
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Sandy menggelengkan kepalanya sambil berjalan mundur.
"Mas, bagaimana dengan Bunda? Bunda baik-baik saja kan Mas?" Cecar Rachel.
"Sandy, bagaimana Sandy? Bunda bagaimana?" Rachel dan Benedicto kompak mencecar Sandy dengan pertanyaan yang sama.
Sandy menggeleng. "Maaf Ayah. Maaf Rachel. Bunda, Bunda sudah pergi meninggalkan kita,"
Deg
Rachel langsung tersungkur dilantai dan menangis hebat.
"Mommy," ketiga anak kembar itu berhambur memeluk Rachel.
"Sayang," Ramos masuk berjalan mencari istrinya. "Sayang kau kenapa?" Lelaki itu menabrak benda yang ada didepannya. Dia berjalan cepat seolah ingin segera memeluk istrinya.
"Ramos," sontak Sandy membantu lelaki itu
"Arghhhhhhhhhhhhh, Bunda," teriak Rachel terdengar menggema. "Bunda kenapa pergi meninggalkan ku lagi? Kita baru bertemu Bunda, Rachel baru tahu kalau Rachel masih punya orang tua. Tapi kenapa Bunda malah meninggalkan Rachel lagi? Bundaaaaaaa,"
"Hiks hiks hiks hiks Mommy," ketiga anak kembar itu ikut menangis melihat Rachel yang yang tersungkur dilantai.
Rachel tak pernah berpikir jika kematian akan secepat ini memisahkan mereka. Padahal baru saja Rachel ingin merajut mimpi dan asa bersama Ibu nya, kini malah harus dipisahkan oleh kematian.
"Sayang," Ramos menghampiri istri dan anak-anak nya. "Sayang kau baik-baik saja?"
"Daddy," Gerald membantu lelaki itu.
"Hiks hiks hiks hiks hiks," tangis Rachel terdengar pecah dan menggema.
Rachel belum siap kehilangan lagi. Tidakkah cukup dulu dia kehilangan orang-orang yang dia cintai. Kehilangan Ayah dan Ibu nya serta kehilangan adik satu-satunya yang dia miliki. Sekarang dia malah harus kehilangan sang Bunda yang baru saja dia temukan beberapa waktu yang lalu. Tidakkah Tuhan kasihan padanya? Tidakkah Tuhan mau memberinya sedikit saja kebahagiaan seperti wanita lainnya?
"Sayang,"
Ramos memeluk istrinya dan berusaha menenangkan wanita itu. Dia tidak tahu seberapa hebat istrinya ini menangis tapi dia bisa rasakan jika istrinya memang menangis kuat karena baju nya basah akibat air mata Rachel.
"Mas, aku tidak mau kehilangan Bunda. Aku tidak mau Mas. Aku tidak mau," renggek Rachel.
"Arghhhh," Rachel meringgis kesakitan. Harusnya dia memang tidak boleh terlalu lelah. Tapi dalam kondisi seperti ini, dia tidak bisa mengontrol emosi dan perasaan nya.
__ADS_1
"Mommy," panggil ketiga anak itu.
"Sayang kau kenapa?" Tanya Ramos panik.
Brughhhhhhhhhhhhhh
Rachel langsung terjatuh kedalam pelukkan suaminya. Wajahnya tampak pucat.
"Mommy," Gerra sudah menangis histeris begitu juga dengan Gilbert dan Gerald.
"Astaga, Rachel," pekik Sandy.
"Sandy, Rachel kenapa?"
"Ramos, Rachel pingsan. Biarkan aku membawa Rachel keruangan UGD,"
Ramos tak bisa berbuat apa-apa. Andai dia tidak buat pasti dia yang menggendong Rachel. Andai dia tidak buta pasti dia bisa menjadi penerang untuk sang istri serta menjaga sang istri. Namun, apalah dirinya masih buta.
"Daddy," Gerra menggandeng tangan Ramos sambil menangis.
"Bawa Daddy menemui Mommy, Girl," pinta Ramos.
"Ayo Dad,"
"Son, dimana Mommy?" Tanya Choky yang tidak melihat Rachel.
"Mommy dibawa Papa, tadi Mommy pingsan Ayah," jelas Gerald sambil terisak.
"Son, ayo bawa Daddy menemui Mommy," ajak Ramos. Jujur Ramos tak suka Choky memperhatikan Rachel seperti itu disaat ada dirinya. Meski Ramos tahu jika Choky adalah orang yang berperan penting bagi istri dan ketiga anaknya.
