
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Rachel," Sandy mengusap lengan wanita yang masih belum bangun itu
"Mommy hiks bangun Mommy bangun. Jangan tinggalin Gella Mommy, hiks hiks," gadis kecil itu terisak melihat sang Ibu yang masih terpejam dari kemarin.
"Mommy, bangun... Mommy," tangis Gerald pecah sambil memeluk lengan Rachel
Sementara Gilbert menangis dalam diam. Dia membenamkan wajahnya dilengan sang Ibu sambil berdoa Tuhan memberikan keajaiban pada wanita hebat itu.
'Mom, apa yang membuatmu benar-benar lelah sehingga kau tak ingin membuka mata? Apa kau sungguh ingin meninggalkan Kakak? Apa kau sungguh tak ingin melihat Kakak besar nanti? Bangun Mom, bangun. Buka matamu. Kakak berjanji akan menjauhkan Mommy dari pria jahat itu. Bangun Mommy," Gilbert menangis dalam hati
Sedangkan Choky hanya bisa mematung ditempatnya. Seluruh raganya terasa mati jiwanya terbang entah kemana? Jika Rachel meninggalkannya Choky takkan tahu bagaimana caranya dia hidup. Tak masalah jika Choky tak bisa memiliki Rachel. Bersama dengan wanita itu saja dia sudah merasa bahagia.
Begitu juga dengan Sandy yang tampak terpukul. Dia tidak bisa jelaskan bagaimana kondisi Rachel. Hanya saja Rachel sudah melewati masa kritisnya. Wanita itu sempat koma beberapa kali.
"Mommy,"
"Sayang," Lewi memeluk Gerra
"Oma kenapa Mommy tidul? Kenapa Mommy enggak bangun-bangun Mom? Kenapa Mommy sepelti ini? Gella lindu Mommy, hiks hiks,"
Lewi menggendong Gerra. Sebenarnya dia sudah melarang anak-anak Rachel pergi kerumah sakit terutama Gerra. Tapi anak-anak itu bersikeras ingin bertemu dengan Ibu mereka. Apalagi Gerra dalam proses pemulihan pasti nya tidak boleh tertekan.
"Mom, bawa saja Gerra pulang. Biarkan Gerald dan Gilbert tetap disini," ucap Choky menghapus air matanya.
"Gella tidak mau pulang Ayah. Gella mau menjaga Mommy disini. Gella tidak mau pulang hiks," gadis kecil itu memberontak digendongan Lewi.
"Girl main sama Oppa ya. Ayo Sayang," Morres mengambil alih untuk menggendong gadis kecil itu.
Morres dan Lewi segera membawa Gerra keluar dari ruangan Rachel. Gerra tak boleh tertekan. Dia masih anak-anak. Pikiran nya yang polos akan terluka jika berlama-lama melihat Rachel yang masih setia terpejam.
"Sandy apa yang harus kita lakukan? Kenapa tidak ada perubahan dengan Rachel?" Tanya Choky dia menatap Rachel yang terlelap beriringan dengan mesin pendeteksi jantung itu.
Sandy menggeleng lemah. "Aku tidak tahu Choky. Aku sudah mengerahkan semua kemampuan ku tapi Rachel masih saja terpejam seperti ini," lirih Sandy.
"Ini semua gara-gara Ramos. Aku tidak akan pernah memaafkan nya,"
Mendengar nama Ayah nya disebut. Gilbert langsung bangkit dan mengusap air matanya. Lelaki berusia lima tahun itu terlihat menyimpan amarah didalam hatinya. Dia harus memberi pelajaran pada pria itu. Dia harus membuat Ramos mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Pa, tangan Mommy bergerak," seru Gerald.
Ketiga pria itu langsung menoleh kearah Rachel.
"Sandy cepat periksa," teriak Choky.
__ADS_1
"Mommy," panggil Gilbert.
"Mommy," Gerald juga tampak berkaca-kaca. Dari semalam lelaki kecil itu memang sudah menangis. Menangisi Rachel.
Sandy langsung memeriksa Rachel dan memastikan kondisi Rachel.
"Rachel," Sandy mengusap lembut lengan Rachel.
"Mommy bangun," ucap Gerald.
"Rachel," Choky ikut berkaca-kaca.
Sementara Gilbert menggenggam dengan erat tangan Rachel. Dia tak sabar melihat Ibu nya itu membuka mata. Dia merindukan sosok sang Ibu. Sangat rindu. Sejak Rachel koma dia seolah tak memiliki semangat dan alasan untuk hidupmu.
