Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Mirip


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Ozawa melangkah dengan lebar dan diikuti oleh sang asisten yang juga berjalan mengikuti dirinya dari belakang. Ozawa sengaja tak memberitahu Maria tentang hal ini. Dia ingin memastikan apakah benar-benar ada anak kecil yang mirip dengan putra sulungnya bernama Ramos itu.


"Silahkan Tuan." Heru membuka pintu ruangan kerja Ramos dan mempersilahkan lelaki paruh baya itu untuk masuk kedalam sana.


Ozawa menatap heran Ramos yang berjongkok dilantai sambil menangis dihadapan dua anak kecil. Seperti nya yang didalam ruangan itu belum menyadari kehadiran nya.


Mata Ozawa membulat sempurna ketika melihat dua bocah anak kecil yang wajahnya bahkan sulit dibedakan dan satu lagi mereka begitu mirip dengan putra sulungnya itu. Siapa mereka?


"Kenapa kau mencarinya. Bukankah kau tak menginginkan nya? Bukankah kau sangat membenci wanita itu? Tak hanya membenci tapi kau juga menyiksa batinnya hingga membuat dia mengalami trauma berat saat mendengar namamu?" Tatap Gilbert


Ozawa tercengang mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari anak kecil itu pada putranya. Dia hampir tersendak ludahnya sendiri. Bagaimana bisa bocah sekecil itu berbicara layaknya orang dewasa?


"Maafkan Daddy, Nak. Maafkan Daddy. Daddy menyesal karena sudah melakukan hal sekejam ini pada Mommy kalian. Daddy....." Ramos tak sanggup melanjutkan kata-kata nya. "Daddy tersiksa dengan perasaan bersalah Daddy sendiri. Daddy sungguh menyesal. Tolong pertemukan Daddy dengan Mommy." Pintanya penuh permohonan.


Gerald menunduk dan menangis dalam diam. Jujur dia begitu rindu dengan sosok seorang pria yang selama ini selalu dia simpan namanya didalam hatinya. Tapi dia tak berani apalagi mengingat video itu, rasa sakit itu kembali menyeruak dalam dadanya.


"Son, kita datang kesini bukan membahas ini." Tegur Choky pada Gilbert. Choky kasihan melihat Ramos yang tampak rapuh meski dia sendiri membenci perbuatan lelaki itu pada Rachel.


"Gilbert tahu Ayah, tapi dia harus tahu apa yang sudah Mommy lewati akibat perbuatannya ini," ucap Gilbert menatap Choky.


Choky bisa lihat jika ada kerapuhan di mata anak kecil itu. Bagaimana pun Gilbert berusaha menyembunyikan rasa rindunya terhadap Ayah nya sendiri itu tetap terlihat dari bola matanya.


"Ayah tahu. Tapi bagaimana pun dia adalah Daddy kalian. Jangan begitu. Ingat kalau Mommy tahu nanti Mommy bisa marah. Mommy tidak pernah mengajarkan kalian berkata tidak sopan pada orang yang lebih tua. Apalagi dia Ayah kalian." Jelas Choky sabar. Anak kecil tidak boleh dikasari. Jiwa mereka akan terguncang jika ditekan dengan ucapan-ucapan kasar apalagi bentakkan.


"Maafkan Gilbert, Ayah." Pria kecil untuk menunduk. Dia enggan menatap wajah Ramos.


"Tidak apa-apa Son. Jangan minta maaf pada Ayah. Minta maaflah pada Daddy kalian. Jangan ulangi lagi yaaaa. Ini urusan Daddy dan Mommy kalian," ucap Choky lembut sambil mengusap kepala Gilbert.

__ADS_1


Sedangkan Gerald masih menangis dalam diam. Dia ingin sekali berlari kearah Ramos dan memeluk Ayah nya itu tapi kaki kecilnya tak bisa diajak kerja sama, kakinya bergetar menahan sesuatu yang ingin meledak didalam hatinya.


"Tapi dia sudah jahat pada Mommy, Ayah." Mata Gilbert berkaca-kaca.


Ozawa berjalan pelan menghampiri mereka. Dia seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar. Bocah-bocah ini sangat mirip dengan Ramos, apa berarti cucunya kembar?


"Dia sudah menyebabkan penderitaan Mommy, Ayah. Dia sudah membuat Mommy menangis setiap hari. Gilbert tidak terima Ayah." Air mata menetes dipipi hapus dan lembut nya.


