Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Gadis Kecilku


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Sandy keluar dari ruangan operasi dengan wajah lelah serta keringat yang mengucur dibagian dahinya. Dia membuka masker sambil menarik nafas dalam.


"Mas."


Rachel dan kedua anaknya langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Sandy.


"Rachel." Sandy menampilkan senyuman manisnya pada Rachel, "Hai Son." Dia mengusap kepala Gilbert dan Gerald.


"Mas bagaimana keadaan putriku, apa dia baik-baik saja Mas?" Tanya Rachel takut-takut. Takut jika sesuatu yang dia takutkan terjadi pada putri kecilnya itu.


Sandy menghela nafas panjang. Dia sulit menjelaskan kondisi Gerra.


Transplantasi sumsum tulang belakang diklaim mampu menjadi obat yang efektif bagi pengidap leukemia atau kanker darah. Proses transplantasi ini bertujuan untuk mengisi kembali tubuh dengan sel-sel sehat setelah melewati siklus kemoterapi dan radiasi.


Kesuksesan transplantasi sumsum tulang belakang biasanya tergantung pada kecocokan genetik antara pasien dan pendonor. Biasanya pendonor paling cocok berasal dari saudara kandung.


Terdapat serangkaian pemeriksaan yang mesti dilalui, Sebelum seseorang mendonorkan sumsum tulang belakangnya kepada orang lain. Pertama, dokter akan mencari donor yang cocok dengan tipe jaringan pasien, khususnya tipe jaringan human leukocyte antigen (HLA).


HLA adalah protein--atau penanda-- yang ditemukan pada sebagian besar sel dalam tubuh seseorang. Semakin dekat kecocokan antara penanda HLA pasien dan donor, maka semakin baik bagi pasien.


Saat sumsum tulang belakang seseorang dinyatakan cocok, akan ada serangkaian pemeriksaan lain untuk memastikan apakah pendonor merupakan pasangan terbaik bagi pasien. Dalam hal itu, dokter akan meminta beberapa sampel, seperti darah dan DNA.


"Dia baik-baik saja." Sandy tersenyum, "Hanya saja ada beberapa partikel dalam tubuh Gerra yang menolak transplantasi ini. Mas sudah menangani nya, Gerra bisa melewati masa kritisnya," jelas Sandy.

__ADS_1


"Lalu apakah Gerra benar-benar sembuh San?" Sambung Choky


Sandy menghela nafas panjang, "Tergantung dari sistem kekebalan tubuhnya. Jika tubuh Gerra bisa menerima transplantasi ini kemungkinan besar dia akan sembuh. Tapi begitu juga sebaliknya," jelas Sandy.


"Mas." Rachel menggenggam tangan Sandy, "Aku mohon lakukan apapun untuk putriku. Apapun Mas. Dia segalanya. Aku, aku tidak mau kehilangan dia. Tolong Mas," ucap Rachel memohon.


Sandy mengangguk. Tangannya terulur merengkuh tubuh Rachel kedalam pelukannya. Entahlah, Sandy tidak tahu bagaimana akhir dari kisah Rachel dan Ramos nantinya. Rachel butuh waktu dan proses yang panjang untuk bisa menerima Ramos kembali.


"Mas akan lakukan apapun untuk nya. Jangan khawatir," ucap Sandy menenangkan.


Rachel melepaskan pelukan Sandy, "Mas apa boleh aku melihat putriku?"


"Tunggu Gerra dipindahkan ke ruangan rawat inap," jawab Sandy.


Rachel mengangguk dan menurut. Nafasnya terasa tercekat ketika mendengar penjelasan Sandy. Semoga saja tubuh Gerra menerima tulang sumsum yang baru saja di donorkan padanya. Rachel tak meminta banyak, dia hanya ingin hidup bahagia dan sehat-sehat saja bersama ketiga anaknya. Merajut mimpi dan asa hingga nanti.


"Sayang." Rachel mengusap kepala plontos putrinya, "Bangun Nak, kau harus kuat demi Mommy. Kau harus bertahan, apapun yang terjadi." Lirihnya sambil mengelus wajah tenang putri nya yang tertidur.


