
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Sandra sedang bersiap-siap menemui Sandy. Ia memakai celana jeans dan baju rajut yang dia masukkan kedalam. Sangat pas di tubuh munggil nya. Ia hanya berdandan seadanya saja. Ia memang tidak suka dandanan yang berlebihan. Kebiasaan tampil sederhana sampai terbawa-bawa.
"Hem, aku cicil dulu hutang pada Dokter Sandy," sambil memasukkan beberapa lembar uang kedalam amplop berwarna coklat.
"Kira-kira Dokter Sandy mau bicara apa yaaa?" Sandra mengelus dadanya dia gugup. "Jangan gugup Sandra," ucapnya menenangkan diri sendiri.
Sandra meraba tasnya dan tak lupa memasukkan amplop tersebut didalamnya.
Ia melangkah keluar dan tak lupa menutup pintu ruang sederhana yang banyak menyimpan kenangan bersama sang Ibu. Namun kini semua tinggal kenangan karena dia sudah sebatang kara dan tak ada lagi yang menemani segala kegundahan dalam dadanya.
Sandra masuk kedalam taksi yang sudah ia pesan sedari tadi. Gadis itu melamun menikmati keindahan kota Jakarta di malam hari. Sudah dua bulan kepergian Ibu nya dan sampai sekarang ia belum bisa move on dari patah hati yang panjang ini.
Tanpa permisi air mata gadis itu leleh dipipinya. Ternyata hidup dalam kesendirian itu benar-benar menyakitkan.
Tidak jarang Sandra merasa iri kepada orang yang masih memiliki kesempatan bersama kedua orang tua nya. Sedangkan Sandra disaat ia belum siap ia harus menelan pil pahit dan hidup sendirian ditengah kekejaman dunia ini. Meski kehidupan nya pedih dan sedih. Namun ia tak pernah menyalahkan kehendak Tuhan, sebab Sandra yakin jika Tuhan telah menyiapkan bahagia untuk nya. Kelak nanti, ia bahagia meski ia tak tahu kapan waktu itu akan tiba.
Sandra menggeleng pelan. Saat rasa putus asa hendak menghampiri dirinya. Ia bisa melewati hidup ini meski tanpa siapapun. Ia gadis yang kuat. Ia takkan tumpang oleh angin menerpa nya.
Saking asyik menikmati perjalanan dalam kesendirian, gadis itu sampai tak sadar jika mobil taksi yang membawa nya telah sampai ditempat tujuan nya. Ia membayar ongkos lalu turun dari mobil.
Lama Sandra berdiri didepan restourant sambil menarik nafas dalam. Sebenarnya dia tak ingin keluar malam ini tapi ia tak enak menolak ajakan Sandy. Siapa tahu Dokter yang pernah menjadi atasannya itu ingin membahas sesuatu yang penting terutama masalah pekerjaan.
Sandra masuk kedalam restourant. Tampak banyak pengunjung yang sudah memenuhi beberapa tempat. Ada yang makan bersama pasangan untuk sekedar berkencan ada juga yang makan malam bersama keluarga. Kebetulan malam ini malam Minggu. Kata orang-orang malam Minggu adalah malam yang di nanti kan oleh para pasangan. Namun tidak bagi Sandra, baginya setiap malam itu sama yaitu merenungi nasib dalam kesendirian.
Sandra berjalan menuju meja Sandy dibagian pojok. Seperti nya dokter ini sengaja memilih meja yang sedikit privasi.
"Selamat malam Dokter," sapa Sandra tersenyum hangat.
"Malam Sandra, silahkan duduk," ucap Sandy menunjuk kursi yang ada didepannya.
"Terima kasih Dok. Maaf apakah sudah lama menunggu?" tanya Sandra sambil duduk dan meletakkan tas nya diatas meja.
"Tidak," senyum Sandy.
__ADS_1
Sandy tersenyum melihat pakaian sederhana yang dipakai Sandra. Tidak seperti perempuan lain yang akan berdandan hanya demi menarik perhatian nya. Tapi Sandra, gadis sederhana yang berprofesi sebagai perawat ini terlihat berbeda. Ia tak suka menjadi orang lain agar disukai orang lain.
"Kau pesan apa?" tanya Sandy sambil membolak-balik menu makanan. Diam-diam lelaki itu tersenyum melihat cara Sandra yang berpakaian. Menurut nya lucu dan imut untuk Sandra yang sudah memasuki usia dewasa.
"Samakan saja Dok," sahut Sandra.
"Kalau saya pesan air putih doang. Bagaimana?" goda Sandy.
