
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Tubuh Ramos membeku ditempatnya melihat Rachel yang terbaring dengan selang-selang ditangannya. Apa yang terjadi kenapa istrinya itu bisa seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang telah Rachel lewati?
"Sayang," lirih Ramos
Lelaki itu duduk dikursi samping ranjang Rachel. Air mata nya luruh. Seluruh tubuhnya terasa mati rasa. Tak sanggup, melihat kondisi Rachel? Apa sebenarnya yang membuat istrinya itu seperti ini?
"Hiks hiks hiks," tangis Ramos pecah sambil memeluk tubuh Rachel yang terbaring tak berdaya. Beberapa selang mengalir di bagian tubuh Rachel yang lainnya.
"Kenapa kau bisa seperti ini? Bangun Sayang. Kau sudah berjanji, bahwa saat aku sudah bisa melihat, kau adalah orang pertama yang ingin aku lihat. Tapi kenapa kau malah seperti ini? Kenapa kau malah membuatku seolah menyesal karena bisa melihat kembali?" Ramos menguncang-guncang tubuh wanita itu. "Bangun Rachel," teriaknya.
Sementara yang lain diam menunduk sambil menyeka air mata mereka juga.
"Huaaaaaa hiks hiks hiks hiks," tangis Ramos terdengar menyayat hati. Dia ingin istrinya bangun, tapi kenapa malah tertidur seperti ini.
"Rachel bangun, Rachel,"
"BANGUN RA-CHEL,"
Rintihan dan raungan tangis saling menggema didalam ruangan Rachel. Ramos, tangisnya yang paling terdengar menggema didalam sana. Tak peduli jika air mata itu akan menggering. Dia hanya ingin menangis.
Dorrrrrrrrrr
"Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday. Happy birthday. Happy birthday to you,"
Ramos terkejut. Lelaki itu sontak mengangkat kepalanya. Sementara Rachel langsung terbangun. Lelaki itu kebingungan bukan main, apalagi melihat senyum dari anggota keluarga nya.
Ramos mengalihkan pandangan nya pada Rachel, lagi-lagi dia terkejut melihat istrinya terbangun sambil melepaskan oksigen dihidungnya.
"Sayang," Ramos masih belum sadar dari keterkejutan nya.
"Happy birthday to you Daddy," seru ketiga anak kembar itu bersamaan.
Ramos menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Lelaki itu masih menggeleng tak percaya.
"Mas," Rachel turun dari ranjang.
"Sayang," Ramos berhambur memeluk istrinya.
Ramos memeluk Rachel dengan erat sambil menangis hebat. Dia takut jika Rachel benar-benar koma seperti ini yang sudah-sudah.
Ramos melepaskan pelukan nya. "Sayang kau baik-baik saja kan, tidak ada yang sakit?" Ramos meneliti tubuh wanita itu takut jika ada yang sakit atau lecet.
__ADS_1
Rachel tersenyum. "Aku baik-baik saja Mas," senyum nya.
"Yeeeesss berhasil," ketiga anak kembar itu bertos ria.
Ramos langsung menatap ketiga anaknya. Sedangkan, Choky, Sandy, Maria, Ozawa dan Rayyan tersenyum sambil menahan tawa apalagi melihat ketiga anak kembar itu yang tampak bahagia karena sudah berhasil mengerjai sang Ayah.
"Son, maksud kalian apa?" Ramos menatap anaknya tajam. "Sayang ini apa maksud nya?" Ramos bertanya pada Gerra. Gerra biasanya selalu jujur.
"Daddy, kata Kak Gilbelt kasih Daddy sulplise dengan menyuluh Mommy pula-pula sakit," jawab Gerra jujur.
Rachel geleng-geleng kepala. Anak-anak nya ada-ada saja. Dia saja kaget dengan rencana Gilbert yang meminta nya pura-pura sakit. Padahal Rachel ingin sekali menjadi orang pertama yang Ramos lihat saat membuka matanya. Namun, anak nya itu malah merenggek dengan alasan ingin memberi kejutan di hari ulang tahun Ramos.
"Sayang," Ramos merenggek. "Kau tega sekali bersengkongkol dengan anak-anak untuk mengerjaiku yaaaa?" lelaki itu mendengus kesal.
Rachel hanya cenggesan. Memang tidak baik mengerjai suami sendiri. Tapi ini juga rencana anak-anak nya. Rachel hanya sebagai pameran disini yang diatur oleh sang sutradara.
