
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Rachel bangun pagi sekali. Dia menghirup udara segar dengan senyuman manis. Bisa melihat kembali seolah anugrah yang tak bisa Rachel ukur dengan apapun.
Rachel tersenyum melihat ketiga buah hatinya yang masih terlelap nyaman dibalik selimut tebal mereka. Kebetulan hari libur jadi Rachel tidak perlu membangunkan anak-anak nya pagi-pagi.
"Mommy," Gilbert mengeliat.
"Sudah bangun Son?" Rachel duduk dibibir ranjang.
Gilbert duduk dan mengumpulkan nyawanya. Pria kecil itu menguap beberapa kali sambil mengucek matanya. Wajah bantal nya saat bangun tidur justru membuatnya terlihat begitu imut dan juga menggemaskan di mata Rachel.
"Pagi Mommy," sapanya tersenyum.
"Pagi juga Sayang," balas Rachel. "Ayo gosok gigi dulu," Rachel mengulurkan tangannya agar putranya itu turun dari ranjang.
"Iya Mommy," Gilbert menurut dan turun dari ranjang. Sedangkan kedua adiknya masih saja terlelap dengan nyaman.
"Bisa gosok gigi sendiri 'kan Son?" Tanya Rachel lembut.
"Bisa Mom," sahut Gilbert menuju kamar mandi untuk mencuci wajah dan gosok giginya.
Rachel keluar dari kamarnya. Tampak pada pelayan sudah sibuk menyiapkan sarapan pagi.
"Pagi Nyonya Rachel," sapa mereka serentak.
"Pagi juga Bik," balas Rachel tersenyum hangat.
Rachel menuju dapur. Seperti biasa dia akan menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak nya.
"Nyonya biar saya saja," cegah Bik Amy, kepala pelayan di istana Choky.
"Tidak apa-apa Bik. Biar saya. Bibi kerjakan yang lain saja," sergah Rachel.
"Iya Nyonya,"
Choky tersenyum ketika melihat Rachel yang sudah sibuk dengan peralatan dapur. Kebetulan dia baru selesai jogging agar postur tubuh nya tetap terjaga.
"Pagi Cantik," sapa Choky menggoda wanita anak tiga itu.
Rachel terkejut saat Choky tiba-tiba muncul didekatnya. Pria itu masih memakai pakaian olahraga nya dengan handuk yang sengaja digantung dilehernya.
"Mas, kau ini suka sekali mengagetkan ku," gerutu Rachel.
__ADS_1
"Hehhe maaf, terkejut yaaaa.." Choky tersenyum lebar. "Masak apa?" Dia melirik masakkan Rachel.
"Ayam kecap Mas. Kesukaan anak-anak," sahut nya. "Mas mandi lagi, bau," Rachel menutup hidungnya sambil setengah mendorong Choky agar menjauh.
Choky terkekeh. Dia memang suka menggoda wanita ini.
"Nanti setelah sarapan ikut Mas ya. Mas ingin mengajakmu ke suatu tempat," ucap Choky.
"Kemana Mas?" Tanya Rachel penasaran.
"Nanti juga kau akan tahu," jawab Choky. "Ya sudah lanjut masaknya. Ingat jangan capek-capek," ucap Choky penuh perhatian.
"Iya Mas," Rachel tersenyum simpul.
Rachel melanjutkan kembali memasaknya. Dia memang suka sekali memasak. Cita-cita nya menjadi seorang chef profesional. Dan bakatnya memasak memang tidak sia-sia dan Rachel sudah mampu mengembangkan beberapa restourant miliknya.
"Rachel," panggil Lewi berjalan kearah wanita itu.
"Ehh Mommy, pagi Mom," sapanya yang sudah menyetor senyuman manis.
"Bagaimana kondisi mu? Masih perlu kaca mata?" Tanya Lewi.
Rachel menggeleng. "Tidak Mom. Mata ku sudah bisa melihat dengan jelas. Tidak sakit lagi," jelas Rachel.
"Syukurlah," ujar Lewi.
"Kau masak apa?" Lewi melirik masakkan didalam wajan yang Rachel masak.
"Masakan kesukaan anak-anak Mom," jawab Rachel.
"Mas sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Rachel penasaran.
"Ikut saja. Kau ini terus bertanya," jawab Choky sambil menggeleng dan tersenyum saja.
"Aku penasaran Mas," Rachel mendesah pelan-pelan. "Kenapa anak-anak tidak diajak mereka pasti mencariku nanti Mas?" Rachel mendesah pelan.
