
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Rachel tampak sibuk menata makanan diatas meja. Baru beberapa Minggu yang lalu mereka pindah ke rumah yang baru Ramos belikan khusus untuk istri dan anak-anak nya.
Ramos juga membantu istrinya menata sarapan pagi diatas meja. Hari ini ketiga anak nya akan kembali bersekolah seperti biasa. Dan Ramos akan kembali beraktivitas setelah beberapa bulan mengambil cuti.
"Sayang istirahat lah kalau lelah. Biar Mas dibantu Bibi saja," ucap Ramos pada istrinya.
"Aku tidak capek Mas," sahut Rachel.
Untuk masalah urusan perut Rachel turun tangan sendiri. Dia tidak mau membiarkan suami dan anak-anak nya tumbuh tanpa masakkan tangannya. Dia ingin memastikan bahwa anak dan suaminya mendapatkan gizi terbaik agar masa pertumbuhan mereka pun terjamin adanya.
Sebenarnya Ramos ingin kembali ke Indonesia tapi karena disini Rachel memiliki beberapa usaha yang sayang jika ditinggalkan. Maka dia memutuskan untuk bertahan di Sidney sambil membuka cabang perusahaan baru disini dan melanjutkan usaha Rayyan. Sementara Rayyan akan pulang ke Indonesia bersama kedua orang tuanya. Karena dia yang belum menikah jadi dia yang dipercayakan untuk menjaga kedua orang tua yang sudah lanjut usia itu.
"Mas, aku mandikan anak-anak dulu yaaa. Mas mandi duluan saja. Nanti aku menyusul,"
"Mas bantu Sayang," Ramos segera menggandeng tangan wanita itu.
Rachel tersenyum dan mengangguk. Dia merasa begitu beruntung memiliki suami seperti Ramos, meski masa lalu mereka tak seindah ini tapi kini mereka sudah saling membenahi diri. Apalagi Ramos benar-benar menempatkan peranny sebagai seorang Ayah dan suami. Dia selalu turun tangan untuk membantu Rachel dalam hal rumah dan mengurus anak-anak termasuk membantu menyediakan makanan.
Ramos dan Rachel memang bekerja kompak dan saling membantu satu sama lain. Apalagi anak-anak Rachel memang sudah dewasa yang tentu harus dipantau agar mereka tak salah pembawaan di usia mereka yang masih belia.
"Anak-anak bangun," Rachel membuka orden kamar ketiga anaknya.
Gilbert, Herald dan Gerra tidur dikamar yang sama. Namun Gerra memiliki bed sendiri didalam kamar itu, selain dia perempuan gadis kecil itu juga kalau tidur sangat gila sehingga menganggu ketenangan kedua kakak nya.
"Mommy," ketiganya mengeliat dibalik selimut tebal.
"Bangun Son,"
Ramos menyimak selimut kedua anaknya.
"Daddy," seru Gerald dengan mata terpejam.
Biasanya anak-anak ini bisa mengurus diri sendiri. Namun sejak kehadiran sang Ayah mereka sangat manja layak seperti anak kecil pada umumnya.
"Ayo mandi Son," ajak Ramos
"Kakak bisa sendiri Dad," seperti biasa Gilbert tetap pada pendiriannya. Dia paling tidak suka di mandikan karena menurut nya dia sudah besar.
"Iya, ayo," Ramos menggendong Gerald dan menggandeng tangan Gilbert. Ketiga lelaki itu masuk kedalam kamar mandi.
Rachel tersenyum simpul, rasanya dia adalah wanita paling bahagia didunia karena diberikan kesempatan untuk berkumpul kembali bersama suami dan anak-anak nya.
__ADS_1
"Gerra, ayo Sayang," Rachel mengulurkan tangannya untuk menggendong gadis kecil yang begitu manja itu.
"Iya Mom," Gerra menyambut uluran tangan Rachel. "Gella masih mengantuk," dia bersandar di dada Rachel sambil memejamkan matanya.
"Kan Gerra katanya mau sekolah?" Rachel geleng-geleng kepala. "Harus semangat dong," dia mencium pucuk kepala gadis kecil itu.
"Iya Mommy," Gerra menguap beberapa kali.
Setelah memandikan anak-anak nya serta memakaikan mereka seragam sekolah. Kini giliran Ramos dan Rachel yang mandi. Kedua pasangan ini, memposisikan diri seperti orang tua biasa pada umumnya. Tidak mencolok dengan menggunakan uang agar pekerjaan rumah lebih mudah.
