
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Mobil Daniel terparkir didepan gedung pencakar langit berlogo Alexander Group. Gedung mewah dan tampak mencolok dari yang lainnya.
"Terima kasih Kak," Chika membuka sealbeat nya.
"Wait," Daniel mencengkram lengan adiknya.
"Ada apa Kak?" gadis itu memincingkan mata nya pada Daniel.
"Minggu depan pulang lah ke rumah. Kita merayakan ulang tahun Mommy bersama-sama," pinta Daniel penuh harap.
Chika menghela nafas panjang. Sebenarnya ia masih merajuk dan enggan pulang ke rumah. Tapi demi Mommy tercinta baiklah ia akan pulang, hanya demi Mommy nya.
"Baiklah, Kak," sahut Chika mengalah.
"Kamu berangkat setiap nanti pakai apa?" tanya Daniel. Sebab adiknya itu memang melepaskan semua fasilitas yang ia berikan termasuk mobil. Tapi Chika tidak bisa melepaskan ponselnya. Sebab ia tak bisa hidup tanpa benda itu. .
"Naik ojek online Kak," sahut Chika mengambil tas kecil tempat bekal yang di bawakan untuk Choky.
"Kenapa tidak naik taksi saja?" tanya Daniel tak habis pikir. Kasihan adiknya kepanasan naik ojek online.
"Ck, Kak aku belum gajian. Ya sudah lah, seperti sesi interview saja. Aku bekerja dulu, cup," tak lupa ia mengecup pipi kakak nya itu.
"Iya hati-hati," senyum Daniel.
"Bye. Bye, Kak," Chika keluar dari mobil.
Daniel menggeleng saja. Ia menatap adiknya masuk kedalam gedung pencakar langit yang memiliki lantai sampai seratus itu.
"Semoga dia bisa belajar dan dewasa. Tidak sia-sia dia bertengkar dengan Daddy," Daniel geleng-geleng kepala lalu tersenyum gemes membayangkan wajah adik kecil nya itu.
.
.
.
"Mampus aku, ini sudah jam tujuh," ucap Chika mulai panik. Ia menekan tombol lift cepat.
"Ya Tuhan semoga Tuan Tampan Tua itu belum datang. Semoga belum datang. Semoga belum datang," ia merapalkan doa dengan mulut komat-kamit seperti dukun baca mantra.
"Ehem," seseorang dibelakangnya berdehem
Chika berjingkrak kaget. Dia menoleh dan melihat seorang wanita cantik yang berdiri nyaman dibelakang nya.
"Kamu sekretaris baru?" tunjuknya pada Chika.
"Iya kenapa?" Chika pun menatap wanita itu sinis. Ohh jangan lupakan siapa dia? Jangan sampai ia dibully lagi seperti kemarin.
__ADS_1
"Bawa apa itu?" wanita itu malah menunjuk tas kecil yang ditenteng oleh Chika.
"Makanan," jawab Chika ketus.
"Perkenalkan aku Chicha, adik nya Kak Choky," ucap Chicha mengulurkan tangannya pada Chika.
Chika berjingkrak kaget. "Waduh Nona, maafkan saya Nona. Saya tidak tahu jika anda adiknya Tuan. Maaf Nona. Tolong jangan adukan saya pada Tuan, Nona. Saya pikir anda karyawan yang mau bully saya. Sekali lagi maafkan saya Nona," berulang kali gadis itu mencium tangan Chicha sambil meminta maaf.
Chicha malah tertawa lebar. Ahhh ini dia yang dia cari. Sangat cocok dengan Choky yang wajah nya datar bak tembok.
"Tenang. Tenang tidak perlu takut Nona. Aku tidak akan mengadukan mu, tenang saja," Chicha menepuk bahu Chika.
Chika mengangguk dan tersenyum kaku. Kebiasaan dirinya dikampus terbawa-bawa sampai ke pekerjaan nya.
"Sekali lagi maaf Nona,"
Chicha malah terkekeh. Ia suka sekali sifat Chika yang tampaknya tegas dan berani. Cocoklah untuk mendampingi hidup Choky yang membosankan itu.
"Tidak perlu sungkan. Anggap saja kita teman," sahut Chicha. "Seperti nya kamu masih muda. Berapa usia mu?" tanya Chicha, karena bisa lihat jika Chika memang masih sangat muda dan bahkan dibawahnya.
"19 tahun Nona," jawab Chika.
Chicha terkejut. "Muda sekali kamu? Masih kuliah?" tebak Chicha.
