
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Kondisi Gerra sudah lebih baik setelah operasi pencangkokkan tulang sumsum belakang itu.
“Sini biar Kakak yang pasang jacketnya,” ucap Gerald. “Kau ini seperti anak kecil, pasang baju sendiri saja tidak bisa.” Gerutu Gerald sambil memasang jacket ditubuh Gerra.
“Kakak juga masih kecil.” Ketus Gerra
“Ck, Kakak sudah besar. Sudah bisa mandi sendiri. Makan sendiri. Pakai baju sendiri. Sedangkan kau, harus diurus Mommy,” cibir Gerald
“Kakak jahat.” Gerra melipat kedua tangannya didada karena kesal.
Rachel hanya tersenyum mendengar perdebatan kedua anaknya. Dia sedang memasukkan barang-barang Gerra kedalam tas dibantu oleh Gilbert. Diantara ketiga anaknya memang Gilbert yang paling dewasa dan tidak banyak bicara. Terlihat dingin dan tak tersentuh.
“Sudah jangan berdebat. Kalian ini.” Gilbert memutar bola mata malas.
“Kakak yang duluan Kak. Masa dia bilang Gella masih kecil. Padahal dia juga masih kecil.” Bibir Gerra menggerecut kesal.
“Sudah jangan mengomel terus. Sini pasang topinya.” Gilbert memasang topi dikepala Gerra agar menutupi kepala plontos adiknya itu.
“Terima kasih Kakaku yang tampan. Cup.” Gerra memberikan ciuman singkat dipipi Gilbert.
“Ck, jangan cium-cium Gerra, kau pikir Kakak anak kecil apa?” Sambil mengusap pipinya, dia paling tidak suka dicium kecuali Rachel yang menciumnya.
Gerra mencibir kedua Kakak nya selalu tidak terima jika mereka masih anak kecil. Padahal memang masih kecil, masih anak-anak. Namun tetap saja tidak suka dipanggil anak kecil. Gilbert dan Gerald merasa diri mereka sudah dewasa.
“Haiii keponakkan Aunty.”
Ayunia masuk bersama Alvan dan putri kecil mereka. Mereka baru saja sampai dari Indonesia dan langsung kerumah sakit untuk menjemput keponakkan kesayangannya itu.
“Aunty Nia,” pekik Gerra.
“Dek, jangan teriak-teriak, nanti tenggorakkannya sakit.” Tegur Gilbert dan Gerald bersamaan.
Gerra cenggesan. Dia menyambut pelukan hangat Ayunia. Dia memang menyanyangi Aunty-nya itu karena Ayunia selalu mengajarinya masak seperti Mommy nya. Gerra suka masak, dia bercita-cita menjadi chef kalau sudah besar nanti.
“Aunty Gella lindu.”
__ADS_1
“Aunty juga rindu Gerra.” Ayunia menciumi wajah Gerra dengan gemesnya.
“Mas,” sapa Alvan pada Choky dan Sandy.
“Duduklah.” Ajak Sandy “Kapan kalian datang?” Tanya Sandy sambil duduk.
“Baru sampai Mas. Langsung kesini.” Jawab Alvan
“Bagaimana keadaan Mama-nya Nia?” sambung Choky ikut duduk bersama kedua pria itu.
“Sudah lebih baik. Dia hanya perlu menjalani pengoban rutin karena gula darahnya tinggi.” Jawab Alvan
Setelah mengurus surat keluar dan membereskan barang-barang milik Gerra. Sandy dan Choky segera membawa Rachel dan anak-anaknya pulang ke istana. Tidak baik bagi kesehatan Gerra jika terus berlama-lama dirumah sakit, apalagi kondisi Gerra sudah lebih membaik.
Sandy menggendong Gerra. Sedangkan Choky menarik koper berisi barang-barang milik Gerra. Choky bisa saja meminta pengawal atau pelayan yang membawanya. Namun belajar dari Rachel agar tidak merepotkan orang lain selama bisa melakukannya sendiri.
Rachel menggandeng tangan Gilbert dan Gerald yang tidak mau jauh darinya. Sekilas mereka seperti keluarga bahagia dengan dua Ayah. Apalagi Sandy dan Choky begitu menyanyangi Rachel dan anak-anaknya. Namun sayang perasaan yang kedua pria itu miliki tak cukup mampu meluluhkan hati Rachel yang sudah mati itu.
