
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Mommy,"
"Iya Sayang,"
Rachel menggeleng sambil tersenyum lalu memperbaiki baju ketiga anaknya. Anak-anak Rachel masih homeschooling, sebab Sandy dan Choky menyarankan agar anak-anak itu tetap belajar di rumah saja demi keamanan dan kenyamanan mereka.
"Wahhh pangeran kecil Mommy semakin tampan," Rachel gemes sendiri melihat kedua putra kembarnya.
"Anak nya siapa dulu dong?" Seru Gilbert membusungkan dada nya bangga.
"Anaknya Mommy," jawab Gerald dan Gerra dengan bangga.
Rachel tertawa gemes. Anak-anak nya itu selalu bisa menghibur dirinya dan mengembalikan mood Rachel menjadi baik. Senyuman dan canda tawa anak-anak nya mampu membungkus luka yang sedang mengangga didalam sana.
"Ya sudah kalian hati-hati sekolah nya ya. Ingat menurut sama Ibu guru. Jangan nakal," Rachel memperbaiki rambut anak-anak nya.
Meski sekolah dirumah ketiganya tetap memakai seragam seperti biasa.
"Kakak jaga adik kalian ya. Jangan main kejar-kejaran. Belajar ya rajin," ucap Rachel memperingati Gilbert.
"Siap laksanakan Ibu Komandan," Gilbert meletakkan tangannya di ujung pelipis, persis seperti orang hendak upacara bendera.
Rachel terkekeh lagi sambil memperbaiki baju Gilbert dan rambut anak-anak nya.
"Pagi anak-anak Ayah," Choky ikut masuk kedalam kamar si kembar tiga itu.
"Pagi juga Ayah," balas ketiga nya.
"Pagi Mas." Balas Rachel berdiri.
Choky tersenyum simpul apalagi melihat ketiga anak itu sudah siap dengan seragam sekolah mereka. Choky memang tidak mengizinkan anak-anak itu sekolah diluar. Sebab disana bahaya. Meski pun dia menugaskan banyak pengawal untuk menjaga dan mengawasi si kembar tiga itu tetap saja dia harus waspada.
"Sudah siap, ayo," Choky menggandeng tangan Gilbert dan Choky.
"Ayo Ayah," sahut kedua nya
Sementara Rachel menggendong si kecil Gerra. Putri kecil nya itu manja sekali. Kondisi Gerra sudah membaik hanya saja dia tidak boleh lelah dan melakukan aktifitas yang berlebihan yang membuat dia kelelahan. Terkadang gadis kecil ini merenggut kesal karena tidak di izinkan bermain bersama kedua kakak kembarnya. Padahal dia sangat ingin bermain seperti dulu, seperti teman-teman nya yang lain seperti kedua kakak nya. Namun Gerra tetap menurut demi kesembuhan dan kesehatan tubuhnya.
__ADS_1
"Mommy," tangan Gerra melingkar dileher Rachel.
"Iya Sayang, kenapa?" Rachel tersenyum lembut. Dia bernafas lega melihat Gerra yang sudah bisa tersenyum seperti biasa.
"Kenapa Mommy cantik sekali? Kenapa Mommy tidak menikah dengan Ayah atau dengan Papa saja?" Tanya Gerra dengan wajah polosnya.
Rachel dan Choky saling melihat. Jika Rachel biasa saja dan malah tersenyum. Maka berbeda dengan Choky yang salah tingkah.
"Ehem, tahu dari mana anak Mommy ini tentang menikah?" Rachel dengan gemes mencium pipi chubby anaknya.
"Tahu dari Kak Gelal Mom," sahutnya polos.
Rachel hanya tersenyum. Dia enggan menjawab pertanyaan anak-anak nya. Anak-anak nya masih terlalu polos tidak akan paham apa itu menikah. Rasanya untuk menikah lagi baik dengan siapapun Rachel belum bisa. Hatinya sudah tertutup rapat masalah hubungan asmara. Ketiga anaknya sudah cukup menjadi pelengkap kebahagiaan Rachel. Lantas untuk apa seorang suami? Jika anak-anak saja bisa jadi segalanya.
"Pagi kesayangan Papa," Sandy menyambut dengan senyuman. "Bagaimana keadaan putri kecil ini?" Dia mencium wajah Gerra dengan gemes.
"Pagi juga Papa," Gerra menciumi wajah Sandy dengan banyak ciuman. Sandy terkekeh.
"Jagoan Papa tidak ingin memberikan ciuman?" Sandy menatap Gilbert dan Gerald dengan senyum menggoda.
"Tidak mau, kami sudah besar," sahut keduanya bersamaan.
