Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Apakah Mommy membenci Daddy?


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Rachel menggenggam tangan Gerra. Saat ini Gerra sudah dipindahkan kerumah sakit karena untuk mempersiapkan operasi pencangkokan tulang sumsum belakang itu.


"Sayang, kau pasti kuat. Putri Mommy anak yang kuat." Rachel mengusap kepala Gerra.


"M-mom." Lirih gadis kecil itu.


"Sayang kenapa?" Tanya Rachel lembut.


"Mom." Mata gadis kecil itu berkaca-kaca


"Heii putri Mommy, tidak boleh menangis ya. Kuat ya Nak," ucap Rachel mengusap lengan putri kecilnya itu. Sebenarnya dia tidak sanggup melihat jarum-jarum itu menyiksa tubuh putri kecilnya.


Gilbert dan Gerald juga naik diranjang Gerra dan duduk dibibir ranjang sambil mendengarkan kedua wanita beda usia itu yang sedang berbincang-bincang.


"Mommy." Gerra tak mampu menahan lelehan bening dipipinya.


"Dek." Gilbert dan Gerald mengusap dengan pelan lengan adik kesayangan mereka itu.


"Gella takut tidak bangun pagi Mom, Kak," ucapnya, "Gella takut meninggalkan Mommy dan Kakak. Sakit sekali Mom," ungkap Gerra yang tak mampu menahan lagi.


"Sayang." Rachel ikut meneteskan air mata.


"Dek."


Gilbert dan Gerald juga menangis. Mereka adalah anak-anak yang perasaan nya masih begitu sensitif. Meski tubuh masih kecil tapi pemikiran sudah puas.


"Gerra tidak akan pernah meninggalkan Mommy dan Kakak. Gerra harus berjanji untuk bertahan bersama Mommy ya Nak. Mommy tidak bisa hidup tanpa Gerra. Mommy sayang Gerra." Dia mengecup kening putrinya hingga air matanya mengenai wajah anaknya itu, "Jangan pergi apapun yang terjadi. Jangan hilang. Separuh jiwa Mommy akan pergi juga." Lirih Rachel.


"Mom." Gerra menatap Ibu nya.


"Iya Nak, kenapa?" Rachel menatap anaknya dengan perasaan terluka. Bagaimana tak terluka, melihat anak sekecil ini harus disiksa oleh jarum-jarum suntik itu.


"Apa Mommy benci Daddy?"


Deg


Jantung Rachel serasa berhenti berdetak ketika mendengar pertanyaan dari putrinya. Dia bukan hanya benci tapi takut, takut jika lelaki itu kembali menyakiti dirinya.


"Iya Mom, apakah Mommy benci Daddy?" Sambung Gerald, "Daddy akan mendonorkan tulang sumsum belakang nya untuk Gerra, Mom," ucap Gerald.

__ADS_1


Rachel berjingkrak kaget, dia belum tahu tentang hal ini. Dia sama sekali tak menangkap perkataan Sandy dan Choky. Rachel pikir Choky yang akan mendonorkan tulang sumsum belakang nya untuk Gerra.


"D-darimana kal-lian tahu tentang dia?" Tanya Rachel. Dia berusaha menahan gelojak ketakutan didalam dadanya. Dia harus bisa menguasai emosinya.


"Mom, kami bahkan sudah bertemu Daddy beberapa kali. Gerald juga digendong Daddy, Mom." Jelas Gerald dengan mata berbinar-binar menjelaskan pertemuannya dengan Ramos.


Rachel menggeleng. Bayangan kejadian enam tahun yang lalu kembali terekam dikepalanya. Dia memejamkan matanya sambil menggeleng tidak mau mengingat kejadian menyakitkan itu. Bayangan itu selalu datang saat menyebut nama suaminya. Dia tidak tahu kenapa bisa mengalami trauma seberat ini.


"Mommy." Gilbert menggenggam tangan Rachel, "Apa Mommy baik-baik saja?" Inilah yang membuat Gilbert tak pernah membahas tentang Ayah mereka.


Nafas Rachel memburu, air matanya menetes. Tubuhnya berkeringat dingin dan wajah pucat. Terlihat sekali jika wanita beranak tiga itu ketakutan.


"Mommy."


Gilbert dan Gerald memeluk Rachel yang tampak bergetar menahan tangisnya.


Rachel menangis dengan dipeluk kedua putranya. Dia berusaha menahan kekuatan yang sekarang menyerang bagian kepalanya. Dia harus bisa, demi anaknya demi buah hatinya.


