Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Permintaan Nirmala


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Sayang," Benedicto menggenggam tangan sang istri. Beberapa waktu terakhir kondisi Nirmala menurun, akibat imun depresi akut yang dia derita sehingga menjelajar dibagian otak dan menyebabkan cairan masuk kedalam otaknya atau yang biasa dikenal dengan TBC otak.


"Maafkan aku," lirih Benedicto. "Bertahanlah. Kau harus bahagia bersama ku. Sekarang kita sudah menemukan putri kita. Menemukan cucu-cucu kita. Apa kau tak ingin lebih lama lagi bersama ku," ungkap Benedicto.


Saat ini mereka kembali ke Sidney melakukan beberapa pengobatan untuk Nirmala. Benedicto membawa Nirmala kerumah sakit yang fasilitas nya lengkap dan canggih.


"Kau harus kuat," Benedicto mengusap kepala istrinya yang tertidur.


Kondisi Nirmala semakin hari semakin menurun. Cairan yang masuk kedalam otaknya membuat wanita tersebut mengalami kelumpuhan otak. Beberapa kali mengalami koma. Namun karena peralatan medis yang canggih mampu membuat wanita paruh baya itu bertahan hingga kini.


"Maafkan aku yang gagal menjagamu Sayang. Maafkan aku," berkali-kali pria paruh baya itu mencium punggung tangan istrinya.


"Ayah,"


"Opa,"


Benedicto langsung melihat kearah pintu masuk. Tampak Rachel dan anak-anak nya datang. Mereka kembali pulang ke Sidney karena Ramos akan melakukan operasi dirumah sakit ini.


"Rachel," Benedicto langsung berdiri menyambut putri semata wayang nya itu.


"Ayah," Rachel memeluk Benedicto. "Maafkan Rachel Ayah. Rachel baru bisa datang sekarang," cicit Rachel memeluk Ayah nya itu.


"Tidak apa-apa Nak," Benedicto mengusap kepala Rachel dengan sayang. Benedicto masih terasa bermimpi saat Rachel memeluknya seperti sekarang karena dia tahu betapa kecewa nya putri semata wayang nya itu.


"Bagaimana keadaan Bunda, Ayah?" Rachel melepaskan pelukan nya.


Benedicto menggeleng dengan lemas. "Belum belum ada perubahan Sayang," Benedicto menatap istrinya dengan sendu. "Kata dokter cairan itu sudah masuk ke bagian syaraf otak Bunda," sambungnya kemudian terdengar sendu.


"Opa,"


"Cucu Opa," ketiga anak kembar itu memeluk sang Kakak.


Gerra sangat senang karena dia memiliki tiga kakek dan tiga Ayah serta memiliki tiga nenek. Namun dia hanya memiliki satu Ibu. Gerra bahagia karena dia selalu disayang dan dimanjakan oleh keluarga kandung dan keluarga angkatnya.


Rachel berjalan menghampiri Nirmala. Hatinya mencelos sakit seperti sedang disayat oleh benda tajam ketika melihat Nirmala yang terbaring tak berdaya diatas ranjang. Rachel merasa bersalah karena dia pernah menolak orang tua kandungnya. Dia tidak memberi kedua orang tua nya kesempatan kenapa membuangnya? Sekarang Rachel merasa menyesal.


"Bunda," lirihnya.


Dia duduk dikursi samping ranjang Nirmala sambil menatap wanita paruh baya itu dengan air mata luruh. Tubuh Rachel serasa melemas melihat betapa kurus nya sang Ibu. Entah apa saja yang sudah dilewati oleh wanita itu sehingga kurus seperti ini.

__ADS_1


Rachel menggenggam tangan wanita paruh baya itu. Padahal mereka baru saja bertemu beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang, harus menghadapi penyakit mematikan seperti ini.


"Bunda, ini Rachel," lirih nya.


Nirmala mengalami depresi berat sejak kematian Rebecca. Apalagi disaat itu dia juga mencari keberadaan Rachel. Hingga wanita itu tak mengurus diri. Hari-hari nya dia habiskan untuk menangisi kepergian kedua putrinya berharap sesuatu yang telah pergi bisa datang kembali padanya.


Tangan Nirmala bergerak. Seolah dia bisa merasakan sentuhan genggaman tangan Rachel padanya. Bulu mata lentik nya bergerak-gerak.


"Bunda,"


"Sayang,"


"Oma,"


Mata wanita paruh baya itu terbuka. Dia seolah ditarik dalam dunia mimpi untuk kembali ke dunia nyata. Ada sebuah sentruman memiliki daya yang menarik nya hingga bisa kembali kedunia nya.


"R-rachel," panggilnya. Sejak mengalami kelumpuhan otak, Nirmala tidak bisa berbicara dengan suara tembus.


