Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Cinta tulus Ramos.


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Apa semua akta nya sudah kau ubah Heru?" Tanya Ramos dia sibuk dengan beberapa berkas ditangannya.


"Sudah Tuan. Ini," Heru menyerahkan amplop besar berwarna coklat.


Ramos mengambil amplop itu dan membuka isi nya. Dia manggut-manggut saat melihat tiga dokumen didalam nya.


"Tuan, apa anda yakin dengan keputusan anda?" Tanya Heru.


Ramos memasukkan kembali ketiga dokumen itu. Dia menyimpannya didalam laci mejanya.


"Ini adalah permohonan maaf terakhir ku Heru. Tidak apa. Aku ikhlas. Apapun akan aku lakukan demi Rachel dan anak-anak ku. Mereka adalah harta paling berharga yang kumiliki," jawab Ramos yakin dengan keputusan nya.


"Tapi Tuan, ini beresiko," ucap Heru sekali lagi. Barangkali Ramos akan mempertimbangkan keputusan nya.


"Aku tahu Heru," Ramos berdiri dan membelakangi Heru lalu menatap keluar jendela nya yang terlihat transparan.


"Anggap saja ini sebagai bukti cintaku pada mereka. Aku tak memiliki harapan lagi untuk membuat mereka menjadi milik ku. Aku sadar diri aku ini siapa. Maka dari itu, aku memilih pergi bukan karena aku menyerah. Hanya aku tidak mau menganggu kehidupan Rachel lagi. Dia harus bahagia meski tidak bersama denganku," Ramos tersenyum kecut kedua tangannya dia masukkan kedalam dua saku celananya.


Heru mengangguk paham. Sekali pun seluruh dunia menyalahkan dan meninggalkan Ramos. Dia tidak akan pernah pergi meninggalkan tuan-nya itu. Heru akan mengabdikan dirinya pada Ramos. Ramos sudah banyak membantu dia sejak pertama kali Heru menjadi asisten Ramos.


"Saya akan dukung anda Tuan," jawab Heru membungkuk hormat.


"Persiapkan keberangkatan ku ke Belgia. Pastikan tidak ada yang tahu jika aku menetap disana kecuali Daddy, Mommy dan Rayyan. Aku ingin menepi dan menyendiri. Aku akan menjalani hidupku tanpa orang lain," ucapan Ramos terdengar putus asa


Ramos tak pernah merasa seputus asa ini dalam hidupnya. Namun ketika mengingat perkataan dari putra sulungnya seolah menciptakan luka yang membuat Ramos mundur berjuang mendapatkan kembali sang istri.


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi," pamit Heru. Ramos tak menanggapi dia malah asyik melamun.


Ramos tersenyum kecut memikirkan nasib hidupnya. Tak pernah dia berpikir bahwa takdir akan membawanya pada titik paling rendah seperti ini. Dulu dia berpikir menikah dengan Agnes adalah sebuah kebahagiaan, dimana pernikahan mereka akan dikaruniai anak sebagai buah cinta dari rumah tangga mereka. Namun apalah daya jika semua hanya angan-angan. Agnes menghianati nya dengan mendesah dibawah pria lain. Disaat yang bersamaan dia pun harus mengetahui satu hal bahwa wanita yang paling dia benci dalam hidupnya ternyata masih perawan dan lagi Ramos mengambil nya dengan paksa.

__ADS_1


Ramos menarik nafas dalam. Sangat dalam. Keputusan nya sudah bulat untuk pergi dan menepi. Ya dia harus pergi. Dia tidak mau membuat istrinya semakin menderita karena karena kehadiran nya.


.


.


.


.


"Ramos,"


"Mom," Ramos langsung menyambut Ibu nya dengan pelukkan hangat.


"Apa kabarmu Son?" Maria mengusap punggung putranya.


"Aku baik Mom," Ramos melepaskan pelukan nya.


"Kau baik-baik saja?" Maria mengusap bahu istrinya.


Ramos mengangguk lalu tersenyum miris. Jika boleh jujur dia tak pernah baik-baik saja. Hanya keadaan lah yang membuatnya bertahan hingga kini. Dia lelah. Rasanya ingin menyerah. Dan memang sebentar lagi dia akan menyerah.