Alvan dan Ayunia juga pulang bersama-sama dengan mereka. Setelah ini mereka akan ikut tinggal di istana keluarga Choky atas permintaan Morres, Ayah Choky. Keluarga Choky sudah menganggap Ayunia sebagai anaknya juga.
“Pa, Gella mau makan es cleam.” Pinta gadis kecil itu. Dia menelan liurnya membayangkan es cream yang segar itu membasahi tenggorokkannya.
“Pa…..” Gadis kecil itu merenggek
“Sayang tidak boleh ya Nak.” Rachel ikut menimpali. “Gerra mau sembuh?” Tanyanya sambil tersenyum lembut. Gerra mengangguk dengan cepat tapi wajahnya sedih.
Sandy dan Rachel terkekeh melihat gadis kecil itu merajuk. Setiap orang yang sakit harapannya hanya satu yaitu ingin sembuh agar dia bisa makan apa saja yang dia mau. Itulah yang dirasakan oleh Gerra, berharap sembuh agar dia bisa makan es cream sepuasnya.
.
.
.
.
Ramos menatap kosong keluar jendela rumah sakit. Hari ini dia juga sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Hanya saja dia perlu check-up ulang untuk memastikan apakah ada efek samping dari pencangkokkan tulang sumsum belakang yang dia jalani beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
“Son.” Ozawa mendekati putranya.
“Apa mereka sudah pulang Dad?” Tanya Ramos dengan lirihan. Sungguh dia sangat ingin mengantar putri kecilnya itu pulang. Namun apalah daya semua tidak mungkin.
“Mereka sudah pulang.” Jawab Ozawa.
Ramos menghela nafas panjang. Tatapannya kosong. Tatapannya sendu. Entah apa yang dia pikirkan?
“Kau baik-baik saja?” Ozawa menepuk pundak putra sulungnya itu.
Ramos menggeleng. “Aku sedang tidak baik-baik saja Dad. Aku sedang terluka.” Dia menghela nafas panjang.
“Apakah kau ingin pulang ke Indonesia?” Tanya Ozawa mengalihkan pembicaraan dia tidak mau putranya ini terus bersedih.
Ramos menggeleng. “Aku ingin disini beberapa waktu lagi Dad. Barangkali ada waktu, aku ingin mengajak anak-anakku jalan-jalan, meski hanya sekali.” Sahut Ramos tersenyum miris.
“Ya sudah, ayo kita pulang.”
Mereka keluar dari ruangan Ramos. Heru dan Herry mengekor dari belakang sambil menyeret koper dan membawa barang-barang Ramos selama di rumah sakit.
Ozawa membawa Ramos kerumah Rayyan yang ada di Sidney. Tak hanya tinggal disini, tapi Rayyan juga memiliki beberapa cabang anak perusahaan yang baru saja berkembang.
“Kakak.” Rayyan langsung menyembut Kakak nya itu dengan pelukkan hangat. “Apa kau baik-baik saja Kak?” Tanyanya melepaskan pelukannya
Ramos mengangguk. “Kakak baik-baik saja.” Senyum Ramos
“Ayo Kak masuk. Ayo Dad.”
Rumah Rayyan di Sidney tidak terlalu besar namun terkesan mewah. Rumah ini sudah dia tempati selama enam tahun silam dan memutuskan tinggal disini serta membangun perusahaan nya yang baru. Awalnya hanya iseng-iseng ingin mencari keberadaan Rachel namun siapa sangka dia akan menetap lama disini hingga saat ini. Padahal hanya alasan Rayyan supaya terlepas dari pantauan kedua orangtuanya, agar dia bebas melakukan apa saja tanpa harus mendengar omelan dari sang Ibu Negara yaitu Maria.
“Rumahmu nyaman juga?” Ramos duduk sambil menelusuri rumah mewah itu.
“Tentu, aku kan pria kaya.” Sahut Rayyan berbangga hati.
“Ehem, kaya. Tapi kau suka bermain perempuan.” Ozawa memincingkan matanya curiga.
Rayyan langsung kikuk apalagi tatapan Ayahnya yang menyeramkan seperti itu membuatnya takut saja. Sementara Ramos terkekeh sambil geleng-geleng kepala
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan vote ya guys.. love kalian banyak-banyak....