
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Sandra masuk kedalam rumah nya. Ia bersandar di dinding pintu sambil menghela nafas panjang. Ia sangat bahagia malam ini. Tak pernah ia merasa sebahagia ini sebelum nya.
"Beginikah rasanya jatuh cinta?" gadis itu meletakkan tangannya didada sambil tersenyum seperti orang gila.
Setelah perasaan nya sudah lama mati. Kini kembali hidup oleh kehadiran Sandy. Ia tak tahu bagaimana perjalanan hidupnya nanti. Ia percaya takdir Tuhan akan membawanya bersama Sandy menuju kehidupan bahagia. Semoga kali ini dia tidak salah pilih.
"Mas Sandy," gumamnya sambil memegang keningnya bekas ciuman hangat Sandy. Ciuman pertama mereka. "Ahh seperti nya malam ini aku tidak akan bisa tidur," ucapanya memejamkan mata. "Bu, anak mu jatuh cinta," ucap nya lalu menutup wajahnya dengan bantal dan tersenyum seperti orang gila.
Lama gadis itu berdialog sendiri sampai akhirnya ia terlelap memeluk bantalnya dengan bibir yang tersenyum sumringah. Sudah lama hatinya tertutup, kini ia berani membuka hati untuk orang yang baru.
Sandra tidak tahu, jika dibalik ia jatuh cinta ada hati yang ia patahkan. Ada hati yang menangis dibalik senyumnya yang mengembang, dia adalah Bima. Lelaki yang diam-diam mencintai Sandra. Namun tak berani ia ungkapkan karena gadis yang ia cintai kini telah memilih hati yang lain.
.
.
.
Sandy masuk kedalam kamarnya. Tadi dia puas menahan senyum supaya tidak terlihat oleh si kembar, bisa diledek dia. Ia juga mengabaikan pertanyaan si kembar tentang acara kencannya dengan sandra, ia tidak mau ketiga nya berulah lagi.
Tok tok tok
"Papa,"
Senyum wajah Sandy langsung berubah ketika mendengar suara munggil yang mengetuk pintu kamarnya. Lelaki itu merenggut kesal. Kesenangan nya terbuyarkan tiba-tiba saat ada yang mengetuk pintunya.
"Papa, buka pintunya," teriak ketiganya kompak.
Sandy menghentak-hentakkan kakinya kesal. Meski kesal ia tetap membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya ketus sambil melipat kedua tangannya didada.
"Minggir Pa," Gerald mendorong tubuh Sandy masuk kedalam lalu menutup pintu. Si kembar masuk kedalam kamar Sandy.
"Ck, kalian mau apa?" Sandy memutar bola matanya malas. Ia duduk dibibir ranjang sambil melepaskan sepatu dikakinya.
"Papa, bagaimana? Apa kencan Papa dan Mama lancar?" cecar Gilbert. Gilbert yang sangat memaksa Sandy mendekati Sandra.
"Ehem," Sandy hanya berdehem. Padahal tadi dia sudah memasang wajah sedatar mungkin dan mengabaikan pertanyaan si kembar. Namun tetap saja ketiga anak kembar itu bukan anak yang mudah di bohongi.
__ADS_1
"Pa, jawab jangan hanya dehem-dehem begitu," omel Gerra sambil melipat kedua tangannya dengan bibir yang menggerecut kesal.
Sandy menghela nafas panjang. Ia menatap wajah imut si kembar sambil menggelengkan kepalanya. Ketiga anak ini tidak akan berhenti bertanya sampai pertanyaan mereka dijawab.
"Sini duduk," Sandy menepuk ruang kosong disampingnya.
Ketiga anak kembar itu naik keatas ranjang miliknya Sandy. Mereka tampak tak sabar mendengar cerita Sandy.
"Bagaimana Pa?" tanya Gerald.
Sandy mengangguk. "Mama mau memulai hubungan sama Papa," sahutnya.
"Serius Pa?" seru Gilbert dan Gerald sumringah.
"Papa tidak bohong kan?" Gerra menatap curiga pada Sandy. Siapa tahu ini alasan Sandy saja supaya tidak di jodohkan lagi dengan Sandra.
"Sama sekali tidak," sahut Sandy sambil tersenyum. "Terima kasih kalian sudah membantu Papa. Doakan semoga Papa cepat membawa Mama tinggal bersama kita," timpal Sandy sambil mengusap rambut panjang Gerra. Butuh waktu lama untuk menumbuhkan rambut anak kecil itu.