"Dad. Mom," Ramos menatap kedua orangtuanya.


"Apa ada yang ingin kau katakan Son," Ozawa menatap putranya. "Kau baik-baik saja?" Pertanyaan itu masih saja terdengar oleh Ramos. Jelas dia tidak baik-baik saja. Hatinya sedang terluka parah jiwanya dihantam dengan hebat.


Mereka duduk disofa. Ramos melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher. Dia juga melepaskan jas yang membungkus tubuhnya.


"Kau ingin bicara apa Son?" Tanya Ozawa sekali lagi.


Ramos menatap kedua orangtuanya. Ini adalah keputusan nya dan dia yakin dengan apa yang sudah dia putuskan sendiri. Ramos sudah lama memikirkan ini jadi dia takkan menyesal jika itu benar-benar dia lakukan.

__ADS_1


Ramos mengatakan keinginan nya pada kedua orangtuanya. Sebagai orangtua Ozawa dan Maria sebenarnya tak setuju. Tapi begitulah cara Ramos menunjukkan ketulusan nya pada istri dan anak-anak nya.


Maria menangis hebat mendengar keputusan Ramos dia menantang. Namun Ramos Berhad menyakitkan Ibu nya. Dia hanya ingin penyesalan nya terbayar, sudah itu saja. Dia ingin hidup tenang. Meski setelah ini mungkin dirinya hanya akan hidup dalam kegelapan. Tapi tidak apa, Ramos akan bahagia disisa akhir hidupnya. Biarlah kelak takdir yang menemani kegundahan dalam dadanya.


.


.


.


.


Ramos berjalan masuk kedalam kamarnya. Jas nya di sangkutkan dibahunya. Dia tampak lelah dengan berantakan bak tak terurus.


Lelaki itu langsung duduk di meja kursi kebesaran nya. Kamar dan ruang kerja Ramos disatukan dalam satu ruangan agar dia tak repot-repot untuk pergi keruangan kerja.


Lelaki itu membuka tas kerjanya dan mengeluarkan amplop berwarna coklat yang diberikan Heru tadi. Ramos mengambil tiga dokumen didalamnya.


"Daddy, akan serahkan semua milik Daddy untuk kalian bertiga. Semuanya. Terutama Gerald yang ingin memiliki jet pribadi. Mulai sekarang Daddy berikan padamu, Son. Semoga kelak kau menjadi seorang pilot seperti yang kau inginkan," ucap Ramos.


"Untuk Gerra, Daddy akan membangun sebuah restourant untuk mu Nak. Semoga kelak kau menjadi koki yang makanan nya disukai banyak orang. Daddy akan siapkan semua nya untukmu," Ramos meletakkan satu dokumen atas nama putrinya.


"Gilbert, putra sulung Daddy. Walau kau membenci Daddy. Tapi Daddy tidak pernah membenci mu Nak. Daddy, akan berikan milik Daddy kepadamu. Daddy titipkan Mommy dan kedua adikmu, jadilah pemimpin keluarga yang baik. Jangan gagal seperti Daddy. Semoga kelak kau menjadi pengusaha sukses seperti Daddy dan bisa membuat Mommy bangga," air mata Ramos luruh. Teringat lagi dengan ucapan Gilbert membuat hatinya perih seperti ditumpahi cuka.


"Sayang," Ramos mengusap foto usang diatas mejanya. Foto pernikahan mereka beberapa tahun lalu. Foto itu memang sempat diabaikan oleh Maria hingga Ramos bisa mencetaknya ulang.


"Selamat berpisah Sayang. Setelah kau melihat nanti, mungkin aku sudah pergi jauh. Aku titip anak-anak. Aku yakin kau bisa menjadi Ibu dan Ayah yang baik untuk mereka bertiga. Maafkan aku ya, karena aku kau seperti ini." Dia mencium foto itu dimana terdapat wajah istrinya.


Air matanya tak berbendung. Pria patah hati itu tak bisa bayangkan kehidupan nya setelah ini. Hidup seorang diri dan jauh dari orang-orang dan kekasih hati. Namun ini adalah pilihan diri. Suka tak suka. Mau tak mau harus dijalani.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2