Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Peringatan


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


“Kak.”


“Kenapa Ray?” Ramos menatap adiknya


“Kakak harus mengirim pengawal bayangan untuk melindungi Rachel dan anak-anaknya. Agnes mulai bereaksi Kak.” Jelas Rayyan


“Apa?” pekik Ramos dan Ozawa bersamaan lalu saling melihat


“Apa maksudmu?” Tanya Ramos masih belum mengerti maksud adiknya.


“Iya Kak, menurut orang-orang suruhanku. Agnes datang ke sini saat tahu Kakak juga disini. Bahkan kemarin dia sempat datang ke rumah sakit untuk mencari tahu anak Kakak yang dirawat itu. Aku hanya takut dia mencelakai Rachel dan anak-anaknya Kak,” jelas Rayyan lagi.


“Ini tidak bisa di biarkan Mos. Kau harus lebih ketat menjaga keamanan mereka. Walau ada Sandy dan Choky disana tapi kita tidak bisa berharap pada orang lain untuk melindungi orang yang kita sayangi.” Saran Ozawa.


Ramos mengangguk. Tanpa disuruh pun dia akan tetap memberikan penjagaan kepada istri dan anak-anaknya itu.


‘Agnes awas saja kau berani menyakiti mereka. Takkan kubiarkan kau hidup dengan tenang.’ Ramos mengepalkan tangannya kuat


Ramos akan melindungi istri dan anak-anaknya. Tak peduli jika dia harus mengorbankan nyawa sekali pun. Ramos takkan biarkan siapapun yang berani menyakiti orang-orang yang dia cintai. Tak ada yang boleh melukai Rachel dan anak-anaknya lagi, cukup dia yang melakukan itu di masa lalu.


“Sebaiknya kau istirahat saja, kau belum benar-benar pulih. Daddy akan segera kembali ke Indonesia. Kasihan Mommy mu sendiria,” ucap Ozawa


“Hati-hati Dad. Apa perlu aku antar?”


Ozawa menggeleng sambil tersenyum “Tidak perlu Son. Istirahat lah. Ada Herry yang menemani Daddy,” tolak Ozawa lembut.


Ramos mengangguk. Lelaki itu masuk kedalam kamarnya. Dia belum benar-benar pulih. Bekas operasi nya terkadang masih terasa perih jika dia terlalu banyak bergerak.


Lelaki itu duduk dibibir ranjangnya sambil menghela nafas panjang. Usianya sekarang sudah memasuki kepala empat tentu dia menginginkan hidup yang lebih baik. Bahagia bersama anak-anak dan istrinya. Namun apa yang bisa dia lakukan jika istrinya saja masih enggan bertemu dengannya. Jangankan bertemu mendengar namanya saja istrinya itu bisa ketakutan bukan main.


Ramos membaringkan tubuh rapuh nya diatas ranjang. Dia menatap langit-langit kamar. Masih terbayang betapa bahagianya dia memeluk Gerra sambil menyuapi gadis kecilnya itu makanan. Namun itu sangat singkat dia tidak bisa merasakan itu lebih lama. Tidak bisa. Seperti mimpi yang berlalu begitu cepat.


"Gerald. Gerra. Daddy rindu kalian Nak," Ramos memejamkan matanya. "Apakah Daddy harus menyerah itu memperjuangkan kalian? Tapi Daddy ingin sekali hidup bersama kalian Nak," lirih Ramos. Rasanya dia ingin menghentikan waktu ketika bermain dengan anak-anak nya.


"Gilbert. Daddy tahu Nak, kau marah dan kecewa pada Daddy. Tapi Daddy juga merindukan Daddy sama seperti yang Daddy rasakan." Ramos meletakkan tangannya didada meresapi rasa sakit yang menyerang didalam sana.


Penyesalan yang takkan bisa dia lunasi dengan melakukan apapun untuk istri dan anak-anak nya. Bahkan apapun yang dia lakukan takkan bisa mengobati luka yang sudah dia turihkan dihati istrinya.

__ADS_1


Apa yang harus Ramos lakukan? Apa dia akan menyerah dan melepaskan istri dan anak-anak nya. Namun Ramos juga ingin hidup bahagia seperti lelaki lainnya. Ingin sekali. Ingin hidup bersama istri dan anak-anak nya. Dia rindu Rachel menyambut nya setiap kali pulang bekerja seperti enam tahun yang lalu. Dia rindu mendengar suara keributan karena anak-anak nya didalam rumahnya. Namun, apakah kerinduan nya itu bisa segera terwujud kan?


.


.


.


.


Seorang gadis cantik tengah tersenyum penuh kemenangan saat melihat beberapa mobil mewah meninggalkan rumah sakit. Dengan begini rencana nya akan lebih mudah.


