
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ramos mengangkat tubuh Rachel yang tergeletak diaspal. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Badannya bergetar hebat.
"Rachel aku mohon bertahan Sayang. Bertahan maafkan aku. Maafkan aku," ucapnya penuh penyesalan sambil menangis.
Ramos membawa Rachel masuk kedalam mobil tak peduli dengan baju nya yang sudah bersimbah darah. Wajah Ramos pucat ketakutan.
"Rachel bertahan Rachel." Dia memeluk wanita itu dengan isakkan tangis yang menggema.
Darah keluar dari bagian tubuh Rachel yang lainnya. Kepala, tangan, kaki serta tubuh yang lainnya. Matanya pun tampak mengeluarkan darah. Entah berapa kuat benturan yang ditubuh Rachel hingga membuat wanita anak tiga itu seperti hancur berkeping-keping.
Tangis Ramos pecah dan menggema. Dia memeluk Rachel tanpa peduli dengan darah wanita itu. Takut. Takut. Tidak apa Ramos tak memiliki Rachel. Asal dia tidak kehilangan wanita ini untuk selamanya. Bagaimana nasib anak-anak nya nanti. Ramos takkan bisa. Takkan pernah bisa kehilangan Rachel lagi.
"Heru cepat. Cepat Heru," teriak Ramos.
"B-baik Tuan," Sahut Heru.
Heru menjalankan mobilnya dengan cepat. Sesekali dia menoleh ke belakang melihat kondisi Rachel.
Ramos membuka jas nya lalu membungkus tubuh istrinya itu.
"Kau dingin ya Sayang. Sabar ya Sayang. Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit. Sabar Sayang." Dia mengusap kepala istrinya yang sudah bermandikan darah.
"Hiks hiks. Rachel bangun Sayang. Bangun Sayang. Aku baru menemukanmu. Kumohon jangan pergi. Aku berjanji aku tidak akan menganggumu lagi. Aku berjanji Rachel, asal kau bangun." Pinta Ramos sambil terisak hebat. Dia memperbaiki rambut Rachel yang menutupi wajah wanita itu.
Ramos memeluk Rachel dan menangis dalam diam. Menangis hebat sehebat-hebatnya. Kenapa? Kenapa ini harus terpasang istrinya? Kenapa tidak dia saja yang ditabrak mobil itu? Kenapa harus Rachel?
Seandainya Ramos tidak berusaha mengejar Rachel pasti semua ini tidak akan terjadi. Pasti istrinya tidak akan mengalami kecelakaan hebat seperti ini. Semua pasti akan baik-baik saja. Andai dia tak memaksa untuk berbicara dengan wanita itu, semua tidak akan seperti ini.
Lelaki itu mengucapkan maaf beribu kali. Dia sadar sekarang bahwa dia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk bersama Rachel.
"Apapun akan aku lakukan asal kau bangun Sayang. Apapun sekalipun aku harus kehilangan nyawaku sendiri," ucapnya.
Sampai dirumah sakit, Heru langsung turun membuka pintu untuk Ramos.
Ramos keluar sambil menggendong tubuh Rachel yang mulai dingin darah sudah mengering ditubuhnya. Wajahnya pucat.
Ramos berlari menuju ruangan UGD, lelaki itu berteriak beberapa kali memanggil para dokter dan perawat agar segera menangani penyakit istrinya.
"Ramos ada apa?" Sandy yang kebetulan lewat di ruangan UGD heran melihat Ramos berlari seperti orang gila sambil menggendong seorang wanita.
__ADS_1
"Sandy tolong. Tolong," mohon Ramos.
"Dia sia_"
"Astaga Rachel," pekik Sandy.
Sandy langsung mengambil alih Rachel dari gendongan Ramos. Lelaki itu setengah berlari membawa rachel masuk kedalam ruangan pemeriksaan.
"Siapkan semua nya," bentak Sandy pada para dokter dan perawat yang bingung melihat dirinya.
"Baik Dok,"
Sandy meletakkan Rachel. Jas putih kebanggaan nya berlumuran dengan darah dari tubuh Rachel.
"Rachel apa yang terjadi kenapa kau bisa begini? Bertahanlah. Kumohon bertahan,"
Sambil menangis Sandy memasang oksigen dibagian hidung Rachel. Dan memasang oksigen uap didalam mulutnya. Kondisi Rachel sangat mengenaskan. Apakah ada tulang-tulang nya yang patah.
"Cepat ambilkan CPR, cepat," teriak Sandy.
"Baik Dokter," seorang perawat memberikan alat penyentrum itu pada Rachel.