"Sayang," Ramos memeluk Rachel dari belakang saat wanita itu tengah memilih stelan baju suaminya.
"Mas, kau belum pakai baju. Geli tahu," gerutu Rachel.
Ramos terkekeh. "Kau wangi sekali Sayang," Ramos menyesap bau harum dari tubuh Rachel.
Rachel membalikkan badannya dan tersenyum hangat pada suaminya. Dulu dia membenci lelaki ini tapi sekarang dia mencintai lelaki ini. Sungguh.
"Mas pakai dulu baju nya," Rachel memberikan stelan jas pada Ramos.
"Terima kasih Sayang," masih sempat-sempatnya lelaki itu memberikan kecupan singkat pada sang istri.
"Mas......" Wajah Rachel sudah merah merona.
"Senang sekali rasanya dibantu istri?" Goda Ramos.
Rachel tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Tangannya sibuk memasang kancing baju Ramos. Suaminya ini manja seperti anak-anak nya. Baju saja harus dibantu pasang kalau tidak bisa bisa berjam-jam dia memakai sepasang baju.
"Sayang,"
"Iya Mas,"
Ramos memeluk pinggang Rachel dengan agresif, sedangkan tangan Rachel memasang dasi sang suami.
"Aku ingin mengadakan pesta ulang untuk pernikahan kita," ucap Ramos sambil tersenyum.
Rachel menatap suaminya bingung. "Pesta ulang?" ulang Rachel sekali lagi.
"Iya Sayang. Kemarin kan kita menikah diam-diam dan tidak banyak yang tahu. Sekarang aku ingin seluruh dunia tahu kalau kau itu istriku dan milikku," Ramos mengecup kening istrinya.
"Tapi_"
"Tapi kenapa Sayang? Kau masih ragu?" Ramos menyelipkan anak rambut rambut Rachel.
__ADS_1
"Bukan Mas. Kau ini...." Rachel geleng-geleng kepala. Suaminya ini memang suka sekali berpikir negatif. "Membuat pesta itu butuh persiapan Mas,"
"Tenang Sayang. Heru dan Herwin bisa bantu. Kau tenang saja yaaa. Aku ingin kita membuat pesta pernikahan mewah. Pesta yang tidak akan bisa kau lupakan nanti nya," seru Ramos.
Rachel mengangguk setuju. Apapun yang dilakukan suaminya dia tahu itu yang terbaik untuk dia dan masa depan anak-anak nya nanti.
"Iya Mas," sahut Rachel melanjutkan memasang dasi suaminya.
"Sayang,"
"Iya Mas?" Rachel kembali menatap suaminya. "Kenapa?" wanita itu tersenyum.
"Terima kasih sudah mau memberikan aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semua nya. Aku berjanji Sayang, akan menjaga pernikahan kita dan menjadi suami serta Ayah yang baik untuk mu dan anak-anak," ucap Ramos tulus.
Rachel membalas dengan anggukan. Jika kembali ke masa lalu memang tidak akan mudah memaafkan kesalahan yang telah dilakukan suaminya. Tapi dia tahu sekarang bahwa semua yang terjadi adalah proses pendewasaan kehidupan rumah tangga Rachel dan Ramos untuk menuju kebahagiaan.
"Ayo Mas,"
"Sayang, hari ini kita langsung fitting baju saja yaaa. Mas tidak ke kantor. Setelah mengantar anak-anak, kita pergi ke butik," ucap Ramos tak sabar.
Rachel tak bisa berkata apa-apa lagi selain membalas dengan senyuman dan anggukan.
"Ayo Sayang," lelaki itu menggandeng tangan istrinya.
Ramos dan Rachel menuju meja makan. Disana mereka sudah ditunggu oleh anggota keluarga.
"Pagi Mommy,"
"Pagi Daddy,"
Gilbert, Gerald dan Gerra menyapa kedua pasangan itu dengan kompak.
"Pagi juga Sayang,"
Mereka sarapan bersama, ada Ozawa dan Maria serta Rayyan juga disana.
"Dad. Mom. Aku berencana, membuat pesta pernikahan ulang untuk aku dan Rachel,"
"Wahh boleh sekali Son," seru Maria.
"Iya Son, memang sebaiknya harus membuat acara resmi," sambung Ozawa.
Sedangkan Rayyan tak menggubris. Ahh dia bisa gila jika seperti ini terus. Ini semua gara-gara anak Ramos dan Rachel. Awas saja nanti, Rayyan akan membalas kenakalan dua bocah itu.
__ADS_1
**Bersambung......**