Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Menanti Rembulan


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Benedicto keluar dari mobil nya dengan wajah kusut. Dia baru saja tiba di Indonesia. Entah apa yang harus dia katakan pada istrinya karena sudah gagal membawa putri mereka. Dia bingung untuk menjelaskan semua nya pada sang istri. Pasti istrinya itu akan kembali menyanyakan dimana putri mereka.


Benedicto melangkah masuk kedalam rumah mewah itu. Semua perkataan Rachel masih terus terngiang-ngiang dikepala nya. Benarkah dia orang tua yang egois? Benarkah dia hanya mementingkan keinginan nya sendiri? Benedicto sadar bahwa kesalahan nya memang sangatlah fatal.


"Selamat siang Tuan," sapa para pelayan yang menyambut kedatangan nya.


Benedicto hanya membalas dengan anggukan. Wajahnya sangat lelah dan sendu. Lelaki itu seperti tak terurus.


"Mas,"


Sang istri keluar dari kamar dan menyambut sang suami. Dia berharap jika sang suami membawa putri yang begitu dia rindukan.


"Sayang," Benedicto mencoba tersenyum menyembunyikan rasa perih dihatinya.


"Mas mana putri kita? Mana Rayana Mas?" Dia celingak-celinguk kearah pintu masuk barang kali putri yang dia rindukan itu ada


"Nirmala," Benedicto merasa bersalah melihat wajah istrinya yang tampak tak sabar itu.


"Mas kenapa? Mana putri kita Mas?" Wanita itu tampak sumringah dia benar-benar tak sabar bertemu dengan putri nya itu.


Benedicto menarik nafas nya dalam. Dia berusaha menahan gejolak didalam dadanya. Bagaimana cara dia menjelaskan nya pada Nirmala.


"Mas kenapa hanya diam saja? Mana anak kita Mas? Mas membawa nya pulang 'kan Mas?" Tanya Nirmala penuh harap dia sambil menguncang-guncang tangan suaminya.


"Nirmala maafkan aku," Benedicto menggeleng.


"Mas kenapa? Kenapa minta maaf?" Wanita itu terheran-heran mendengar suaminya yang meminta maaf.


"Aku tidak bisa membawa anak kita. Maafkan aku Nirmala," ucap Benedicto merasa bersalah.


Nirmala langsung terduduk disofa air mata mengalir dipipi nya dengan deras. Wanita itu menutup wajahnya lalu menangis.


"Hiks hiks hiks hiks hiks," tangisnya pecah.


Bak menanti rembulan, berharap akan muncul di perunjung malam. Sekedar menikmati untuk melihat nya sebelum terlelap dari tidur. Harusnya dia menanti sekian puluh tahun lagi agar bisa bertemu dengan putrinya itu.

__ADS_1


"Maafkan aku Nirmala,"


Benedicto merengkuh tubuh Nirmala dan memeluk istrinya itu. Mereka berdua sama-sama menangis. Menangis dalam penyesalan karena sudah membuang anak mereka seperti sampah. Wajar jika anak mereka membenci dan tidak mau kembali karena apa yang sudah mereka lakukan itu diluar batas kejahatan orangtua.


Benedicto juga menangis dalam penyesalan. Dia tidak pernah berpikir akan mengalami hal seberat ini. Dibenci oleh anak sendiri jauh lebih menyakitkan dari pada kehilangan.


"Mas, aku ingin bertemu anak kita Mas. Mana anak kita Mas. Kenapa kau tidak membawa nya pulang," Nirmala terisak dipelukan suaminya berharap suaminya ini membawa dia bertemu dengan sang putri yang sudah dia cari selama puluhan tahun ini.


Benedicto tak bisa berkata-kata. Hanya pelukkan yang bisa dia berikan pada istrinya itu. Hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan. Maaf beribu maaf atas semua kesalahan yang dia lakukan dimasa lalu.


"Bawa putri kita pulang Mas,"


Nirmala menangis sampai terlelah-lelah. Padahal dia sudah hampir sembuh dari depresi nya karena mendengar bahwa sang suami akan membawa putrinya kembali ke rumah. Tapi nyatanya harapannya malah membawa nya pada luka.


Kelelahan menangis Nirmala sampai tertidur dipelukan Benedicto. Benedicto menyingkirkan anak rambut istrinya. Wajah Nirmala basah akibat air mata yang mengalir dipipinya.


