
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ozawa masihn menggengam tangan Maria. Istrinya itu belum juga siuman dari pingsannya.
“Honey, buka matamu Honey. Jangan membuatku panic.” Ozawa mengusap kepala istrinya “Aku berjanji akan menemukan menantu kita. Aku akan membawanya kembali padamu.” Ucapnya lagi.
Ozawa tahu betapa Maria sangat menyanyangi Rachel, apalagi Rachel adalah putri dari sahabatnya sendiri. Maria sudah menganggap Rachel sebagai anak kandungnya. Rachel adalah wanita baik dan penurut. Ozawa juga menyesal membiarkan Rachel hidup dengan Ramos dia tak menyangka jika putranya akan berani berbuat sekejam itu.
Bulu mata lentik Maria bergerak-gerak. Perlahan wanita paruh baya itu membuka matanya.
“Honey.” Ozawa langsung tersenyum kearah istrinya “Kau sudah bangun? Aku panic sekali.” Dia mencium punggung tangan istrinya yang dia genggam.
“Ak-ku dimana?” Dia melirik langit-langit kamar. Ditangan kirinya terpasanga infuse
“Kau dirumah sakit sayang. Tadi kau pingsan.” Sahut Ozawa “Apakah perasaanmu sudah lebih baik?” Tanyanya lembut. Ozawa sangat mencintai Maria, tak pernah dia membentak istrinya itu. Meski ada masalah dalam rumah tangga, mereka berdua selalu menyelesaikannya dengan kepala dingin.
“I-irina.” Sontak Maria terduduk “Irina.”
“Tenang Sayang, aku disini.” Ozawa merengkuh tubuh istrinya saat Maria hendak turun dari ranjang.
“Ozawa aku ingin bertemu Maria. Bawa aku menemuinya Ozawa.” Pinta Maria memohon kepada suaminya. Dia ingin menemui sahabatnya itu dan meminta maaf karena perbuatan Ramos yang membuat hidup Rachel menderita.
“Sayang, Tenang.” Ozawa mengeratkan pelukkanya sambil mengecup ujung kepala Maria “Tenangkan dirimu dulu.” Ucap nya mengusap kepala istrinya.
Jika Maria mengalami serangan panic begitulah cara Ozawa membuat istrinya tenang karena Maria akan tenang jika dia peluk seperti ini.
Ozawa melepaskan pelukkannya “Apakah sudah lebih baik?” Dia mengusap pipi halus istrinya.
“Ozawa aku ingin bertemu Irina. Aku ingin meminta maaf padanya, aku_”
“Sayang, Irina sudah meninggal. Kau tidak bisa minta maaf padanya. Dia sudah pergi untuk selamanya.”
Air mata Maria semakin luruh. Tubuhnya seolah mati rasa dan jiwanya serasa melayang dan pergi menjauh dari raganya.
“IRINA.”
__ADS_1
“IRINA.”
“IRINA.”
Ozawa hanya memberikan pelukkan kepada istrinya yang memberontak itu. Dia paham akan perasaan istrinya. Kehilangan sahabat memang begitu menyakitkan apalagi sahabat baik.
“Hiks hiks hiks maafkan aku Irina. Maafkan aku. Aku menyesal telah meminta Rachel menikah dengan Ramos. Semua ini salahku. Maafkan aku Irina.” Tangisnya terdengar menggema.
Menyesal. Sangat menyesal. Jika waktu bisa diulang. Maria takkan meminta Rachel menikah dengan putranya, padahal dia sudah tahu jika Ramos memang putranya yang tak memiliki perasaan, tapi dia masih saja memaksa dengan harapan Rachel bisa mengubah Ramos. Tapi lihatlah sekarang, Ramos malah membuat hidup Rachel seperti di Neraka dan membuat gadis itu kehilangan segalanya.
“Maafkan aku. Maafkan aku Irina.”
Tangis Maria perlahan mereda. Tatapannya kosong. Dia begitu menyesal atas apa yang terjadi. Dan bahkan dia tidak tahu jika sahabatnya itu telah pergi menghadap sang pencipta.
“Ozawa bawa aku ke pemakaman Irina. Aku ingin bertemu dengannya dan meminta maaf.” Ucapnya menatap suaminya dengan tatapan permohonan.
“Iya Sayang, jangan menangis lagi.” Ozawa mengusap pipi istrinya “Aku akan meminta perawat membuka infuse mu.” Sambungnya.
