Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Pikiran anak-anak


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Choky, Rachel dan Sandy tercengang dengan pertanyaan Gilbert. Dari mana anak sekecil itu tahu tentang pendonoran tulang sumsum belakang? Sandy saja belum jelaskan pada Choky dan Rachel.


"Kau bilang apa Son?" Ulang Sandy sekali lagi barang kali dia salah dengar.


"Pa, apakah ada metode penyembuhan tanpa harus melakukan donor tulang sumsum belakang?" Gilbert mengulang pertanyaan nya.


Sandy dan Choky saling melihat heran dan juga bingung. Sementara Rachel juga bingung dengan pertanyaan putranya.


"Son, dari mana kau tahu tentang pendonoran tulang sumsum belakang ini?" Tanya Rachel lembut.


"Kakak memang tahu Mom." Jawab Gilbert. Dia kembali melihat Sandy "Pa, jawab," ujar Gilbert.


Sandy mendelik. Tatapan Gilbert benar-benar milik Ramos saat ingin tahu sesuatu. Kenapa harus melekat wajah pria itu pada anaknya?


"Hem, nanti Papa bicarakan ya." Jawab Sandy.


"Ayo kita bicarakan ke ruangan Papa." Gerald menggandeng tangan Sandy.


"Ehhhh....." Sandy terkejut


"Ayah ayo ikut. Biarkan Mommy dan adik istirahat." Gilbert mengandeng tangan Choky.


"Mau kemana Son?"


"Keruangan Papa." Sahut Gilbert "Mommy jagain adik ya. Kakak mau bicara sama Papa dan Ayah," ucapnya.


Rachel seperti mati pikiran dia hanya mengangguk dengan wajah polosnya. Dia masih terkejut ketika putra nya itu bertanya masalah pendonoran tulang sumsum belakang dari mana anak-anak itu tahu? Rachel saja yang sudah dewasa dan berusia tidak paham sama sekali.


Sandy membawa Choky, Gilbert dan Gerald kedalam ruangannya. Sejak memutuskan pindah ke negara ini, dia juga pindah kerumah sakit mahal dan mewah dengan fasilitas yang lengkap. Untung Sandy adalah lulusan terbaik sehingga dia tidak sulit untuk mencari pekerjaan.


Choky dan Sandy masih bingung. Kedua pria yang sudah berusia hampir kepala empat itu penasaran dari mana anak-anak ini tahu masalah medis.


"Pa, Gerra bisa disembuhkan tanpa pendonoran tulang sumsum belakang kan Pa?" Gilbert menatap Sandy penuh harap

__ADS_1


"Bisa kemoterapi. Tapi kemoterapi tidak menyembuhkan hanya mematikan sel kanker dalam tubuh agar tidak menyebar ke bagian syaraf." Jelas Sandy "Jika sudah memasuki stadium lanjut terpaksa pendonoran tulang sumsum itu harus dilakukan Son." Sambung Sandy lagi.


"Son darimana kalian tahu?" Choky menatap kedua putra kembar itu dengan selidik.


"Tentu saja tahu Ayah," ucap Gerald berbangga diri sambil melipat kedua tangannya didada.


"Hem, Pa. Apakah pendonornya harus Ayah kandung?" Tanya Gilbert was-was. Hal yang ditakutkan anak sekecil dirinya akan terjadi. Apa yang harus dia lakukan, dia tidak mau membuat sang Ibu trauma dan ketakutan lagi?


Sandy mendelik "Son kau tahu dari mana?"


"Berhenti bertanya Gilbert tahu dari mana Pa, itu tidak penting." Sergah Gilbert "Sekarang cepat jawab pertanyaan Gilbert Pa?" Desaknya.


Sandy menelan saliva nya susah payah ketika melihat tatapan tajam Gilbert.


"Hem. Ya begitulah." Sandy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Bagaimana Pa?"


"Tidak ada cara lain Son. Seperti nya sel kanker dalam tubuh Gerra sudah menyebar. Kita lihat perkembangan setelah kemoterapi jika tidak ada perubahan terpaksa kita harus mencari Ayah kandung kalian untuk mendonorkan tulang sumsum belakang nya." Jelas Sandy.


Gilbert tampak terdiam terlihat seperti sedang berpikir keras.


"Kenapa Son?" Choky mengusap kepala Gilbert.