"Tidak apa-apa. Jika memang harus," sahut Sandra sambil terkekeh pelan.
Sandy juga tersenyum. Lalu memesan makanan untuk mereka berdua. Semakin kesini, ia semakin mengenal sifat dan kepribadian Sandra, tidak buruk seperti yang ada didalam pikiran nya.
"Ehem Dok," Sandra mengambil amplop didalam tasnya. "Ini saya cicil hutang saya yang kemarin Dok," sambil menyedorkan amplop berwarna coklat. Sandra adalah tipikal wanita yang menepati janji. Apapun yang ia katakan selalu ia tepati tanpa berani untuk mengikari janjinya.
"Tidak usah," tolak Sandy.
"Tapi Dok_"
"Saya ikhlas membantu," potong Sandy. "Simpan saja uang nya," sambung Sandy.
"Dari awal saya sudah katakan tidak perlu diganti," jelas Sandy.
Pesanan mereka datang. Sandra memasukan kembali amplop itu kedalam tasnya. Ia tak bisa memaksa Sandy menerima uang pemberian nya.
"Ayo makan," ajak Sandy.
Sebenarnya Sandy ingin sekali memesan ruangan VVIP untuk mereka berdua. Tapi Sandy takut, Sandra merasa tak nyaman sebab ia belum terbiasa dengan tempat-tempat seperti itu.
"Enak?"
"Ehem, enak sekali Dok? Wah saya baru pertama kali makan direstourant seenak ini," seru Sandra seperti gadis kampung. Ia memang dari kampung. Ia tak pernah makan direstourant mewah dan mahal karena uang yang ia miliki digunakan untuk biaya hidup.
Sandy tersenyum. Seperti nya sifat Sandra tidak jauh beda dengan Rachel. Ia akan jahil jika sudah menemukan orang yang tepat. Lama-lama sifat Sandra sudah mulai kelihatan.
"Makan lah. Kalau kurang pesan lagi," ucap Sandy.
__ADS_1
"Iya Dok. Terima kasih," sahut Sandra sedikit canggung
Tak lupa Sandy memesan makanan penutup untuk mereka berdua. Keduanya makan sambil berbincang hangat. Senyuman Sandra begitu manis malam ini. Gadis sederhana yang tidak banyak bicara memiliki pesona tersendiri bagi Sandy.
"Dibibir mu ada bekas makanan," Sandy mengusap bibir Sandra lembut.
Seketika tatapan keduanya bertemu. Jantung sama-sama berdebar saat merasakan kulit keduanya menyatu.
"Maaf," ucap Sandy menjauhkan tangannya dari bibir Sandra.
"Tidak apa-apa Dok," sahut Sandra menyembunyikan wajah merahnya.
Setelah makan dilanjutkan dengan mengobrol singkat.
"Sandra," panggil Sandy menatap gadis itu.
"Iya Dok, kenapa?" tanya Sandra.
"Boleh kah saya berbicara empat mata?" pinta Sandy.
"Tentu boleh Dok. Silahkan," senyum Sandra.
"Sebelum nya terima kasih sudah mau menemani saya makan malam, malam ini. Saya juga minta maaf karena kemarin anak-anak sudah banyak merepotkan mu," ucap Sandy.
"Sama sekali tidak merepotkan Dok. Saya menyukai mereka. Mereka imut dan juga menggemaskan," Sandra tersenyum lebar saat mengingat wajah ketika anak kembar Ramos.
"Sandra," Sandy mengenggam tangan Sandra yang terletak diatas meja. Sandra terkejut dan hendak menarik tangannya namun Sandy menahan tangan gadis itu.
"Bolehkah saya mengenal mu lebih jauh?" tatap Sandy penuh harap. "Saya tahu ini terlalu cepat. Tapi saya ingin mencoba dengan mu. Saya pernah patah sebelum nya. Saya pernah kehilangan. Bolehkah saya mengobati luka ini dengan kehadiran mu?" Sandy bola mata Sandra yang indah sekali.
"Tapi Dok_"
"Saya tahu kamu tidak memiliki perasaan apapun sama saya. Apakah boleh kita mencoba nya? Saya tahu usia kita berbeda jauh tapi kita bisa saling menyeimbangi," jelas Sandy lagi.
Sandra terdiam. Dia bingung harus jawab apa. Lelaki ini sama sekali tak ada dalam bayangan masa depannya. Namun beberapa hari belakangan, ia tak bisa bohong jika bayangan Sandy mengikuti dirinya.
__ADS_1
Bersambung...