
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Hel," panggil Sandy masuk kedalam ruangan rawat inap Gerra.
"Iya Kak," Rachel baru saja menidurkan anak-anaknya.
Gilbert dan Gerald terus merenggek ingin menemani adik mereka kerumah sakit. Alhasil Rachel harus mengalah dan meminta Sandy agar menyiapkan bed khusus untuk kedua putranya itu. Rachel tidak bisa membantah keinginan anak-anaknya, dia memaklumi karena mereka kembar tentu akan sulit jika berjauhan.
"Mas, ingin bicara sesuatu padamu," Sandy tersenyum melihat Rachel menyelimuti ketiga anaknya secara bergantian.
Ruangan rawat inap Gerra sangat mewah dan bersih seperti hotel bintang lima. Fasilitas disana juga lengkap. Jadi terlihat seperti hotel dari pada rumah sakit.
"Sebentar Mas,"
Rachel mengecup kening ketiga anaknya secara bergantian. Gilbert dan Gerald tidur saling berpelukan satu sama lain. Sudah menjadi kebiasaan. Sedangkan Gerra tidur di brangkar nya, infuse dipasang kembali karena tenaga Gerra belum benar-benar pulih.
"Mau bicara apa Mas?" Wanita anak tiga itu melepaskan ikatan rambutnya hingga tergerai indah.
Sandy terpesona melihat kecantikan Rachel. Benar-benar mirip dengan mantan kekasihnya. Bagaimana Sandy bisa melupakan almarhum kekasihnya itu sementara ada orang yang selalu mengingatkannya pada sang kekasih.
"Mas," Rachel terheran melihat Sandy yang malah bingung sambil menatapnya tak berkedip.
"Mas," Rachel melambaikan tangannya didepan wajah Sandy.
"Ehhhh iya," lelaki itu tersadar.
"Kenapa bingung Mas?" Tanya Rachel heran, "Mas mau bicara apa?" Sambung nya.
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," ucap Sandy.
Kening Rachel berkerut heran. Wanita cantik itu tampak berpikir, siapa kira-kira yang ingin bertemu dengannya?
"Siapa Mas?" Tanya Rachel.
"Ikut Mas sebentar," ajak Sandy "Anak-anak akan dijaga Choky dia sedang dijalan menuju kesini," sambungnya.
Rachel mengangguk. Choky dan Sandy juga tak bisa jauh dari anak-anak Rachel. Bahkan sejak anak-anak itu memutuskan menginap dirumah sakit, Choky juga ikut dan tidur bersama Gilbert dan Gerald. Kebetulan ada tig bed berukuran besar didalam ruangan rawat inap jadi tidak perlu khawatir jika masalah tempat tidur. Sedangkan Rachel tidur bersama putri kecilnya di brangkar Gerra, karena ukuran brangkar itu mampu menampung sekitar dua sampai tiga orang.
Tidak lama kemudian Choky datang bersama adiknya Chicha.
__ADS_1
"Kak Sandy," Chicha tersenyum jahil sambil menggandeng tangan dokter tampan itu.
"Chicha," Choky geleng-geleng sendiri melihat tingkah adiknya.
"Ehem," Sandy berdehem. Chicha agresif membuatnya jenggah melihat gadis cantik itu.
"Heheh maaf Kak khilaf. Habisnya Kak Sandy, tampan nya bikin lupa diri," celetuk Chicha.
Rache tersenyum menggeleng. Dulu dia berharap kalau Sandy melabuhkan hatinya pada Chicha. Tapi sampai sekarang lelaki itu masih cuek-cuek saja pada Chicha seolah sama sekali tak tertarik sama sekali dengan gadis tersebut.
"Aku ikut dengan kalian," ucap Choky.
"Anak-anak?" Tanya Sandy tak suka. Padahal waktunya bersama Rachel, kenapa Choky harus menganggu.
"Ada Chicha," Choky tersenyum penuh kemenangan. Dia sengaja mengajak Chicha agar bisa menjaga anak-anak.
Sandy dan Choky menugaskan beberapa pengawal untuk berjaga di depan ruangan Gerra. Walau mereka tak memiliki munsuh tapi waspada itu harus agar tak terjadi sesuatu yang tak di inginkan. Apalagi keluarga Choky cukup berpengaruh di negara ini, pastinya akan banyak orang yang mau menyelinap masuk agar mencari kelemahan mereka.