"Iya Bunda, ini Rachel," ucap Rachel menggenggam tangan Nirmala dengan erat.


Sedangkan Benedicto langsung memanggil Sandy dan dokter lainnya agar memeriksakan kondisi Nirmala. Semoga Nirmala bisa sembuh, itulah harapan dan doa Benedicto. Dia ingin hidup bahagia di masa tua nya bersama istri serta anak dan para cucunya. Semoga Tuhan memberi nya kesempatan untuk bahagia kali ini saja.


"Bunda," panggil Rachel.


"Oma," panggil ketiga anak kembar Rachel bersamaan.


"Bunda kenapa?" Tanya Rachel lembut sambil mengusap lengan Ibu nya. " Ini Rachel, Bunda. Rachel merindukan Bunda," ucapnya terdengar lirih seperti ada tangis tertahan yang tidak bisa dia keluarkan.


"R-r-ac-h-el," tatapan mata Nirmala tampak sendu.


"Iya Bunda," Rachel sungguh tak tega melihat kondisi Ibunya. "Dimana yang sakit Bunda?" Sambungnya


Nirmala masih menatap Rachel. Air matanya luruh. Dia tidak bisa bergerak. Bersamaan dengan otaknya yang lumpuh seluruh anggota tubuh yang lainnya pun ikut lumpuh dan tak bisa digerakkan.


"Bunda kenapa? Jangan menangis Bunda. Ini Rachel. Rachel berjanji tidak akan meninggalkan Bunda lagi. Rachel berjanji tidak akan pergi lagi. Rachel akan jaga Bunda. Kita akan bersama selamanya bersama Ayah dan keluarga kecil Rachel, Bunda,"


Ketiga anak Rachel ikut mengurut bagian tubuh Nirmala yang lainnya. Seperti tangan dan kaki. Padahal Gerald paling suka bermain dengan Oma nya tersebut, karena Nirmala lucu.


"R-rachel. Ma-maafkan Bun-da,"


Rachel menggeleng. "Bunda tidak salah. Jangan minta maaf. Justru Rachel lah yang harus minta maaf karena belum bisa menjadi anak yang baik buat Bunda," tuturnya. "Bunda cepat sembuh yaaa, nanti kita bisa masak. Bersama lagi Bunda," ucap Rachel menyeka air matanya. Dia sangat senang bisa diberikan kesempatan untuk masak bersama Nirmala.

__ADS_1


"R-rachel,"


Seperti ada sesuatu yang ingin Nirmala katakan namun lidahnya masih kelu dan mulutnya terkunci untuk mengeluarkan suara dari dalam mulutnya.


"Sayang kenapa?" Tanya Benedicto ikut menimpali.


Sandy turut merasakan kesedihan melihat kondisi Nirmala. Bagaimana pun Nirmala adalah sosok mertua yang baik untuk Sandy. Bahkan Sandy sudah menganggap wanita itu sebagai Ibu kandungnya sendiri.


"R-rachel," Nirmala masih saja memanggil putrinya.


"Bunda ada apa? Ayo katakan pada Rachel, Bunda ingin apa?" Tanya Rachel


"Bu-bu-nd-a m-min-ta ma-aaf karena be-lum bi-sa ja-di I-bu yang ba-aik unt-uk mu," suara Nirmala sudah tak tembus dan bahkan hampir tak bisa didengar oleh telinga Rachel dan Benedicto.


"Bunda sudah menjadi Ibu yang baik buat Rachel. Bunda adalah, Ibu terbaik bagi Rachel. Jadi Bunda harus bertahan apapun yang terjadi," lirih Rachel dengan lelehan bening dipipinya.


Ingin sekali rasanya Nirmala menyeka air mata putrinya. Namun tangannya tak bisa digerakkan sama sekali.


"M-mas," panggil Nirmala pada suaminya.


"Iya Sayang kenapa?" Tanya Benedicto lembut


"T-olong ber-rikan gin-jal ku pad-a putri ki-ta," pinta Nirmala, untuk berbicara saja wanita itu tampak kesusahan.


Rachel menggeleng tidak mau. "Rachel tidak mau Bunda. Rachel tidak mau. Rachel kuat dengan satu ginjal ini,"


"R-rachel, B-un-da p-am-it,"


Tit tit tit tit tit tit tit tit


"Bunda,"


"Nirmala,"


**Bersambung**


Makasih buat kalian yang masih nungguin


mohon maaf sekali kemarin update 1 bab.


author tinggal dikampung lampu mati tiba-tiba dan sinyal juga hilang karena author pake orbit yg dicolokkan langsung di listrik. kalau lampu mati otomatis Sinjal juga hilang..

__ADS_1


author sampai nangis Mikir cara update. Untung nya masih bisa sistem tempel hp di dinding.. sampai sekarang lampunya belum hidup 😭


maaf jadi curhat guys


__ADS_2