Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Bab 3. Love Me Please


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Bagaimana bisa dia diterima?" gerutu yang lainnya saat Chika keluar dari ruangan wawancara.


"Iya. Pasti dia menggoda Tuan Choky," tuding yang lainnya menatap Chika tak suka.


"Sabar Chika. Orang sabar itu pasti kesal," ucap Chika menahan amarahnya. Jangan kan menggoda Choky. Melirik pria itu saja, Chika tidak tertarik sama sekali.


"Benar itu. Aku curiga," sambung yang lainnya.


Chika langsung menatap mereka tajam. Ia bukan gadis yang mudah ditindas. Ia adalah preman kampus. Siapapun yang berani menganggunya. Takkan ia biarkan hidup tenang.


"Apa kamu bilang?" Chika langsung menarik kearah baju wanita yang satunya. "Coba ulangi lagi, aku tidak dengar," ucapnya mencengkram kuat leher baju wanita itu.


"A-ku tidak bilang apa-apa," sahut wanita itu ketakutan.


"Kamu pikir aku tuli, hah?" bentaknya terdengar menggema menariaki wanita itu.


"Heh, memang benar 'kan kamu menggoda Tuan Choky sehingga kamu bisa diterima menjadi sekretaris nya?" sahut yang lainnya menatap Chika dengan senyuman mengejek


Chika mendorong wanita yang ia tarik kerah bajunya. Lalu ia menatap wanita yang mengatakan bahwa ia menggoda Choky.


"Atau jangan-jangan kamu yang menggoda Tuan Choky dan Tuan Choky tidak tergoda sedikit pun," ledek Chika. "Sayang sekali. Wajah sudah tua, tapi belum laku. Sabar ya Mbak," Chika menepuk bahu wanita itu sambil mengucapkan kata sabar.


"Kamu..." wanita itu hendak melayangkan tamparan nya pada wajah Chika.


Namun secepatnya gadis itu menahan pukulan yang hendak mengenai wajahnya.


"Jangan berani-berani menyentuh wajahku," ia meminting tangan wanita itu ke belakang.


"Awwwww," wanita itu meringgis kesakitan.


Sementara temannya yang lain ketakutan. Mereka tak berani melerai atau ikut campur.


"Ampun," ucap wanita itu kesakitan. "Lepaskan tangan ku," mohonnya.


Chika mendorong tubuh wanita itu hingga terjerembab ke lantai. Ia tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Sekali lagi aku dengar kalian menuduh ku seperti itu. Ku pastikan besok kalian masuk rumah sakit," ancamnya.


Mereka langsung menunduk ketakutan. Mereka adalah wanita-wanita yang tidak lulus dalam seleksi wawancara. Tentu saja mereka iri pada Chika yang bisa lolos dengan penampilan biasa saja. Berdandan tidak. Gaya nya seperti lelaki. Rusuh lagi. Apa nya yang menarik. Sedangkan mereka bersusah payah berpenampilan cantik tapi tidak juga diterima.


Chika melenggang pergi setelah membuat keributan. Kalau dikampus tidak ada yang berani mencari masalah dengannya, baik laki-laki mau pun perempuan. Ia tidak segan-segan menghajar orang yang menuduhnya sembarangan.


Choky menggeleng melihat gadis itu. Ia mengintip di CCTV yang memang terpasang disana.


"Apa aku sudah salah menerima gadis aneh itu?" Choky mendelik ketika melihat Chika meminting tangan lawannya.


"Huffh semoga saja dia tidak berbahaya," Choky jadi bergidik ngeri membayangkan Chika mengajaknya baku hantam.


"Kak," Chicha masuk kedalam ruangan Choky dengan wajah cemberut dan juga kesal.


"Ada apa?" Choky menatap adiknya jenggah. "Sudah dikerjakan yang tadi?" jika bukan karena kedua orang nya juga tidak mau mengajak Chicha ke Indonesia.


"Kak," renggek Chicha. "Sudah sekali. Aku tidak bisa," sambil menyerahkan berkas pada Choky.


Choky menghela nafas panjang melihat berkas yang dikerjakan oleh adiknya, berkas itu belum selesai sama sekali. Entah apa kerja adiknya ini. Choky tak habis pikir.


