
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Bagaimana Heru apa ada kabar tentang istri dan anak ku?" Tanya Ramos dengan setumpukkan berkas diatas meja nya.
"Belum ada Tuan," jawab Heru "Saya sedang mencoba melacak kembali keberadaan Nona Rachel dan Tuan Choky tapi semua informasi seperti nya memang sengaja dibisukan agar kita tidak bisa melacak keberadaan nya," jelas Heru.
Ramos manggut-manggut paham. Sejenak pria itu tampak berpikir.
"Hem, aku ingin bertemu Ayah mertuaku. Antar aku kesana," ajak Ramos berdiri dari duduknya.
"Baik Tuan,"
Ramos melangkah keluar dari ruangan nya. Sejak kejadian naas enam tahun yang lalu mengubah pria itu seratus delapan puluh derajat. Kegilaan nya dalam bekerja semakin menjadi. Dia mengalihkan pikiran nya dipekerjaan itu agar bisa melupakan rasa bersalahnya.
Namun tetap saja rasa bersalah itu terus menggerogoti hati dan jiwanya. Dia tak bisa lepas. Hanya saja dia bisa menguasai pikiran nya hingga tidak stress atau depresi.
Ramos berjanji akan mencari istri dan anaknya. Dia benar-benar ingin menebus semua kesalahannya pada Rachel. Tak peduli jika Rachel menolak atau bahkan memaki-maki dirinya, dia takkan menyerah. Dia akan lakukan apapun untuk menebus kesalahannya pada istri dan anak nya itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Benedicto dingin pada menantunya itu.
"Hem, Tuan Benedicto aku ingin meminta maaf atas semua yang sudah aku lakukan pada Rachel. Aku, aku menyesal," ucap Ramos sungguh-sungguh.
"Perkataan mu sama seperti lima tahun yang lalu, tidak ada yang berubah dari kalimat itu. Tapi sayang ucapanmu takkan bisa mengembalikan putriku kembali," sahut Benedicto dingin "Aku tak habis pikir bagaimana tega nya seorang suami menyiksa istrinya sendiri hanya karena perjodohan yang tidak diinginkan?" Ujar Benedicto lagi.
"Putriku sudah cukup menderita. Dia tumbuh tanpa kasih sayang kami orang tua nya. Tapi kau malah menciptakan neraka sebelum dia meninggal," ucap Benedicto lagi.
Ramos menunduk. Dia selalu di intimidasi dimana pun dia berada dan disalahkan. Dia menyesal. Tapi apakah ucapan menyesal itu bisa mengubah sudut pandang orang-orang terhadap dirinya. Dia tetaplah orang yang menyedihkan karena patah hati atas semua kejahatan yang sudah dia lakukan pada Rachel.
"Aku tahu, aku salah. Tapi izinkan aku sekali lagi mencari keberadaan istriku," pinta Ramos
__ADS_1
Benedicto menatap Ramos bisa dia lihat ada penyesalan diwajah menantunya itu. Penyesalan yang menyiksa dirinya.
"Apakah kau berjanji akan menemukan keberadaan nya?" Tanya Benedicto pada Ramos.
Ramos mengangguk "Aku berjanji. Aku ingin menemukan nya. Aku akan menebus semua kesalahanku padanya," sahut Ramos sungguh-sungguh dengan ucapannya yang ingin menemukan keberadaan Rachel dan anaknya.
"Ramos, aku mendukungmu untuk mencari keberadaan putriku. Tapi berjanjilah padaku bawa dia kembali padaku Ramos. Aku ingin melihat wajahnya. Aku ingin memeluk nya, aku kehilangan dia sejak puluhan tahun yang lalu. Tolong Ramos," ucap Benedicto memohon.
Ramos membalas dengan anggukan dan tersenyum kearah Ayah mertuanya itu.
"Pasti Tuan. Aku akan membawa putrimu. Kau akan memeluk nya dan melepaskan semua kerinduan mu," ujar Ramos matanya berkaca-kaca. Dia benar-benar butuh dukungan untuk mencari Rachel..
"Panggil aku Ayah. Kau adalah menantu ku dan sama seperti anakku juga," Benedicto memberikan pelukan hangat pada Ramos.
"Terima kasih Ayah," balas Ramos.
