Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Bab 9. Sandy Story's


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


"Bagaimana Aunty?" tanya Gerald sekali lagi.


Sandra mengangguk. Tidak enak juga menolak permintaan anak-anak. Walau sebenarnya dia canggung bersama Sandy. Apalagi Sandra masih memiliki hutang pada Sandy.


"Ya sudah Dok, saya permisi. Mari Tuan Kecil. Nona Kecil. Saya permisi. Sampai ketemu nanti siap," pamit Sandra keluar dari lift.


"Iya Mama," sahut ketiganya serentak.


Sandra tersenyum kaku .sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kenapa dia jadi salah tingkah saat dipanggil Mama.


Sandra pamit duluan keluar menuju ruangannya. Beberapa kali gadis itu menghembus kan nafasnya kasar menahan gugup.


"Ra," panggil Henny.


"Hen, sudah lama datang?" tanya Sandra meletakkan tasnya di kubikel.


"Baru juga," sahut Henny. "Sarapan dulu, kebetulan aku beli dua kantong," sambil memberikan mangkuk yang masih berisi sekantong bubur ayam panas.


"Terima kasih Hen," balas Sandra.


Henny adalah sahabat baik Sandra. Henny kemarin tidak masuk karena sedang menghadiri acara pernikahan saudara nya.


"Hem, Hen, tadi aku aku bertemu Dokter Sandy. Dia bawa tiga anak, apa itu anak nya?" tanya Sandra penasaran.


"Bukan. Itu anak nya Tuan Ramos," jawab Henny.


"Hah, Tuan Ramos?" ulang Sandra. "Jadi Tuan Ramos sudah menikah?" tanya Sandra karena dia memang selalu kurang informasi masalah gosip.


"Yoiiii," jawab Henny.


Sandra manggut-manggut. Sebenarnya dia tidak ingin tahu banyak. Lagian itu bukan urusan nya.


"Makan siang, kita mau kemana?"


"Hem, Hen, kayaknya aku tidak bisa makan siang denganmu. Aku akan makan siang dengan Dokter Sandy,"

__ADS_1


Henny tersendak mendengar ucapan Sandra. Segera gadis itu mengambil botol kecil nya lalu meminum isi nya hingga tandas.


"Kau bilang apa?" tanya Henny sekali lagi siapa tahu dia salah dengar.


"Aku akan makan siang bersama Dokter Sandy," jawab Sandra sekali lagi. "Huffh, sebenarnya aku ingin menolak. Tapi aku tidak enak, lagian aku masih memiliki hutang pada Dokter Sandy," Sandra menghembus nafasnya kasar.


"Ck, Ra. Kau tahu tidak semua wanita ingin ada di posisimu. Astaga, makan siang bersama Dokter Sandy! Andai aku, aku pasti lompat-lompat kegirangan," Henny heboh sendiri membayangkan dirinya makan siang bersama Sandy.


Sandy pria limited edition yang banyak di gilai kaum hawa. Kaya. Tampan. Pintar. Tidak hanya direktur rumah sakit tapi juga CEO ternama, apa yang kurang. Siapa pun wanita pasti akan berlomba-lomba hanya untuk sekedar menjabat tangannya meski itu sedikit sulit, karena lelaki ini tak bisa dijangkau sembarangan wanita. Ia seperti memasang tembok pemisah antara dirinya dan kaum hawa. Namun, hal itu tak berlaku bagi Sandra, entahlah mungkin karena terlalu sibuk bekerja hingga ia tak sempat memperhatikan kesempurnaan Sandy. Dan Sandra pun tak berniat untuk menganggumi lelaki itu. Bagi nya biasa saja.


.


.


.


Sandy melipat kedua tangannya didada mengintrogasi ketiga anak angkatnya. Pantas saja, ketiga nya begitu semangat ikut ke rumah sakit. Rupanya mereka memiliki rencana untuk Sandy.


"Papa malah?" tanya Gerra mengintip wajah Sandy.


"Papa tidak marah, apa hanya kesal karena kalian nakal diluar batas," ucap Sandy. Sebenarnya ia ingin sekali marah. Andai jika anak-anak ini orang dewasa sudah pasti ia akan mengajak mereka baku hantam.


"Maaf Pa," ucap Gilbert dan Gerald bersamaan.


"Kami hanya ingin memiliki Mama," sambung Gerald.


