Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Kehilangan


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Dentuman musik menghantam telinga pria yang tengah terlihat mabuk berat itu. Dia sudah menghabiskan beberapa botol wine di atas meja.


"Tuan, Anda sudah terlalu banyak meminum." Bartender menjauhkan botol di atas meja.


"Jangan mengaturku," hardiknya menatap tajam Bartender itu. "Cepat isi lagi gelasnya," sentaknya sambil memukul meja.


"Maaf, Tuan. Tapi Anda tidak bisa minum lagi. Anda sudah mabuk." Sang Bartender tetap menolak. Meski club' ini menyediakan minuman beralkohol tanpa batas tetapi tetap ada aturan untuk para pengkonsumsinya.


Pria itu berdiri dari duduknya dan melenggang keluar dengan berjalan sempoyongan. Entah sudah berapa botol wine yang dia habiskan hingga membuat kepalanya terasa melayang?


Dia berjalan keluar sambil meracau tidak jelas. Rambutnya berantakkan. Penampilannya tak terurus. Namun, wajahnya tetaplah tampan.


"Rachel kau dimana, Sayang?" racaunya sambil tertawa seperti orang gila. "Apa kau tahu Rachel? Mas sangat mencintaimu. Sangat. Sangat. Sangat. Tapi kenapa kau malah memilih pria brengsek itu menjadi suamimu?" Sesekali dia menyeka air matanya lalu meracau lagi seperti orang gila.


"Astaga, Mas Choky."


Ayunia bersama seorang pria menghampiri Choky yang keluar dari club' dengan penampilan tak terurus.


"Mas."


"Lepaskan," pekiknya seraya memberontak.


"Mas, sadar." Pria yang bersama Ayunia menguncang lengan Choky.


"Kau bilang sadar? Memangnya aku amnesia?" Dia menepis tangan pria itu dengan kasar hingga hampir terjungkal kebelakang.


"Ayo, kita bawa Mas Choky ke mobil." Ayunia bersama pria itu menyeret tubuh Choky masuk kedalam mobil.


"Lepaskan Mas, Nia. Lepaskan. Mas mau bertemu Rachel. Mas cinta sama dia. Mas cinta." Dia memberontak lagi. Namun, Ayunia dan pria itu sudah memasukkannya ke dalam mobil.


"Kita mau bawa Mas Choky kemana?" tanya pria itu sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Bawa ke apartemen saja,Van." Ayunia melirik Choky di bangku belakang dan lelaki itu masih meracau tidak jelas. "Kasihan sekali Mas Choky." Ayunia menghela nafas panjang. Sejak Rachel menikah dia patah hati begitu hebat.


"Aku penasaran bagaimana cantiknya gadis itu sampai-sampai Mas Choky seperti orang gila begini?" Pria itu menggeleng saja sambil menyetir.

__ADS_1


"Kalau tidak pernah jatuh cinta jangan penasaran," sindir Ayunia.


"Hem, apa kau lupa Nia aku ini kekasihmu?" godanya mengedipkan mata jahil sambil terkekeh pelan.


"Cih, kekasih dadakan." Ayunia melipat kedua tangannya di dada.


Pria itu ngakak sendiri. Dia di sewa oleh Ayunia menjadi pacar dadakan dan bohongannya demi menghindari sebuah perjodohan.


Mobil itu terparkir di basement apartemen. Ayunia dan Alvan segera memapah tubuh kekar Choky.


"Astaga, kenapa berat sekali pria ini?" keluh Alvan


"Jangan mengeluh, Van. Cepat bawa," sergah Ayunia. "Mas Choky juga bikin repot saja. Kalau sampai Bibi Lewi dan Paman Gober tahu bisa di masak jadi air kita," gerutu Ayunia.


"Ck, jangan mengomel terus, Sayang. Ayo bantu aku."


Keduanya membawa Choky masuk ke dalam apartemen milik Choky. Mau di bawa pulang ke rumah besar keluarganya sudah pasti mereka akan disemprot habis-habisan oleh orang tua Choky.


"Ah beratnya." Alvan meletakkan Choky di atas ranjangnya.


Ayunia membuka sepatu Choky. Pria itu benar-benar seperti orang gila dan bau alkohol menyeruak dari mulutnya.


