS_2