Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Menerima takdir-Nya


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Sandy boleh kah aku melihat istriku untuk terakhir kali?" Pinta Ramos.


"Ramos apa kau yakin dengan keputusan mu?" Sandy menahan bahu Ramos.


Ramos mengangguk yakin. "Aku yakin Sandy. Tidak perlu khawatir aku baik-baik saja." Ramos tersenyum simpul. "Aku titip mereka padamu. Jaga mereka untukku," sambungnya tersenyum kecut.


Sandy mengangguk. Sebenarnya dia tidak mendukung keputusan Ramos ini, tapi sepertinya Ramos tak bisa lagi dibantah.


Ramos berjalan menuju brangkar istrinya. Disana Rachel sudah terpejam karena pengaruh obat bius. Wanita itu tampak terlelap nyaman dengan gangguan dan bunyi-bunyian alat medis disekitar nya.


Ramos menatap Rachel. Wanita ini adalah wanita yang telah mengubah hidupnya. Meski akhirnya takdir membawa dia pergi jauh dari kehidupan Rachel.


Ramos mengecup kening Rachel air mata nya menetes hingga air mata itu menjatuhi wajah istrinya. Kecupan terakhir yang akan menjadi pemisah mereka.


Ramos mengusap kepala Rachel dengan lembut. Air mata ini tak terbendung. Sekarang dirinya adalah pria cenggeng yang begitu suka menangis.


"Selamat berpisah cinta. Semoga setelah perpisahan ini kau hidup bahagia bersama anak-anak. Maaf, akhirnya aku menyerah sampai disini. Bukan karena aku tak ingin berjuang tapi aku takut semakin menyakiti mu," ucap Ramos


Ramos menjauh dari ranjang Rachel dia melambaikan tangan nya kepada sang istri. Setelah ini dia tidak akan bisa lagi melihat Rachel. Dunianya hanya ada kegelapan.


"Kau sudah siap?" Tanya Sandy


Ramos mengangguk lalu berbaring diatas ranjang. Sebelum nya dia melirik kearah sang istri lalu tersenyum. Kebahagiaan Rachel adalah segalanya. Kebahagiaan Rachel begitu penting oleh Ramos. Tak masalah jika dunianya gelap asal dunia Rachel terang menderang.


Ramos memejamkan mata nya dengan tersenyum.


.


.


.


.


.


"Ck, kenapa bodoh sekali. Hah?" Bentak Rayyan sambil memukul meja.


"Maaf Tuan," Heru mengangguk.


"Kenapa kau biarkan Kakak ku melakukan nya Heru?" Rayyan mencengkram baju dipakai Heru. "Heru, kau bekerja sudah lama bukan? Kenapa kau tega menyembunyikan ini dariku, hah?" Teriakkan Rayyan terdengar menggema.


Heru hanya menunduk takut. Sebenarnya dia tak membiarkan. Dia sudah mencegah. Namun apalah daya dirinya hanya seorang bawahan dan pekerja. Apapun yang dikatakan oleh atasannya dia hanya menurut.


"Tuan Besar dan Nyonya Besar sudah tahu Tuan," sambung Heru sambil menunduk. Badannya bergetar karena terkejut saat Rayyan meneriaki telinganya.


"Maksudmu, Daddy dan Mommy tahu?" Ulang Rayyan sekali lagi.

__ADS_1


Heru mengangguk dan membenarkan ucapan Rayyan.


"Dan mereka membiarkan saja Kak Ramos melakukan nya?" Geram Rayyan tak habis pikir. Entah apa yang ada dipikiran kedua orangtuanya.


Rayyan melangkah dengan wajah masam dan juga marah. Andai dia tahu dari awal sudah pasti dia akan mencegah kakaknya itu. Padahal Rayyan sudah menemukan orang yang mau mendonorkan matanya untuk Rachel tapi Ramos benar-benar tak sabar. Rayyan menyuruh Ramos menunggu sebentar saja.


Rayyan masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan kediaman mewahnya. Dia memukul stir nya berulang kali. Ramos adalah kakak nya dan Rayyan tak rela jika Ramos berkorban sebesar itu untuk Rachel.


"Arghhhh sial,"


Tin tin tin tin tin tin


"Ck kenapa ini seperti di Indonesia saja? Pakai acara macet-macetan segala lagi," umpat Rayyan kesal.


Brakkkkkkkkkkkkkk


Tak sengaja lelaki itu menabrak mobil seseorang yang ada didepan nya karena pikiran nya yang tak konsentrasi.


"Ohhh God," Rayyan mendesah ketika melihat seorang wanita turun dari mobil.


Tok tok tok tok tok


"Heii keluar kau," pekik wanita yang berada diluar itu sambil mengetuk kaca mobil Rayyan.


