
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Kamu mau meracuni saya?" tuding Choky. Masakkan Chika benar-benar rasa garam, entah berapa banyak garam yang dia masukkan kedalam masakkannya. Sebagai seorang mantan koki ternama tentu Choky bisa membedakan rasa makanan.
"Yaellah Tuan, jangan menuduh sembarangan," Chika memutar bola mata malas. "Suhuzon sama orang," sambungnya terima di tuduh sembarangan.
"Saya bukan suhuzon. Coba kamu makan, masakkan kamu itu," omel Choky. Cukup Chicha saja yang membuatnya mengomel setiap hari. Jangan ditambah lagi beban pikiran nya dengan sektaris munggil ini.
Chika meremas kedua tangannya sambil menunduk. Ia tadi memang tidak mencicipi masakan nya itu. Dia juga tidak tahu berapa banyak garam yang ia masukkan. Ia asal tuangkan saja.
Choky menghela nafas panjang. Sabar. Seperti nya ia perlu pertimbangkan untuk mempertahankan Chika jadi asisten sekaligus sekretaris nya.
"Kembali ke meja kamu. Bawa berkasnya kesini," titah Choky.
"Iya Tuan,"
Lelaki itu duduk sambil memijit-mijit pelipisnya yang terasa berdenyut sakit. Hilang Chicha datang Chicha. Belum lagi kedua orang tuannya mulai aneh. Rupanya kedatangan mereka ke Indonesia merencanakan perjodohan antara dirinya dan sahabat lama kedua orang tuanya. Bisakah Choky pindah planet saja? Kenapa orang-orang yang ada didekatnya semakin aneh?
"Ini Tuan," Chika meletakkan berkas yang sudah ia kerjakan diatas meja Choky.
"Hem," lelaki itu hanya berdehem.
"Apa perlu saya pesan kan makan Tuan?" tawar Chika. Kasihan juga jika Choky tidak makan gara-gara dirinya.
"Tidak perlu. Nafsu makan saya hilang melihat muka kamu," ketus Choky.
"Ehem, muka saya memang membuat kenyang Tuan. Maklum orang cantik," senyum Chika malu-malu.
Choky mendelik. Ia akui Chika memang cantik. Tapi kalau menyebalkan seperti Chicha sama saja cantiknya menghilang. Kriteria wanita yang disukai Choky itu seperti Rachel, wanita lemah lembut, rendah hati dan pintar masak tentunya.
"Jangan terlalu percaya diri. Kamu itu sama sekali tidak cantik," Choky mendorong kening Chika dengan gemes.
"Awww Tuan," gadis itu meringgis. Kalau bukan karena Boss nya, ia pasti sudah mengajak Choky baku hantam.
"Kembali ke meja kamu," suruhnya. "Bosan saya melihat muka kamu itu,"
Baru hari pertama masuk. Keduanya sudah berdebat. Hal-hal tidak penting pun di perdebatkan. Apalagi Chika hobby nya memang membuat orang lain kesal ingin meminum darah manusia saking kesalnya.
__ADS_1
Chika kembali ke meja nya. Dia berusah tidak membuat orang kesal. Tapi sikap dan ucapannya membuat orang emosi saja. Ini baru hari pertama masuk. Bagaimana besok, lusa dan seterusnya. Apakah mereka akan terus bertengkar seperti hari ini?
Chika menatap makanan buatannya. Bentuknya memang menarik. Tapi entahlah dia belum mencicipi makanannya itu.
Chika memasukkan satu sendok didalam mulut nya. Rasanya seluruh isi perutnya ingin keluar. Benar kata Choky, ini rasanya seperti racun sianida yang mampu melumpuhkan otak.
"Perasaan aku masaknya pakai hati. Kenapa rasanya kek tai," ia mengambil air minum lalu menunggak nya hingga tandas.
Sedangkan Choky memeriksa pekerjaan Chika. Lelaki itu tampak serius membaca laporan yang dibuat Chika. Dia manggut-manggut dan salut juga pada gadis itu.
"Ternyata dia pintar. Walau pun menyebalkan. Pekerjaan nya rapi dan cepat. Hanya saja dia tidak bisa masak," gumam Choky sambil geleng-geleng kepala. "Seperti nya aku menyewa koki baru saja untuk mengajari dia masak," Choky mengubah rencananya untuk mengganti Chika. Gadis itu sebenarnya memiliki potensi dan kemampuan hanya saja sayang dia belum dewasa.
