
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Rachel menata makanan itu dengan rapih diatas meja. Kemampuannya dalam memasak tak perlu diragukan lagi. Selain pekerjaannya dulu yang sebagai seorang koki dia memang gemar memasak dan bahkan pernah bercita-cita menjadi guru masak.
Rachel membuat berbagai jenis masakkan yang sering dia buat di restaurant bersama Choky. Pengalaman berharga itu akan Rachel bawa sampai nanti.
Setelah selesai, dia berjalan kearah kamarnya. Dia menghela nafas panjang dan berharap untuk kali ini suaminya itu tidak akan menyakitinya lagi.
Rachel masuk dengan pelan ke dalam kamar. Kamar mereka hanya satu. Ramos memang tidak suka banyak kamar di apartemennya. Lagian dia jarang menerima tamu selain Agnes yang memang selalu satu ranjang dengannya.
Tampak Ramos tengah memangku laptop di pangkuannya dengan ditemani secangkir kopi. Sesekali dia menyesap kopi itu, kopi buatannya sendiri. Dia tidak suka apapun yang dimasak Rachel. Bahkan selama mereka menikah dia tidak pernah menyentuh masakkan istrinya itu.
Rachel mengambil pakaiannya di almari kecil. Ramos hanya menyediakan lemari kecil itu untuk menyimpan baju-baju istrinya. Lemari yang sebenarnya tidak layak digunakan lagi, lemari lusuh yang sengaja dia beli untuk istrinya. Karena bagi Ramos, Rachel adalah barang lusuh yang tak berharga.
Gadis itu masuk ke dalam kamar mandi dengan cepat. Sebelum suaminya merasa terganggu dan nanti malah menyakiti dirinya lagi.
Ramos mengintip Rachel dengan ekor matanya. Pria itu tersenyum sinis dan sekaligus jijik.
"Ini belum seberapa ada adegan yang lebih seru lagi yang harus kau saksikan. Nantikan saja!" gumamnya sambil mengotak-atik laptopnya.
Rachel membuka bajunya pelan. Bekas cambukan Ramos kemarin masih belum sembuh dan terkadang lukanya melekat di baju yang Rachel pakai hingga menimbulkan rasa perih dan sakit dibagian tubuhnya.
"Tahan, Rachel. Tahan." Dia mengigit bibir bawahnya.
"Argh kenapa perih?" jeritnya berusaha agar tak berusaha keras takut nanti Ramos mendengar dan malah menambah luka di tubuhnya.
Air mata gadis itu berderai menahan perih di tangannya yang melepuh akibat terkena air sup tadi.
"Tuhan, kenapa sakit sekali?" ringgisnya dengan rintihan pelan.
Cukup lama gadis itu membersihkan diri dan dia harus hati-hati takut luka dibagian tubuhnya terasa perih lagi.
Rachel menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Gaun yang diberikan Heru tadi sangat pas di tubuh rampingnya. Dia memang semakin kurus tidak hanya kurang makan tetapi juga kurang tidur, karena tidur di lantai sangat dingin hingga membuat matanya enggan terpejam
"Wajahku pucat sekali," sambil memegang wajahnya. "Mataku sembab. Kalau begini Daddy dan Mommy bisa curiga." Dia menarik nafasnya panjang.
Rachel keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap.
Dia berjingkrak kaget saat melihat Ramos sudah berdiri di depannya sambil melipat tangan di dada dan menatapnya dengan benci.
"Apa saja yang kau lakukan. Kenapa lama sekali?" tanyanya mengintrogasi.
"M-maaf, Mas." Rachel menunduk.
__ADS_1
Ramos melirik Rachel dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tak bisa dipungkiri bahwa tubuh Rachel termasuk ideal. Apalagi gaun itu melekat dengan pas di tubuhnya dan menampilkan lekuk tubuh sang istri yang begitu menggoda.
"Hem."
Pria itu mengangkat dagu Rachel dan menatap mata sendu sang istri. Lalu dia mencekik leher Rachel.
"Daddy dan Mommy sudah datang. Berdandan lah secantik mungkin dan hilangkan mata panda mu itu. Ingat kita harus bermesraan seperti pasangan pada umumnya. Jika sekali saja kau melakukan kesalahan. Maka jangan salahkan aku untuk menghancurkan hidup mu," ancamnya sembari mengeratkan tanyanya di leher gadis itu.
"Cepat sana!" Dorongnya.