Ayunia tampak berpikir keras. Meninggalkan Choky dalam keadaan mabuk seperti ini membuatnya agak was-was.


"Tapi bagaimana nanti kalau Bibi Lewi tiba-tiba datang. Bisa hangus kita," desah Ayunia menghela nafas panjang. "Kita menginap di sini saja. Lagian kamar di apartemen ini banyak," sahut Ayunia membuka jas Choky.


"Boleh, Sayang. Kita satu kamar ya?" Alvan tersenyum manja sambil memunyungkan bibirnya seolah ingin mencium Ayunia.


"Oh boleh. Nanti kau berdiri di depan jendela dulu lalu aku menendangmu dan kau terjatuh ke bawah lalu mati," seru Ayunia santai.


Alvan mendelik ngeri. Wanita ini memang tidak ada feminim-feminimnya sama sekali.


"Astaga, tega sekali dengan calon suami sendiri," ucap Alvan sambil mengusap dadanya sabar.


"Calon suami dari China." Ayunia menatap Alvan malas. "Sudah ayo keluar. Aku lapar."


Mereka berdua keluar dari kamar Choky dan membiarkan pria itu beristirahat dalam keadaan mabuk.

__ADS_1


"Alvan, kau ingin makan apa? Aku mau masak." Ayunia membuka lemari pendingin yang tersedia banyak makanan dan sayuran milik Choky.


"Apa saja aku suka, kau kan chef andalan." Sahut Alvan sama sekali tak melihat Ayunia dia malah asyik main game di ponselnya.


Ayunia menggeleng kalau sudah masalah game Alvan bisa lupa dunia akhirat. Tapi Ayunia bersyukur Alvan mau membantunya dalam bersandiwara setidaknya dia bisa menghindari perjodohan gila dengan pria playboy putra dari teman bisnis ayahnya.


.


.


.


.


Sandy menyenderkan punggungnya. Dia menatap kearah taman rumah sakit. Entah kenapa dia suka sekali melihat orang-orang yang berlalu lalang di sana?


"Di mana gadis itu?" gumamnya. "Sudah hampir dua minggu dia hilang tanpa kabar." Sandy tampak berpikir keras karena memang sudah beberapa minggu ini dia tidak pernah lagi melihat gadis yang begitu mirip dengan mantan tunangannya itu.


"Apa aku cari saja ya? Tapi, mau dicari di mana?" Dia tampak bingung dan masih berceloteh sendiri.


Sandy menggapai bingkai foto yang sengaja dia pajang di atas meja kerjanya.


"Rebecca," gumamnya. "Apa kau tahu? Ada seseorang yang begitu mirip sekali denganmu, kalian bagai pinang dibelah dua. Tapi dia berbeda. Dia sedikit dingin dan cuek. Dia mandiri dan tidak manja. Dia sederhana dan dia seorang koki." Sambil mengusap foto yang disimpan di dalam frame itu.


"Dan sekarang dia menghilang. Kenapa aku merasa kehilangan? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan hatiku ketika dia tidak ada? Ada apa dengan diri ini? Tidak mungkin, aku jatuh cinta padanya. Atau mungkin hanya karena dia mirip denganmu. Makanya aku selalu memikirkannya?" Sandy berusaha menepis segala perasaan yang tak pantas dia pikirkan.


Sandy sudah mencari Rachel beberapa hari ini. Kadang dia sengaja makan siang di restaurant tempat Rachel bekerja berharap bisa bertemu dan melihat gadis itu. Namun, ternyata nihil, hingga kini Rachel hilang bak ditelan bumi.


Biasanya dia datang bersama adiknya, Rima. Untuk memeriksa keadaan adiknya itu. Namun, beberapa minggu terakhir sudah tidak lagi. Sehingga Sandy merasa sulit untuk mencari informasi tentang keberadaan Rachel.


"Di mana gadis itu?" Dia meletakkan foto di tangannya.


"Choky. Ayunia. Bukankah mereka teman-teman Rachel? Aku bisa tanya mereka! Tapi sepertinya mereka juga tidak bekerja di restaurant lagi." Terdengar helaan nafas berat dari mulut pria itu.


Bersambung........


Hai guys....

__ADS_1


makasih buat yang udah mampir.....


Mohon dukungan nya dari kalian....


__ADS_2