
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ramos menghentikan aksinya. Dia segera memakai pakaiannya. Melihat Rachel yang terdiam dengan tatapan kosong seperti itu membuatnya merasa ada yang aneh dengan dirinya.
“Kenapa sayang? Sayang aku belum mencapai puncak kenikmatan!” Renggek Agnes. Bagaimana tidak kesal, dia belum merasakan apa-apa Ramos sudah menghentikan aksi kegiatan.
Ramos tak mendengar ucapan Agnes. Dia malah turun dari ranjang dan melepaskan ikatan tali ditangan dan kaki istrinya. Ramos juga melepaskan kain yang menutup mulut istrinya. Kenapa dengan hatinya melihat Rachel hanya diam membuatnya sedikit terganggu.
Pandangan keduanya bertemu. Tatapan mata Rachel terlihat begitu sendu dan menyedihkan. Ada kepatahhatian. Ada kehancuran disana.
“Bersihkan dirimu.” Ucapnya setelah lama menatap bola mata itu “Ayo sayang.” Ramos menarik tangan Agnes keluar dari kamarnya lalu membawa wanita itu pergi.
Rachel masih terdiam disoffa dengan tatapan kosongnya. Dia bahkan tak menyadari ketika suaminya sudah pergi. Rachel menatap pintu kamar yang terbuka. Adengan panas suaminya dengan kekasih dari suaminya itu membekas diingatan Rachel. Rachel merasakan hatinya hancur berkeping-keping.
“Aku bahkan sudah tak bisa lagi menangis. Ada apa denganku? Kenapa air mataku tak bisa lagi menetes?” Gumam Rachel panic. Bagaimana kalau dia mati rasa karena terlalu disakiti oleh suaminya?
Gadis itu berdiri dari sofa. Penampilannya sungguh memprihatinkan. Tubuh yang kurus dengan rambut yang hampir semua. Rambutnya nyaris hanya meninggalkan kepala plontos, jika saja di kikis sudah pasti dia akan seperti tuyul.
Rachel berjalan pelan menuju kamar mandi. Tangan dan kakinya memar akibat ikatan tali yang sangat kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan disana.
Gadis itu berjalan sambil menyeret kakinya. Tubuhnya belum benar-benar pulij, kemarin bahkan dia dioperasi dan luka itu masih ada. Luka tubuh dan luka batin saling mengangga disana. Rachel tidak tahu apakah dia masih bisa menangis setelah ini.
Gadis itu membersihkan dirinya dikamar mandi dengan meringgis kesakitan saat air itu mengenai luka dipunggungnya. Luka bekas cambukan Ramos belum benar-benar pulih. Kemarin Ramos menginjak jari-jarinya dengan sepatu hingga membuat jari-jari Rachel luka dan mengeluarkan darah.
Gadis itu menatap pantulan tubuhnya dikamar mandi. Tubuh yang kurus seperti orang yang tidak makan. Bekas-bekas kemerahan itu masih tercetak jelas disana. Dan anehnya kenapa air matanya tak bisa lagi keluar? Apa benar jika dia sudah mati rasa?
Rachel keluar dari kamar mandi. Dia menuju almari kecil tempat pakaianya. Sejenak gadis itu menatap lantai yang menjadi tempat tidurnya setiap malam.
Drt drt drt drt drt drt drt
Rachel mencari benda pipih itu yang dia letakkan ditasnya, karena dia jarang memegang ponsel takut ketahuan suaminya.
“Hallo.”
Brakkkkkkkkkkkkkkkkk
__ADS_1
Ponsel itu langsung terjatuh dilantai saat mendengar penjelasan dari orang diseberang sana. Serasa seluruh tubuhnya melemas. Seolah aliran darah dalam tubuhnya berhenti mengalir. Dunianya terasa runtuh dan lagi kenapa air matanya tak bisa keluar? Ada apa ini, apa dia masih memiliki perasaan?
Rachel merampas tasnya lalu memasukan dompet dan ponselnya kedalam tasnya. Dia memakai topi dan tak lupa jacket untuk menutupi luka dibeberapa bagian tubuhnya yang lain nya.
Gadis itu bergegas keluar dengan tangan dan kaki yang bergemetaran. Bahkan dia berjalan sempoyongan seperti orang gila. Entah lupa atau sengaja Ramos tidak mengunci pintu apartement sehingga gadis itu bisa keluar.
Rachel keluar dengan langkah tergesa-gesa. Dia pikir dia takkan bisa menangis lagi tapi nyatanya kenapa pipinya tiba-tiba basah. Dia tidak tahu kapan dia menangis.