"Ayo Daddy,"
Choky terdiam. Dia harus belajar untuk tidak khawatir pada Rachel. Choky tak mau salah paham yang nanti akan membuat Ramos dan Rachel bentrokan gara-gara dirinya. Tapi Choky tidak bisa menyembunyikan perasaan nya sendiri. Dia selalu panik jika bersangkutan dengan Rachel.
Benedicto mematung ditempatnya. Tubuhnya seolah mati bersama Nirmala. Bahkan dia sama sekali tidak peduli saat Rachel terjatuh pingsan didepan nya. Tatapan nya kosong melihat ke brangkar Nirmala .
"Benedicto," Ozawa turut prihatin pada istri sahabat nya itu.
"Nirmala, hiks hiks," Maria memeluk sahabat itu sambil menangis. "Kenapa kau pergi secepat ini, Nurmala? Apa kau tak ingin lihat cucu-cucu kita tumbuh dewasa?" Ucapnya sambil menguncang-guncang tubuh Nirmala.
"Sayang, sudah. Ikhlaskan," Ozawa menarik tangan Maria agar menjauh dari tubuh kaku Nirmala.
__ADS_1
Lewi ikut menitikkan air mata. Meski dia baru mengenal Nirmala tapi dia tahu bahwa Nirmala sangat menyanyangi Rachel dan anak-anak nya. Kasihan sekali jika harus dipaksa berpisah ketika baru bertemu.
Benedicto menatap tubuh kaku dan wajah pucat itu. Istrinya. Wanita yang dia cintai. Wanita yang sudah menemani nya lebih dari tiga puluh tahun itu kini pergi selamanya. Meninggalkan sejuta kenangan. Meninggalkan dirinya sendirian. Meninggalkan bekas luka yang mendalam. Membiarkan nya menangis dalam ketidakikhlaskan.
Lelaki itu terduduk dibangku sampai ranjang istrinya. Dia seperti orang mati pikiran. Dia seperti belum sadar dengan kematian sang istri.
"Nirmala," lirihnya.
Barulah tangis Benedicto sadar setelah melihat kembali wajah istrinya yang kaku dan pucat.
Benedicto menatap sang istri yang terpejam dengan damai. Benedicto tak menyangka jika perjalanan cintanya akan berakhir sampai disini.
"Kenapa kau tidak tega sekali meninggalkan aku sendirian? Kenapa kau tak memberiku kesempatan untuk bahagia lebih lama? Tidakkah kau tahu bahwa aku tidak pernah siap kehilangan mu?"
"Nirmala. Hiks hiks hiks," Benedicto memeluk tubuh kaku yang terbaring diatas brangkar itu. "Kenapa Nirmala? Kenapa?" Benedicto menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh istrinya. Alat-alat medis sudah dilepaskan dari tubuh wanita itu.
Benedicto naik keatas brangkar dan memeluk wanita itu dengan erat.
"NIRMALA,"
"NIRMALA,"
"NIRMALA,"
"NIRMALA,"
Teriakannya terdengar menggema didalam ruangan rawat inap istrinya itu. Tidak. Tidak. Benedicto tidak akan ikhlas sampai kapanpun. Dia tidak bisa kehilangan Nirmala. Dia tidak mau berpisah dari wanita itu. Dia ingin bersama Nirmala dalam waktu lama.
Tangis Benedicto masih pecah. Dia meraung dan merintih dalam kepatahatiannya. Tak bisa mengikhlaskan dengan rela wanita yang sudah menemani masa-masa sulit dalam hidupnya.
"Sayang, tidakkah kau kasihan padaku? Aku sudah tua. Siapa yang akan mengurusku? Siapa yang akan menyiapkan makanan untukku? Siapa yang akan menyiapkan pakaian ganti dan mengambilnya dalam lemari? Siapa yang akan menemani aku tidur? Kenapa kau tega sekali menyiksaku seperti ini? Kenapa Sayang?" Cecar nya sambil menyelipkan anak rambut Nirmala. Tubuh Nirmala sudah dingin, bagian tangannya membiru.
Ozawa dan Maria merasakan kesedihan yang sama. Terutama Ozawa, dia tahu betapa Benedicto mencintai istrinya itu. Bahkan Benedicto tetap setia merawat Nirmala meski sudah depresi hampir sepuluh tahun.
"Bangun Sayang. Bukankah keinginan kita sudah terwujud? Menemukan putri kita lalu hidup bahagia bersama selamanya? Tapi kenapa kau malah memejamkan matamu seperti ini? Apakah sungguh sakit Sayang? Apakah sakitnya sungguh tak bisa membuatmu bertahan? Bukankah aku sudah berjanji akan menyembuhkan mu,"
"NIRMALA,"
"NIRMALA,"
"NIRMALA,"
__ADS_1
"NIRMALA,"
**Bersambung**