
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Bab 14. Sandy Story's
Sandra masih terdiam. Ia menatap Sandy dengan sungguh. Ia bingung. Ia tidak tahu. Apakah ia harus menerima tawaran Sandy untuk memulai hubungan. Jujur Sandra sedikit trauma karena masa lalu nya membuat ia tak percaya pada kata cinta.
Apalagi Sandy, pria yang memiliki kemungkinan resiko paling tinggibuntuk membuat hatinya patah. Ia tak sanggup harus kehilangan untuk kesekian kali. Sudah cukup ia kehilangan Ayah dan Ibu nya.
"Saya tahu kamu," ucap Sandy yang bisa membawa kegelisahan diwajah Sandra. "Saya bukan pria seperti itu. Saya pernah kehilangan seseorang yang begitu berarti dihidup saya. Saya tidak mau itu terluka lagi," tuturnya menatap nanar mata gadis didepannya ini. Mata Sandra seperti memiliki magnet yang mampu menarik Sandy masuk kedalam perasaan terdalam. Belum ada rasa yang ia ketahui yang jelas tatapan mata ini mampu meneduhkan hatinya.
"Tapi Dok saya miskin. Saya tidak punya apa-apa, apa yang Dokter harapkan dari saya?" tanya Sandra. Akan aneh jika Sandy memilih nya menjadi salah satu teman hidup. Ia gadis biasa. Ia tidak punya apa-apa yang bisa di pamerkan pada Sandy.
"Saya tidak bahas itu," potong Sandy.
"Saya miskin Dok, apa kata orang-orang nanti jika dokter memilih saya untuk mencoba hubungan?"
"Saya kaya dan itu tidak masalah," sahut Sandy santai. Sandy tak butuh wanita kaya atau wanita cantik yang memiliki karier cemerlang. Ia sudah memiliki itu semua. Akan ia gunakan untuk apa uang sebanyak itu, jika hanya sendiri?
Sandra menghela nafas panjang. Ia bukan gadis yang mudah termakan rayuan laki-laki. Jika Sandra ini mudah ditaklukkan pasti Bima sudah menjadi suaminya. Ia adalah gadis yang tegas terhadap hidup dan masa depannya. Apalagi sekarang ia hidup sendiri tanpa siapapun didunia ini. Ia tak mau dipermainkan oleh dunia, ia tak punya tempat untuk mengadu luka atau sekedar meminta peluk saat lelah menyerang oleh sebab itulah Sandra tak main-main jika masalah hubungan.
"Apa yang membuat Dokter memilih saya?" tanya Sandra lagi ia menatap Sandy penuh selidik. Ia wanita normal tentu menganggumi sosok sempurna yang ada didepannya ini. Tapi kembali lagi ke komitmen nya, tampan dan kaya bukan lah ukuran yang pas dalam mencari jodoh
Sandy tersenyum simpul. Wanita ini sangat mirip dengan Rachel. Tidak mudah percaya pada kata-kata manis pria.
__ADS_1
"Karena saya merasa nyaman saat berada didekat kamu," jawab Sandy.
"Apa hanya itu alasan nya?" Sandra menatap Sandy dengan penuh selidik sambil melipat kedua tangannya didada.
Sandy lagi-lagi terkekeh. Ia seperti sedang di interogasi oleh Ibu nya saat melakukan kesalahan ketika masih kecil.
"Tidak Nona Sandra. Saya ingin mengenal anda lebih jauh, rasa nyaman berada didekat anda itu membuat saya ingin selalu berdiri disamping anda. Bagaimana apakah boleh?" Sandy sebenarnya tak pandai merayu karena dia bukan lelaki romantis. Tapi sepertinya gadis didepannya ini memang harus dirayu agar mau menerima dirinya.
Sandra tetap tak terpengaruh. Ia tampak terdiam dan berpikir keras. Sumpah demi apapun, Sandy sangat tertarik dengan gadis ini. Ahh kenapa tidak dari dulu dia memperhatikan Sandra. Padahal sebelum dia bersembunyi di Sidney, Sandra sudah menjadi salah satu bawahannya dan kinerja gadis ini memang bagus. Ia memiliki jiwa sosial dan sifat yang lemah lembut.