"Itu ulah anak-anak mu Mas," jawab Rachel.
"Kalian yaaa berani-berani nya mengerjai Daddy,"
Ramos menciumi wajah ketiga anak nya itu secara bergantian sambil menggelitik pinggang mereka dengan gemes. Bisa-bisa nya dia dikerjai oleh anak-anak nya yang sendiri dan sialnya begitu mudah saja percaya begitu saja.
"Hahahaha ampun Daddy,"
"Hahaha ampun Daddy,"
"Sudah... Sudah.... Tiup dulu lilin nya Mas. Ini sudah mau melumer," sergah Rachel.
"Iya Dad. Capek," seru Gerra memeluk kaki Ramos.
"Tenaga Daddy, kuat sekali," nafas Gerald ngos-ngosan.
"Iya. Apakah Daddy makan batu, kenapa tenaganya kuat sekali?" Gilbert ikut menimpali sambil memeluk pinggang Ramos.
"Anak-anak ayo, bantu Daddy tiup lilinnya. Siapa tahu Daddy tidak mampu," goda Rachel sambil menampilkan rentetan gigi putih nya.
"Sayang, apa kau berpikir aku sudah tua?" Ramos mendengus kesal. Apalagi saat menatap lilin angka 41 diatas cake yang dibawa Rachel, setua itu dirinya?
"Aku tidak mengatakan hal itu Mas," kilah Rachel sambil tersenyum tanpa dosa. Ibu anak tiga itu sifat jahilnya sudah mulai terlihat.
Ozawa dan Maria tersenyum bahagia melihat keharmonisan keluarga Ramos dan Rachel. Semoga ini awal yang baik bagi hubungan keduanya.
Begitu juga dengan Choky dan Sandy. Mereka lega melepaskan Rachel dan ketiga anak kembar itu karena kebahagiaan Rachel pasti sudah terjamin bersama Ramos.
__ADS_1
'Ck, dasar kecebong tidak tahu diri. Ayah sendiri saja di kerjai. Apalagi aku,' batin Rayyan sambil memutar bola matanya malas.
Rayyan masih teringat saat ketiga anak kembar Rachel mengerjai dirinya, terutama Gilbert dan Gerald. Apapun kegiatan Rayyan, herannya kedua anak kembar itu selalu tahu dan akhirnya Rayyan tak bisa bebas lagi seperti dulu karena Gilbert dan Gerald seperti kamera CCTV yang siap memantau kapan saja.
"Berdoa dulu Mas," suruh Rachel.
"Iya Sayang," sahut Ramos. Mereka duduk disoffa dengan Rachel yang memeganv kue ulang tahun ditangannya.
"Nak, ayo berdoa bersama Daddy," ajak nya
"Iya Dad,"
Ramos berdoa bersama ketiga anaknya. Dalam doanya dia hanya ingin satu. Ingin bahagia sekali lagi bersama ketiga buah hatinya. Ini menikmati kebahagiaan seperti orang lain. Semoga saja. Tuhan mengabulkan doa Ramos kali ini.
"Amin......,"
"Kita tiup lilinnya berlima yaaa,"
"Satu... Dua... Tiga,"
Kelima orang itu meniup lilin ulang tahun Ramos bersamaan disertai dengan tepuk tangan dan sorak gembira.
Ramos memotong kue ulang tahun itu menjadi beberapa bagian. Orang pertama yang dia suapi adalah Rachel.
"Selamat ulang tahun Mas. Semoga panjang umur dan sehat selalu," Rachel mencium punggung tangan suaminya.
"Terima kasih Sayang. Terima kasih sudah menerima ku kembali. Aku mencintaimu," sambil membalas ciuman Rachel.
"Daddy, Gella mau,"
"Gerald duluan Daddy,"
"Kakak duluan Daddy, Kakak kan yang paling tua,"
Ketiga anak kembar itu berebut minta disuapi duluan. Padahal usia mereka sama tidak ada yang muda dan tidak ada yang tua karena mereka kembar dan hanya beda beberapa menit saja.
"Selamat ulang tahun Daddy,"
Mereka mencium pipi Ramos dengan sayang.
"Mommy tidak disayang?" Rachel menggerecutkan bibirnya seperti orang yang sedang merajuk.
"Sayang Mommy," ketiganya berhambur memeluk Rachel.
__ADS_1
**Bersambung.....**
Jangan lupa like komen dan Vote yaaaa guys...