Benedicto mengusap wajah lelah istrinya. Dia menangis dan merasa bersalah. Semua adalah salahnya semua adalah kebodohan nya yang lebih mementingkan harta dan tahta dari pada menyelamatkan sang putrinya.


Benedicto menggendong tubuh wanita itu dan masuk kedalam kamarnya. Setelah ini Nirmala pasti akan kembali pada keadaan nya seperti semula. Duduk dikursi roda sambil menatap kosong kedepan seperti orang yang tak punya gairah hidup.


Para pelayan yang melihat menjadi kasihan. Sudah sepuluh tahun berlalu kehidupan dua majikannya datar seperti ini. Seperti mati tapi masih bergerak.


Benedicto mengecup kening wanita itu dengan sayang. Lama sekali dia membenamkan bibirnya disana berharap segala rasa sakit yang mendera bisa segera reda karena ciuman itu hangat itu.


Benedicto menyelimuti tubuh istrinya. Padahal ini masih siang tapi karena kelelahan menangis wanita itu sampai tertidur. Mungkin dengan tidur rasa sakit itu bisa menghilang begitu saja.


Benedicto menyeka air matanya lalu keluar dari kamarnya. Dia mengunci pintu kamar itu dan membiarkan istrinya istirahat.


Benedicto masuk kedalam ruangan kerjanya. Dia menutup pintu dan menangis dalam diam. Menangis dengan puas didalam ruangan yang kedap suara itu. Tak ada yang mendengar tangisannya selain dirinya sendiri.


Benedicto terduduk dilantai dengan menutup wajah dengan kedua tangannya. Terkadang menangis tidak menyelesaikan masalah tapi menangis dapat memberi kelonggaran dalam dada.


"Rachel maafkan Ayah. Maafkan Ayah Rachel. Maafkan Ayah," berulang kali dia mengucapkan kata maaf. "Ayah minta maaf. Ayah telah membuangmu. Ayah menyesal Nak. Sangat-sangat menyesal. Maafkan Ayah,"


Nafas Benedicto memburu. Tak pernah dia menangis sehebat ini dalam hidupnya. Melihat tatapan benci Rachel padanya seolah mengores semakin dalam luka didalam hatinya.


"Ayah tahu Ayah salah Nak. Tapi Ayah sungguh menyesal. Ayah menyanyangi mu. Ayah tak sanggup jika kau membenci Ayah. Bagaimana caranya Ayah harus hidup dalam keadaan seperti ini?" Dia memukul dadanya berulang kali. Nafasnya tersengal-sengal dan tertahan didalam dada.

__ADS_1


Benedicto berdiri dari duduknya. Dia berjalan pelan menuju meja kerjanya. Lelah sangat-sangat lelah. Dia pikir perjalanan nya ke Sidney, Australia akan berbuah manis. Akan membawanya pada titik kebahagiaan tapi kenyataannya malah menyeretnya masuk kedalam penyesalan dan luka mendalam.


Lelaki paruh baya itu menatap foto yang dia pajang diatas meja kerjanya. Foto dua bayi munggil dengan gaun berwarna merah serta pita rambut yang melingkar diatas kepalanya.


Benedicto mengambil foto itu lalu memeluknya dan meresapi kehadiran kedua buah hatinya itu. Meresapi kehadiran mereka. Meresapi dan membayangkan jika seandainya mereka hidup bahagia bersama selamanya seperti keluarga pada umumnya.


Benedicto menarik nafas dalam. Dia menyeka air matanya kasar.


**Bersambung....


Selamat malam para kesayangan...


Bagaimana puasanya hari ini??


Apakah lancar-lancar????


Semoga selalu sehat....


Pokoknya love banyak-banyak buat kalian..


Pasti sudah tidak sabar sampai episode akhir... wkwkwk.


Deg-degan gak sih liat gimana endingnya? Apakah Rachel akan kembali pada Ramos? Apakah Ramos akan menyerah mengejar maaf dan cinta istrinya??


Yuk ikutin terus yaaaaaa


Jangan lupa love-love dari kalian....


Komen


Like


Vote


Gifts


Bunganya jangan lupa heheeeeee...

__ADS_1


Terima kasih**...


__ADS_2