
“Hel, hari ini kau sudah boleh pulang,” ucap Sandy setelah memeriksa kembali kondisi Rachel. “Ingat untuk menjaga kesehatan dan untuk sementara pakailah kaca mata karena matamu belum bisa menatap cahaya secara langsung.” Pesan Sandy
“Iya Mas, terima kasih.” Senyum wanita itu
“Yeiiii akhirnya Mommy pulang,” seru Gerra
“Iya Akhirnya Mommy pulang,” sambung Gerald
“Ya sudah kalian turun dulu dari ranjang Mommy, Ayah akan lepaskan infuse dari tangan Mommy,” ucap Sandy terkejut.
“Iya Pa,” ketiga nya menurut.
Maria dan Lewi ikut menjemput Rachel dirumah sakit. Sementara Nirmala masih ditahan oleh Choky dan Sandy di apartemen Benedicto. Untuk sementara Choky dan Sandy tidak mau ambil resiko jika sampai Nirmala bertemu Rachel, itu bisa kembali menguncang jiwa Rachel apalagi Rachel baru sembuh dari penglihatannya.
"Ayo Sayang turun pelan-pelan," Maria menuntun Rachel turun dari ranjang.
"Terima kasih Mom," senyum Rachel.
Setelah mengurus surat menyurat kepulangan Rachel, Choky dan Sandy membawa Rachel pulang ke istana untuk kembali beristirahat disana.
.
.
.
.
"Hel, ini untukmu," Sandy memberikan kotak berukuran sedang dengan dibungkus keras kado pada Rachel.
"Apa ini Mas?" Kening Rachel berkerut dan dia penasaran apa isi dari kotak itu.
"Buka saja nanti," jawab Sandy.
"Ya sudah aku masuk kamar dulu Mas," senyum Rachel.
Gilbert, Gerald dan Gerra membantu Rachel masuk kedalam kamar sang Ibu.
Rachel menatap kamar nya dengan senyuman. Sudah lama sekali dia tak melihat suasana kamar nyaman ini. Kini dia bisa kembali melihat. Rachel meletakkan begitu saja kotak yang diberikan Choky padanya.
"Mommy, langsung istirahat saja," ucap Gilbert.
"Terima kasih Kakak," Rachel tersenyum menggoda pada putranya itu. "Kalian tidur temanin Mommy ya?" Pintanya.
"Iya Mommy," sahut ketiganya kompak.
Rachel duduk dibibir ranjang. Tangannya mengusap kasur tempat nya berbaring dimalam hari ini. Tempatnya merajut mimpi dan asa bersama air mata. Hingga terlelap dan tidur dalam kelelahan.
__ADS_1
"Mommy," Gerra tersenyum pada sang Ibu.
"Iya Sayang, kenapa?" Rachel tersenyum
"Gella senang kalena Mommy sudah bisa melihat sepelti dulu," seru Gerra dengan wajah bahagia nya.
Rachel tersenyum hangat. Dia juga senang karena dirinya bisa kembali melihat dunia yang dia rindukan.
"Sayang, kalian tidur lagi. Ini sudah malam," ucap Rachel lembut.
"Iya Mommy," sahut ketiganya kompak.
"Sudah cuci muka dan gosok gigi?"
"Sudah Mom,"
Ketiganya langsung naik keatas ranjang dan tak lupa sebelum tidur mereka berdoa dulu seperti yang diterapkan Rachel pada ketiga anaknya.
Rachel menidurkan ketiga anaknya seperti biasa. Ketiga anak kembar itu langsung terlelap dalam tidur nya dan ini adalah moment yang selalu mereka nantikan bersama sang Ibu.
"Kenapa aku jadi teringat dengan pria itu?" Gumam Rachel.
Rachel menghela nafas panjang dan turun dari ranjang. Dia duduk dimeja rias untuk menenangkan pikiran nya yang sekarang sedang berkelana entah kemana.
"Terima kasih Tuhan, akhirnya aku bisa melihat lagi." Dia tersenyum menatap pantulan dirinya didepan cermin. "Siapapun orang yang sudah mendonorkan matanya padaku. Aku berhutang banyak padanya. Sebenarnya aku tidak tega dia menggantikan posisi ku," Rachel menghela nafas panjang.
Lama Rachel menatap pantulan dirinya depan cermin. Berulang kali dia memegang bagian wajahnya dan menyakini diri bahwa dia memang sudah bisa melihat seperti dulu.
Rachel menggelengkan kepalanya berulang kali sambil dengan mata terpejam berusaha mengusir bayangan itu.