"Iya Nona. Sedang cuti. Tidak ada biaya," sahut Chika asal. Dia memang tidak ada biaya, jadi tidak bohong bukan.
"Iya. Iya. Jangan panggil aku Nona. Panggil saja dengan nama," ujar Chicha manggut-manggut.
"Iya terserah kamu," sahut Chicha.
Pintu lift terbuka. Kedua gadis berbeda usia itu keluar dari lift. Semua membungkuk hormat saat keduanya melawati para karyawan. Dalam hati mereka bertanya-tanya, kenapa Chika bisa langsung akrab dengan Chicha. Padahal selama ini Chicha terkenal sombong dan angkuh. Jarang menegur para karyawan dan mereka juga segan karena Chicha adik dari Choky.
"Meja kamu pasti di ruangan Kak Choky?" tebak Chicha.
"Iya Kak," sahut Chika.
.
.
.
"Kamu tahu kan kesalahan kamu dimana?" Choky menatap sekretaris barunya itu tajam
"Tidak Tuan," Chika menggeleng. "Eheh iya tahu Tuan, saya datang terlambat," ucapnya. Gadis itu menepuk bibir nya yang salah ucapkan lagi.
"Bagus kalau kamu tahu kesalahan kamu," Choky mondar-mandir didepan Chika yang menunduk. "Kamu tahu ini hari pertama kamu bekerja kenapa bisa terlambat?" Choky memincingkan matanya curiga.
"Hemmm, itu Tuan anu-anu," Chika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tadi itu, lagi berbincang-bincang dengan Kakak di mobil," jawab Chika jujur karena dia memang lama berbincang dengan Daniel.
__ADS_1
"Lalu apa hubungannya dengan kamu yang terlambat?" ujar Choky tak habis pikir
"Karena saya terlalu lama berbincang dengan Kakak saya Tuan," jawab Chika.
Choky manggut-manggut. Dia masih mondar-mandir didepan Chika sambil mengintrogasi gadis itu seperti seorang guru yang sedang memberikan hukuman pada anak muridnya yang terlambat.
Lalu Choky mengambil tumpukkan berkas diatas meja dan memberikan nya pada Chika.
"Tolong kamu kerjakan," suruhnya
"Tuan sebanyak ini?" protes Chika.
"Kenapa? Ini kan pekerjaan kamu?" ketus Choky menatap gadis itu jenggah.
"Saya tahu Tuan, tapi_"
"Sekali kali lagi protes, gaji kamu saya potong," ancam Choky.
"Iya Tuan," Chika mengangguk patuh. Tidak apa menurut dari pada gaji dipotong. Ia belum gajian, masa gaji harus di potong sebelum gajian.
"Ya sudah kamu kerjakan," suruh Choky. "Jam sepuluh sudah harus selesai, saya mau meeting," titahnya
"Tuan yang benar saja? Mana selesai, dua ja_"
"Ehem," Choky langsung menatap Chika dengan tajam lalu melipat kedua tangannya didada.
"Ehh iya, siap Tuan dua jam gadis," gadis tersenyum damai sebelum ancaman gaji yang di dipotong oleh Choky.
"Kembali ke meja kamu,"
Chika membawa tumpukkan berkas itu dengan susah payah. Dia melirik Choky dengan ekor matanya.
'Pantas saja tidak laku, dia kejam seperti mafia. Tidak punya perasaan. Amit-amit punya jodoh seperti itu,' batin Chika kesal. 'Semoga dia menjomblo seumur hidup,' sumpahnya dalam hati. Padahal dia tidak tahu apa rencana author untuk nya, wkwkwk.
Choky duduk di meja kerjanya. Ia mengambil bekal yang dibawakan Chika. Seperti setiap pagi dia selalu tak sempat sarapan dirumah. Apalagi kedua orang tua nya baru saja datang ke Indonesia dan obrolan setiap pagi selalu sama.
"Choky kapan kamu menikah?"
Pertanyaan keramat yang Choky sangat benci. Karena ia sendiri tidak tahu jawabannya apa.
Choky membuka rantang nasi itu dengan senyuman sumringah. Dari bentuknya saja sudah menarik pasti rasanya juga menarik.
"Hem, seperti nya enak," gumamnya. Choky memasukkan satu sendok nasi goreng itu kedalam mulutnya. Matanya membulat sempurna ketika makanan itu masuk kedalam mulutnya.
"Huwekkkkkkk," ia langsung menghamburkan makanan itu keluar dari mulutnya.
Chika yang tengah asyik dengan pekerjaan nya mendelik mendengar suara Choky.
"CHIKA"
__ADS_1
Bersambung....