
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Transplantasi sumsum tulang adalah prosedur untuk memperbarui sumsum tulang yang rusak dan tidak lagi mampu memproduksi sel darah yang sehat. Transplantasi sumsum tulang disebut juga transplantasi sel induk atau sel punca (stem cell).
Sumsum tulang adalah jaringan yang terdapat di dalam beberapa tulang, seperti tulang panggul dan tulang paha. Sumsum tulang ini berfungsi menghasilkan sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan sel keping darah (trombosit).
Sumsum tulang dapat rusak akibat penyakit, seperti kanker dan infeksi, atau karena pengobatan kanker, seperti kemoterapi dan radioterapi. Sumsum tulang yang rusak dapat mengganggu produksi sel darah. Sel darah yang dihasilkan oleh sumsum tulang yang rusak juga mungkin tidak sehat atau tidak berfungsi normal.
Transplantasi sumsum tulang bertujuan untuk mengembalikan fungsi sumsum tulang yang rusak. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan sel punca sehat ke dalam tubuh pasien. Sel punca yang sehat ini kemudian akan berkembang dan memproduksi sel darah yang sehat.
Operasi transplantasi akan dilakukan 1-2 hari setelah terapi persiapan selesai. Sel punca akan dimasukkan perlahan ke dalam tubuh Anda melalui akses vena sentral. Prosedur ini biasanya memakan waktu 1-5 jam.
Prosedur transplantasi sumsum tulang mirip dengan transfusi darah. Sel punca akan masuk ke sumsum tulang dengan sendirinya. Sumsum tulang sehat akan memproduksi sel darah sehat dalam beberapa hari hingga beberapa minggu kemudian.
Transplantasi sumsum tulang dapat menimbulkan efek samping, sehingga Anda perlu berdiskusi dengan dokter terkait kemungkinan tersebut.
Pemulihan pasca transplantasi sumsum tulang
Proses pemulihan berlangsung saat rawat inap di rumah sakit selama beberapa minggu. Selama periode ini, Anda mungkin merasakan lemas badan, muntah-muntah, diare dan tidak nafsu makan. Dokter akan memberikan instruksi untuk memberi makanan cair lewat selang dan transfusi darah rutin. Anda juga akan dirawat di ruangan steril bebas.
Disebuah ruang operasi, tampak beberapa dokter tengah mempersiapkan diri untuk melakukan transplantasi tulang sumsum belakang, antara Ayah dan anaknya.
Ramos, lelaki tampan yang sudah memiliki tiga anak itu sekarang terbaring dibrangkar rumah sakit didalam ruang operasi. Obat bius belum disuntikkan ditubuhnya. Sebab para dokter dan perawat tengah sibuk memasang beberapa alat medis ditubuh putrinya.
Ramos menatap sendu putri kecilnya yang terpejam dengan tenang. Kepala plontos tanpa rambut seolah menjadi pertanda bahwa begitu menyiksanya kemoterapi yang dijalani oleh putrinya itu.
Ingin rasanya Ramos memeluk tubuh kecil itu sambil menangis hebat. Namun apalah daya, dia hanya bisa menatap dengan sendu. Hatinya tak mampu menggapai putrinya itu. Putri kecilnya.
'Sayang, cepat sembuh. Maafkan Daddy. Maafkan Daddy, Nak. Daddy menyanyangimu. Maafkan Daddy yang belum bisa memelukmu. Semoga Tuhan berkenan memberikan kebahagiaan untuk kita nanti.' Batin Ramos
__ADS_1
Satu tetes air mata menetes dari pelupuk mata Ramos. Tidak apa dia tidak bahagia nantinya, asal anak dan istrinya aman dan hidup bahagia. Dia memang lelaki yang tak pantas bahagia. Dia terlalu banyak berdosa. Semoga dengan ini, dia bisa menebus semua kesalahannya pada istri dan anak-anak nya.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Sandy sambil menyuntikkan sesuatu di aliran infuse Ramos.
Ramos mengangguk "Sandy, semisal aku tidak bangun lagi nanti. Tolong jaga anak-anak dan istriku." Pinta Ramos.
"Jangan bicara begitu. Kau akan baik-baik saja. Bangunlah bersama Gerra. Kau tak ingin melihat anakmu tumbuh. Apa kau ingin menyerah begitu saja?"
