
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺 🌺🌺🌺🌺🌺
"Papa," Gerald mendekati Sandy yang tengah sibuk dengan data pasien di meja kerjanya.
"Iya Son ada apa?" Sandy tersenyum.
Sandy senang dengan kedatangan Ramos dan Rachel serta anak-anak nya. Setidaknya rumah ini tidak kesepian seperti saat hanya ada dia dan Benedicto dirumah nya.
"Papa sibuk?" Gerald memegang sudut meja sambil mengangkat kepalanya menatap Sandy.
"Seperti yang kau lihat Son," senyum Sandy sambil membolak-balik berkasnya. "Mau bantu Papa?" tawar Sandy terkekeh.
"Boleh Pa!" seru Gerald.
Sandy mengangkat bocah itu lalu mendudukkannya dipangkuannya. Ya dari dulu dia memang sangat dekat dengan putra Rachel yang satu ini.
"Papa," panggil Gerald.
"Iya Son, kenapa em?" Sandy mengusap kepala Gerald. "Ada yang ingin kau tanya kan Son?" tanya Sandy yang seolah tahu tatapan putra angkat nya ini.
Gerald mengangguk. "Apa Papa mau menikah?" tanya Gerald.
Sandy mendelik. Dari mana bocah ini tahu masalah menikah. Ini pasti ulah Ramos yang mengajari putranya. Ramos itu lupa, kalau anak-anak nya susah dewasa sebelum waktunya. Sehingga apapun yang diajarkan, akan dia cerna dengan cepat.
"Kenapa bertanya seperti itu Son?" kilah Sandy.
Bohong jika ia tidak ingin menikah. Ia pria normal. Ia lelaki yang memiliki hasrat dan butuh untuk dilepaskan. Namun, apakah Sandy berani mengambil resiko dengan meniduri sembarangan wanita? Jelas ia tidak mau.
"Tidak," Gerald menggeleng. "Gerald ingin punya Mama," sambungnya.
Sandy menghela nafas panjang. "Kan Gerald sudah punya Mommy, kenapa ingin punya Mama lagi?" tanya Sandy heran dan tak habis pikir.
"Tapi Gerald ingin punya Mama, Pa," jawab Gerald.
Sandy tersenyum lalu mengusap kepala Gerald. "Papa belum mendapatkan wanita yang tepat Son. Jadi Papa belum bisa menikah," jelas nya sabar.
Gerald manggut-manggut seolah paham dengan ucapan Sandy. Tapi misi nya adalah membuat Sandy menikah dan memiliki keluarga seperti kedua orang tuanya. Alangkah bahagianya jika ia memiliki, tiga Ayah dan tiga Ibu, seperti impian nya.
__ADS_1
"Pa, malam ini Gerald tidur dengan Papa ya?" pinta nya.
Sandy terkekeh. "Iya Son. Papa selesaikan pekerjaan dulu," ucap Sandy.
"Gerald bantu,"
Sandy kembali melanjutkan pekerjaan nya dan di bantu oleh Gerald. Sandy membayangkan jika Gerald adalah anaknya, betapa bahagianya ia setiap kali pulang ke rumah disambut hangat oleh senyuman hangat dan celotehan polos dari bibir munggil Gerald. Seandainya, namun apakah daya hingga kini ia belum juga menemukan tambatan hati.
Usianya sudah tak muda. Ia pria dewasa yang seharusnya sudah memiliki keluarga seperti Ramos. Sandy pun ingin hal yang seperti orang harapkan padanya. Namun, ia tak banyak menuntut dari takdir. Menikah bukan sebuah keseharusan. Jika waktunya ia menikah maka ia akan menikah.
"Ayo Son," Sandy menggendong Gerald.
Gerald mengalungkan lengan munggil nya dileher Sandy. Sandy tidak tahu saja jika anak angkat ini memiliki misi untuk nya.
"Sebelum tidur. Jangan lupa gosok gigi dulu!" seru Sandy.
"Iya Pa,"
Kedua pria beda usia itu mencuci wajah dan menggosok gigi. Setelah ini kedua nya langsung menuju ranjang untuk tertidur.
"Selamat tidur Son," Sandy mengecup kening Gerald lalu menyelimuti tubuh munggil Gerald.
Gerald membuka matanya sebelah untuk mengintip Sandy, apakah Papa nya itu sudah tidur atau belum?
Gerald bangun dengan pelan sekali. Ia melirik ponsel Sandy yang diletakkan diatas nakas. Lalu meraba ponsel itu dan turun dari ranjang.