"Tidak Kak," sahut Chicha jujur. "Angka-angka uang itu membuat kepala ku pusing saja," ungkapnya. Ia sekolah desainer tapi disuruh bekerja di perusahaan furniture dan pariwisata. Tentu saja dia bingung. Lebih-lebih kemampuan nya memang tidak sampai disana.


.


.


.


"Sampai kapan kamu akan menginap disini?" ketus Arnetta menatap Chika jenggah.


"Yaellah Ta. Pelit amat sama teman sendiri. Tunggu aku gajian baru pindah," sahut Chika berbaring di kasur empuk sahabat nya itu.


"Lagian kamu itu ada-ada saja. Orang kaya malah milihnya tinggal di kost. Disini itu tidak enak Chika. Lebih baik kamu kembali kerumah kasihan kedua orang tua kamu," omel Arnetta sambil menggeleng kepala. Ia sedang merapikan baju-baju nya yang baru saja ia angkat dari jemuran.


"No. No. Aku tidak akan kembali kerumah. Aku akan buktikan bahwa aku bisa mandiri," sergahnya yakin bahwa ia bisa mandiri.


Arnetta menggeleng saja. "Anak orang kaya seperti mu mana bisa mandiri. Kamu tahu jadi orang miskin itu tidak enak,"

__ADS_1


"Aku belum tahu makanya aku ingin merasakan nya," sahut Chika santai sambil tersenyum. Ia sedang menyiapkan energi nya untuk masuk bekerja besok. Semoga besok ia bisa menjalani hari pertamanya bekerja dengan baik.


Arnetta mendelik. Padahal Chika anak orang kaya. Ayah dan Ibu nya pengusaha ternama serta memiliki kedua Kakak laki-laki dan perempuan yang juga sukses. Tapi karena kenakalan dan ia menolak di jodohkan akhirnya gadis itu memilih keluar dari rumah dan menolak fasilitas yang kedua orang tua nya berikan.


"Ta, besok pinjam dapur ya. Aku mau bangun pagi-pagi buat masak. Aku janji deh kalau sudah gajian, aku akan ganti beras sama bahan dapur mu," ujar Chika menatap sahabat nya sambil tersenyum.


Arnetta mendengar tak percaya. Pasalnya Chika tidak tahu masak sama sekali. Pernah gadis itu masak nasi goreng untuk sarapan pagi yang ada rasanya asin seperti garam.


"Yakin kamu mau masak?" tanya Arnetta ragu.


"Yakin dong. Soalnya semua makanan Boss aku yang tangani," ucapnya bangga.


"Boss, sebenarnya kamu di terima dimana sih?" tanya Arnetta penasaran. "Dan bagian apa? Kok gaji kamu besar sekali?" sambung Arnetta penasaran. Gaji tiga belas juta perbulan itu sangat luar biasa besar bagi Arnetta yang orang biasa.


"Alexander Group jadi sekretaris Tuan Choky,"


"What's?" pekik Arnetta terkejut hingga air liur gadis itu mengenai wajah Chika yang tengah berbaring.


"Astaga Neta," Chika mengusap dadanya.


"Salah. Usap telingamu," ralat Arnetta.


"Ehh iya salah," lalu gadis itu mengusap telinganya dan mengelap air liur Arnetta yang menempel diwajahnya. "Kamu makan apa sih, kenapa bau sekali? Huwekk," Chika sampai duduk mengelap tangannya di baju Arnetta.


"Chika," pekik Arnetta. "Kamu sembarangan banget lap-lap di baju aku," omel nya


"Ck, salah kamu. Kenapa ngomong sampai keluar air liur begitu. Mana bau lagi," sergah Chika. Ia mana mau kalah. Kalau pun ia salah, ia takkan mau kalah.


"Ka, serius kamu bekerja di Alexander Group dan jadi sekretaris nya Tuan Choky?" ulang Arnetta sekali lagi. Siapa tahu dia salah dengar.


"Yoiiii," sahut Chika singkat.


"Wahhh beruntung banget kamu Chika bisa dekat sama CEO tampan itu," seru Arnetta.


"B saja," sahut Chika ketus. Beruntung, yang ada dia malah buntung. Jika bukan karena demi kelangsungan hidupnya, ia takkan mau bekerja di perusahaan Choky.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2