"Mommy." Lirih Gerra. Ingin sekali gadis kecil itu merengkuh tubuh lemah sang Ibu, namun apalah daya. Dia saja tak bisa bangun sama sekali.


"Mommy."


Tangis Rachel berhenti ketika mendengar tangisan Gilbert dan Gerald yang memeluknya, emosinya seketika mereda. Jiwanya yang tadi terasa terbang melayang seolah kembali lagi ketika mendengar tangisan dari dua putranya itu.


Rachel terdiam dengan nafas yang masih memburu menahan emosi yang seolah ingin meledak didalam sana. Dia melepaskan pelukan kedua anaknya.


"Jangan menangis." Dia mengusap pipi kedua putranya secara bergantian.


"Mommy, maafkan Gerald. Gerald tidak bermaksud mengungkit luka lama dihati Mommy. Gerald hanya ingin seperti orang lain yang hidup lengkap bersama kedua orangtuanya," ucap Gerald merasa bersalah.


"Maafkan Gilbert juga Mom, harusnya Gilbert menjaga perasaan mu. Maafkan Gilbert," sambung Gilbert menggenggam tangan Rachel.


"Gerald tidak akan menemui Daddy lagi, jika Mommy melarang," ucap Gerald dengan nada beratnya.


Rachel tak menjawab ucapan kedua anaknya. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan? Kenapa takdir harus mempertemukan mereka dalam keadaan dan situasi yang sulit seperti ini.


.


.


.

__ADS_1


.


Rachel masuk kedalam kamarnya. Dia mengunci pintu kamarnya. Jantungnya serasa berhenti ketika membahas suaminya tadi.


"Hiks hiks hiks hiks hiks."


Wanita itu menangis terduduk dibalik pintu. Kenapa takdir justru memporak-porandakan jiwa dan hatinya? Kenapa takdir mempertemukan dia kembali dengan lelaki yang tak ingin dia temui? Kenapa takdir tak kasihan melihatnya yang menderita.


"Ibu." Wanita itu menangis segugukan, "Apa yang harus Rachel lakukan Bu? Kenapa pria itu kembali lagi dikehidupan Rachel dan anak-anak Rachel? Rachel tidak mau bertemu dia lagi. Rachel takut dia menyakiti Rachel dan mengambil anak-anak." Wanita itu memeluk kedua lututnya. Badannya bergetar menangis dengan hebat.


Rachel melihat sekelilingnya seolah sedang menghindari sesuatu dia meringguk ketakutan. Bayangan Ramos yang menariknya dengan paksa, memotong rambutnya, menginjak jarinya dan merobek pakaian nya masih terngiang begitu saja dikepala Rachel. Dia tidak bisa melupakan semua kejadian menyakitkan yang menghancurkan seluruh dunia nya itu.


"Bu, Rachel takut Bu." Wanita itu berhambur naik keatas ranjang, lalu menyelimuti tubuhnya seolah ketakutan.


BRAKKKKKKKKKKKKKK


"Rachel."


Choky masuk dengan wajah panik. Dia baru mendapat laporan dari anak buahnya bahwa Rachel tiba-tiba pulang sambil menangis. Choky sudah curiga jika ini bersangkutan dengan Ramos. Mungkin Rachel tahu jika Ramos ada di negara ini.


"Rachel."


"Mas."


Rachel berhambur memeluk Choky sambil menangis ketakutan, keringat dingin dan wajah pucat menguasai wajahnya.


"Mas, aku, aku takut Mas. Mas dia, dia datang Mas. Mas aku takut dia merebut anak-anak ku Mas. Mas aku, aku tidak mau bertemu dengannya Mas. Aku tidak mau."


Choky tak berkata apa-apa dia hanya memeluk wanita lemah ini dengan erat. Membiarkan Rachel menangis didalam pelukkan nya.


Choky tahu betapa beratnya menjadi Rachel, pasti tidak mudah bertemu seseorang yang pernah menghancurkan nya dimasa lalu.


Entahlah bagaimana Rachel bisa sembuh dari trauma berat ini. Mendengar nama Ramos saja dia bisa sehisteris ini, apalagi jika bertemu dengan suaminya itu entah apa yang akan terjadi.


Bersambung....


Haiii para kekasih Hati


makasih buat yang udah ikutin hingga kini..


mohon maaf belum bisa update banyak-banyak karena author sedang banyak tugas di kehidupan nyata.

__ADS_1


jangan lupa jaga kesehatan kalian.


__ADS_2