"Kenapa aku seperti melihat pria itu didepan ku?" Dia menutup telinganya seperti ketakutan. "Mas Ramos," entah kekuatan dari mana dia berani menyebut nama pria yang sudah menghancurkan kehidupan nya itu.
"Tidak. Tidak. Tidak," Rachel berusaha menepis selain lagi bayangan Ramos yang menyerang bagian kepalanya
"Mas Ramos,"
Air mata Rachel tiba-tiba luruh. Dia menahan tangisnya agar tak terdengar oleh ketiga anaknya. Entah apa yang terjadi padanya, kenapa bayangan suaminya seperti menghantui pikiran Rachel?
"Mas," Ramos memeluk kedua lengannya sambil melihat sekitarnya, seolah sedang mencari seseorang.
"Mas Ramos, kenapa kau ada di mataku Mas?" Dia menggeleng berulang kali berusaha mengenyahkan bayangan sang suami.
.
.
.
__ADS_1
.
"Rayana," Nirmala masih saja memanggil nama putrinya itu.
"Bunda ingin bertemu dengan mu Nak, maafkan Bunda. Bunda merindukan mu." Wanita paruh baya itu hanya duduk dikursi roda sambil kepalanya bersandar dan menatap kosong.
Benedicto serasa ingin menyerah menghadapi istrinya. Dia bingung harus bagaimana. Benedicto tidak mungkin memaksa Rachel untuk memaafkan semua kesalahan mereka dimasa lalu.
"Rayana," sambil memeluk foto dua bayi kembar itu. "Bunda merindukan mu, Nak," lirihnya dengan air mata berderai. "Bunda ingin bertemu denganmu,"
Tidak ada cara lain, Benedicto harus bertemu Rachel. Tidak peduli jika dia harus bersujud dikaki anak nya itu agar mau memberinya kesempatan. Tak apa jika Rachel menolak dan benci pada Benedicto, asal Rachel mau memaafkan dan menerima Nirmala dan menyembuhkan depresi wanita itu karena hanya Rachel yang bisa menyembuhkan kejiwaan Ibu nya.
"Rayana, kau dimana Nak? Bunda ingin memelukmu," lirihnya terdengar menyayat hati.
Benedicto hanya diam, dia lelah sendiri menghibur istrinya. Semua bahasa sudah dia keluarkan agar istrinya itu tak terus memikirkan anak mereka. Namun tetap saja Nirmala larut dalam kesedihan dan depresi berkepanjangan.
.
.
.
.
Seorang pria tengah duduk dikursi roda sambil menatap kosong kedepan. Dia memakai piyama tidur rumah sakit. Wajahnya tampak pucat tanpa darah. Matanya juga tak berkedip sama sekali.
Angin berhembus kian kencang menyerap ke bulu-bulu kulitnya hingga membuat bulu-bulu itu seolah berdiri dan bersorak gembira. Namun bagaimana pun angin itu menerpa tubuh rapuh nya dia tetap masih menikmati lamunan panjangnya.
Wajah lelaki itu datar seperti tembok. Tak ada ekspresi apapun yang dia tunjukkan. Dia seperti patung hidup yang sengaja dipajang didepan museum. Seolah tak merasakan apapun termasuk kesakitan.
"Tuan," sang asisten menghampiri nya. "Ayo masuk, disini udaranya sangat dingin tidak baik untuk kesehatan anda,"
Namun lelaki itu sama sekali tak merespon ucapan sang asisten. Dia seolah tak mendengar apa yang diucapkan asisten nya.
Sang asisten menarik kursi roda itu untuk masuk kedalam kediaman mewah mereka.
"Bagaimana Kakak ku?" Tanya seorang wanita yang kebetulan yang berpapasan dengan sang asisten dan pria itu.
"Seperti biasa Nona," jawab sang asisten.
Wanita itu mengangguk. Lalu dia berjongkok didepan kakak nya. Dia mengelus lengan kakak nya dengan lembut sambil tersenyum hangat.
"Kak, apa kau lapar? Aku sudah siapkan makanan kesukaan Kakak," senyumnya.
Lelaki itu tetap tak menjawab dia tetap seperti patung hidup yang duduk nyaman ditempat nya.
"Ya sudah Kak, bawa saja Kakak ku ke kamarnya. Nanti aku akan bawakan makanan untuknya. Aku sedang mengurus anak-anak," ucap sang wanita kepada asisten kakaknya.
__ADS_1
"Baik Nona,"
Bersambung.....