"Son, dengarkan Papa. Aunty Sandra itu sudah memiliki suami. Bagaimana nanti kalau suaminya malah menyerang Papa?" Sandy tak habis pikir entah dari mana anak-anak ini belajar berbohong.


"Siapa bilang Pa?" ujar Gilbert. "Aunty Sandra belum menikah Pa," sergahnya. Gilbert sudah menyelidiki siapa Sandra, oleh sebab itu dia berani menjodohkan Sandra dengan Sandy.


"Tahu dari mana, Son?" kali ini Sandy menatap Gilbert serius.


"Gilbert sudah menyelidiki semua tentang Aunty Sandra, Pa," jawab Gilbert jujur.


Mata Sandy membulat sempurna. Ia menatap Gilbert sambil menggeleng.


"Son_"

__ADS_1


"Jangan marah Pa. Gilbert hanya ingin Papa menikah itu saja Pa. Papa tidak bisa selamanya hidup sendiri," sergah Gilbert.


Untuk maju Sandy memang harus berjalan. Tidak ada yang bisa berpindah sendiri, tanpa ada yang memindahkan. Begitu juga dengan perasaan Sandy saat ini. Ia tahu, ia harus mencoba membuka hati. Tapi apakah harus Sandra? Bukan, bukan karena gadis itu terlahir dari keluarga miskin hanya saja Sandra sudah memiliki kekasih hati seorang polisi yang Sandy tahu. Ia tak ingin menjadi perusak dalam hubungan orang lain.


"Son, tapi tidak begini caranya," Sandy menghembuskan nafasnya kasar.


"Lalu bagaimana lagi caranya Pa?" cecar Gilbert. "Papa tenang saja. Aunty Sandra itu wanita baik-baik. Dia belum memiliki kekasih. Jadi Papa tidak perlu khawatir," ucap Gilbert menegaskan.


"Son, Papa tidak memiliki perasaan apapun padanya," jelas Sandy sabar


"Pa, kata Daddy perasaan itu bisa tumbuh berjalan nya waktu. Dulu waktu Daddy dan Mommy menikah, Daddy juga tidak mencintai Mommy. Tapi lihatlah sekarang bahkan Daddy terus saja menempel pada Mommy," jelas Gilbert panjang lebar.


Sandy menelan salivanya kasar. Usia anak Rachel menginjak tujuh tahun tapi sudah paham hal-hal persatuan orang dewasa.


"Iya Pa, benar kata Kakak," sambung Gerald.


"Iya Pa. Lagian Aunty Sandla baik olang nya," Gerra ikut menimpali.


Ketiga nya mengangguk setuju sambil melihat Sandy yang bingung.


Sandy mengelus dadanya sabar. Ahh anak-anak ini benar-benar membuat kepalanya pusing. Bagaimana Rayyan tak selalu kesal kalau ada Gilbert dan Gerald, karena memang kedua anak ini suka sekali bertindak seperti orang dewasa.


"Baik. Papa akan coba. Tapi Papa tidak berani berjanji akan bisa mencintai Aunty Sandra," sahut Sandy mengalah. Sebab berdebat dengan ketiga anak Rachel sama saja memasukkan dirinya kedalam lubang buaya.


"Yessss," ketiga anak itu bersorak sambil bertos ria.


"Tidak apa-apa Pa,"


Sandy yakin kalau Sandra takkan menolak pesona dirinya. Pasti gadis itu senang karena didukung untuk mendekati nya. Entahlah, Sandy akan mencoba sekali ini untuk membuka hatinya. Jika ia tak bisa juga menerima wanita ini, maka ia takkan mencoba lagi. Sandy tidak mau membuang waktu nya untuk hal-hal yang tidak penting seperti ini.


"Kita sayang Papa," ketiga nya memeluk Sandy bersamaan.


Sandy mendengus kesal tapi tidak bisa marah. Marah juga percuma, melihat wajah menggemaskan mereka membuat hati nya seketika luluh.


"Iya kalau sudah begini kalian bilang sayang Papa. Tapi nanti kalian juga akan meninggalkan Papa," ucap Sandy sedih. Iya dia sedih. Karena ketiga anak ini hanya beberapa bulan saja menetap ke Indonesia dan akan kembali ke Sidney setelah proyek Ramos selesai.


"Papa," Gerra memeluk lengan Sandy. "Papa tidak akan sendilian kalau menikah dengan Aunty Sandra," ucap Gerra.

__ADS_1


__ADS_2