
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Sandy turun dari mobil nya. Wajah nya terlihat lelah. Lingkungan hidup nya sekilas pekerjaan dan rumah. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai atau berleha-leha mencari kesenangan.
"Papa,"
Sandy terkejut ketika mendengar suara yang begitu ia kenal. Ya suara gadis kecil yang sudah lama dia rindukan.
"Papa,"
Gilbert, Gerald dan Gerra keluar dari pintu masuk dan berlari menyambut kedatangan pria yang mereka panggil papa itu.
"Gilbert. Gerald. Gerra,"
Sandy berjongkok menyambut pelukkan ketiga anak kembar itu.
"Papa,"
Ketiganya memeluk Sandy secara bersamaan. Melepaskan kerinduan mereka pada Papa mereka ini. Mereka sengaja pulang ke Indonesia tanpa memberitahu Sandy, karena mereka ingin memberi kejutan pada pria itu.
Sandy tak mampu menahan air mata bahagia nya. Ia tak bisa bohong bahwa ia rindu ketiga anak kembar yang sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak enam tahun ini.
"Papa kenapa menangis?" Gerra mengusap pipi Sandy.
"Papa rindu kalian Nak," ucap Sandy.
"Papa tidak usah menangis lagi, sekarang kami sudah datang. Kami juga merindukan Papa," ucap Gerald kembali memeluk Sandy. Gerald memang paling dekat dengan Sandy.
"Jangan menangis Pa. Ayo masuk," ajak Gilbert.
"Papa biar Gerald yang bawa tas Papa ya," lelaki kecil itu langsung mengambil tas milik Sandy.
"Terima kasih Son," sahut Sandy sambil tersenyum.
"Papa gendong Gella," Gerra mengulurkan tangannya agar Sandy menggendong nya.
"Iya Girl,"
__ADS_1
Sementara Gilbert menggandeng tangan kanan Sandy.
Sandy tersenyum bahagia. Seandainya ia menikah, pasti ia juga akan memiliki yang imut dan menggemaskan seperti triple G ini. Namun, seperti nya Sandy harus menutup keinginan nya itu untuk membangun kehidupan rumah tangga. Sebab hingga kini ia belum menemukan wanita yang pas dihatinya.
"Mas," Rachel menyambut kedatangan Sandy dengan menggendong putri kecil nya.
"Kau baru pulang San?" tanya Ramos yang duduk dengan nyaman sambil memangku pangeran kecil nya itu.
Sandy mendengus kesal. "Kalian jahat. Kenapa datang tidak memberitahu ku?" protes Sandy sambil duduk.
"Papa jangan malah-malah nanti cepat tua," seru Gerra. Ia belum bisa menyebut huruf R atau lebih tepatnya belum bisa membedakan R dan L.
Ramos tertawa lebar mendengar ocehan putri nya. Apalagi melihat wajah Sandy yang tampak cemberut ketika dibilang tua. Beda usia Ramos dan Sandy hanya tiga tahun. Tapi tetap kedua nya tampak seusia.
"Mas, aku bawa Bielle dan Izel ke kamar nya saja. Bicaralah dengan Mas Sandy," ucap Rachel.
"Tunggu, biar Mas antar kalian ke kamar," Ramos berdiri dari duduknya dengan mengangkat putra yang yang terlelap. Jiwa posesif nya belum juga hilang.
"Ayo Mas,"
Sandy memutar bola matanya malas. Ramos seperti penggantin baru saja yang ingin menempel terus pada istrinya. Seperti prangko yang tidak mau lepas jika belum dibeli.
"Mandilah, Son. Kita makan malam bersama," suruh Benedicto. "Anak-anak, ayo temani Opa ke taman," ajak Benedicto.
"Iya Opa," ketiga nya menurut.
"Papa, mandi saja. Nanti susul kami ditaman. Kami mau bakar-bakar," ucap Gilbert.
"Bakar-bakar apa Son?" tanya Sandy penasaran.
"Bakal-bakal sampah Pa," jawab Gerra mewakili.
Benedicto tersenyum simpul. "Ayo," ajaknya.