"Heii putri Ayah. Dalam keadaan tidur saja masih tetap cantik apalagi kalau bangun," Choky terkekeh tapi air matanya menetes, "Gerra bangun ya Nak. Gerra tidak rindu ingin bermain kejar-kejaran dengan Ayah?" Ucap Choky tersenyum getir.


Bukan hanya Rachel yang rapuh tapi juga Choky. Meski Gerra bukan anak nya tapi dia sungguh menyanyangi gadis kecil itu seperti anaknya sendiri.


Rachel mengusap air matanya. Hati Ibu mana yang takkan rapuh melihat putri kecilnya terbaring lemah seperti ini.


"Mas, bawa saja Gilbert dan Gerald pulang. Tidak apa aku yang menjaga Gerra disini. Rumah sakit tidak baik untuk anak-anak," ucap Rachel.

__ADS_1


"Iya sudah. Nanti Sandy akan menemanimu menjaga Gerra. Mas akan suruh Chicha datang kesini untuk membawa beberapa helai baju ganti untuk mu," sahut Sandy.


"Mom, Kakak tidak mau pulang. Kakak mau disini menemani Mommy dan adik," ujar Gilbert.


"Iya Mom. Gerald juga. Gerald tidak mau pulang," renggek pria kecil itu


Rachel tersenyum menatap kedua anaknya. Rachel tak pernah membentak anak-anak nya dia tidak mau keras dalam mendidik anak-anak nya. Anak-anak adalah pengingat yang kuat kadang apa yang dikatakan dan dilakukan orang tua nya dengan mudah mereka meniru.


"Son." Rachel berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan kedua anaknya, "Rumah sakit tidak baik untuk kesehatan kalian. Malam ini kalian pulang sama Ayah ya ke istana. Biar Mommy yang menjaga adik," ucap Rachel lembut mengusap kepala kedua bocah kembar itu.


"Tapi Mom_"


"Mommy tahu kalian ingin menjaga adik tapi kalian harus memikirkan kesehatan kalian. Kalau kalian jatuh sakit nanti Mommy sedih. Kalian mau Mommy sedih?" Wanita itu menampilkan wajah sedih dan sendunya.


"Tidak mau Mom." Dengan cepat kedua anak itu menggeleng dan berucap.


Rachel terkekeh pelan. Ini adalah jurus andalan supaya anak-anaknya menurut pada perintahnya. Sebab anak-anaknya akan luluh jika dia memasang wajah sedih seperti itu.


"Ya sudah pulang ya Nak. Jangan lupa mandi, makan, belajar dan langsung tidur. Jangan main ponsel. Jangan nakal. Paham?" Rachel memperbaiki kerah baju kedua anaknya yang sedikit berantakan.


"Paham Mommy." Keduanya mengangguk kompak.


Setelah kepulangan Choky, Gilbert dan Gerald. Rachel kembali menatap putri kecilnya. Wanita itu terduduk lemah. Sebenarnya dia mewanti-wanti takut jika bertemu Ramos disini. Untungnya lelaki itu tidak ada, entah kemana perginya.


Rachel memegang dadanya yang terasa sesak. Dia mengelus dadanya dengan pelan untuk mengatur deru nafasnya yang memburu. Wajahnya kembali pucat. Jika bukan demi anak-anak nya Rachel pasti memilih pergi sejauh mungkin dimana tidak ada orang yang bisa menemukan dirinya. Namun dia tidak mungkin mementingkan egonya sementara putrinya terbaring lemah seperti ini.

__ADS_1


Rachel memegang dadanya sambil memejamkan matanya. Sedangkan tangannya yang satu menggenggam tangan sang anak.


'Rasa sakit ini takkan bisa diobati oleh apapun. Aku tak mengerti mengapa saat mendengar dan mengingat wajahnya aku sangat takut. Takut sekali. Takut dia menyakitiku lagi seperti dulu. Aku, aku takut dia memotong rambut yang ku panjangkan dengan sudah payah. Aku takut dia merobek pakaian ku lagi. Aku takut dia menginjak jariku seperti dulu. Aku takut dia mencabuk tubuhku lagi. Bayangan itu takkan bisa hilang sampai kapanpun. Sampai kapanpun, aku tidak bisa bertemu dengannya. Aku tidak mau. Aku menolak takdir yang Tuhan berikan padaku.'


__ADS_2