Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Menyusul


__ADS_3

"Mas bawa aku ke Sidney aku ingin bertemu anak kita. Aku mohon Maaf," pinta Nirmala sambil menangis pada suaminya.


"Nirmala, kau belum sembuh bagaimana bisa kita kesana. Kau juga tahu bahwa putri kita takkan menerima kita kembali," ujar Benedicto.


"Aku ingin bertemu dengannya Mas. Aku tidak peduli dia menolak. Aku ingin bertemu dengannya," Nirmala masih tetap memaksa.


Benedicto menghela nafas panjang. Dia baru mendapat kabar dari Ozawa bahwa putrinya sudah mendapatkan donor mata. Dan Benedicto tidak yakin jika Rachel akan menerima kedatangan mereka. Rachel sudah terlalu banyak terluka. Dengan kedatangan mereka akan menambah luka dihati Rachel.


"Ayo Mas," paksa Nirmala.


Benedicto mengangguk. "Ya Sayang," Benedicto mengalah.


"Aku tidak sabar bertemu putri kita," serunya sumringah.


Benedicto menatap istrinya kasihan. Sebenarnya dia tidak ingin menyusul Ozawa dan Maria ke Sidney tapi karena tidak tega melihat istrinya. Benedicto pun terpaksa harus berangkat kesana.


Benedicto dan Nirmala menyusul ke Sidney. Nirmala tampak tak sabar bertemu dengan putrinya itu. Seketika gangguan jiwanya seolah hilang ketika mendapat kabar bahwa putrinya akan kembali melihat. Nirmala tak sabar. Tak sabar bertemu dengan putri semata wayangnya itu. Semoga Rachel menerimanya kali ini.


Sampai dirumah sakit Rayyan langsung turun dan diikuti oleh wanita yang bersamanya.


"Ck, kenapa kau mengikuti ku? Aku sudah tidak selera membelimu," ketus Rayyan membanting pintu mobilnya dengan kuat.


"Cihhh, siapa juga yang mengikuti mu? Jangan ge-er Tuan, aku memang mau kesini," sahutnya berjalan duluan meninggalkan Rayyan.


Rayyan menyusul wanita aneh itu dengan wajah ditekuk kesal. Kesal sekali karena harinya harus sial bertemu wanita aneh seperti wanita yang baru dia temui tadi.


"Mom,"


"Chicha,"


Ya wanita itu adalah Chicha, adik dari Choky. Dia diminta untuk segera datang kerumah sakit agar bisa menenangkan ketiga bocah kembar yang tengah menangis itu.


Kening Rayyan berkerut heran saat melihat Ayah dan Ibu nya juga ada disana.


"Daddy. Mommy," Rayyan berjalan menghampiri mereka.


"Rayyan apa yang kau lakukan disini?" Tanya Ozawa.


"Kakak dimana?" Rayyan mencari kakaknya itu.

__ADS_1


"Nanti akan Daddy jelaskan," ucap Ozawa.


"Hiks hiks hiks hiks Mommy," tangis Gerra pecah dipelukkan Chicha.


"Daddy. Mommy," Rayyan menghampiri mereka.


"Rayyan apa yang kau lakukan disini?" Ozawa menatap putranya menyelidik sambil menggendong Gerald.


"Kakak dimana Dad?"


"Hiks hiks hiks Mommy," tangis Gerra pecah di pelukkan Chicha.


"Cup. Cup. Jangan menangis ya kesayangan Aunty. Mommy pasti baik-baik saja," ucap Chicha menenangkan Gerra.


Gilbert digendong oleh Morres. Sedangkan Gerald digendong oleh Ozawa. Sedewasa apapun mereka, anak-anak Rachel tetaplah anak kecil yang merasakan takut dan perasaan mereka sangat sensitif. Apalagi Rachel adalah orangtua satu-satunya yang mereka miliki.


"Mommy," Gerald menyembunyikan wajahnya dicekuk leher Ozawa.


Sedangkan Rayyan menatap Chicha yang sedang memeluk dan menggendong Gerra. Tak disangka dunia ini sangat sempit. Bagaimana bisa dia bertemu kembali dengan wanita yang hampir dia beli ini. Huffh, Rayyan harus hati-hati, Chicha bisa saja melaporkan perbuatan Rayyan pada kedua orangtua nya. Bisa berabes hidup Rayyan jika sampai kedua orang tua nya tahu kalau dirinya masih bermain wanita.


Pesawat yang ditumpangi oleh Benedicto dan Nirmala landing di bandara internasional Sidney. Kedua nya turun dengan tak sabar.