"Papa," seru ketiganya memeluk Sandy dengan bahagia.
"Ye ye ye ye, Papa akan bawa Mama kerumah," seru Gerald sambil berjoget diatas ranjang.
Sedangkan Gerra bersorak digendongan Sandy. Ketiganya seperti sedang berdisko merayakan kemenangan mereka.
Sandy tertawa lebar karena tingkah lucu si kembar. Ada-ada saja anak-anak ini. Tapi ia sangat bahagia karena si kembar peduli padanya dan mau membantunya.
.
.
.
.
"Kak Sandy," Chicha masuk kedalam ruangan Sandy sambil membawa paper bag ditangannya.
"Chicha," gumam Sandy terkejut. Ia lupa jika Choky dan Chicha baru datang ke Indonesia.
"Apa kabar Kak?" seru Chicha sumringah. Gadis ini periang, sifatnya bertolak belakang dengan Sandra dan Rachel.
"Baik," Sandy meletakkan berkas ditangannya. "Kapan kamu datang?" tanyanya
__ADS_1
"Kemarin Kak. Ohh ya Kak, aku punya oleh-oleh buat Kakak. Semoga suka," Chicha memberikan paper bag yang dia bawa tadi pada Sandy.
"Terima kasih," jawab pria itu singkat padat dan jelas.
"Kak aku mau_"
"Mas," Sandra masuk kedalam ruangan Sandy sambil membawa berkas pasien ditangannya.
"Sayang," wajah Sandy yang tadinya dingin langsung berubah sumringah saat melihat kekasihnya masuk.
Chicha menatap Sandra. Lalu melirik Sandy yang merangkul bahu Sandra. Dalam hati gadis itu bertanya, siapa wanita ini?
"Mas, ini data yang Mas minta," ia menyerahkan berkas ditangannya.
"Terima kasih Sayang," Sandy mengambil berjas itu lalu meletakkan nya diatas meja. "Ohh Sayang, perkenalkan ini Chicha, adiknya Choky," ucap Sandy memperkenalkan Chicha.
"Sandra," Sandra mengulurkan tangannya kearah Chicha.
"Chicha," sambut Chicha. Pipinya panas dan matanya berkaca-kaca. "Dia siapa Kak?" tanya Chicha penasaran. Sandra hanya memakai seragam perawat berwarna putih, ia memang cantik. Tapi apa hubungannya dengan Sandy?
"Dia calon istriku," sambil merangkul bahu Sandra dengan bangga. "Lapar tidak?" Sandy memperbaiki topi Sandra yang setengah bergeser.
"Lapar Mas,"
"Kita makan yaaa," ajak Sandy. "Chicha mau ikut makan siang bersama kami?" tawar Sandy tersenyum. Ia tahu, jika sekarang Chicha patah hati karena dirinya. Ia sama sekali tak memiliki rasa apapun pada Chicha.
"Ohh tidak Kak. Aku makan siang bersama Kak Choky saja Kak. Tadi aku sudah berjanji akan menemani nya," kilah Chicha tersenyum kecut. "Kak aku pamit yaa, Kak Sandra. Duluan Kak,"
Chicha keluar dari ruangan Sandy. Ia setengah mati menahan air matanya yang hendak keluar dari pelupuk matanya. Sudah lama ia menaruh rasa pada sahabat Kakak nya itu.
Pedih, itulah yang dirasakan Chicha sekarang. Alasan terbesar nya mau ikut Choky ke Indonesia adalah agar bisa dekat dengan Sandy. Tapi ia sudah terluka duluan sebelum memperjuangkan cinta nya.
Semakin ia ingat semua hal tentang Sandy. Semakin luka menyayat didalam dada. Ia benar-benar tak bisa melihat kebahagiaan diwajah Sandy tapi itu milik orang lain. Luka di hatinya begitu perih seolah menumpulkan rindu yang dulu ia jaga. Sekarang Chicha takkan mengharapkan apapun lagi, ia akan mencoba untuk melepas Sandy demi kebahagiaan lelaki itu.
Chicha masuk kedalam mobilnya. Ia berjingkrak kaget ketika melihat Rayyan yang sudah tersenyum mengejek.
"Kenapa Nona, patah hati yaaa?" ledeknya sambil tertawa menggelora.
Chicha menyeka air matanya sambil memutar bola matanya malas. Hidupnya selalu sial jika bertemu dengan lelaki playboy ini.
Bersambung...
__ADS_1