Sandy menatap punggung ketiga anak kembar itu bersama Ayah nya. Melihat anak-anak itu mengembalikan nya pada memori perjuangan Rachel saat bersama nya. Sandy sekarang sadar, bahwa tidak semua orang yang singgah itu akan menjadi bagian dari hidup. Faktanya Rachel, ia sudah melakukan segala hal agar wanita itu jatuh cinta padanya. Namun lihatlah sekarang, Rachel telah menemukan belahan jiwanya. Sementara Sandy masih betah dalam kesedihan.
"Bagaimana pekerjaan mu?" Ramos kembali duduk disamping sahabat nya itu
__ADS_1
"Huffh. Berat," keluh Sandy. "Aku harus kejar-kejaran antara rumah sakit dan kantor," jawab Sandy bernafas panjang. "Seperti nya aku perlu meminta padamu, agar mencarikan ku pengganti," ucap Sandy. Sebenarnya ia sudah tak ingin terlibat mengurus rumah sakit Ramos. Namun, Ramos terus memaksanya karena hanya Sandy yang Ramos percaya untuk mengelola rumah sakit miliknya itu.
Ramos terkekeh. "Siapa? Kecuali kau sudah menikah, dan istrimu akan menjadi orang kepercayaan ku kedua," jawab Ramos.
Sandy mencebik kesal. Ramos sama sekali tak mau melepaskan nya. Padahal Sandy ingin fokus mengelola perusahaan Benedicto tanpa sibuk-sibuk menjadi dokter lagi.
Sejenak keduanya terdiam seperti sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Sandy," panggil Ramos.
"Kenapa?" tanya Ramos.
"Apa kau tak ingin menikah dan memiliki keluarga?" Ramos menatap Sandy serius.
"Aku, aku tidak tahu. Aku belum menemukan wanita yang tepat," jawab Sandy.
"Kau takkan mendapatkan nya jika kau tidak mencarinya," sahut Ramos. "Bukalah hati mu untuk wanita lain. Kau tidak bisa hidup sendirian selamanya. Kau butuh teman hidup, kau butuh anak setidaknya mereka akan menemanimu saat kau tua nanti. Istri, ia akan menjadi seseorang yang menemani mu sepanjang usia," jelas Ramos.
"Aku tahu tidak mudah melupakan masa lalu. Tapi cobalah, sekali saja. Lupakan masa lalu dan hiduplah dengan baik untuk masa depan," tutur Ramos lagi.
Sandy mengangguk paham. Entahlah, ia belum siap untuk mencari jati baru. Hatinya masih milik almarhum kekasihnya. Tidak mudah. Bahkan sudah berlalu selama sepuluh tahun tapi ia belum juga bisa melepaskan wanita itu dari bayang-bayang nya.
"Pikirkan baik-baik ucapanku," Ramos menepuk bahu Sandy. "Ohh ya mungkin aku sedikit lama di Indonesia karena sedang meninjau beberapa proyek disini. Jadi kau bisa belajar masalah asmara padaku," ucap Ramos sambil tertawa lebar.
"Ck, aku tidak butu guru untuk belajar," tolak Sandy. "Kenapa Rachel dan anak-anak diajak?" tanya Sandy tak habis pikir.
"Hah, kau tahu aku tak bisa jauh dari Rachel. Enak saja, mana bisa aku meninggalkan nya sendiri di Sidney. Apalagi disana banyak bule-bule tampan dan muda, aku takut mereka mendekati istriku," jawab Ramos
Sandy menggeleng saja. Singa pencemburu ini jiwa nya tak berubah sama sekali. Siapa juga yang mau mendekati istrinya. Semua orang juga tahu jika Rachel istri Ramos. Jadi tidak perlu di jaga seperti telur.
"Iya. Iya," Sandy berdiri dari duduknya. "Dasar bucin," cibir Sandy. "Aku mau membersihkan diri dulu,"
"Makanya menikah, baru kau paham betapa senang nya memiliki istri!" Seru Ramos sambil tertawa menggoda.
Sandy tak menanggapi. Ia melangkah lebar menuju kamarnya sambil melepaskan jas putih kebanggaan nya.
Sandy masuk kedalam kamarnya. Lelaki tampan itu duduk dibibir ranjang dan melepaskan sepatu yang membungkus kakinya.
__ADS_1
"Ahh aku malas sekali mendengar kata menikah," ucap nya menghembus nafas kasar. "Mau menikah juga dengan siapa? Aku bahkan tak tertarik sama sekali dengan wanita-wanita genit itu," ucap Sandy pada dirinya sendiri.
Bersambung....