Rayyan mendengus kesal disaat dirinya buru-buru kenapa malah ada masalah seperti ini?


"Berapa?" Tanyanya dingin tanpa melihat wajah wanita itu.


"Apa nya yang berapa?" Tanya balik wanita itu sambil bercakak pinggang.


"Ck, aku harus ganti kerugian mobilmu berapa?" Ulang Rayyan kesal.


"Satu milliar," jawab wanita itu asal.


"Ck, kau merampokku," Rayyan protes tidak terima. "Itu hanya lecet sedikit saja kenapa minta ganti rugi sebesar itu," ungkapnya kesal.


"Ck, tadi kau hanya berapa dan sekarang aku jawab, kenapa kau malah protes. Cepat berikan uang nya aku buru-buru," wanita itu menengadah kan tangan nya sambil melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Aku tidak mau ganti sebesar itu. Kau mau merampokku saja," tolak Rayyan tegas.


"Baiklah kau tidak mau," wanita itu malah masuk kedalam mobil Rayyan.


"Heii apa yang kau lakukan?" Teriak Rayyan ikutan masuk kedalam mobil takut jika wanita itu malah membawa mobilnya pergi.


"Ck, apa yang kau lakukan?" Rayyan menatap wanita itu tajam. "Aku tidak punya waktu untuk meladeni wanita aneh seperti mu," ucap nya kesal sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Ehem, karena kau sudah merusak mobil ku kau harus bertanggungjawab mengantarku ke rumah sakit," sahut wanita itu santai. Tangannya terlipat didada lalu matanya terpejam. "Ck, sial. Tas ku ketinggalan," pekiknya menoleh ke belakang.


"Kecilkan suara mu. Tidak perlu teriak-teriak," ketus Rayyan

__ADS_1


"Balik-balik, tas ku," suruhnya.


"Ck, tidak mau. Aku buru-buru," tolak Rayyan.


"Tolong... Tolong.. saya mau diperkosa," teriak wanita itu.


"Hei.. hei.. apa yang kau lakukan?" Rayyan menepikan mobilnya.


"Makanya putar bali," ucap wanita tersenyum penuh kemenangan.


"Kau..." Dengan kesalnya Rayyan memutar kembali mobilnya.


Lelaki itu menggerutu kesal. Hari ini dia benar-benar sial karena bertemu dengan wanita aneh seperti disampingnya ini. Menyebalkan. Ingin rasanya dia remes-remes wajah wanita itu saking kesalnya.


Sementara wanita itu santai-santai saja. Dia juga sebenarnya kesal karena mobil nya lecet. Tapi sudahlah yang penting dapat tumpangan gratis.


"Tunggu sebentar aku mau mengambil tas dan kunci mobil." Wanita itu menatap Rayyan tajam.


Rayyan tak menanggapi tapi mulutnya komat-kamit seperti dukun baca mantra dan mengumpat wanita itu. Entah kesialan apa dia hari ini harus bertemu wanita aneh yang asal nya entah dari mana.


"Sudah ayo jalan," sambil menutup pintu mobi.


"Kau memerintahkan ku?" Rayyan menatap wanita itu tajam


"Tidak. Hanya menyuruh," wanita itu tersenyum menampilkan rentetan gigi putihnya.


Rayyan kembali melajukan mobilnya. Entah kebetulan atau bagaimana kenapa tujuan wanita ini sama dengannya yaitu rumah sakit?


Sesekali Rayyan melirik wanita disampingnya yang sibuk dengan ponsel ditangannya.


"Aku bukan supirmu," Rayyan merasa jadi supir, sedangkan wanita itu malah santai-santai saja.


Wanita itu menoleh dan keningnya berkerut heran.


"Tunggu.. tunggu.. seperti nya kita pernah bertemu. Tapi dimana ya?" Wanita itu tampak berpikir keras. "Tidak mungkin didalam mimpi kan?" Ucapnya lagi.


"Ehem," Rayyan juga menatap wanita ini. Wajahnya tidak asing.


"Ohh my God," wanita itu menutup mulutnya.


"Jangan teriak-teriak ini bukan hutan," ketus Rayyan kesal sambil mengusap telinganya.


"Bukankah kau pria yang ingin membeliku waktu itu? Astaga, Tuhan kenapa dunia ini lebar sekali," ucapnya setengah tak percaya.


"Sempit," ralat Rayyan. Padahal dia sudah ketar-ketir malu karena wanita ini masih mengingat nya.


"Wahh wahh, ternyata kau ya orang nya? Hem," wanita itu melipat kedua tangannya didada. "Tak disangka jika kita bertemu disini ya? Bagaimana apakah kau sudah berhasil menemukan wanita yang ting-ting dari aku?" Sambil mengedipkan matanya tiga kali.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2