Gerald berbaring dilantai supaya tidak ketahuan karena pantulan cahaya ponsel pasti membuat Papa nya terbangun.
"Wait," lelaki kecil itu mengotak-atik ponsel Sandy dengan lincah.
"Beres," ia tersenyum penuh kemenangan. "Semoga Aunty Sandra jodoh Papa," gumam nya.
Gerald mengembalikan ponsel Sandy ditempatnya. Lalu kembali naik ke ranjang.
"Maafkan Gerald Pa. Gerald hanya ingin Papa bahagia. Gerald sayang Papa," sambil mengecup pipi Sandy dan terlelap kembali.
.
__ADS_1
.
.
Rachel menatap kedua anak kembarnya dengan helaan nafas panjang. Entah apa yang dilakukan kedua anaknya ke dalam kamar Sandy.
"Sekarang jelaskan pada Mommy, apa rencana kalian untuk Papa?" Rachel memijit-mijit pelipisnya yang berdenyut. Hah, ia sudah bayangkan kedua bayi nya besar nanti akan semakin bertambah pusing kepalanya.
Gilbert dan Gerald saling senggol-senggolan satu sama lain. Kedua anak kembar ini akan seperti harimau di cucuk hidung nya jika didepan Rachel.
"Biarkan saja Sayang, lagian mereka tidak melakukan hal-hal yang salah," ucap Ramos membela sambil menggendong putra kecilnya, Gabriell.
"Tidak bisa Mas. Mereka akan kebiasaan nanti, kalau tidak di nasehati," sahut Ramos. "Son sekarang jelaskan pada Mommy, apa rencana kalian? Mommy tidak mau kalian merencanakan hal-hal yang salah untuk Papa," ucap nya.
"Kakak saja yang jelaskan. Ini kan rencana Kakak," bisik Gerald.
Gilbert mendengus kesal. Pahala dia hanya menyetujui rencana Benedicto dengan memberi ide tapi malah ia yang harus bertanggungjawab.
"Hem, begitu Mom..." Gilbert menghela nafas panjang. Ia mana bisa bohong pada Rachel. "Papa menolong seorang gadis dengan membiayai biaya rumah sakit Ibu nya. Jadi kami berniat menjodohkan Papa dengan gadis itu Mom. Siapa tahu bisa jadi Mama kami juga," jelas Gilbert memasang wajah sendu nya.
Rachel terkejut. "Kalian tahu dari mana Son?" cecar Rachel tak habis pikir. Seperti nya ia perlu memperketat pengawasan. Sebab kedua anak nya ini memang terlalu liar untuk dunia orang dewasa.
"Opa," jawab keduanya serentak. Gerra hanya mendengarkan saja kedua kakak nya di interogasi, dia tidak tahu apa-apa dan selalu tidak mau ikut kenakalan Gilbert dan Gerald.
"Ayah?" gumam Rachel. "Jadi ini rencana kalian dan Opa?"
Keduanya mengangguk dengan polos. "Jangan marah Mom, kami hanya ingin Papa menikah. Kasihan Papa. Kalau sudah tua nanti siapa yang akan menemani nya Mom," ucap Gerald sambil menyeka air mata nya yang tak jatuh sama sekali. Dia paling pintar jika masalah pura-pura menangis.
Rachel menghela nafas panjang. "Tapi jangan paksa Papa. Oke," Rachel berjongkok menyamakan tingginya dengan Gilbert dan Gerald.
Diam-diam Ramos mengacungkan jempol nya untuk acting kedua anaknya sambil mengedipkan mata kearah Gilbert dan Gerald. Gen nya memang menurun pada anak-anak nya. Menjadi kebanggaan tersendiri untuk Ramos karena tak sia-sia ia menanamkan benih dirahim istrinya. Tentu nya benih berkualitas seperti ketiga anak kembarnya. Semoga yang kecil ini nanti juga menuruni gen nya, jadi populasi keturunan nya tidak akan musnah.
"Iya Mom, terima kasih," keduanya memeluk Rachel sambil jempol-jempolan dengan Ramos.
Sedangkan Gerra menggeleng. Dia tidak mau ikut kegilaan kedua saudara kembarnya.
Sudah tak aneh jika Rachel mengintrogasi Gilbert dan Gerald, karena sudah sangat sering kedua anak nya ini mengerjai orang hingga kapok dan angkat tangan untuk meladeni Gilbert dan Gerald.
__ADS_1
Bersambung...