
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Apa kita benar-benar aman disini?" Tanya Sandy setengah ragu dengan tempat mereka bersembunyi.
"Aman San. Percaya padaku." Sahut Choky sambil duduk dan mengambil roti "Ini pulau pribadi milik orangtuaku, untuk bisa masuk kesini tidak mudah. Jadi aku rasa mereka takkan menemukan tempat kita bersembunyi." Sambil mengigit roti
"Hem." Sandy berdehem "Aku harap Ramos menyesal karena sudah menyia-nyiakan Rachel." Sandy ikut mencomot roti diatas meja yang disiapkan oleh Ayunia.
"Entahlah, pria brengsekkkk itu tidak akan dengan mudah menyesal sebelum dia mendapatkan karmanya." Geram Choky ketika mengingat kejahatan yang dilakukan oleh Ramos pada Rachel.
"Lalu bagaimana dengan Rima?" Sambung Choky.
"Kondisi nya sudah membaik. Dia hanya perlu melakukan beberapa terapi." Sahut Sandy.
"Mas."
Tampak Alvan dan Ayunia berhambur kearah dua pria tampan itu.
"Ada apa?" Tanya keduanya kompak.
"R-rachel."
"Rachel kenapa?" Keduanya kompak berdiri.
Tanpa menunggu jawaban Alvan dan Ayunia, Choky dan Sandy menuju kamar Rachel dengan langkah tergesa-gesa dan panik juga. Takut terjadi sesuatu pada Rachel. Apalagi wanita itu masih koma.
"Rachel."
Sandy dan Choky masuk kedalam dan disusul oleh Ayunia dan Alvan yang juga tampak panik.
"Rachel." Choky mengenggam tangan wanita itu.
Sedangkan Sandy langsung mengambil alat medis nya untuk memeriksa kondisi Rachel.
"Bagaimana?"
"Kondisi nya sudah membaik. Semoga Rachel segera bangun." Jawab Sandy.
Choky bernafas lega. Tiga bulan Rachel tertidur pulas tanpa berniat untuk bangun. Waktu yang cukup lama bagi Choky menanti wanita ini.
"Rachel, bangun Sayang." Choky mengecup punggung tangan wanita itu.
Sandy memejamkan matanya menahan sesak yang mulai menyerang. Tidak, dia tidak jatuh hati pada Rachel. Rachel hanya mirip dengan mantan tunangan, hal itu lah yang membuat Sandy peduli pada Rachel dan tidak ada maksud lain, Sandy berusaha menepis segala perasaan yang mulai menyerang hatinya. Tak ingin dibunuh oleh kenyataan. Rachel hanya wanita yang mirip dengan mantan tunangan nya.
"Bangun Sayang. Mas merindukan mu." Dia mengusap kepala wanita yang masih tertidur itu.
__ADS_1
"Iya Hel, cepat bangun. Aku rindu masakkan mu." Sambung Ayunia dengan wajah sendunya. Dia benar-benar rindu masakkan Rachel yang enak dan pas dilidah.
Sedangkan Alvan hanya menyaksikan saja. Meski dia tidak terlalu akrab dengan Rachel tapi dia sudah menganggap wanita itu sebagai adiknya sendiri.
Jari-jari lentik wanita itu tampak bergerak. Begitu juga dengan bulu mata lentik nya.
"Rachel."
Sandy kembali memeriksa kondisi Rachel. Pria itu merasa lega karena seperti nya Rachel akan terbangun dari tidur panjangnya selama tiga bulan ini.
"Rachel."
Keempat orang itu tampak tak sabar menanti Rachel membuka matanya terlihat jelas dari mata mereka yang berkaca-kaca. Penantian yang cukup panjang. Bahkan tiga bulan, bukan waktu yang singkat. Setiap hari harapan selalu sama yaitu agar wanita yang tidak tahu dirinya mengandung itu segera terbangun dari tidur panjangnya.
Perlahan Rachel membuka matanya, oksigen memang sudah dilepaskan dari hidung dan mulutnya. Karena memang beberapa hari ini kondisinya sudah cukup membaik.
"Rachel."
Mata wanita itu terbuka sempurna. Meski pandangan nya masih terlihat kabur dan kurang jelas.
"Rachel."
Rachel menatap langit-langit kamar yang terasa asing. Mata nya tampak sibuk menelusuri setiap sudut ruangan kamarnya yang begitu asing.
"Rachel."