"Mom," Gilbert tak mampu menahan lelehan bening dipelupuk matanya.
Rachel membuka mata nya dengan pelan.
"Rachel,"
"Mommy,"
Namun aneh kenapa gelap? Apa dia masih menutup matanya. Wanita itu menutup matanya kembali lalu membuka nya lagi, dia melakukan itu berulang kali.
"Rachel,"
"Mommy,"
"Kenapa gelap? Kenapa gelap?"
Deg.
Mereka semua terdiam Sandy. Dia belum melakukan pemeriksaan dibagian mata Rachel. Dia belum tahu apa-apa jika pandangan Rachel gelap.
"Mommy, ini Kakak Mom. Kenapa bisa gelap? Mommy lihat Kakak kan?" Tanya Gilbert dia sudah tak mampu menahan tangisnya jika tadi dia kuat maka tidak dengan sekarang.
Rachel menggeleng. "Nak kau dimana? Kenapa Mommy tidak bisa melihat mu?" Rachel ketakutan tangannya meraba-raba mencari anaknya.
Sandy terduduk lemah. Tanpa diperiksa apapun Rachel mengalami buta akibat benturan dari kecelakaan itu.
"Mommy kenapa tidak bisa lihat? Gerald disini Mom," Gerald mengambil tangan Rachel dan menempelkannya diwajahnya.
"Son kalian dimana? Kenapa Mommy tidak bisa lihat kalian?" Rachel terisak sambil meraba-raba wajah Gerald.
Sedangkan Gilbert menggeleng. Kenapa Ibu nya bisa sampai tidak melihat? Kenapa bisa? Bukankah itu hanya sebuah kecelakaan yang sama sekali tidak bersangkutan dengan mata.
__ADS_1
Sandy dan Choky terduduk lemah sambil menangis dalam diam. Tak mampu lagi berucap. Lidah terasa kelu untuk menjawab.
Rachel wanita yang sudah banyak menderita sepanjang hidupnya. Kenapa Tuhan berikan satu cobaan lagi dengan tidak bisa melihat? Tidakkah Tuhan melihat selama ini betapa menderitanya Rachel? Tidakkah Tuhan kasihan pada Rachel yang selama ini hidup dalam linangan air mata?
"Son, Mommy tidak bisa lihat. Kenapa semua gelap? Kenapa semua gelap Son?" Rachel hendak duduk namun segera dicegah oleh kedua putra kembarnya.
"Mommy," Gilbert dan Gerald memeluk wanita itu dengan menangis.
Rachel terdiam seketika saat tahu bahwa dunia nya kita gelap. Bagaimana hidupnya nanti? Bagaimana anak-anak nya?
Dunianya hanya ada kegelapan. Dunia nya tak bisa melihat apa-apa. Bagaimana cara dia melanjutkan hidup? Bagaimana cara dia bertahan?
Rachel mematung membuatkan kedua anak itu memeluk dirinya yang masih terbaring, oksigen masih menempel dihidungnya. Alat-alat medis yang lainnya juga masih bekerja disana. Tapi kenapa tubuh Rachel serasa mati? Tapi kenapa tubuh Rachel seolah tak ingin bergerak?
"Mommy,"
"Mommy,"
Gilbert dan Gerald saling bertangisan memeluk sang Ibu. Mereka berdua tak bisa bayangkan bagaimana kehidupan mereka nantinya? Orangtua satu-satunya yang mereka miliki kini tak bisa melihat apa-apa lagi.
Sedangkan Choky dan Sandy seperti mati pikiran. Mereka tak bisa mengungkapkan apapun. Jiwa seolah terlepas dari raga. Raganya mati. Raganya bisa bergerak. Aktivitas dalam tubuh seolah berhenti.
"Rachel," gumam Choky melirik Rachel yang masih dipeluk oleh Gilbert dan Gerald.
**Bersambung....
Jujur author nulis ini sambil nangis, selain terharu belum siap dapat komentar dari kalian hiksðŸ˜ðŸ¤£
Selamat berbuka puasa semua..
Bagaimana puasa hari ini??? Semoga lancar gaaesssss..
Novel ini mengandung emosi ya hati-hati jangan marah-marah bisa batal puasa🤣
Yuk ikutin kembali..
Bagaimana kisah selanjutnya?
Bagaimana reaksi Ramos saat tahu istrinya buta?
Apa yang akan dia lakukan?
Pasti banyak yang berharap Rachel gak balik sama Ramos. Sama author juga tapi mari kita lihat bagaimana takdir bekerja..
Terima buat kalian...
__ADS_1
Love kalian banyak-banyak**....