"Ayah." Gilbert menatap Choky berkaca-kaca "Apa Daddy tidak tahu tentang kehadiran kami Ayah? Kenapa Daddy jahat pada Mommy?" Tanyanya tatapannya sendu dan terbata-bata.


Choky terkejut "Son, kau tahu dari mana? Apa Mommy yang cerita?"


Gilbert menggeleng "Gilbert dan Gerald sudah tahu semuanya Ayah. Daddy menyiksa Mommy. Daddy memperkosa Mommy hingga kami ada. Daddy tidak menginginkan Mommy." Air matanya luruh. Anak kecil itu terluka melihat betapa kejamnya sang Ayah kepada Ibu yang begitu mereka sayangi.


"Son."


"Pa, kami sungguh tak diinginkan. Kenapa kami berbeda? Saat semua orang lahir orang pertama yang dia lihat adalah Ayahnya, tapi kenapa kami tidak? Apa ada yang salah Pa?" Gilbert memegang tangan Sandy.


"Kenapa Mommy dinikahkan dengan Daddy, jika akhirnya Mommy harus menderita seperti itu? Harusnya menikah itu untuk bahagia tapi kenapa Mommy tidak bahagia hiks hiks." Anak kecil itu menangis meluapkan kekecewaannya. Sudah lama dia ingin mengungkapkan perasaan nya ini tapi tidak ada waktu yang tepat.

__ADS_1


"Iya Pa. Apa Mommy tak pantas bahagia? Sekarang Mommy dihadapkan dengan adik kami yang sakit parah. Apakah Mommy harus menemui Daddy dan memohon agar Daddy menyelamat Gerra? Bagaimana kalau Daddy tidak mau?" Isak tangis Gilbert terdengar.


Choky merengkuh tubuh kecil itu. Dia memeluk anak usia lima tahun yang sudah paham arti sakit hati dan takut kehilangan.


Sementara Sandy memeluk Gerald. Kedua anak kecil itu menangis seolah meluapkan segala rasa marahnya. Rasa kecewa pada Sandy dan Choky.


"Son." Choky ikut menangis.


Choky tidak tahu jika anak-anak yang terlihat kuat dan nakal ini ternyata memiliki sisi rapuh mereka. Bayangkan anak berusia lima tahun sudah bisa berbicara layaknya orang dewasa. Ini bisa dibilang anugrah atau sebuah ketakutan yang menghantam dada.


"Tidak seperti itu Son. Daddy kalian pasti tahu kalau kalian ada. Mungkin dia belum menyadari kehadiran kalian," ucap Sandy mengusap punggung Gerald.


"Jangan membenci Daddy kalian. Bagaimana pun dia adalah Ayah yang sudah membuat kalian ada didunia ini. Masalah Mommy, Mommy hanya perlu waktu untuk bertemu dengan Daddy." Jelas Sandy lagi.


Kedua anak itu masih menangis. Tak bisa dipungkiri jika mereka merindukan kehadiran sosok seorang Ayah. Meski Choky dan Sandy memberikan segalanya tapi tetap saja berbeda dengan kasih sayang seorang Ayah. Mereka juga kasihan melihat Rachel yang kembali tertekan dengan keadaan yang memaksanya kuat.


Gilbert melepaskan pelukannya. Dia menyeka air matanya.


"Ayah, kalau memang harus Daddy yang mendonorkan tulang sumsum untuk adik. Biarkan kami berdua yang menemuinya. Bawa kami ke Indonesia," ucap Gilbert.


"Son." Mulut Choky terasa kelu.


"Gerra lebih penting dari rasa kecewa ini Ayah. Gerra jantung hati kami. Dia harus sembuh." Gilbert menangkupkan kedua tangannya didada dan memohon pada Choky agar mengabulkan permintaan nya.


Choky mengangguk "Apa kalian siap Son?"


"Kami siap Ayah." Jawab keduanya kompak.


"Sudah jangan menangis lagi. Masa jagoan Papa cenggeng." Sandy menggendong Gerald dan gemes sendiri dengan wajah anak kecil ini.


"Papa jangan gendong-gendong Gerald. Gerald bukan anak kecil lagi." Pria kecil itu memberontak.


Sandy tertawa untuk menutupi kesedihannya. Selain Gerra, Gerald juga cukup dekat dengannya. Kalau Gilbert lebih dekat dengan Choky karena pembawaan wajahnya yang dewasa membuat dia dan Choky seperti Ayah dan anak kandung.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2