
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Mobil Heru terparkir di basement Apartement. Dia melihat mobil Ramos ada disana yang artinya Tuan Muda-nya itu ada didalam Apartement sekarang.
Dari dulu Ramos tidak mau jika Heru tinggal bersamanya karena tidak mau jika waktunya dan Agnes akan terganggu jika ada Heru, apalagi Heru mata-mata kedua orangtuanya.
Heru masuk kedalam lift. Apartement ini memang elit, fasilitasnya saja seperti hotel bintang lima. Heru keluar dari apartement. Dia masuk.
“Tuan.”
Heru menelisik Apartement yang tampak berantakkan dengan barang yang berserakkan dimana-mana. Pria itu menggeleng kepala, dia langsung meronggoh ponselnya didalam saku celananya dan menghubungi seseorang.
“Bawa dua pelayan ke Apartement Tuan.” Dia langsung menutup telponnya tanpa menunggu jawaban dari orang diseberang sana.
Heru berjalan kearah dapur. Lagi-lagi dia menggeleng melihat barang-barang yang berserakkan. Banyak pecahan piring dan kaca, sepertinya Ramos menggila habis-habisan di Apartementnya. Padahal pria ini penyuka kebersihan dan tidak suka barang yang berantakkan seperti ini.
“Luar biasa.” Heru menghembuskan nafasnya kasar.
Dia berjalan masuk kedalam kamar Ramos. Dia terkejut melihat Ramos yang meringguk di lantai sambil memeluk baju ditangannya.
“Tuan.” Pria itu berhambur menghampiri Ramos “Anda baik-baik saja Tuan?” Heru membantu Ramos bangun.
“Rachel kau dimana maafkan aku Rachel?” Ucap Ramos.
__ADS_1
“Ayo Tuan saya bantu duduk disoffa.” Heru memapah Ramos berdiri.
Ramos menurut tanpa melepaskan pakaian Rachel yang ada dipelukkannya. Dia ingin merasakan kehadiran Rachel didalam dekapannya. Meskipun hal itu tidaklah mungkin dia saja tidak tahu dimana Rachel.
“Heru dimana istriku?” Dia seperti mencari sesuatu “Heru istriku kemana? Kenapa dia tidak ada biasanya dia selalu menyambut kedatangku Heru? Dia selalu membuat kopi untukku tapi kenapa sekarang tidak ada. Apa istriku tertidur Heru? Tapi biasanya dia tidur disini, kenapa sekarang dia tidak ada?” Ucap Ramos sambil menelisik segala ruangan mencari keberadaan istrinya.
Heru menjadi kasihan melihat Ramos. Meski dia sendiri membenci perbuatan Ramos tapi saat melihat Ramos yang rapuh seperti ini membuat hatinya terenyuh.
“Heru istriku dimana?” Pria itu berdiri dengan baju Rachel yang didalam pelukannya.
“Sayang, kau dimana Sayang? Rachel kau dimana? Ini Mas, Sayang. Kau belum memasak untuk Mas. Mas sudah lapar.” Dia mencarinya seperti orang gila namun tak dia temukan.
Heru yang duduk disoffa hanya menatap dengan sendu. Kasihan. Kasihan. Benar-benar kasihan. Ramos pria berwibawa yang biasa menampilkan wajah sanggar, arrogant dan sombong tapi sekarang justru terlihat sangat rapuh. Wajah yang biasanya dingin, kini terlihat lusuh dan berantakkan.
Seseorang akan sangat berarti setelah dia pergi. Setelah dia telah jauh dan tak mungkin kembali. Setelah dia menemukan kebahagiaanya yang lebih baik. Setelah dia lebih baik dengan kehidupannya.
‘Tuan, penyesalan anda sudah terlambat. Nona Rachel sudah pergi entah kemana, bahkan jejak kakinya saja tidak terlihat. Anda terlambat menyadari semunya Tuan, yang pergi takkan mungkin kembali lagi. Yang hilang takkan muncul lagi. Harapan saya semoga semesta memihak anda dan memberikan anda kesempatan untuk bersama dengan Nona.’ Batin Heru.
Heru ikut merasakan kesedihan melihat kondisi Ramos sekarang. Sebenarnya Ramos adalah pria baik tapi dia terpengaruh oleh kata-kata Agnes karena dia merasa cinta dengan kekasihnya itu jadi dia mengikuti apa yang Agnes katakan dan begitu dengan mudah nya terpengaruh.