"Ayah paham Nak. Tapi kau masih terlalu kecil untuk memahami masalah orang tua mu." Sahut Choky.


"Gilbert bukan anak kecil, Ayah. Gilbert sudah besar." Sergahnya menyeka air matanya.


"Nak, maafkan Daddy." Gilbert dan choky kembali melihat kearah Ramos yang masih menangis segugukan dilantai "Maafkan Daddy. Maafkan Daddy, Nak." Dia tak bosan mengucapkan kata maaf itu.


Gilbert mengepalkan tangannya sekuat mungkin. Setiap kali melihat Ramos dia tak bisa lepas dari bayang-bayang penyiksaan terhadap Ibu nya. Sekarang Gilbert paham kenapa Ibunya selalu terkena serangan panik setiap kali menyebut nama sang Ayah, karena kejadian itu sangat membekas dihati Rachel dan anak-anak nya.


"Ramos."


Choky kembali menggenggam tangan kedua anak kecil itu takut jika Ozawa merebut kedua putra kembarnya.


"Dad." Ramos berdiri sambil menyeka air matanya "Kapan aku datang?" ucapnya


Ozawa tak menjawab dia duduk disoffa dan menatap penuh selidik kedua anak kembar yang duduk disamping Choky. Menyelidiki wajah mereka yang begitu mirip dengan Ramos. Memastikan apakah kemiripan ini karena ada hubungan dengan putranya atau kebetulan saja?


"Siapa kalian?" Tanya Ozawa menatap kearah Choky dan si kembar.


"Hem, Tuan Ozawa ada hal yang ingin kami bicarakan dengan Ramos." Jawab Choky.


"Siapa mereka?" Ozawa juga berkaca-kaca menatap Gilbert dan Gerald. Dia berharap kedua anak itu benar-benar cucunya.

__ADS_1


"Apa kalian cucu-cucu ku?" Tatapnya penuh harap. Jantungnya berdebar tak karuan.


"Bukan." Jawab Gilbert cepat "Bukan cucu yang anak anda inginkan lebih tepatnya." Sambungnya kemudian.


Ramos menggeleng. Dia menginginkan anak-anak nya. Kesalahan nya dimasa lalu memang kelam tapi dia tidak berniat membuang anak-anak itu. Anak-anak itu adalah darah dagingnya. Saat menyadari dirinya mengalami kehamilan simpatik saja Ramos sudah bahagia bukan main apalagi bisa melihat dengan jelas wajah anak-anaknya.


"Kalian cucu-cucu ku." Ozawa tak bisa menahan perasaan terharunya "Ya kalian cucuku, anak dari putraku. Kalian cucu ku." Ozawa ingin memeluk kedua anak itu. Namun tampaknya Gilbert dan Gerald tidak tertarik padanya.


Choky terdiam saja sambil menikmati haru biru pertemuan antara Ayah dan anak, antara Kakek dan cucu.


Gilbert mengigit bibir bawah nya menahan perasaannya agar tak terkecoh oleh ucapan Ozawa. Jujur dalam hati paling dalam dia merindukan sosok orangtua kandung. Ayah kandung dan keluarga kandung yang lainnya.


"Son, bicaralah. Jangan dipendam." Bisik Choky pada Gerald.


Gerald menggeleng "Gerald tidak sanggup Ayah." Jawabnya "Kasihan Mommy." Sambung nya menyeka air mata.


"Tidak apa-apa."


Choky belajar kesabaran dari Rachel. Belajar agar tak emosi. Sama seperti Gilbert dan Gerald yang sebenarnya tak sanggup menahan gejolak amarah didalam dadanya. Tapi dia tidak mau karena emosi membuatnya harus kehilangan banyak hal. Tujuan mereka datang kesini adalah menemui Ramos dan membicarakan tentang pendonoran tulang sumsum belakang. Belum waktunya semua kejadian dimasa lampau terbongkar, akan ada masanya di mana kejadian-kejadian itu mengungkapkan misteri sebenarnya.


**Bersambung....


Jangan lupa like komen vote dan gift buat author...


Kalau ada saran dan Masukkan kalian boleh coret-coret dibawah gaessss.


Kalau ada typo kalian juga boleh tag di komentar..


Yuk mampir ke karya baru author....

__ADS_1


Istri Tuan Muda Delvano**


__ADS_2