Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Memulihkan diri.


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Mas ini apartemen siapa?" Rachel menutup pintu mobil dan melihat apartemen mewah ini.


"Kita akan bertemu Ibu dan Ayah mu," jawab Choky merangkul bahu Rachel.


Deg


"Mas aku_"


"Mas tahu ini berat Rachel. Tapi berilah mereka kesempatan untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi dimasa lalu. Jika penjelasan mereka tetap tidak bisa membuat mu memanfaatkan mereka, tidak apa-apa itu hak mu," jelas Choky sambil mengusap kepala Rachel yang tinggi nya hanya sebatas dada itu.


Rachel mengangguk. Tapi matanya masih berkaca-kaca. Jujur hatinya benar-benar tak sanggup bertemu kedua orang kandung nya. Rachel belum siap. Tapi benar yang dikatakan oleh Choky, setidaknya Rachel harus memberi kesempatan kepada kedua orangtuanya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kenapa kedua mereka sampai membuang Rachel dengan cara yang tidak layak seperti itu?


"Mas," Rachel mengigit bibir bawahnya. "Tolong jangan jauh-jauh dari aku ya Mas. Sejujurnya aku belum siap Mas. Aku, terlalu banyak menahan sakit didadaku, aku takut meledak dan tidak bisa menahan diri," ucap Rachel menatap Choky dengan tatapan memohon.


Choky mengangguk. Bukan hanya hari ini dia menemani Rachel tapi sudah bertahun-tahun dan Choky harus membunuh perasaan nya sendiri demi kebahagiaan Rachel.


"Ayo masuk. Mereka sudah menunggu,"


"Iya Mas,"


Rachel menghela nafas panjang dan berjalan masuk kedalam lift. Beberapa kali wanita itu menghembuskan nafasnya kasar. Jantungnya berdebar kuat. Entahlah, perasaan nya sekarang kosong.


"You good?"


Rachel mengangguk dan masih menormalkan deru nafasnya. Dia harus bisa menguasai diri sebelum bertemu kedua orangtuanya.


"Rachel," Benedicto terkejut saat membuka pintu melihat wajah putrinya itu


"Silahkan masuk Choky,' ajak Benedicto tapi tatapan matanya masih tertuju pada Rachel.


"Terima kasih Paman,"


"Ayo Hel," Choky masih merangkul bahu wanita itu.


Sedangkan Rachel kaki nya serasa berat untuk melangkah serta badannya yang sedikit bergetar, entah takut atau belum siap bertemu kedua orangtuanya?


"Mas," tangan Rachel sudah dingin.


"Tenang ya. Semua akan baik-baik saja. Genggam saja tangan Mas kalau kau merasa takut,"


Rachel mengangguk dan menggenggam tangan Choky.

__ADS_1


"Minumlah," Benedicto meletakkan dua cangkir teh manis diatas meja.


"Terima kasih Paman," ucap Choky sambil tersenyum.


Benedicto melihat kearah anaknya. Dia senang karena Rachel sudah bisa melihat.


"Rachel," panggil nya.


"I-iya?" sahut Rachel pelan, keringat dingin sudah membasahi dahinya.


"Apa kabarmu Nak?" Tanya Benedicto lembut.


"B-baik," sahut Rachel. Dia masih menunduk.


Benedicto tersenyum kecut. Hatinya kembali tergores saat Rachel masih enggan menatapnya. Benedicto pikir Rachel datang dan memberi maaf padanya. Tapi nyatanya tetap sama, putrinya itu takkan mau memaafkan dan memberi dia kesempatan.


"Di-dimana Bunda?" Tanya Rachel.


Benedicto mendengar tak percaya saat Rachel menanyakan Ibu nya sendiri. Apakah tujuan Rachel datang kesini untuk bertemu sang Ibu?


"Ada dikamar. Kau bertemu dengannya?" Tanya Benedicto terharu. Tak apa jika Rachel tak mampu memaafkannya yang penting mau bertemu dengan istrinya.


"Iya," sahut Rachel singkat padat dan jelas. "Mas," Rachel kembali menatap Choky.


Rachel kembali menggenggam tangan Choky dengan erat. Setidaknya genggaman tangan ini mampu menghilangkan segala rasa yang membuncah didalam sana.


"Ayo," Benedicto berjalan duluan.