"Aku tidak menyerah hanya aku kalah Sandy. Kesalahan ku takkan bisa dimaafkan. Mungkin aku memang tidak pantas bahagia."
Setelah berbicara seperti itu mata Ramos terpejam. Obat bius yang diberikan Sandy padanya sudah mulai bereaksi hingga membuat alam bawah sadarnya terlelap.
Sandy menatap Ramos sendu. Pengorbanan Ramos begitu besar. Namun sayang, apapun yang dia lakukan tidak bisa meluluhkan hati Rachel yang sudah mati. Bukan hanya mati tapi juga trauma berat.
Sandy sempat berdebat dengan Rachel karena masalah operasi ini. Namun Sandy berhasil menyakinkan Rachel bahwa Ramos hanya ingin menyelamatkan anaknya.
'Semoga pengorbanan mu tidak sia-sia kawan.'
Rachel terduduk lemas diruang tunggu. Hatinya ingin egois menolak pendonoran tulang sumsum itu. Tapi bagaimana dengan putrinya? Dia tidak bisa hanya mementingkan egonya, dia harus memikirkan bahwa ada nyawa yang lebih penting dari egonya sendiri.
"Mommy." Gerald bersandar di bahu Rachel.
"Mom." Gilbert melakukan hal yang sama sambil menggenggam tangan wanita itu.
Namun Rachel malah terdiam dengan tatapan kosong. Jiwanya tak hanya rapuh tapi juga hancur. Disaat dia ingin memulai hidup bahagia bersama ketiga anaknya tapi justru takdir membawanya ke titik terendah dalam hidupnya.
"Gerra pasti baik-baik saja Mom," ucap Gerald menenangkan.
Air mata Rachel luruh. Dia bukan wanita kuat. Dia hanya wanita lemah saat hatinya kembali mengingat masa lalu yang begitu kelam itu.
__ADS_1
Menyebut nama lelaki itu. Mengingat wajahnya. Seolah menguak luka lama yang ingin Rachel sembuhkan, membuatnya kembali mengangga hingga meninggalkan sakit luar biasa.
Choky yang melihat kondisi Rachel hanya, bisa menarik nafas dalam. Dia tak bisa membantu banyak selain menemani wanita ini melewati jalanan terjal ini.
Rachel merengkuh tubuh kedua anaknya sambil memejamkan matanya. Berusaha kuat dan menahan ketakutan yang menjalar. Sekarang ketakutan nya tidak penting. Yang lebih penting adalah keselamatan putri kecilnya.
Rachel mengesampingkan egonya meski sebenarnya dia tak benar-benar bisa. Dia memaksakan diri untuk kuat, menahan beban yang menimpa pundaknya.
Bukankah kebahagiaan seorang Ibu adalah melihat anak-anaknya bahagia. Tidak apa dia berkorban bukankah sudah seharusnya seorang Ibu berkorban untuk anak-anak nya? Tak apa, jika batinnya tersiksa lagi. Tak apa jika dia terluka berulang kali. Asal ketiga anaknya bahagia dan hidup terjamin.
Rachel akan nikmati segala luka yang mulai mengangga lagi. Dia hanya mohon agar tak bertemu pria itu. Sungguh Rachel tak sanggup melihat wajah suaminya. Dia tidak bisa menahan ketakutan yang menghantam dadanya. Rachel tak bisa bayangkan bagaimana hancurnya hatinya jika harus bertemu dengan Ramos.
"Hel."
Choky memeluk ketiga orang itu secara bersamaan, berusaha menyalurkan kekuatan pada ketiga nya. Merengkuh tubuh lemah itu berharap pelukkan nya dapat menghilangkan rasa takut yang mendera.
"Semua akan baik-baik saja."
"Mommy harus kuat demi Gerra. Gerra pasti sembuh Mom," ucap Gerald juga.
Sedangkan Gilbert hanya bisa memeluk tubuh Rachel tanpa berkata apapun. Dia tahu bagaimana perasaan Ibu nya itu karena Gilbert juga merasakan hal yang sama, sama-sama hancur.
**Bersambung.....
Apa kabar para kesayangan????
Nihh author update pagi dulu hari ini wkwwk kebetulan bangun cepat he.....
Jangan lupa love-love dari kalian.. Umchhhh**
__ADS_1