Sandy memeriksa tubuh Rachel. Rasanya seluruh tenaga Sandy terguras. Apa yang terjadi pada Rachel? Kenapa wanita itu sampai begini?
.
.
.
.
Diluar ruangan Ramos menunggu dengan gusar sambil terduduk lemah.
"Arghhhhh," lelaki itu memukul dinding hingga tangannya mengeluarkan darah segar.
"Berhenti menyakiti diri anda Tuan," tegur Heru mencegah Ramos yang hendak kembali memukul dinding.
"Heru, cepat cari tahu siapa yang melakukan ini? Siapapun dia habisi saja. Jangan biarkan dia mati dengan nyaman. Hancurkan keluarga nya. Hancurkan bisnisnya. Jangan biarkan satu keturunan nya tersisa didunia ini," tintah Ramos dengan nafas memburu.
"Ba-baik Tuan," Heru bergidik ngeri mendengar perintah Ramos.
__ADS_1
Ramos bisa dibilang psikopat. Jika jiwa setannya sudah bangkit dia tidak peduli siapa yang harus membayar semua amarahnya. Dia akan menghabisi orang yang berani-berani menyakiti orang kesayangan nya.
"Rachel," Ramos kembali terduduk lemah. "Bangunlah. Bertahanlah. Aku dan anak-anak membutuhkan mu. Maafkan aku," Ramos sangat-sangat menyesal karena dirinya yang gegabah.
Jujur dia tidak bisa menahan diri ketika bertemu Rachel. Dia merindukan wanita itu. Dia ingin memeluk Rachel. Tapi kenapa jadi seperti ini? Semua salah Ramos. Jika sampai terjadi sesuatu pada Rachel, Ramos takkan memaafkan dirinya sendiri.
"Arghhhhhhhhhhhhh," lelaki itu mengusar rambutnya kasar.
Wajahnya berantakan bajunya sudah penuh dengan darah dan bau amis. Tapi Ramos tak peduli. Dia hanya ingin istrinya baik-baik saja.
Ramos menyenderkan punggungnya. Dia terus menatap kearah pintu ruang pemeriksaaan. Kenapa Sandy lama sekali? Apakah istrinya baik-baik saja.
Tatapan Ramos kosong kedepan. Jika Rachel pergi meninggalkan nya. Dia akan menyusul Rachel. Tak peduli jika malaikat tak merestui mereka. Ramos ingin didetik terakhir hidupnya bersama dengan Rachel.
"Rachel, jika kehadiranku hanya menjadi beban untukmu. Aku lebih memilih pergi. Aku tak ingin kau menderita lagi. Jika kehadiranku hanya menambah luka di hatimu, aku akan melepaskan mu untuk pergi. Hanya kumohon bertahanlah setidaknya untuk anak-anak. Mereka masih begitu membutuhkanmu."
Ramos menggeleng. Bayangan kecelakaan itu terekam jelas di kepalanya. Dia tak sempat menyelamatkan Rachel karena mobil itu lebih dulu menghantam tubuh Rachel hingga terpental di aspal.
Ramos merasa hidupnya tak berarti lagi. Dia adalah lelaki pembawa sial. Kedatangan nya di kehidupan Rachel malah membuat istri nya itu selalu menderita. Dari dulu sampai sekarang rachel menderita karena Ramos.
Perbuatan dan kesalahan Ramos takkan bisa dihapus meski dia melakukan segala cara untuk menebus semua m kesalahan nya.
Sandy keluar dari ruang pemeriksaaan. Wajahnya tampak kusut. Baju nya sudah merah karena darah dari tubuh Rachel.
"Sandy bagaimana keadaan Rachel? Apa dia baik-baik saja?" Cecar Ramos menguncang lengan Sandy.
Sandy menggeleng lemah. Sandy tak sanggup mengatakan apa yang sudah terjadi pada wanita yang masih menempati hatinya itu.
"Sandy katakan jangan hanya diam saja. Katakan Sandy apa yang terjadi?" Cecar Ramos dengan tangis nya.
Sandy menatap Ramos penuh kebencian. Tangannya terkepal kuat. Ini pasti gara-gara Ramos. Ini pasti ulah Ramos.
"Brengsek,"
Bugh bugh bugh bugh bugh
"Ini semua karena ulahmu. Apa yang kau inginkan hah? Apakah kau tidak cukup puas melihat Rachel menderita?"
Sandy memukul Ramos dengan membabi-buta. Ramos tak melawan sama sekali, dia membiarkan saja Sandy memukulnya tanpa menghindar sedikit pun.
Bersambung.......
__ADS_1