Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Wanita kuat


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Rachel."


"Rachel."


Ramos masuk kedalam apartemen dan mencari keberadaan istrinya itu.


Rachel yang tengah membersihkan dapur dan mengepel lantai. Sontak terkejut dan setengah berlari kearah suaminya saat lelaki itu memanggil namanya.


"Iya, Mas." Keringat mengucur di kening gadis itu.


Ramos langsung mencengkram kuat dagu sang istri. Dia harus memastikan jika Rachel takkan mengatakan semua yang telah dia lakukan pada gadis itu.


"Sakit, Mas," rintih Rachel sambil memegang tangan Ramos yang berada di dagunya.


"Dengarkan aku pelacur! Sebentar lagi kedua orang;tua ku akan datang. Persiapkan dirimu dan jangan pernah katakan apapun yang aku lakukan selama ini padamu. Kau tahu sendiri 'kan akibatnya?" ancam Ramos dia mencengkram dengan kuat dagu sang istri tanpa rasa kasihan.


"Iya. Iya Mas. Aku paham." Rachel memejamkan matanya berusaha menahan air mata yang hendak lolos dari sana.


"Bagus." Ramos menghempaskan dagu Rachel dengan kasar. "Dan satu lagi jangan pernah mengharap nafkah apapun dariku. Aku takkan sudi memberikan uangku pada pelacur sepertimu," bisik Ramos.


Deg


Jantung Rachel terasa sakit. Pelacur? Kenapa suaminya menganggap dia pelacur? Apa salahnya?


"Kau paham?"


"I-iya, Mas," sahut Rachel menunduk. Rambutnya sudah berantakkan tak terurus.


"Masak yang banyak dan enak." Dia mendorong istrinya dengan kasar.


"Argh," jerit Rachel memegang bagian perutnya. Rachel terjerembab ke lantai


"Apa kau hamil?" tuduhnya berjongkok. "Hamil anak siapa? Oh ya aku lupa pasti ayahnya banyak 'kan?" Dia menatap gadis itu dengan jijik


"Cih." Ramos meludahi wajah Rachel


Gadis itu menghindar tetapo sayang ludah Ramos telah menempel di pipinya. Dia menggelap pipinya bekas ludah sang suami.


"Kerja sana." Dia menendang kaki istrinya.


"B-baik, Mas."

__ADS_1


Ramos melenggang masuk kedalam kamar lalu membanting pintu kamar itu dengan kuat. Setiap hari pria tersebut selalu begitu membanting pintu baik saat dia membukanya maupun menutupnya.


Rachel berdiri dengan tertatih sambil memegang perutnya yang terasa perih. Sepertinya bekas operasi itu lagi-lagi infeksi dan berdarah. Dia harus bekerja berat dan keras padahal belum pulih apalagi Ramos sering mendorongnya hingga jatuh ke lantai.


Gadis itu berjalan dengan setengah membungkuk sambil memegang perutnya yang berdenyut sakit, perih terasa di tumpahi cuka.


Dia berjalan kearah dapur untuk memasak. Sekarang masih siang, dia masih sempat memasak untuk menyambut kedatangan mertuanya.


Rachel mengeluarkan bahan-bahan makanan dari kulkas. Untung di kulkas semua bahan makanan tersedia.


"Selamat sore, Nona."


Rachel berjingkrak kaget lalu berbalik.


"Ehh, Tuan Heru," ucapnya membungkuk hormat.


"Maaf, Nona. Ini ada baju dari Tuan untuk Anda pakai malam ini."


Alis Rachel berkerut heran. Baju dari suaminya? Sejak kapan suaminya itu peduli padanya? Bukankah Ramos membencinya?


"Oh terima kasih, Tuan." Rachel mengambil paper bag dari tangan Heru.


Heru melirik Rachel dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dia yakin ada yang tidak beres dengan Nona Muda-nya ini.


"Saya baik-baik saja, Tuan." Rachel menunduk. Jangan sampai Heru melihat luka di bagian tubuhnya yang lain.


"Kalau begitu saya permisi, Nona."


"Iya Tuan."


Heru melenggang pergi dari sana. Dia harus menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi pada Rachel. Penampilan Nona Muda-nya itu berbeda tak seperti pertama kali Heru bertemu Rachel. Tampak kurus dan tak terurus.