Gadis itu berjalan keluar dari apartement elit itu. Tanpa peduli dengan tatapan aneh para tentangganya. Mungkin karena mereka tidak pernah melihat Rachel keluar sehingga mereka tidak kenal Rachel dan menatap gadis itu dengan aneh. Apalagi Rachel yang hanya memakai topi dan berjalan sempoyongan seperti orang gila.
Rachel melambai taksi yang kebetulan melintas. Jam menunjukkan pukul Sembilan malam. Hampir tengah malam begini ternyata masih ada taksi yang lewat mungkin karena keuntungan sedang berpihak padanya.
Rachel masuk kedalam mobil dengan sesekali mengigit bibir bawahnya seperti orang gila. Air matanya luruh tanpa permisi. Aneh kenapa sekarang dia bisa mennagus kenapa saat melihat kekejaman suaminya tadi dia tak bisa menangis?
Sampai dikediamannya. Rachel turun dari mobil. Jantungnya berdegup kencang ketika melihat banyak tamu dan bahkan ada tenda didepan rumahnya. Benarkah?
“Ibu.” Lirihnya
Rachel berjalan masuk dengan tatapan melekat kedepan dan air mata berderai membasahi pipi cantiknya. Meski rambutnya tak ada lagi tapi tak mengurangi kecantikan diwajah gadis itu.
Choky, Ayunia dan Alvan melihat kearah pintu masuk. Tampak Rachel yang berdiri dengan tatapan kosong
"Rachel." Gumam Choky.
"Rachel." Ayunia juga menatap sahabatnya itu.
"Kakak." Rima berhambur memeluk Rachel sambil menangis.
Rachel memejamkan matanya menahan sakit dibekas Operasi nya kemarin.
Choky, Ayunia dan Alvan juga ikut berdiri dan menyambut kedatangan gadis itu.
"Kakak, Ibu Kak. Hiks hiks. Ibu Kak." Adunya.
Rachel mengusap kepala adiknya. Tatapannya tertuju pada seseorang yang terbaring dengan ditutupi kain itu. Jantungnya seolah berhenti berdegup.
__ADS_1
"Rachel." Choky menatap gadis itu dan langkahnya terhenti ketika melihat penampilan Rachel yang jauh berbeda dari sebelum nya.
Rachel berjalan menghampiri seseorang yang terbaring kaku dengan lain putih yang menutupi seluruh tubuh dan wajahnya.
"Ibu." Teriaknya
"Ibu." Dia berteriak histeris sambil memeluk badan kaku tak berdarah itu.
"Kenapa Ibu pergi? Kenapa Ibu juga meninggalkan ku Bu? Kenapa? Kenapa Bu? Kenapa?" Tangisnya semakin pecah.
"Bu, maafkan Rachel Bu. Maafkan Rachel. Maafkan Rachel. Tidak seharusnya Rachel meninggalkan Ibu sendirian. Maafkan Rachel Bu. Bangun Bu, bangun." Tangisnya.
Ayunia memeluk Rima yang juga tampak histeris sambil berteriak. Yang lain ikut meneteskan air mata mendengar rintihan Rachel.
"Bu." Rachel membelai wajah pucat dan dingin itu "Ada banyak hal yang ingin Rachel ceritakan pada Ibu! Bu, tolong buka matamu. Bukankah Ibu bilang ingin bertemu denganku Bu? Ibu bilang ingin melihat ku bahagia! Sekarang aku sudah menikah dan bahagia Bu." Sambil membelai wajah wanita yang terbaring tanpa nafas itu
Rachel mengenggam tangan Irina yang dingin dan juga kaku.
"Bu, kenapa tangan Ibu dingin? Apa Ibu kedinginan? Biar Rachel peluk ya Bu." Gadis itu kembali memeluk jenazah sang Ibu sambil menguncang nya beberapa kali.
"Bu, kenapa masih dingin kan sudah Rachel peluk Bu?" Dia kembali memeluk tubuh wanita paruh baya itu berharap pelukan nya dapat membangunkan wanita itu dari tidurnya.
Choky menyeka air matanya. Bahkan pria yang biasanya menampilkan wajah dingin itu pun kini terlihat rapuh. Jantungnya berdegup saat bisa lagi melihat wajah gadis yang dia cari selama ini.
Bersambung....
Ehem...
Mungkin banyak yang nanya Thor kapan sih penderitaan si Rachel berakhir? Oke tunggu sebentar lagi, akan segera berakhir kok. Kita tunggu si Ramos menyesal dulu.....
Doain semoga author up nya banyak2.
Sebenernya pengen up banyak tapi lagi ada tamu bulanan uhhh mood jadi kacau...
Tapi masksih buat kalian yang udah ikutin. Makasih saran masukkannya ya guys...
__ADS_1
Klw ada typo kalian boleh komen dibawah....