"Apa kau yakin ingin menyingkirkan Rachel? Kau tahu kan, ini tidak akan mudah? Sandy dan Choky bulan orang yang mudah kau lawan," ucap seorang lelaki yang duduk dibalik bangku kemudi.


"Aku tahu." Dia tersenyum licik. "Jika aku tak bisa memiliki Ramos kembali. Maka wanita ****** itu juga tak bisa memiliki nya. Biar impas," jawabnya santai.


Lelaki disamping nya mengangguk paham. Dia setuju kalau begitu. Karena jika wanita disampingnya kembali bersama Ramos dia juga mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat.


"Lalu apa rencana kita selanjutnya?" Tanyanya


"Ikuti mobil itu," tintahnya.


Dia menjalankan mobilnya menyusul beberapa mobil mewah berwarna hitam didepannya. Tentu saja dia harus pintar-pintar membawa mobilnya agar tidak ketahuan bahwa dia sedang mengikuti mobil itu dari belakang.


"Pelan-pelan Jhon, jangan sampai mereka tahu kalau kita sedang mengikuti mereka," ucap wanita itu memperingati lelaki yang sedang menyetir disampingnya.


Lelaki itu mengangguk dan menjalankan mobilnya pelan takut jika ketahuan. Dia sudah biasa menjadi detektif jadi tidak akan ketahuan, pikirnya.


.


.


.


.


"Ayah," panggil Gilbert. Dia satu mobil dengan Choky. Sedangkan Gerra dan Gilbert bersama Rachel dan Sandy di mobil yang berbeda.


"Iya Son, kenapa?" Choky melirik anak kecil yang duduk disampingnya itu.

__ADS_1


"Seperti nya ada yang mengikuti kita," Gilbert melihat lekat kaca spion didepan


"Mengikuti kita?"


Choky menoleh ke belakang. Lelaki itu tampak bingung siapa yang mengikuti mereka. Dibelakang memang banyak mobil yang mengikuti mereka. Tapi apakah memang mengawasi mereka? Bisa saja jalur mereka sama.


"Ayah tidak melihat nya," sahut Choky kembali melihat Gilbert


Gilbert menatap tajam kearah kaca spion itu. Dia menatap penuh selidik dan lekat. Jelas mobil itu mencurigakan dari gerak-gerik nya. Tapi kenapa Choky tidak bisa melihat nya?


"Ayah boleh Gilbert pinjam ponsel mu," pinta nya.


"Ini Son," Choky langsung memberikan ponsel itu pada Gilbert.


Choky pernah menyarankan pada Rachel agar anak-anak nya di fasilitasi dengan benda pintar itu. Namun Rachel menolak keras. Anak-anak nya masih kecil. Walau mereka berbeda Rachel tak ingin anak-anak nya kebiasaan dan malah kecanduan dengan benda tersebut. Dan Rachel bersyukur karena anak-anak nya tidak merenggek seperti anak-anak lainnya yang akan merajuk jika keinginan nya tidak terpenuhi.


Choky menggeleng saja melihat Gilbert yang begitu lancar memainkan ponsel miliknya tanpa menanyakan kata sandi nya.


"Apa Ayah kenal wanita ini?" Gilbert menunjukkan layar ponselnya.


Choky memincingkan matanya melihat foto yang tertera dilayar ponsel tersebut. Dia tampak berpikir seperti pernah melihat wanita itu tapi dimana.


"Agnes Wibowo," ucap Choky. "Iya ini Agnes. Mantan model Indonesia yang sekarang sudah di blacklist," sambungnya.


"Ayah mengenalnya?" Gilbert menatap Choky. Sebab gerak-gerik wanita yang mengikuti mobilnya itu tampak mencurigakan.


Choky mengangguk, "Dia mantan kekasih Daddy-mu," jawab Choky.


"Ehem, sudah ku duga," Gilbert tersenyum devil.


Choky mendelik melihat senyuman Gilbert yang sungguh benar-benar mirip dengan Ayah nya Ramos bahkan ekspresi wajahnya juga sama seperti Ramos, bagai pinang dibelah dua.


"Apakah dia menyusul Daddy kesini? Ck, pria itu benar-benar menyebalkan, berani-berani nya meminta Mommy kembali sedangkan dia masih berhubungan dengan wanita tidak benar ini," gerutu Gilbert masih mengotak-atik ponsel Choky.


"Ehem, Son. Ayah rasa bukan begitu," sergah Choky.


"Ayah membela nya?" Gilbert menatap Choky tajam. "Jangan membela orang yang bersalah Ayah. Nanti dia semakin suka melakukan kesalahan." Ketus Gilbert.


Choky menelan salivanya sambil menggaruk tengkuknya melihat tatapan mematikan Gilbert. Kecil-kecil sudah membuat orangtua kikuk, apalagi nanti kalau sudah besar bisa jadi psikopat anak kecil ini. Choky bergidik ngeri membayangkan Gilbert menjadi psikopat seperti yang ada dibayangannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2