"Mas, ayo cepat," Nirmala menggandeng tangan suaminya.


"Pelan-pelan Sayang," tegur Benedicto.


"Aku sudah tak sabar bertemu dengan putri kita Mas," serunya.


Benedicto hanya bisa tersenyum. Dia juga tak sabar tapi lebih sadar diri. Setelah ini mereka akan ditolak oleh putri mereka sendiri.


Keduanya masuk kedalam mobil taksi. Wajah Nirmala terlihat bahagia. Bahkan wanita itu tersenyum seperti orang gila. Dia sudah membayangkan bertemu dengan putri yang sudah dia cari selama puluhan tahun ini.


"Kita langsung ke rumah sakit," ajak Benedicto.


"Iya Mas. Apakah operasi anak kita sudah selesai?" Seru Nirmala.


Benedicto hanya menanggapi dengan senyum. Dia sudah membayangkan bagaimana ditolak setelah sampai dirumah sakit nanti. Pasti tidak akan seperti ekspektasi yang langsung diterima. Atau mungkin mereka akan ditolak disana.


Taksi yang ditumpangi oleh Benedicto dan Nirmala berhenti didepan sebuah rumah sakit besar di kota Sidney. Keduanya memakai mantel tebal sebab musim salju telah tiba. Kalau tidak memakai pakaian tebal keduanya bisa saja beku bersama salju.

__ADS_1


Nirmala berjalan duluan karena tak sabar. Benedicto menyusul istrinya dengan langkah lebar. Wanita itu memang selalu tak sabar jika bersangkutan dengan putri nya yang sudah lama dia cari itu.


"Maria,"


"Nirmala,"


Maria terkejut ketika melihat Nirmala tiba-tiba ada disini. Perjalanan dari Indonesia ke Australia memakan waktu yang cukup lama.


"Maria dimana putriku? Dimana Rayana?" Wanita itu langsung menyelonong masuk


"Sayang sabar," Benedicto langsung menahan istrinya. "Jangan gegabah kita tunggu operasi nya selesai," ucap Benedicto menenangkan.


"Bawa istrimu duduk, Benedicto," ujar Ozawa.


"Ayo duduk Sayang," Benedicto memapah istrinya duduk dibangku tunggu.


"Mas aku ingin bertemu putri kita Mas. Mas aku ingin_" Nirmala langsung terhenti ketika melihat wajah Gerra yang dipeluk oleh Chicha. Wajah nya sangat mirip dengan Rebecca, putrinya yang telah meninggal sepuluh tahun yang lalu.


"Mas kenapa dia mirip Rebecca Mas?" Sambil menunjuk kearah Gerra. "Dia Rebecca kecil kita Mas," serunya seperti orang gila.


"Iya Sayang. Iya," Benedicto berusaha menenangkan istrinya. Istrinya seperti orang yang gangguan jiwa.


Gilbert menatap Benedicto dan Nirmala. Dia tahu jika kedua orang itu adalah Kakek dan Nenek nya, sebab Rachel sudah menceritakan semuanya pada Gilbert. Seandainya Gilbert tidak ingat pesan Rachel agar sopan kepada yang lebih tua, sudah pasti dia akan marah-marah seperti memarahi Daddy-nya kemarin.


Seperti nya Gilbert harus belajar banyak tentang kesabaran dari Ibu nya. Rachel yang tegar dan kuat terhadap badai. Meski dihantam oleh gelombang berulang kali namun tetap berdiri teguh.


"Chicha, bawa Gerra pulang. Sayang, kau juga pulang ya bawa Maria ke rumah. Biar kami para lelaki yang menunggu disini," saran Morres pada istri dan anaknya.


"Tapi Mas aku ingin disini_"


"Tidak apa Sayang, kau tunggu disana saja ya. Biar nanti aku kabarin," sergah Ozawa.


"Benedicto sebaik nya bawa dulu istri mu pulang. Rumah sakit tidak baik untuknya. Nanti akan kami kabari masalah perkembangan Rachel," ujar Ozawa.


"Baik,"


Meski menolak berulang kali. Namun Benedicto berhasil membujuk Nirmala agar mau pulang dan menunggu di apartemen yang sudah Benedicto beli jauh-jauh hari.


Begitu juga Maria dan Lewi yang awalnya menolak untuk pulang, namun akhirnya pulang setelah di bujuk dengan susah payah.

__ADS_1


***Bersambung....


Jan lupa like komen vote dan gifts ya guys***


__ADS_2