"Dok, hem......."
"Kenapa?" tanya Sandy tersenyum. Sayang sekali jika gadis seperti Sandra dilepaskan begitu saja. Bukankah gadis seperti ini langka.
"Saya memiliki trauma di masa lalu. Saya pernah di khianati dan disakiti oleh orang-orang yang tak menginginkan. Apakah dokter sanggup menemani saya menyembuhkan masa lalu itu?" ucap Sandra. Sebenarnya ia tak pernah menceritakan ini pada siapapun, termasuk Bima dan Henny. Baginya, tak perlu semua orang tahu seperti apa kehidupan nya dulu.
"Kita mencoba dekat. Jika cocok kita lanjut. Kalau pun tidak cocok, saya harap tidak ada dendam dihati kita berdua," tegas Sandra. Sebelum hubungan berlanjut ke jenjang yang lebih serius ia harus memperingatkan Sandy.
"Baik saya setuju,"
"Deal," keduanya salaman.
Malam itu di restourant mewah dan mahal menjadi saksi bisu bagaimana awal dari hubungan Sandy dan Sandra. Kedua orang yang pernah terluka ditinggalkan oleh oleh orang yang di cintai itu. Kini sepakat untuk memulai hubungan dengan orang yang baru. Sepakat untuk saling menghapus dendam agar tak ada luka yang tertinggal.
__ADS_1
Orang-orang yang yang pernah kehilangan akan menjaga dengan sangat betapa pentingnya kebersamaan yang selama ini ia jaga. Semoga saja ini awal yang baik untuk keduanya. Semoga keduanya segera saling jatuh cinta dan hidup bahagia selamanya.
Sandy pria yang hampir menginjak usia kepala empat. Tidak ada yang kurang dari dirinya untuk para kaum hawa menolak pesona seorang Sandy. Namun Sandy adalah tipikal orang yang selektif. Ia tak mau sembarangan. Tak apa lambat menikah asal menemukan pendamping hidup yang tepat.
Begitu juga dengan Sandra. Ia bukan gadis yang memiliki banyak kemampuan. Ia hanya seorang perawat dan seorang anak. Jika ditanya, apakah ia ingin menikah? Tentu saja, iya. Apalagi usianya yang hampir memasuki kepala tiga. Tidak ada manusia baik pria atau pun wanita yang tak ingin menikah, semua orang ingin menikah. Namun bukan berarti harus buru-buru karena takut tidak memiliki anak. Anak itu adalah bonus yang diberikan sang pencipta. Tidak semua pasangan diluar sana diberikan kesempatan untuk memiliki anak. Ada beberapa pasangan yang sudah menikah belasan atau puluhan tahun tapi masih belum dikaruniai keturunan. Dan mereka tetap baik-baik saja dengan kehidupan singkat tersebut. Menikah adalah keputusan hidup bersama. Maka dari itu perlu dipertimbangkan dengan siapa kita akan menua nantinya.
"Terima kasih Sandra. Kita akan memulai hubungan ini. Jangan sungkan," ucap Sandy terkekeh.
"Sama sekali tidak Tuan Dokter," Sandra ikut terkekeh.
"Bagaimana kalau kita berdansa malam ini?" ajak sandy berdiri sambil mengulurkan tangannya.
"Tapi saya memakai celana jeans, tidak pantas," ahh Sandra malu sendiri dengan pakaian nya. Ia memang tidak bisa mengenakan dress.
"Tidak masalah. Saya akan ajarkan," senyum Sandy masih mengulurkan tangannya.
Sandra mengangguk. Ia menyambut tangan Sandy lalu berdiri.
Bersama alunan musik piano dan biola yang saling bersahutan. Keduanya berdansa dengan lampu remang-remang yang sengaja di pasang agar suasana semakin romantis.
Banyak yang ikut berdansa. Seperti kata orang-orang. Malam ini adalah malam Minggu. Malam paling ditunggu oleh banyak pasangan untuk berkencan atau sekedar memadu kasih bersama sang pujaan hati.
"Nervous?" tanya Sandy
__ADS_1
"This is my first time," jawab Sandra
Bersambung....