“Rachel, Mas lapar. Kau bilang ingin selalu membuat makanan untuk Mas. Kenapa kau malah bersembunyi Sayang?”
Ramos keluar dari kamarnya mencari keberadaan Rachel. Berharap bisa menemukan istrinya itu. Dia lapar dan rindu ingin makan masakkan istrinya. Istrinya itu koki handalan.
__ADS_1
“Sayang, kenapa belum ada makanan diatas meja?” Pria itu duduk dikursi meja makan sambil celinggak-celingguk seperti mencari sesuatu.
Heru keluar dari kamar dan menyusul Ramos. Dia menatap Ramos dari jauh yang duduk dengan piring kosong didepan nya seperti sedang menunggu seseorang untuk mengisi piringnya dengan makanan.
“Sayang nasinya mana? Aku mau ayam goreng krispy buatanmu. Ayamnya enak dan gurih.” Serunya. Tanganya yang satu mengangkat piring kosong sedangkan tangannya yang lain memeluk pakaian istrinya.
“Tuan.” Heru berjalan kearah Ramos.
Heru yakin jika dibiarkan seperti ini setiap hari Ramos bisa gila. Sekarang saja dia sudah seperti orang gila yang habis obatnya.
“Tua.” Heru menarik kursi dan duduk menghadap Ramos “Tuan, Nona Rachel tidak ada disini. Nona hilang Tuan. Nona tidak ada. Percuma anda mencarinya. Percuma anda memaksanya untuk memasak. Nona tidak akan bisa memasak untuk anda lagi. Anda harus sadar itu Tuan. Anda harus tahu bahwa Nona sudah tidak bersama anda lagi.” Ucap Heru menatap Ramos yang juga menatapnya dengan lekat.
Ramos terdiam. Ucapan Heru berhasil menampar pipinya dan menghantam hatinya. Dia tersadar bahwa istrinya sudah pergi. Pergi jauh meninggalkannya. Pergi jauh dan takkan kembali lagi kepadanya. Dia adalah pria bejat. Dia adalah penjahat. Dia lebih kejam dari Mafia dan psikopat. Dia lah yang membuat istrinya hilang.
“Heru, sebelum istriku pergi dia selalu menyiapkan makan malam untukku dan segelas kopi kental dengan sedikit gula. Tapi aku tidak pernah sama sekali menyentuhnya, aku jijik Heru, aku takut dia meracuniku. Sebelum istriku pergi dia selalu menyambutku denga senyumnya meski setelah itu aku akan menyiksanya. Aku pernah menginjak jari-jarinya hinga berdarah. Aku jahat sekali kan Heru? Sungguh jahat!” Ucap Ramos dengan air mata yang luruh dipipi tampannya.
Heru memejamkan matanya. Mendengar Ramos bercerita saja membuatnya sakit. Heru tak berani bayangkan apalagi melihatnya langsung. Wajar jika Rachel tak bisa memaafkan Ramos karena pria itu telah menurihkan luka dihatinya.
“Sebelum istriku pergi, dia selalu tidur disoffa. Aku pernah menyiramnya dengan air hanya karena dia berbaring diranjangku. Aku tak rela ranjangku di sentuh oleh wanita sepertinya. Tapi dia malah mengatakan mencintaiku Heru. Dia memintaku juga mencintainya. Namun aku malah menyakiti dan menyiksanya. Aku sungguh jahat dan benar-benar jahat.”
Heru menjadi pendengar untuk Ramos. Membiarkan pria itu menceritakan penyesalannya. Memang menyesal takkan membuat yang pergi datang lagi tapi setidaknya penyesalan adalah bentuk kesadaran dari segala perbuatan yang salah.
Bisa Heru lihat jika ada perasaan bersalah yang takkan bisa Ramos hilangkan hingga dia menerima maaf dari istrinya. Namun untuk menemukan maaf itu kembali sedikit mustahil. Ramos tak hanya menyiksa istrinya secara fisik dan batin tapi juga mengambil sesuatu yang istrinya jaga dengan susah payah. Mengambilnya dengan paksa tanpa izin apalagi meminta. Hal itulah yang akan membuat Ramos sulit untuk mendapatkan kata maaf itu.
__ADS_1
Bersambung.....