"Ayo,"
Sebenarnya Rachel penasaran kemana Choky dan Sandy akan membawanya dan siapa yang mau bertemu dengannya? Kenapa perasaan nya tidak enak?
"Nanti juga kau akan tahu," senyum Sandy.
Mereka sudah berada didalam mobil. Sandy sengaja tidak mau membahas ini didepan anak-anak Rachel takut hal itu nanti kembali menganggu mental anak-anak Rachel.
Hingga sampai disebuah restourant mewah. Ketiga orang itu langsung turun dari mobil.
"Mas kita mau apa disini?" Rachel kembali bertanya.
Sandy dan Choky gemes sendiri melihat Rachel yang begitu cerewet sama seperti putri kecilnya, Gerra. Sebenarnya Rachel ini memang wanita cerewet dan rewel tapi karena banyaknya hal yang terjadi dalam hidupnya menjadikan Rachel wanita yang dingin dan tampak seperti tak tersentuh oleh siapapun.
"Sudah jangan banyak tanya, ayo," Choky merangkul bahu Rachel.
Rachel mengangguk patuh. Tapi sumpah dia benar-benar penasaran. Siapa sebenarnya yang ingin bertemu dia, kenapa sampai harus ke restourant segala?
Mereka masuk kedalam. Sandy sudah memesan ruangan privasi untuk pertemuan Rachel dengan seseorang ini.
"Ayah," panggil Sandy.
__ADS_1
Didalam sana ada Ozawa dan Benedicto yang tampak sedang menunggu dengan tak sabar.
Rachel terkejut ketika melihat Ayah mertuanya ada disini. Sejak kapan Ayah mertua nya itu ada di negara ini?
"Rachel," sapa Ozawa tersenyum.
Rachel berlindung dibelakang Choky. Dia takut kedatangan Ozawa malah ingin membawanya pulang ke Indonesia dan mempertemukan nya kembali dengan sang suami, Ramos.
Senyum Ozawa memudar saat melihat Rachel yang tampak takut padanya. Seperti nya Rachel bukan hanya takut pada Ramos tap juga takut apda orang-orang yang bersangkutan dengan Ramos.
"Hel, jangan takut. Mereka bukan orang jahat. Mereka tidak akan menyakiti mu," ucap Choky menenangkan sambil merangkul bahu Rachel.
Rachel menunduk. Dia tak berani melihat wajah Ozawa. Entah kenapa segalanya yang berhubungan dengan Ramos membuatnya kembali mengingat kejadian yang seharusnya sudah tak perlu di ingat lagi.
Sedangkan Benedicto merasakan darahnya berdesir. Itu adalah putri yang dia cari selama kurang lebih tiga puluh. Wajah Rachel benar-benar mirip dengan almarhum anaknya, Rebecca. Rachel adalah putri nya.
"Rachel," panggil Ozawa. "Jangan takut Nak. Daddy tidak akan menyakiti mu," ucap Ozawa lembut.
Namun Rachel masih menunduk. Dia enggak melihat wajah Ozawa, dia takut. Ozawa sangat mirip dengan Ramos dan wajah mereka tidak jauh beda. Rachel akan teringat kembali dengan perbuatan suaminya itu jika dia melihat Ozawa.
"Rachel," Sandy mengusap bahu wanita itu. "Kau masih ingat apa yang Mas pernah bicarakan padamu?"
"Apa Mas?" Tanya wanita itu bingung. Dia tidak mau melihat kearah Ozawa dan Benedicto.
"Bahwa kau kembar dan kembaranmu adalah mantan tunangan Mas," jawab Sandy.
Rachel mengangguk. Dia masih ingat dengan penjelasan Sandy saat itu. Pantas saja saat pertama kali bertemu dirumah sakit, Sandy menatap nya seolah sudah mengenalnya lama.
"Kenapa Mas?" Tanya Rachel.
"Dia adalah Ayah mu," sambil menunjuk Benedicto yang menatap Rachel dengan tatapan sendu.
Deg
Rachel menatap kearah Benedicto. Keduanya saling menatap satu sama lain dalam waktu lama. Ayah dan anak yang sudah terpisah sejak puluhan tahun lalu. Kini dipertemukan kembali dalam keadaan yang tidak baik seperti ini.
Rachel mundur beberapa langkah sambil menggeleng tidak percaya.
"Rachel,"
__ADS_1
Bersambung....