Rachel dan Choky menyusul dari belakang dan berjalan dengan pelan. Entah kenapa rasanya Rachel ingin menangis, emosi nya seolah ingin meledak dan marah. Dia marah. Dia kecewa. Kenapa dia dibuang? Kenapa dia tidak dinginkan?


Rachel memeluk lengan kekar Choky. Tubuhnya tiba-tiba panas dingin menahan rasa yang menghantam dadanya agar tidak keluar. Dia harus bisa melawan perasaan nya.


Cekreeeekkkkkk


Benedicto membuka pintu kamar nya. Terlihat Nirmala yang duduk dikursi roda sambil bersandar. Penampilan nya tak terurus dan berantakan.


"Sayang," Benedicto berjalan masuk dan menghampiri istrinya.


Rachel dan Choky juga masuk. Entah kenapa hati Rachel berdenyut sakit melihat penampilan Ibu nya. Apa yang terjadi? Kenapa Ibu nya seperti wanita depresi.


Nirmala langsung menoleh kearah Rachel. Seketika wanita itu langsung berdiri dari kursi rodanya dan berhambur kearah Rachel.


"Rayana,"

__ADS_1


Rachel terkejut ketika sang Ibu memeluknya hampir saja dia terjungkal ke belakang kalau tidak Choky yang menahan tubuhnya.


"Rayana hiks hiks hiks,"


"Rayana hiks hiks hiks,"


.


.


.


.


"Kak makanlah, kau dari kemarin tidak makan. Bagaimana bisa cepat sembuh?" sang adik mendesah karena kakak nya sama sekali tidak mau makan.


Lelaki itu kembali terdiam. Seluruh dunia nya gelap gulita. Apa yang bisa dia lihat selain kegelapan. Begini rasanya menjadi orang yang tak berguna?


"Kakak tidak lapar," sahutnya.


"Tidak lapar bagaimana Kak? Kakak dari kemarin tidak makan. Belum minum obat juga," sang adik mendesah kesal. "Ayolah Kak. Bagaimana bisa kau kembali melihat istri dan anak-anak mu sedangkan kau tak punya usaha untuk bisa melihat kembali," ucap sang adik.


"Sampai kapan pun Kakak tidak akan bisa melihat lagi Raina. Tidak apa. Kakak bahagia sekarang. Disini lebih nyaman. Tenang. Damai," sahutnya lirih.


"Kak," sang adik menggenggam tangan kakak nya. "Kakak harus bisa melihat kembali agar bisa melihat anak-anak Kakak tumbuh. Apa Kakak tidak mau?" ujar sang adik.


Lelaki itu tersenyum kecut dan kalah. Melihat anak-anak nya tumbuh? Tentu saja dia ingin. Tapi apakah semua semudah itu? Bahkan dia sudah berjuang dan mempertaruhkan hidupnya. Tapi tetap saja semua tidak bisa membawanya pada titik kebahagiaan. Mungkin memang seharusnya dia tidak berharap banyak untuk mendapatkan kebahagiaan.


"Kak makanlah sedikit," paksa sang adik.


"Hanya sedikit,"


Sang adik menyuapi kakak nya dengan pelan. Dari kemarin kakak nya itu tidak makan hanya minum air putih sedikit saja. Sang adik takut jika kakak nya malah terjatuh sakit nantinya.


"Kak," sang adik menatap kakak nya dengan berkaca-kaca. "Kau tenang saja ya Kak. Meski semua orang menyalahkan dan tidak menerima mu. Adik mu ini selalu siap menjagamu disini. Jangan takut. Raina berjanji tidak akan meninggalkan kakak. Raina akan menemani kakak sampai nanti. Raina akan bantu kakak supaya bisa melihat kembali. Terima kasih sudah berkorban banyak Kak. Tidak apa menderita untuk orang yang Kakak sayang. Asal semua penyesalan yang mengintimidasi Kakak segera pergi dari kehidupan kakak," wanita beranak dua itu memeluk sang kakak sambil menangis.


Sedangkan suami dan sang asisten ikut menyeka air mata nya. Mereka turut merasakan perasaan yang dirasakan oleh lelaki yang tengah patah hati itu.


"Aku menyanyangi mu Kak. Semoga kelak kau menuai bahagia dari segala pengorbanan yang sudah kau lakukan,"


Lelaki itu memejamkan matanya dan menangis dalam diam lalu membalas pelukan sang adik.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2