Wanita itu menatap ke-empat dengan tatapan lekat. Entah kenapa hatinya sedikit sedih melihat betapa khawatir nya orang-orang ini pada dirinya.
"Rachel." Choky mengenggam tangan Rachel "Rachel ini Mas. Apa kau masih mengingat Mas?" Ujar Choky dengan mata berkaca-kaca. Air mata bahagia karena penantiannya selama ini akan berbuah manis.
"M-mas." Suara Rachel masih tidak tembus.
"Iya Sayang ini Mas. Apa ada yang sakit? Ayo katakan pada Mas." Ucap Choky, dia mengusap pipinya.
Wanita itu menggeleng. Yang dia rasakan adalah asing. Kenapa dia merasa asing? Merasa ada sesuatu yang hilang darinya.
"Ak-ku di-dimana Mas?" Rachel menelisik ruangan asing ini "Ni-nia."
"Rachel." Ayunia memeluk wanita itu "Aku merindukan mu Rachel." Ucapnya menangis dengan memeluk wanita yang masih terbaring itu.
Rachel mengangkat tangan nya pelan lalu mengusap punggung sahabat nya itu. Tubuhnya serasa gemuk redam. Masih sakit. Terasa patah tulang-tulang nya.
"Aku sangat khawatir Rachel. Kau berhasil membuatku takut." Ayunia melepaskan pelukannya.
Rachel memaksakan senyum. Terbiasa memaksa senyum tegarnya membuat Rachel tak lagi canggung jika terlihat bajk-saja dalam kondisi ini.
__ADS_1
"M-mas."
"Iya Sayang. Mas disini." Secepatnya Choky menggenggam tangan wanita itu "Mas merindukan mu." Choky juga memeluk wanita itu.
Dalam hidupnya dia berjanji akan menjaga Rachel sepenuh hati jiwa dan raganya. Dia takkan membiarkan siapapun menyakiti wanita ini lagi.
Rachel mengusap bahu Choky. Dia juga merindukan pria ini. Sangat malah. Dia ingin bercerita banyak hal. Dia ingin mengatakan bahwa dia tak ingin hidup didunia ini.
Sedangkan Sandy juga tampak mengusap air matanya. Entah kenapa dia tak bisa menolak takdir untuk tidak menaruh rasa dengan wanita itu? Dia tak mau lagi merasakan sakit yang sama ketika kehilangan itu tiba padanya.
Tapi dia tidak pantas memiliki Rachel. Rachel ini wanita baik-baik. Dia tidak mau menjadikan Rachel hanya sebagai pelampiasan karena wanita ini mirip dengan mantan tunangan nya.
"Maafkan Mas." Choky melepaskan pelukannya "Harusnya Mas menjagamu. Harusnya Mas tak membiarkan mu menderita sendirian."
"Di-dimana Mas Ramos, Mas?" Rachel malah mengingat suami yang telah menyia-nyiakan nya.
Choky mengepalkan tangannya kuat. Dia marah ketika mendengar nama yang sudah membuat Rachel menderita itu. Rasanya dia ingin membunuh pria itu.
"Rachel." Sapa Sandy.
Rachel melihat kearah Sandy "M-mas Sandy." Bagaimana pun Rachel tak lupa dengan dokter yang pernah menolong nya itu.
"Dimana yang sakit?" Matanya ikut berkaca-kaca.
Sandy tak habis pikir bagaimana Ramos tega menyia-nyiakan wanita sebaik Rachel? Wanita yang tak pernah menuntut banyak hal.
Rachel berusaha bangun. Secepatnya Choky dan Sandy membantu wanita itu agar bersandar di dinding ranjang nya.
"Apakah sudah lebih baik Hel?" Alvan ikut menyambung.
Rachel mengangguk. Tubuh nya tak pernah benar-benar baik. Hanya saja dia harus kuat bukan? Bukankah tubuhnya yang sakit ini sudah biasa dan sudah kebal.
"Ya sudah kau istirahat ya" Choky menaikan selimut wanita itu.
"Iya Mas." Rachel mengangguk "Rima dimana Mas?" Dari tadi dia tidak melihat adiknya itu
"Ada. Dia sedang istirahat." Jawab Choky asal. Dia belum siap mengatakan kondisi Rima pada Rachel, apalagi Rachel baru saja bangun dari komanya.
Bersambung....
Mon maaf hanya bisa update satu bab...
Lagi nyelesain novel yang satunya.
Makasih buat yang udah ikutin...
__ADS_1
Love kalian semua...