Ozawa membawa istrinya ke pemakaman Irina. Mereka bahkan belum berganti pakaian karena dari Belgia langsung ke Mansion dan berakhit dirumah sakit.
Ozawa turun duluan membuka pintu untuk istrinya. Dia memapah kekasih hatinya itu turun dari mobil. Maria benar-benar terlihat hancur, bahkan dia merasakan seluruh hidupnya juga hancur.
Maria menatap batu nisan yang bertuliskan nama sahabatnya itu. Tanah yang menumpuk itu masih basah, pemakaman ini terlihat masih begitu baru. Beberapa hari yang lalu.
Maria tersungkur ditanah yang masih basah itu yang diatasnya ditaburi bunga-bunga. Wangi bunga itu menyeruak kedalam indra penciumannya.
“IRINA.” Maria memeluk batu nisan sahabatnya.
“Kenapa kau pergi meninggalkan aku secepat ini Irina, kenapa? Apa kau tahu aku sangat kehilanganmu? Aku baru saja bertemu denganmu tapi kau sudah pergi lagi.” Wanita paruh baya itu tak peduli dengan baju nya yang kotor akibat tanah yang masih basah itu.
“Maafkan aku Irina. Aku telah membawa putrimu kedalam neraka yang diciptakan oleh putraku. Maafkan aku. Aku berjanji akan menemukan putrimu. Aku akan menjaga putrimu. Aku merawatnya. Aku takkan membiarkan siapapun menyakiti nya lagi. Aku berjanji padamu.”
Maria mengingat masa mudanya dengan Maria. Mereka berdua seperti saudara yang selalu berbagi dalam suka mau pun duka. Irina adalah sahabat yang baik, meski kehidupannya pas-pasan tapi dia tidak suka meminta dia selalu berusaha sendiri untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan Maria belajar banyak hal pada sahabatnya itu.
Ozawa mengusap bahu istrinya berusaha memberikan kekuatan. Sebagai suami dia juga merasakan kesedihan yang dirasakan oleh istrinya.
__ADS_1
“Sayang, ayo kita pulang hari sudah hampir petang.” Ajaknya.
Maria mengangguk dan menghapus air mata meski pun percuma karena dihapus pasti akan tetap menetes lagi.
“Irina, aku pulang ya? Istirahatlah dengan tenang. Semoga kau bahagia disana bersama Mas Agam.” Dia mengusap batu nisan sahabatnya itu.
“Ayo Sayang.”
Mereka kembali masuk kedalam mobil. Di jendela mobil Maria menatap dengan sedih pemakaman sahabatnya. Sahabat yang selalu ada untuknya meski mereka terpisah cukup lama namun tak membuat persahabatan itu memudar.
Ozawa membuka jas nya dan memasangkannya pada tubuh Maria lalu menyandarkan kepala wanita itu di dada bidangnya.
‘Rachel kau dimana Nak? Maafkan Mommy Nak. Maafkan Mommy. Semoga kau baik-baik saja. Mommy berjanji takkan membiarkan Ramos menyakitimu lagi. Mommy akan menjaga dan melindungimu Nak.’ Batin Maria sambil memejamkan mata nya didada bidang Ozawa.
Sampai dikediamannya jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ozawa menggendong istrinya yang tertidur. Sepertinya istrinya ini benar-benar kelelahan. Perjalanan yang cukup jauh dan menyita waktu serta tenaga ditambah lagi dengan kenyataan yang membuat istrinya itu semakin lelah.
Heru menatap punggung kedua majikannya. Pria itu menghela nafas panjang. Dia juga tak menyangka atas perbuatan Tuan-nya.
“Semoga Tuan Ramos sadar bahwa Nona Rachel wanita yang tulus mencintainya. Tapi untuk sekarang aku tidak yakin jika Nona Rachel akan memaafkan Tuan Ramos. Tuan Ramos sudah menurihkan kebencian dihati Nona.”
Heru menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Ozawa. Dia diminta Ozawa untuk menemani Ramos tinggal di apartement Ramos.
Bersambung...
Like
komen
vote
rate lima buat author
kalau ada saran dan masukkan kalian boleh coret-coret dibawah...
kalau ada typo boleh dikasih tanda ya ntar author perbaiki.
__ADS_1
terima kasih