Heru tersenyum simpul menatap kedua pria itu. Jika saja dari dulu semua orang mendukung Ramos mencari keberadaan istrinya mungkin sekarang Rachel sudah ditemukan. Namun banyak orang yang malah memojokkan Ramos padahal Ramos sudah menunjukkan bahwa dirinya menyesal atas kekejaman nya itu.
Heru memiliki keyakinan tersendiri, dia tak yakin kalau Rachel akan memaafkan Ramos meski pun nanti mungkin mereka menemukan keberadaan Rachel. Terlalu banyak luka yang Ramos turihkan pada istrinya itu.
'Rachel tunggu aku Sayang. Aku akan menemukan mu. Semoga kau memberiku kesempatan untuk kedua kalinya. Cintai aku seperti dulu. Seperti ketika kau masih bersamaku Rachel," batin Ramos penuh harap
"Pa bagaimana kondisi Gerra?" Tanya Gilbert.
Sandy menggeleng "Semakin menurun Son," jawab Sandy lemes sambil duduk.
"Apa tidak ada cara lain San?" Choky ikut menimpali.
"Tidak ada. Tubuh Gerra semakin lemah. Kemoterapi tak benar-benar bisa membuat sel kanker itu mati, justru efek kemoterapi ini membuat tubuh Gerra kehilangan banyak cairan," jelas Sandy.
__ADS_1
"Lalu apa yang akan kita lakukan Pa?" Sambung Gerald dengan mata berkaca-kaca. Dia sudah membayangkan hidupnya yang hampa tak keberisikan adik bungsunya itu.
"Tidak ada cara lain. Selain pencangkokan tulang sumsum belakang," jawab Sandy "Harus Ayah kandung kalian yang melakukan nya," imbuhnya lagi.
Kedua bocah itu terduduk disoffa ruangan kerja Sandy. Di istana mewah itu Choky meminta para pelayan untuk menyiapkan ruangan khusus Sandy agar lebih nyaman untuk berkomunikasi tanpa harus diruangan rawat inap Gerra.
"Bagaimana Son? Apa kalian siap menemui Daddy kalian?" Choky menatap kedua bocah kembar itu.
Gerald mengangguk "Siap Ayah. Tapi jangan beritahukan pada Mommy. Gerald takut Mommy sedih lagi," ucap Gerald.
Sementara Gilbert terdiam. Wajahnya susah ditebak, datar seperti tembok dan dingin seperti kulkas dua pintu.
"Gilbert?" Choky menatap kearah Gilbert.
"Sebenarnya aku tidak mau. Aku tidak mau melihat pria itu. Dia tidak hanya menyakiti Mommy tapi dia juga membuat Mommy trauma berat. Tapi demi Gerra, aku akan lakukan apapun sekalipun harus bertekuk lutut dihadapannya," sahut Gilbert tangannya terkepal kuat ketika mengingat video dimana sang Ayah menyiksa Ibu nya dengan tak berperikemanusiaan.
Choky dan Sandy lagi-lagi tercengang dengan ucapan Gilbert yang seperti orang dewasa. Pemikiran nya dibatas pemikiran bocah berusia lima tahun.
"Ayah. Papa. Gilbert menemui Daddy. Tapi sembunyikan ini pada Mommy. Gilbert tidak ingin pria itu bertemu Mommy, dia tidak boleh melihat Mommy. Dia sudah membuang Mommy, jadi untuk apa dia melihat Mommy lagi," ucap Gilbert.
"Son," Sandy berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Gilbert "Apa kau membenci Daddy?" Sandy menatap anak itu dengan dalam.
Gilbert mengangguk "Aku tidak benci orang nya, aku hanya benci perbuatan nya," jawab Gilbert cepat.
"Son," Sandy menggenggam tangan Gilbert "Bagaimana pun dia adalah Daddy mu. Kau tidak bisa membenci nya. Ada darah nya yang mengalir ditubuhmu,"
"Ini adalah darah sisa yang tidak dia inginkan Pa. Darah yang dia buang tanpa alasan. Aku tahu dia Daddy ku. Tapi untuk memaafkan nya, aku tidak bisa. Kecuali Mommy yang menyuruh ku," tegas Gilbert.
Sandy mengerjab-ngerjabkan matanya berulang kali mendengar ucapan bocah lima tahun ini. Dia menelan salivanya susah payah. Ramos tak hanya menanamkan kebencian dihati Rachel tapi juga dihati anak-anak nya.
__ADS_1
Bersambung...