Rachel memasak dengan telaten dan sabar. Dia akan menyediakan menu spesial untuk menyambut kedatangan kedua mertuanya. Kedua mertuanya sangat baik padanya. Meski suami /nya kejam tetapi setidaknya masih ada orang baik yang menganggapnya ada.


Rachel menyeka air matanya. Dia ingin menyerah dan pergi. Tetapi tidak bisa. Ada dua orang wanita yang menjadi akan menjadi korban jika dia menyerah.


"Ibu. Rima." Air mata menetes beriringan dengan potongan bawang ditangannya.


"Aku rindu kalian," lirihnya.


Sejak menikah dia tidak pernah keluar dari rumah barang sekali. Dia dikurung di apartemen ini. Bahkan pintu selalu dikunci oleh suaminya. Agar dia tidak bisa keluar dan bertemu orang luar. Sehingga dia tidak tahu bagaimana kondisi ibu dan adiknya?


Mereka bertukar kabar hanya melalui benda pintar yang sering disebut ponsel. Padahal dekat hanya beda tempat tinggal saja.

__ADS_1


"Kau harus kuat, Rachel. Ingat ada Ibu dan Rima yang menunggumu di sana. Jangan menyerah. Semua akan baik-baik saja. Bukankah kau sudah biasa disiksa secara fisik dan batin seperti ini? Jadi tidak ada alasan lagi untuk kau cenggeng dan menangis. Tidak bahagia tidak apa-apa. Bukankah katamu bahagia itu adalah ketika melihat orang yang kau sayang bahagia?" gumamnya sambil mengaduk masakan dalam wajan sembari menguatkan hati.


"Ehhh wanita ******," panggil Ramos berdiri dibelakang istri.


Rachel berjingkrak kaget, "Aww." Tak sengaja tangannya terkena air sup yang dia masak. Perih.


"Ada apa, Mas?"


Ramos menatap sinis tangan Rachel yang melepuh. Tetapi dia tidak peduli. Bahkan bila perlu dia ingin memotong tangan wanita itu.


"Di mana baju kemejaku yang warna biru?" tanyanya


"Ada di almari, Mas."


Awalnya Ramos tak mau jika Rachel menyentuh barang-barang berharganya. Tetapi dia berpikir lagi bahwa istrinya ini adalah budak dan pelayan. Bukankan pelayan memang melayani tuan-nya?


"Cari!" suruhnya.


"B-baik, Mas." Rachel mematikan kompornya dan berjalan menuju kamar yang suami.


"Ini, Mas." Gadis itu menyedorkan kemeja yang suaminya minta.


Ramos merampas kemeja itu dengan kasar dan masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Argh, perih." Gadis itu merintih kesakitan saat tangannya melepuh dan bahkan kulitnya juga terlepas hingga keliatan isi tangannya.


"Ini pasti perih kalau terkena air." Sambil mengoleskan obat di bagian area yang luka.


"Kalau aku perban, Daddy dan Mommy pasti akan curiga." Rachel tampak berpikir keras.


"Aku biarkan saja. Lagian sudah aku obati jadi tidak akan infeksi," gumamnya


Rachel melanjutkan kembali masakannya. Setiap hari mendapat perlakuan kasar dari Ramos membuat tubuhnya seolah kebal terhadap rasa sakit. Dipukul. Ditampar. Ditendang. Didorong, sudah biasa bagi Rachel. Bahkan dia merasa aneh jika tak mendengar kata-kata kasar dari suaminya.


Rachel menikmati penderitaannya. Dia memang sudah menyerahkan sepenuh hidupnya pada Ramos. Bukankah apa yang dikatakan Ramos benar? Bahwa dia dibeli dengan uang untuk menebus biaya rumah sakit adik dan ibunya? Jadi Rachel tak heran jika sang suami itu menganggap dia adalah perempuan ****** dan murahan yang dibeli dengan uang.


"Mas Choky," lirihnya.


"Aku rindu, Mas."


Tak bisa Rachel pungkiri bahwa sosok Choky mampu meneduhkan hatinya. Namun, dia tak bisa berbuat banyak. Sejak menikah semua nomor teman-temannya diblokir oleh Ramos kecuali nomor ibu dan adiknya. Entah apa maksud suaminya itu memblokir semua nomor orang-orang yang ada di ponselnya?


Setiap hari Ramos akan memantau dan mengecek ponsel Rachel untuk memastikan apakah gadis itu mengadu pada orang lain atau tidak.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2