Rachel, Sandy dan Choky ngakak. Kedua anak ini memang tidak suka dipanggil anak kecil. Padahal mereka memang masih kecil. Tapi tetap saja tidak terima dipanggil anak kecil.
Mereka sarapan bersama. Istana mewah milik keluarga Alexander terdengar gelak dan tawa, apalagi Ayunia dan Alvan tinggal bersama di istana itu semakin membuat istana tersebut ramai.
Rachel bersiap-siap untuk berangkat ke restourant. Sejak Gerra jatuh sakit dia sudah lama tidak memantau perkembangan restorantnya tersebut. Banyak laporan-laporan pemasukan yang belum dia periksa.
"Nanti pulang nya Mas jemput," ucap Choky sambil menyetir. Kalau berdua saja dengan rachel dia selalu menyetir sendiri supir pribadi nya.
"Iya Mas," sahut Rachel tersenyum
Senyuman Rachel selalu membuat Choky salah tingkah sendiri. Jantungnya juga berdebar-debar. Namun sayang perasaan itu belum terbalas. Dia harus menahan perasaan nya itu takut perasaan nya ini malah membuat nya kehilangan Rachel nantinya.
"Kalau ada apa-apa hubungi Mas ya. Ingat kalau mau keluar telpon Mas," tegas Choky.
Rachel mengangguk tersenyum. Choky memang selalu perhatian padanya. Dia bangga memiliki pria seperti Choky yang sudah dia anggap sebagai Kakak nya sendiri.
"Iya Mas. Mas juga hati-hati. Jangan lupa sarapannya," Rachel memperbaiki dasi Choky yang berantakan. "Aku masih ingat saat kita jadi koki dulu, Mas selalu bantu aku pasangkan klemek. Sekarang malah terbalik," celetuk Rachel terkekeh.
__ADS_1
Perasaan Choky semakin menggebu-gebu. Namun apalah yang bisa dia lakukan selain hanya menatap wanita ini saja.
"Kau ini...." Choky terkekeh.
Rachel masuk kedalam restourant nya. Restourant milik Rachel berkembang cukup pesat. Banyak tamu dari kalangan atas yang makan siang di restorant Rachel selain tempatnya yang strategis, menu yang disediakan juga sesuai selera.
"Kau masuk duluan saja. Mas tunggu disini," ucap Choky.
Rachel terkekeh sambil menggeleng. Lelaki ini sungguh posesif bukan main. Apa-apa harus izin Choky. Rachel senang karena Choky begitu peduli dan melindungi dirinya. Namun terkadang dia meminta maaf karena selalu merepotkan lelaki yang dia dianggap sebagai kakak nya sendiri itu.
"Ya sudah Mas. Aku masuk," Rachel melambaikan tangan nya.
Choky membalas lambaian tangan Rachel. Bukan apa, dia sudah diperingati oleh Gilbert untuk menjaga Rachel sebab ada orang yang sudah mengintai Rachel untuk mencelakai nya.
Rachel berjalan masuk. Suasana restourant kalau pagi selalu sama. Para waiters akan mempersiapkan meja-meja dan kursi serta membersihkan ruangan.
"Selamat pagi Nyonya Rachel," sapa mereka ramah.
"Pagi," balas Rachel tersenyum. "Riel antar laporan ke ruangan saya," tintah Rachel.
"Baik Nyonya,"
Rachel masuk kedalam ruangan nya. Sudah lama dia tidak masuk kedalam ruangan nya ini sejak putri kecilnya jatuh sakit.
Rachel duduk sambil meletakkan tasnya. Dia menghela nafas panjang. Ini pusat restourant miliknya belum lagi yang ada dibeberapa cabang. Rachel harus memantau restourant-restourant itu dengan baik sebab itulah sumber pendapatan untuk dia menghidupi ketiga anaknya.
"Permisi Nyonya. Ini laporannya," seorang lelaki muda melekatkan berkas di meja Rachel.
"Baik," Rachel mengambil berkas itu. "Riel, bagaimana dengan perkembangan restorant?" Rachel meletakkan berkas itu
"Peningkatan pendapatan naik signifikan Nyonya. Bulan ini kita mencapai target 110%." Jelas lelaki itu.
Rachel mengangguk paham. Dia membuka berkas nya yang ada diatas meja. Tak heran jika dia memiliki ke
Pertemuan
Rachel masih sibuk dengan berkas ditangannya. Sejak membangun restourant dia belajar banyak tentang bisnis tentu semua atas bantuan Choky.
"Ehem, keuntungan bulan ini lebih besar dari bulan lalu," gumam nya.
__ADS_1
Rachel berdiri dari duduknya. Seperti biasa dia akan memantau pekerjaan para karyawan nya. Rachel hanya memiliki satu orang kepercayaan
Bersambung.....