Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Belum siap kehilangan


__ADS_3

Rindu paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada, meremukkan seluruh raga karena takkan menemukan titik temu meskipun dunia terbalik lima ratus juta kali dan takkan bertemu sekalipun menunggu beratus-ratus tahun lamanya.


Ternyata belum siap aku kehilangan dirimu. Belum sanggup untuk jauh darimu yang selalu ada dalam hati ku (Stevan Pasaribuan)


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Rachel POV


Aku menatap nanar wajah itu, wajah tertidur dengan mata terpejam erat. Wajah ayu, yang dulunya cantik kini mulai keriput. Rambut hitam dan panjang yang dulu tergerai indah, kini dihiasi warna putih yang setara.


Tuhan, rasanya aku sudah tak sanggup lagi menangis, air mata ini benar-benar kering. Mengapa dan mengapa? Mereka meninggalkanku disini sendiri, kepada siapa lagi aku mengadu? Kepada siapa lagi aku bercerita tentang betapa lelahnya aku bekerja? Kepada siapa lagi aku meminta, kala tak ada satupun uang disaku tasku? Dan kepada siapa ku ceritakan betapa lelahnya aku dengan kehidupan rumah tanggaku.


"Ibu, hikssss." Aku terus saja menangis, memeluk tubuh kaku itu. Tangannya terlipat rapih diatas perut dan wajahnya tampak cantik setelah didandani.


"Ibu, kenapa Ibu juga tega meninggalkan Rachel sendirian disini? Ibu bangun Bu, bangun.. Rachel hikssssss." Sekalipun aku terus menangis takkan membuat Ibu bangun lagi.


Aku merasakan usapan hangat dipundakku, usapan dari seseorang yang memiliki tangan kekar dark sedari kemarin terus memeluk ku dan bahkan sama sekali dia tak beranjak meninggalkanku. Dan entah kenapa pelukkannya bisa sedikit membuat jiwa yang lelah ini kembali merasakan kehangatan.


"Ibu." Teriak Rima juga terdengar keras.


Rima menangis histeris, bagaimana pun Rima yang paling dekat dengan Ibu, karena setelah aku menikah mereka hanya tinggal berdua saja. Namun sekarang Ibu telah pergi untuk selamanya, entah kepada siapa lagi hati ini akan mengadukan semua hal.


"Ibu, jangan tinggalin Rima Bu. Rima tidak bisa tanpa Ibu". Teriakkan Mey masih menggema. Ayunia memeluk Rima dengan erat, berusaha menenangkan dan memberikan kekuatan pada gadis itu.


"Sudah Hel." Dia memelukku lagi dan lagi, aku mendongrakkan kepala menatap wajahnya.

__ADS_1


"Mas hikssss." Aduku tak mampu menahan lagi segala rasa yang benar-benar ingin membuat ku mati.


"Kau harus ikhlas, ini lah jalan takdir hidup." Sambil dia memelukku erat didekat mayat Ibu.


"Hel sabar ya". Ucap Alvan yang juga mencoba menenangkan ku.


"Mas, hikssss". Lagi dan lagi aku mengadu, padahal aku bukan gadis lemah tapi sudah hampir dua minggi ini aku terus saja menangis, merintih dengan semua yang terjadi padaku.


Bukan hanya batinku yang tersiksa dan tertekan tapi juga jiwaku yang terasa rapuh dan tak berdaya saat ini.


Aku kembali menatap Ibu, ku elus wajah Ibu untuk terakhir kalinya. Wajah ini takkan kulihat lagi sampai dunia terbalik jutaan kali. Wajah ini akan hilang dari pandangan mataku.


Ingin, rasanya aku marah dan berteriak didepan wajahnya tapi semua percuma toh Ibu takkan kembali lagi padaku. Ibu sudah pergi untuk selamanya, bukankah sudah cukup aku menangis dan untuk apa lagi aku marah?


Rasanya seperti mimpi yang benar-benar terasa nyata. Dua Minggu yang lalu Ibu mengabariku dan menanyakan kapan aku pulang dan lihatlah sekarang kenapa dia malah memejamkan matanya dan enggan menyambutku yang datang?