"I-iya, Mas." Rachel menurut.
Rachel berjalan menuju meja rias. Sedangkan Ramos mengawasi gadis itu sambil menunggu dan melihat arloji yang melingkar di tangannya.
Rachel mengambil foundation dan menempelkan alas bedak itu ke wajahnya. Gadis itu merias diri, dulu sewaktu jadi koki dia sering merias dirinya agar terlihat menarik di mata para pelanggan.
Selang beberapa menit gadis itu sudah selesai merias dirinya. Kantong matanya tertutupi oleh foundation dan bekas kemerahan di dagunya juga tidak terlihat.
Sejenak Ramos terpesona. Namun, dengan cepat dia menggeleng dan menepis perasaannya itu.
"Ayo." Dia menarik tangan gadis itu.
"Dan ingat harus mesra. Jangan pasang wajah sedihmu itu," tegasnya memperingatkan.
"I-iya Mas." Lagi-lagi Rachel hanya menurut.
"Rachel."
"Mom." Rachel menyalami Maria dan wanita paruh baya itu malah memeluk menantunya.
"Apa kabarmu, Nak? Kau cantik sekali," puji Maria melepaskan pelukannya.
"Rachel baik-baik saja, Mom," sahutnya sambil tersenyum hangat.
"Dad." Dia menyalami Ozawa.
"Iya, Nak." Ozawa tersenyum hangat sambil mengusap kepala menantu kesayangannya ini.
"Apa kabarmu, Nak?" tanyanya tersenyum ramah.
"Rachel sehat, Dad." Senyumnya manis sekali seolah tanpa beban.
"Mas Ray." Dia juga menyalami adik iparnya.
__ADS_1
Rayyan menatap Rachel tak berkedip. Sungguh pesona istri kakaknya ini membuat dia terbang melayang dan seolah lupa dunia akhirat.
"Jangan lama-lama." Ramos menarik tangan Rachel dijabat lama oleh Rayyan.
Entah kenapa dia tidak suka melihat tatapan Rayyan pada Rachel?
"Astaga Kak, pelit," cibir Rayyan.
"Makanya menikah sana," ketus Ramos.
Mereka yang lain hanya terkekeh. Ramos dan Rayyan kalau bertemu memang seperti anjing dan kucing selalu saja bertengkar.
"Kau tenang saja, Kak. Aku memiliki banyak gadis yang siap menikah denganku," ucapnya menyombongkan diri.
"Cih, kenapa sekarang masih tidak laku?" singgung Ramos, dia tanpa sadar memeluk pinggang Rachel. Mereka masih duduk di sofa dan belum menuju meja makan.
"Bukan tidak laku. Memang aku pemilih saja orangnya," sahut Rayyan masih membela diri.
Rachel sebenarnya risih ketika Ramos memeluk pinggang nya. Namun, dia tak bisa menolak. Seperti kesepakatan mereka tadi bahwa di depan orang tua Ramos keduanya harus bermesraan.
Rachel tak menyangka jika bersama keluarganya Ramos akan sangat hangat dan kenapa saat bersama dirinya justru seperti monster yang begitu menyeramkan?
.
.
.
.
"Bu." Rima duduk di kursi meja makan.
"Iya kenapa, Rima?"
"Kok Kakak tidak pernah mengunjungi kita , Bu?" Rima menghela nafas panjang. "Rima rindu Kakak," sambungnya sendu.
"Ibu juga rindu, Nak. Tapi kakak 'kan sedang bersama suaminya. Kita tidak bisa menganggu. Pasti kakak sedang sibuk mengurus suaminya," tutur Irana lagi sambil mengambilkan putrinya makanan.
Mereka memang hanya tinggal berdua. Sesekali Choky dan Ayunia mengunjungi mereka serta bertanya di mana Rachel tinggal. Irana dan Rima saja tidak tahu kemana Rachel tinggal. Karena tempat tinggal Rachel seolah tak boleh diketahui oleh siapapun.
"Makanlah,Nak! Jangan lupa minum obat setelah ini," ujar Irana meletakkan piring di depan putrinya.
"Terima kasih, Bu," sahut rima sambil memaksakan senyum
__ADS_1
'Rachel apakah kau baik-baik saja, Nak? Kenapa rasanya Ibu khawatir sekali? Ibu bisa merasakan bahwa di sana kau sedang tidak baik? Apa yang terjadi padamu,Nak?" batinnya
Bersambung......