"Ada Mommy dan Chicha yang jaga. Ada Sandy juga," sahut Rachel.
"Hel,"
"Iya Mas?" Rachel melihat kearah Choky. "Kenapa Mas?" Sambung nya.
"Mas ingin membawamu ke psikiater. Apakah boleh?" Choky menatap Rachel yang terdiam. "Hel," panggilnya sekali lagi.
__ADS_1
"Tapi untuk apa Mas? Aku tidak gila. Kenapa harus dibawa ke psikiater?" ujar Rachel.
Ramos tersenyum. "Kau memang tidak gila Rachel. Tapi kau mengalami trauma berat apalagi saat menyebut nama suaminya," jelas Choky.
Rachel seketika terdiam. Dia lupa kalau dia memang mengalami serangan panik setiap kali mengingat atau mendengar nama suaminya. Apalagi jika melihat wajah pria yang masih berstatus suaminya itu, Rachel bisa mengalami serangan bertubi-tubi.
"Rachel," Choky menggenggam tangan Rachel. "Jangan takut. Belajarlah untuk melawan rasa trauma itu. Mas tahu ini berat. Mas tahu ini tidak mudah. Tapi kau tidak bisa terus-terusan hidup dalam masa lalu. Ada banyak hal yang harus kau tahu tentang suamimu," tukas Choky.
Mata Rachel langsung berkaca-kaca. Dadanya serasa kembali sesak. Dia juga sedang berusaha menyembuhkan diri dari rasa takut dan trauma.
"Mas aku mau sembuh Mas. Mau banget. Setelah aku operasi, aku merasa ada yang berbeda Mas. Aku terus melihat bayangan Mas Ramos yang memanggil aku berulang kali. Tapi aku tidak takut justru mencarinya. Aku juga tidak tahu Mas kenapa bisa aku membayangkan nya dan aneh nya rasa takut itu tidak ada lagi," jelas Rachel dengan mata berkaca-kaca.
"Kau tidak takut lagi?"
"Entahlah Mas, sejak aku setelah operasi aku tidak merasa takut lagi ketika menyebut Mas Ramos atau mengingat wajahnya. Apa mungkin trauma ku sudah sembuh ya Mas?" ujar Rachel menyeka air matanya.
Choky mengangguk senang dan juga terharu. Semoga memang benar jika Rachel sudah sembuh dari trauma dan serangan panik itu.
"Kalau Mas sebut nama dia kau tidak akan takut lagi?" Tanya Choky memastikan.
Rachel mengangguk. "Tidak Mas. Aneh sekali rasanya. Ini seperti bukan aku Mas. Aku merasa seperti berpindah tubuh ke orang lain," jelas Rachel.
"Tidak aneh Rachel. Itu artinya kau sudah sembuh," ujar Choky senang
"Iya Mas. Aku sudah sembuh," senyum Rachel tapi air matanya menetes bahagia.
Rachel merasa seperti dilahirkan kembali kedalam tubuh yang berbeda. Setelah selesai operasi mata, ada banyak hal aneh yang dia rasakan. Dia merasa seperti orang lain yang tinggal didalam tubuhnya.
"Jika begitu apa kau siap bertemu Ramos?"
Rachel terdiam kembali. Entahlah, dia pun tidak tahu apakah dia siap kembali bertemu Ramos. Terakhir pertemuan mereka di restourant milik Rachel tapi saat itu Rachel belum bisa melihat. Dia hanya merasakan jika lelaki itu memeluknya dan aneh kenapa rasanya nyaman sekali.
"Rachel?" Panggil Choky sekali lagi.
"Iya Mas?"
"Bagaimana?" Tanya Choky lembut tangannya masih menggenggam tangan Rachel.
"Aku masih butuh waktu Mas. Aku tidak berani jawab untuk sekarang. Tapi sejauh ini aku merasa lega karena bayangan kejadian itu tidak lagi menyerangku," tutur Rachel. "Mas, dimana Mas Ramos sekarang? Apa dia baik-baik saja Mas?" Tanya Rachel. Hati Rachel tiba-tiba teringat pada suaminya itu.
"Kau merindukannya?" Goda Choky.
"Mas, kan aku hanya bertanya," ketus Rachel tapi wajah nya sudah merah merona.
__ADS_1
Choky ngakak lebih tepatnya tertawa miris. Seperti nya hati Rachel memang masih milik suaminya. Hanya selama ini perasaan itu tertutupi oleh rasa takut dan trauma sehingga perasaan yang seharusnya masih tumbuh itu layu bersama kenangan.
Bersambung....