Dan kini, dia juga justru memilih pergi dan membiarkan ku hidup sendiri. Ibu bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun, tak mengucapkan kata perpisahan atau sekedar selamat tinggal.


Tangis Rima beriringan dengan peti mati Ibu masuk kedalam tanah, sedangkan aku sudah tak mampu berteriak atau sekedar menangis. Seluruh aliran dalam tubuhku seakan berhenti dan membuat ku hanya diam mematung tanpa bergerak dalam pelukkan Mas Choky, lelaki kedua setelah Ayahku yang membuatku merasa terlindungi.


"Ibu, hiks Ibu". Rima histeris jika saja bukan Alvan dan Ayunia yang memegangi nya dipastikan Rima juga ikut masuk kedalam tanah bersama peti mati Ibu.


"Rima yang kuat". Ayunia memeluk tubuh Rima dengan erat, sahabat ku itu selalu hadir dua puluh empat jam dan bahkan Ayunia tak pulang kerumah sejak kemarin.


"Kak, Ibu, hiks hikssssss". Rima kembali memberontak, namun segera dipeluk oleh Alvan dan Ayunia

__ADS_1


"Sudah Rima, kau harus kuat. Jangan begini terus". Tegas Ayunia yang sebenarnya juga rapuh.


Alvan dan Ayunia bersama-sama memeluk Rima yang memberontak, mereka berdua tampak bekerja sama.


"Bu, hiks hiks hiks hiks hiks hiks". Aku yang tadinya mematung kembali menangis dengan histeris, didepan pusara Ibu. Batu nisan yang tertulis namanya.


"Ayah, Ibu. Kenapa kalian meninggalkan Rachel secepat ini, Rachel masih butuh kalian hiks hiks". Aku memeluk batu nisan itu dengan tangis.


Aku menatap kedua makam itu dengan hati bagai teriris kedua orang ini pergi selamanya dari hidupku. Lima tahun yang lalu aku juga menggila dengan cara yang sama. Belum juga aku bangkit dari patah hati karena kehilangan Ayah dan kini disusul oleh kepergian Ibu yang juga secara tiba-tiba. Dan bahkan hatiku tak pernah akan sembuh dari segala luka yang ada terlebih luka dari kekejaman suamiku.


Kenapa Tuhan, sangat suka menyiksa jati diri ini? Setelah disiksa dan ditolak dengan keras oleh suamiku sendiri dan bahkan setiap hari bermandikan dengan air mata dan kini aku harus dihadapkan dengan perpisahan abadi perpisahan yang takkan pernah menemukan titik temunya dan bahkan perpisahan yang takkan ada ujungnya, sekalipun dunia terbalik lima ratus juta kali dan sekalipun menunggu beratus-ratus tahun lamanya.


Kepalaku benar-benar terasa sakit, setelah menikah aku hidup dalam tangis. Tak ada yang satu termasuk Ibu dan Rima. Bahkan sakit yang kurasakan saat ini lebih satu dari siksaan kejam suamiku ditubuhku.


Mengapa takdir hidupku sangat berbeda? Kuarahkan pandanganku pada Rima yang sudah terlihat tenang dipelukkan Ayunia, jika bukan karena adikku Rima mungkin saat ini aku juga memilih pergi meninggalkan dunia ini. Tapi saat melihat wajah polos gadis remaja itu, membuat hatiku semakin sakit bagaimana mungkin kami hidup tanpa siapa-siapa?


Aku memejamkan mataku, menikmati setiap rasa sakit yang ada dihati dan hidup. Aku tidak bisa menghindar dari semua ini, aku hanya terus harus mengikuti arus cerita hidup ini.


"Hel."


Mas Choky membenamkan wajahku didada bidang miliknya. Pelukkan ini nyaman sekali. Aku memang membutuhkan pelukkan sangat butuh. Aku ingin menangis berlama-lama dipelukkan Mas Choky karena setelah ini aku akan kembali pada suami kejamku.


"Kau tidak pernah sendirian, masih ada kami yang selalu ada untukmu." Ucapnya terdengar tulus, aku bergeming dan hanya masih terdiam. Namun air mata yang luruh menandakan bahwa jiwaku begitu rapuh.


**Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2