.
.
.
"Kakak ikut," seru Chicha saat Choky dan Chika keluar dari ruangan untuk makan siang.
Mereka bertiga berjalan menuju lift. Chika dan Chicha yang mengekor Choky terus saja berceloteh tidak jelas. Menceritakan drama Korea lah, masalah fashion dan banyak lagi sehingga membuat kepala Choky pusing bukan main.
Chicha sudah berusia 23 tahun, ia baru saja menyelesaikan pendidikan nya. Namun sikap dan tingkah nya seperti anak belasan tahun. Karena terlalu manja dan biasa hidup mewah hingga karakternya tidak terbentuk. Apalagi Lewi memanjakan anak perempuan nya itu seperti ratu, takut sekali kulit Chicha lecek walau hanya tergores sedikit saja.
"Kamu yang menyetir," Choky memberikan kunci mobilnya pada Chika.
"Baik Tuan," Chika mengambil nya dengan cepat.
"Memang kamu bisa menyetir Chika?" tanya Chicha meragukan.
"Bisa Kak," jawab Chika.
Chicha tidak tahu saja. Siapa gadis yang menjadi sekretaris kakaknya itu. Jika ia tahu siapa Chika, pasti ia akan segan dan sedikit takut mencari masalah dengan gadis tomboy itu.
Choky masuk dan duduk disamping kemudi. Sedangkan Chicha duduk sendirian di belakang. Alasan Chicha tetap memilih bekerja karena ia malas di ceramahi oleh sang Ayah setiap hari bangun kesiangan.
"Pasang sabuk anda Tuan," ucap Chika memperingatkan.
__ADS_1
"Saya tahu," ketus Choky.
Chika menyalakan mesin mobil. Lalu gadis itu menancap gas mobil dengan kecepatan tinggi. Ia pernah menjadi juara balap waktu duduk dikelas menengah atas hingga tak heran jika kemampuan nya itu masih berfungsi hingga sekarang.
Choky dan Chicha setengah mati berpegangan. Choky sampai memejamkan matanya ketakutan melihat Chika yang membawa mobil seperti di kejar setan.
Tepat Chika menepikan mobilnya didepan sebuah restourant mahal langganan Choky. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah restourant tempat Choky bekerja dulu. Ketika ia masih menyamar menjadi orang miskin.
"Sudah sampai Tuan,"
Choky dan Chicha keluar dari mobil dan langsing muntah-muntah akibat ulah Chika. Sedangkan gadis itu turun dengan santai.
"Anda baik-baik saja Tuan?" tanya Chika panik. "Kak Chicha?" Chika menghampiri Chicha yang mabuk dan muntah di belakang mobil.
"Chika, lain kali kalau mau mati, kamu sendirian saja jangan membawa-bawa aku," gerutu Chicha dengan lemes nya.
"Maaf Kak," Chika merasa bersalah. "Maaf Tuan Choky," ujarnya menatap Choky yang tampak marah.
"Kamu...."
"Sudah Kak. Jangan marah-marah. Aku sudah lapar," Chicha berjalan duluan. Tenaganya harus kembali diisi setelah sebagian perut nya baru saja dikeluarkan.
"Kamu ya...." Ihhh rasanya Choky ingin meremas wajah Chika tapi tidak tega melihat wajah polos gadis itu. "Lain kali bawa mobil tidak perlu seperti orang balapan. Kamu paham?" tegur Choky.
"Paham Tuan. Sekali lagi maaf,"
Sudah lama tak membawa mobil sekali bawa karena terlalu keasyikan ia sampai lupa diri. Begitulah ciri-ciri Chika.
"Ayo masuk Tuan, anda sudah lapar 'kan?" sengaja gadis itu mengalihkan pembicaraan nya supaya Choky tidak marah lagi.
Choky berjalan duluan dengan wajah ditekuk kesal. Sedangkan Chika diam-diam tersenyum melihat Choky yang kesal.
'Semoga kelak aku tidak mendapatkan suami yang suka marah-marah,' batin Chika.
'Jangan sampai aku menemukan istri seperti nya. Bisa-bisa pendek usia aku,' ucap Choky dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1